
Tanpa terasa, kandungan Lisa kini memasuki usia tujuh bulan. Tinggal beberapa bulan lagi, mereka akan menyambut buah hati mereka ke dunia ini.
Entah sudah berapa kali Nindya dan Gerry meminta Lisa dan Nathan melakukan USG. Namun mereka terus saja menolak.
Tidak hanya Nindya dan Gerry yang ikut antusias menyambut kelahiran anggota baru keluarga mereka. Begitupun dengan Ferdinand, Alena dan Ardian. Mereka pun turut mendorong Lisa dan Nathan melakukan USG. Lagi-lagi, mereka menolaknya.
"Biar surprise" itulah alasan mereka. Hingga mereka lelah dan menyerah pada hal itu.
"Sayang, kita sudah harus menyiapkan perlengkapan bayi kan?" tanya Nathan.
Lisa berpikir sejenak, kemudian mengangguk.
"Ya sudah, besok kan weekend. Kita belanja keperluan dia ya." ujar Nathan seraya mengusap perut buncit Lisa dan mengecupnya.
"Gak takut ketahuan mami dan papi kalau kita beli sekarang?" tanya Lisa.
"Iya juga ya. Kita kan belum bilang sama mereka jenis kelamin baby kita." Nathan terlihat berpikir.
"Ah... Kita beli warna netral saja." ucap Nathan saat ide itu terlintas.
"Oke." Lisa menyetujui ide suaminya itu.
Sebenarnya, mereka sudah lama mengetahui jenis kelamin anak mereka. Hanya saja, mereka merahasiakan nya dari keluarga. Cukup mereka saja yang mengetahuinya.
Mereka yakin, jika mami dan papi mereka tahu, bisa di bayangkan seperti apa hebohnya para calon Oma dan opa itu membelikan banyak barang untuk calon anak mereka yang akan lahir itu.
Saat ini saja, mereka sudah heboh membicarakan banyak nama untuk sang jabang bayi. Sepertinya, saat lahir nanti justru Lisa dan Nathan tak akan bisa mengasuh anak mereka sendiri.
Seperti malam ini, Tania datang bersama Ardian, Ferdinand dan Alena. Mereka membawa banyak buku yang Nathan dan Lisa sendiri tidak mengerti buku apa itu.
"Kebetulan kalian di rumah. Ayo kita mulai." ucap Ardian antusias.
Lisa dan Nathan saling pandang tak mengerti. Kemudian, mereka mengalihkan pandangan pada Tania. Sayangnya, Tania hanya menjawab dengan mengendikkan bahunya.
__ADS_1
"Jangan tanya padaku. Sejak kemarin, mereka sangat ribut ingin kesini." bisik Tania. Lisa dan Nathan membelalakkan mata tak percaya.
Ada apa ini? gumam Nathan dalam hati.
Ardian sudah mengeluarkan laptop. Nindya dan Gerry mengambil salah satu buku yang sudah bertumpuk di atas meja. Begitupun dengan Ferdinand dan Alena.
"Tania, kau juga." perintah Ardian. Tania menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya. Dan Ardian mengangguk pasti.
Dengan malas, Tania ikut mengambil buku itu juga.
"Kalian berdua juga." kali ini, Ardian memerintah pada Lisa dan Nathan. Nathan yang penasaran dengan buku tebal itu pun mengambilnya.
Jadi mereka sedang sibuk menyiapkan nama bayi... seru mereka dalam hati.
****
Lisa dan Nathan bisa bernafas lega setelah mereka terpaksa membuat drama perut Lisa yang tiba-tiba kram. Ada rasa bersalah dalam hati Lisa, saat dirinya melakukan kebohongan. Akan tetapi, jika ia tak melakukannya entah sampai kapan mereka mengakhiri perdebatan nama bayi itu. Padahal, waktu sudah menunjukkan jam makan malam.
Pada akhirnya, setelah makan malam usai, Ardian, Ferdinand, Alena dan Tania pun memutuskan pulang.
"Kau benar sayang. Itu artinya, baby kita memiliki banyak kasih sayang." ucap Nathan seraya meletakkan telinganya di atas perut buncit sang istri.
Setelah mengajak sang jabang bayi bicara, bahkan sang jabang bayi pun merespon dengan menendangnya dari dalam, mereka pun mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah kelelahan.
Keesokkan harinya, pagi-pagi benar mereka sudah bersiap-siap untuk segera melakukan rencana mereka. Dalam hati, mereka tak ingin rencana ini gagal karena perbuatan para calon Oma dan opa itu.
Lisa bahkan sengaja menggunakan pakaian biasa dan hanya menggunakan dress hamilnya yang tidak mencolok. Ia berusaha senatural mungkin, agar mertuanya tak curiga.
Nathan bahkan hanya menggunakan kaos oblong dan celana jins pendek. Di tambah, dengan sandal yang mengalasi kakinya. Biarlah, kali ini mereka bergaya seadanya. Terserah jika mereka bertemu para staff ataupun klien di mall nanti.
Lisa sengaja keluar lebih dulu. Mereka sengaja membuat skenario ini, untuk mengelabui orangtuanya.
Sejauh ini, rencana mereka sudah berhasil. Jujur saja, jantung mereka berdegup dengan kencangnya, saat menjawab pertanyaan mertuanya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Nindya seraya membawa sarapan ke meja makan.
"Gak kemana-mana mi." jawab Lisa lembut. Ia tengah mengambil roti dan mengoles selai.
"Kok tumben rapih?" timpal Gerry.
"Lisa kan biasa pakai dress ini Pi?" Nindya dan Gerry mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian, terlihat Nathan berjalan ke arah meja makan. Nindya memandang curiga pada putra dan menantunya. Pasalnya, tidak biasanya Nathan terlihat biasa-biasa saja, namun aura yang terpancar adalah mereka akan pergi keluar bersama.
Entah mereka yang salah menilai, atau memang benar.
Nindya masih termenung memikirkan kelakuan anak dan mantunya itu. Hingga tanpa di sadari, mereka sudah berlalu dari hadapan mereka. Gerry yang sejak tadi sudah memanggilnya saja tak di gubris olehnya.
Hingga langit berubah jingga, Nindya tak kunjung melihat Lisa dan Nathan yang sudah keluar sejak pagi tadi. Ia sudah berjalan mondar mandir di teras rumahnya, layaknya setrika.
Saat langit sudah mulai menggelap, deru mesin mobil yang di tunggu pun tiba. Dengan langkah tergesa, baik Nindya maupun Gerry segera menghampiri kedua orang yang sudah mereka tunggu.
Benar saja, dugaan Nindya. Lisa dan Nathan memang telah melakukan perjalan yang tidak bisa mereka ketahui keberadaannya. Bahkan, kedua orang itu tak mengatakan apapun.
Saat Lisa dan Nathan turun dari mobil, mereka tak langsung melangkah ke rumah. Mereka justru membuka bagasi mobil dan mengeluarkan banyak barang.
Nindya semakin mengernyitkan dahi bingung. Apa yang mereka bawa? Kenapa banyak sekali? gumam Nindya dalam hati.
"Kalian darimana sih? Bikin mami sama papi khawatir saja deh." keluh Nindya.
Mereka tersenyum kaku. "Maaf ya mi... kita terpaksa pergi diam-diam membeli ini." Lisa mengangkat paper bag yang ia bawa.
Nindya melihat ke dalamnya dan terkejut. "Kenapa gak bilang kalau mau belanja perlengkapan bayi? Mami kan bisa bantu." protesnya.
"Dan membeli semua hal yang tidak perlu? Mami dan papi justru akan membeli perlengkapan yang tidak di butuhkan nantinya." jawab Nathan cepat.
"Mana ada perlengkapan yang tidak di butuhkan? Semua pasti terpakai nanti." sanggah Gerry.
__ADS_1
"Kalian bagaimana, ini kan cucu pertama dari dua keluarga besar. Wajar kan kalau kami sangat antusias menyambutnya?" terang Nindya.
Lisa dan Nathan tak bisa berkata-kata. Mereka tak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan pada orangtuanya dan Lisa, jika mereka pun ingin memilihkan perlengkapan untuk bayi mereka nanti.