Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Ending story


__ADS_3

Di sebuah rumah yang penuh dengan cinta, Lisa dan Nathan tengah menikmati waktu mereka bersama baby Tama. Bayi yang mereka cintai itu sudah mulai merangkak dan memasukkan segala yang di lihatnya ke dalam mulut.


Sesekali, baby Tama akan menunjukkan tawanya pada orangtuanya. Lisa dan Nathan akan ikut tertawa melihat tingkah lucu bayi tersebut.


Lisa menggendong Tama dan menatap banyak bunga yang berhamburan di taman belakang rumahnya. Nathan merangkul keduanya dengan penuh cinta. Menciumi mereka bergantian.


"Aku mencintaimu." ungkap Nathan.


"Aku juga mencintaimu papi." balas Lisa.


"Aku suka sekali kau memanggilku seperti itu." Lisa terkekeh.


Lisa pun mengecup pipi suaminya. "Terimakasih untuk semua cinta kakak padaku. Terimakasih juga, sudah menjadikanku istrimu."


"Terimakasih juga kau sudah mencintaiku." mereka pun tersenyum dan saling menatap dengan binar cinta.


Pernikahan yang bahkan tak pernah ada dalam mimpi Lisa, begitu ia syukuri. Semua yang di dapatnya, melebihi apa yang di impikan dan di mintanya pada Sang Kuasa.


*****


Di sebuah pantai bernuansa romantis, dua orang manusia tengah menikmati kebersamaan mereka. Berjalan tanpa alas kaki dan bergandengan tangan. Sesekali, ombak membasahi kaki mereka yang menikmati hari indah itu.


Pasangan Bimo dan Stevi yang saling menatap dengan penuh cinta. Membuatkan angin menerpa tubuh mereka.


Mereka pun duduk di atas batu karang yang cukup tinggi dari air laut. Memandang kejauhan yang tak terlihat dimana ujungnya. Beberapa kali Bimo mengecup pucuk kepala Stevi dengan sayang sambil menatap langit yang mulai berubah menjadi jingga.


"Kamu tahu, ini adalah sesuatu yang selalu aku khayal kan dan impikan. Menikah denganmu, dan menjalani hari bersama denganmu." ucap Stevi seraya bersandar di d*** bidang milik Bimo.


Bimo tersenyum dan merangkul erat wanita dalam pelukannya yang kini sudah menjadi istrinya.


"Aku pun sama. Setelah sekian tahun aku mencari keberadaan mu, ini adalah hari yang selalu aku nantikan. Tahukah kau, jika aku sudah membangun banyak rencana dalam benakku sebelum kau menghilang?" Stevi memandang wajah suaminya ini dengan penuh cinta.


"Kau, sudah menantikan sejak saat itu?" Bimo mengangguk.

__ADS_1


"Terimakasih karena kau mau menerimaku." Stevi mengeratkan pelukannya.


"Aku pun sama. Terimakasih karena sudah mencintaiku selama ini."


Kedua insan itu menyatukan b**** mereka di latar belakangi dengan matahari yang mulai tenggelam.


*****


Mia dan Kenzi berjalan di sebuah lorong yang mirip dengan rumah sakit. Sejak kemarin, Mia merasa tubuhnya kurang sehat. Kenzi pun menemaninya untuk memeriksakan kondisi kesehatan sang istri.


Kenzi sudah membuat janji dengan dokter. Saat tiba di depan sebuah ruangan, mereka langsung di minta masuk karena dokter sudah menunggu. Kebetulan, dokter yang menangani Mia adalah seorang perempuan.


Mia duduk di hadapan dokter muda itu. Dokter segera mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Seperti apa yang Mia rasakan, sejak kapan ia merasakannya, hingga pemeriksaan lainnya. Kemudian, dokter itu tersenyum.


"Bapak dan ibu sudah menikah berapa lama?" tanya sang dokter.


Kenzi dan Mia mengerutkan dahinya. Apa hubungannya kesehatan Mia dengan usia pernikahan mereka? batin mereka saat itu. Dokter itu tersenyum melihat ekspresi yang di tunjukkan pasangan muda itu.


Mia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya bahkan sudah berembun kala mendengar ucapan dokter itu. Kenzi ikut tersenyum dan menatap Mia dengan penuh cinta.


"Terimakasih ya dok atas sarannya." Kenzi lebih dulu mengucapkan terimakasih pada dokter itu.


"Sama-sama pak, Bu. Semoga dugaan saya benar ya. Sehat selalu untuk kalian." ucap dokter itu tulus.


"Iya dokter. Terimakasih." ucap Mia.


Dokter itu mengangguk dan mengantarkan pasiennya keluar. Kenzi dan Mia segera menuju poli yang sudah di beritahukan oleh dokter tadi. Perawat pun menunjukkan letak poli obgyn tersebut.


Setelah mendaftar, Mia dan Kenzi menunggu. Dalam hati, mereka berdoa semoga apa yang di ucapkan dokter tadi benar. Mereka menunggu selama kurang lebih dua puluh menit. Kali ini, mereka masuk dengan detak jantung yang cukup cepat.


Sama seperti di ruang dokter sebelumnya, Mia melakukan wawancara kesehatan. Tambahan dari pertanyaan tersebut adalah, kapan kali terakhir Mia mengalami haid. Setelah itu, Mia di minta naik ke ranjang pasien.


Mia pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tersebut. Dokter segera menggerakkan alat di depannya setelah perawat menaruh gel tepat di bawah pusar Mia. Kenzi mulai memperhatikan layar hitam putih itu. Ia tak mengerti dengan gambar itu.

__ADS_1


"Nah ini adalah rahim ya Bu, pak. Dan ini, yang terlihat seperti kacang adalah janin. Ini artinya, ibu hamil. Janin masih berusia empat Minggu. Belum ada detak jantung ya. Masih sangat kecil." jelas dokter tersebut.


Setelah mendengar penjelasan dokter itu, mata Kenzi berbinar. Begitupun dengan Mia. Kenzi mencium punggung tangan Mia berulang kali. Ia bahkan sudah menitikkan airmatanya menatap keajaiban yang sudah tercipta di dalam perut sang istri.


Perawat segera membersihkan sisa gel tersebut. Setelahnya, Kenzi dan Mia duduk kembali di depan dokter. Dokter segera menjelaskan, bahwa di awal kehamilan adalah masa paling rentan bagi janin tersebut.


Kenzi mendengarkan dengan seksama. Sampai ke detailnya, ia tanyakan pada dokter. Setelah puas mendengar semua informasi, Kenzi dan Mia pun berpamitan.


Kebahagiaan, jelas terpancar dari wajah keduanya. Karena sekarang, rumah tangga mereka mulai terasa lengkap. Pernikahan yang mereka impikan pun sudah terlaksana.


*****


Satu bulan kemudian.


Ini adalah hari yang sudah di nantikan Gerald dan Tania. Dua insan yang sudah sama-sama saling mencintai itu akan mengikrarkan janji suci di hadapan Pencipta dan keluarga serta sahabat.


Gedung yang di dekorasi dengan banyaknya bunga mawar putih, dan di padukan dengan bunga lain itu sangat indah. Seperti keinginan kedua mempelai, wedding organizer pun memenuhinya.


Para tamu undangan yang di dominasi oleh kerabat dekat mereka pun tak kalah bahagia. Pasalnya, merek adalah saksi bagaimana kedua insan itu memperjuangkan cinta mereka dan bangkit dari patah hati mereka.


Di sana, di singgasananya ratu dan raja itu tengah menerima doa restu dari setiap tamu dan keluarga serta sahabat. Wajah mereka begitu merona bahagia.


"Kau tahu, aku tidak pernah menyangka akan jatuh cinta padamu secepat ini." tutur Gerald. Pipi Tania sudah merona mendengar ucapan Gerald.


"Bahkan, menikahi mu pun adalah rencana Tuhan yang tidak akan aku sesali. Karena Tuhan, memberiku jawaban melebihi apa yang aku pikirkan." imbuhnya.


Wajah Tania semakin terasa panas. Bukan lagi semburat merah yang terlihat, namun kini 2ajah Tania sudah memerah menahan rasa bahagianya. Gerald tersenyum melihat wajah Tania yang terlihat menggemaskan itu.


Dengan gerakan cepat, Gerald memagut belahan b**** Tania di hadapan para tamu. Tania sempat terkejut. Namun detik berikutnya, ia membalas c***** itu. Semua yang hadir memberikan tepuk tangan pada mempelai.


Inilah akhir kisah mereka. Dimana mereka sudah menemukan kebahagiaan masing-masing. Meski kerikil akan tetap ada, namun cinta mereka akan membuat mereka tetap bersama dalam ikatan suci pernikahan.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2