
Nada meletakkan kembali ponselnya ke nakas setelah melihat panggilan dari Randi. Karena menurutnya, jika perlu, Randi akan kembali menelfonnya tanpa harus menghubungi dosennya itu. Karena ia tidak enak hati menghubungi laki-laki lain di yang bukan muhrimnya apalagi malam hari.
Usai meletakkan ponselnya kembali, Nada pun menghampiri suaminya yang sudah duduk di atas ranjang.
“Sayang, apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?” tanya Kaysan mengelus rambut sang istri yang masih terbalut jilbab instant.
Nada mengerutkan keningnya. “Maksud, Mas gimana? Kok, bertanya seperti itu, sih? Bukankah pernikahan ini adalah impian kita untuk membangun rumah tangga yang sakinah dan warahmah. Kok, bahasa Mas tadi menyiratkan jika aku tidak menyukai pernikahan ini.” Jelas Nada protes pada sang suami.
Kaysan duduk menghadap sang istri sembari menggenggam kedua tangan istrinya.
“Bukan, maksud aku begitu, sayang. Aku hanya merasa gagal sebagai suami. Karena setiap pengantin yang baru menikah, selalu pergi berbulan madu. Apakah kamu, juga menginginkan yang namanya bulan madu?” Kaysan masih menatap kedua netra sang istri dengan tangan yang masih dalam genggamannya.
“Mas, aku memang peremouan yang menginginkan kehidupan pernikahn yang indah. Tetapi Etidak juga ingin memaksakan kehendak. Karena menurutku, walaupun kita pergi berbulan madu atau tidak, sama saja. Intinya, kebahagiaan tidak selamanya diukur dari bulan madu. Ada atau tidak bulan madu sama saja. Tergantung bagaimana kita menyikapi membawa pernikahan ini.” Papar Nada.
“Aku hanya berpikir, sayang. Bukankah kedua kakakmu setelah menikah mereka berbulan madu? Maka dari itu, aku menanyakan ini ke kamu sayang. Aku tidak ingin dianggap suami yang tidak peduli dengan kebahagiaan dan kesenangan istri.”
Nada menatap lekat kedua netra suaminya. Lalu berkata, “Mas, aku tidak masalah. Bukankah, kedua orang tua ku juga dari awal tidak mempermasalahkan ini. Kenapa baru ini, Mas berpikir seperti itu?”
“Syukurlah sayang. Kamu tahu sejak pulang tadi aku terus memikirkan apakah aku ini sudah membuatmu bahagia dengan pernikahan ini atau terpaksa menjalani pernikahan ini. Setelah mendengar jawabanmu langsung, Mas merasa sangat lega. Aku hanya sedikit khawatir saja tentang bulan madu.” Kaysan memeluk tubuh istrinya dengan melayangkan kecupan di kening Nada. Nada pun tersenyum.
“Tidak usah berpikiran terlalu jauh, Mas. sebaiknya kita bersiap untuk solat isya.”
“Iya, sayang. Mas juga mau bersiap ke mesjid.”
***
__ADS_1
Keesokan paginya, Kaysan sudah rapi dan bersiap ke kantor.
“Sayang, Mas pamit kerja dulu. Kamu kalau mau, ke kampus hati-hati,” pesan Kaysan pada istrinya usai mencium kening Nada.
“Iya, Mas.” Nada pun mencium tangan suaminya dengan takzim.
Hari kedua bekerja mengantarkan paket, seperti biasa barang yang masuk selalu penuh. Kaysan, mensortir barang dari alamat yang dekat sampai terjauh agar memudahkan proses pengataran barang.
Sampai di kantor, menjelang siang waktu istirahat, Kaysan menelfon istrinya sejenak. Ia merogoh ponselnya yang ada di saku jaket.
Panggilan terhubung.
‘Assalamualaikum, sayang’
‘Belum, sayang. Ini baru sampai di kantor baru balik ngantar paket.’
‘Oh, iya Mas. Jangan lupa habiskan makananya, yah!’ pesan Nada. Tadi pagi. Nada menyempatkan memasa untuk dibawa bekal suaminya ketika dirinya sedang ke kampus. Nada berusaha melayani suaminya dengan baik. Dengan begitu, ia berharap Kaysan selalu bergantung kepadanya. Karena ia ingin menjalankan perannya sebagai istri soleha.
‘Baik, sayang. Ya sudah, kamu juga jangan lupa makan, yah! Assalamualaikum.’
‘Waalaikum salam’.
Usai menelfon suaminya, Nada lekas menuju ruang administrasi mahasiswa untuk mengonfirmasi dirinya kembali sebagai calon mahasiswa S2.
Saat keluar dari gedung, Randi datang dari arah parkiran. Melihat, Nada laki-laki berambut klimis itu pun tersenyum lalu mempercepat langkahnya menuju Nada karena ada hal yang ingin dibahas mengenai program yang akan Nada ambil di jenjang S2. Kemarin, ia sempat menelfon perempuan bergamis hijau tosca itu, namun Nada tidak mengangkatnya. Jadi, ini kesempatan Randi untuk berdiskusi dengan Nada.
__ADS_1
“Nada!” panggil Randi. Laki-laki itu berjalan sembari menenteng sebuah tablet di tangan kirinya. Seperti baru akan masuk ke kelas mengajar.
Mendengar namanya dipanggil, Nada pun menoleh ke sumber suara. Ia melihat Randi dari arah samping sedang menghampirinya.
“Iya, Kak. Kebetulan, Ada Kak Randi. Ada yang harus diomongin dulu, kak.”
Mereka berdua memilih duduk di salah satu kantin yang saat ini sedang ramai pengunjung. Berhubung jam istirahat, jadi banyak mahasiswa yang sedang mengisi perutnya atau sekedar nongkorng saja.
“Apa, yang Kak randi ingin tanyakan ? Maaf kemarin sore itu saya sedang di luar dan tidak membawa ponsel jadi tidak menjawab panggilan Kak Randi.” Terang Nada menjelaskan. Saat ini, status pernikahan Nada memang belum ada yang tahu teman-teman kampusnya. Sehingga ia tidak terlalu ambil pusing. Hanya saja, bukan juga untuk menutupi statusnya saat ini yang sudah menikah. Karena baginya, selama tidak ada yang bertanya ia tidak akan mempublikasannya secara langsung.
Keduanya duduk berhadapan di meja kayu dengan dua jus alpukat yang sudah terletak di atas meja.
“Hm... begini. Aku hanya ingin mmenginformasi kembali soal tawaran beasiswa di London. Apakah kamu benar-benar tidak tertarik untuk mengambilnya? Ini kesempatan yang sangat langka. Jadi berharap kamu memikirkan kembali beasiswa ini. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Coba kamu pikir-pikir ulang dulu. Minta pendapat orang tuamu mengenai beasiswa ini. Siapa tahu ada solusi dari mereka yang bisa Emembuat kamu berubah pikiran.”
Randi menyesap jus alpukat yang ada di depannya sejenak lalu melanjutkan.
“Ini impian kamu, Nada. Akan sangat bagus jika kamu ke sana dan mengembangkan potensi yang kamu miliki. Ada banyak designer internasional yang terjun langsung berbagi ilmu dan tentu ini adalah kesempatan yang langka.”
Randi masih menatap Nada dengan intens. “Jadi, saya harap kamu berpikir kembali dulu. Tidak usah terburu-buru mengambil keputusan. Ok! Kalau gitu saya ke kelas dulu,” ujar Randi menyerahkan brosur beasiswa London sebelum meninggalkan Nada di kantin.
Nada hanya diam dan mengangguk. Ia berpikir jika mengambil beasiswa di luar negeri, maka untuk sementara waktu ia harus terpisah jarak jauh untuk waktu yang paling lama kurang lebih dua tahun dengan suaminya. Tentu ini akan membuat hubungan pernikahannya dengan Kaysan yang baru berusia seumur jagung akan terganggu. Nada tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Tidak. Di sini lebih baik. Apa kata orang nanti jika aku meninggalkan suamiku demi mengejar karir. Tentu akan banyak desas-desus negatif yang menyerang mas Kaysan. Di sini lebih baik,” gumam Nada. Lalu meninggalkan kantin bersiap pulang ke rumah.
__ADS_1