Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Keraguan Mia


__ADS_3

Hari terus berganti. Tanpa terasa, waktu yang Kenzi tentukan tinggal menghitung jam saja. Sebelum pertemuan antara dirinya, Kenzi dan Bimo di lakukan, Mia ingin bertemu dengan Lisa.


Mia tiba di rumah Lisa menjelang siang hari. Ia di persilahkan masuk oleh mertua Lisa. Mia mengetuk pintu kamar Lisa dan Nathan. Sejak melahirkan, kamar Lisa dan Nathan di pindahkan ke bawah. Agar mempermudah Lisa melakukan kegiatan.


Tok..tok..tok..


"Masuk." suara Lisa mempersilahkannya masuk.


Mia memutar handle pintu dan mendorongnya. Lisa tersenyum melihat kedatangan Mia. Mia pun balas tersenyum.


"Gue ganggu ya?" tanyanya. Lisa menggeleng.


"Gak kok. Masuk Mi." ucap Lisa.


"Kita ngobrol di liar saja Lis." pinta Mia.


"Oke. Sebentar ya." Mia mengangguk.


Lisa segera menidurkan baby Tama. Mereka memutuskan memanggil baby mereka dengan nama Tama. Setelah itu, Lisa keluar menemui Mia.


"Mbok, tolong buatkan minum ya. Bawa ke taman belakang." pinta Lisa saat melihat mbok Surti.


"Iya non." jawab mbok Surti.


Lisa dan Mia pun melangkah ke taman belakang, tempat biasa keluarganya berkumpul.


"Ada apa? Kok kelihatannya Lo gelisah?" tanya Lisa saat mereka sudah duduk di sana.


Tak lama, mbok Surti meletakkan minuman dan camilan ke atas meja. Kemudian berpamitan pada Lisa dan Mia.


Mia menghela nafas dan mulai menceritakan kegalauannya. "Lis, gue harus gimana ya?" Lisa mengernyitkan dahinya.


"Kenzi ngajak gue ketemuan. Bareng mas Bimo juga." Lisa mulai mengerti maksud pembicaraan Mia.


"Lo masih cinta sama Kenzi?" Mia mengangguk.

__ADS_1


"Terus, kenapa kemarin Lo terima perjodohan dengan Bimo?"


Mia menggigit bibirnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada Lisa.


"Gue... gue..." Lisa memeluk bahu Mia.


"Lo, frustasi kan?" Mia mengangguk.


"Merasa Kenzi gak benar-benar menyukai Lo?" lagi-lagi, Mia mengangguk.


"Kenapa Lo cepat menyerah?" Mia menatap Lisa sendu.


"Sebelum gue menerima perjodohan kemarin, gue sempat mendengar kak Tania menyatakan rasa sukanya ke Kenzi. Setelah itu, gue merasa gak percaya diri. Gue gak secantik kak Tania. Gak pinter juga, atau pun berani. Perbedaan kami, bagai bumi dan langit. Gue rasa, Kenzi pasti lebih suka sama kak Tania.


"Tapi, saat gue tahu kak Tania justru sedang mencoba menjalin hubungan dengan Gerald, gue menyesal. Sekarang, Kenzi ngajak gue ketemu. Dia juga ngajak mas Bimo ketemu." setitik airmata mia terjatuh.


Lisa mengusap bahu Mia pelan. "Lo mau ketemu?"


"Gue harus menyelesaikan ini semua. Sebelum pernikahan gue berlangsung." ucap Mia.


Mia menggeleng. "Gue gak tahu Lis. Jujur aja, sampai sekarang gue gak bisa menghilangkan rasa cinta gue ke Kenzi. Gue juga masih canggung. Meski mama dan papa bilang, seiring berjalannya waktu, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Tapi gue ragu."


"Kalau begitu, ikuti kata hati Lo. Sesuatu yang masih Lo ragukan hasilnya, lebih baik jangan Lo jalani. Apa lagi, ini tentang pernikahan dan berumah tangga. Mana mungkin ketika Lo menjalaninya, lalu di tengah jalan merasa gak cocok, akhirnya bercerai. Apa Lo memilih seperti itu?"


"Apa, gue gak akan menyakiti siapa pun?" tanya Mia.


"Pasti akan ada yang tersakiti. Tapi, mereka akan menghormati dan menghargai, apa pun yang akan menjadi keputusan Lo. Semua pilihan, ada di tangan Lo. Apa Lo lebih memilih tersakiti atau menyakiti. Dari setiap pilihan Lo, juga ada konsekuensinya. Gue yakin, Lo paham maksud gue."


"Gue rasa, Kenzi beneran suka sama Lo." sebuah suara, menginterupsi mereka. Mereka menoleh dan melihat Tania bersedekap di ambang pintu.


"Kakak kapan datang?" tanya Lisa saat melihatnya.


"Dari tadi. Gue juga udah dengar semua pembicaraan kalian." Tania duduk di samping Lisa.


Tania mengalihkan pandangannya pada Mia. Ia tersenyum manis pada gadis itu.

__ADS_1


"Sebenarnya, kemarin itu gue asal ngomong. Gue cuma menghindari Gerald aja. Lo tahu kan, usia kita berbeda. Gue dua tahun lebih tua dari kalian. Lebih tepatnya, gue seumuran Nathan. Sementara Gerald, Lo, Kenzi dan Lisa, kalian seusia. Jadi, sedikit canggung kalau harus menjalin hubungan dengan dia." ucap Tania memulai cerita.


Lisa dan Mia terperangah. Jadi, Tania benar-benar menyukai Gerald? batin mereka.


"Kakak gak salah?" baik Mia maupun Lisa terkejut mendengar cerita Tania. Tania menggelengkan kepala menjawab pertanyaan lisa.


Memang sedikit aneh, jika seorang wanita lebih tua menjalin hubungan dengan pria yang lebih muda darinya. Meski pada kenyataannya, hal itu tak lagi berlaku. Bukan hanya satu atau dua pasangan yang menjalin hubungan, meski si wanita lebih tua.


"Itu bukan hal aneh lagi kak. Udah banyak kok yang menjalin hubungan, namun si wanita lebih tua." ujar Lisa.


"Benarkah? Tapi, aku tidak percaya diri." ungkap Tania.


Mia dan Lisa tersenyum. "Gerald itu, meski lebih muda dari kakak, tapi secara pemikiran, dia lebih dewasa dari kak Tania." ucap Mia. Lisa mengangguk membenarkan.


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Mia merasa sedikit lega, saat mengetahui Tania tak benar-benar menyukai Kenzi. Sepertinya, ia sudah memiliki keputusan.


Hatinya membenarkan ucapan Lisa. Bahwa apa pun pilihannya, baik Kenzi maupun Bimo serta keluarganya, pasti akan menghormati dan menghargai pilihannya.


Namun sejujurnya, ia tidak ingin mengorbankan kebahagiaannya. Ia pun tak menginginkan perceraian terjadi. Impiannya adalah menjalani rumah tangga, sekali seumur hidup. Dan hanya akan di pisahkan oleh maut.


Semoga saja ia tak salah dalam melangkah.


*Kenzi, jika pada pertemuan nanti kau tidak juga menyatakan perasaanmu, maka aku yang akan menyatakan rasa itu. Dan jika saat itu kau menolak ku, maaf aku akan memilih untuk tidak menikah dengan siapa pun untuk saat ini. Dan aku, akan meninggalkan Indonesia untuk mengubur rasa cintaku padamu.


Maaf mah, pah. Mia tidak bisa melakukan pernikahan, yang Mia sendiri tidak yakin akan berakhir bahagia. Lebih baik, Mia akhiri semua ini*. batin Mia.


Kini, ada perasaan lega yang menghampiri Mia. Mia pun berpamitan pada Tania dan Lisa serta keluarga Nathan. Mia sudah memantapkan hatinya.


Apa pun hasilnya, itu adalah buah dari keputusannya saat ini.


Mia mulai bersiap-siap untuk pertemuannya dengan Kenzi dan Bimo malam ini. Ia mulai mematut dirinya di cermin. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, Mia segera keluar.


Saat turun dari kamarnya, terlihat Bimo sudah menunggunya. Sebenarnya Mia tak meminta di jemput, namun untuk menolak pun, ia merasa tak enak hati. Akhirnya, Mia dan Bimo pun berangkat bersama.


Mia memainkan jemarinya di atas pangkuannya. Berusaha mengusir kegugupan yang melandanya. Hingga tanpa terasa, mereka tiba di restoran itu.

__ADS_1


__ADS_2