Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Pernyataan Gerald


__ADS_3

Di sebuah bar terkenal di Jakarta, Tania duduk di bar counter. Menenggak segelas minuman beralkohol. Sudah cukup lama dirinya tak menyentuh minuman yang tak menyehatkan tubuh itu. Lebih dari dua tahun, hidupnya jauh dari tempat yang disebut bar.


Sejak dua tahun yang lalu, Ardian sengaja membuat Tania sibuk. Hingga gadis yang sudah di anggap layaknya putri kandungnya sendiri, tak lagi melirik tempat temaram itu.


Ardian yang mengikutinya sejak dari rumah tadi, hanya terus memperhatikannya dari sudut.


Tania memakai hoddie dan menyambar kunci mobil. Wajahnya belum menunjukkan senyum sejak masalahnya dengan Gerald sore tadi. Hatinya terus saja mengumpat sikap Gerald padanya.


Ardian tengah duduk di depan tv saat melihat Tania keluar dengan tergesa-gesa. Pria itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Jam 10? Mau kemana dia jam segini? Menyapa ku saja tidak." gumam Ardian.


Tanpa pikir panjang, Ardian turut menyambar kunci mobil miliknya. Ia memutuskan mengikuti Tania.


"Mau kemana dia? Apa aku perlu memberitahu Ferdinand?" tanyanya pada diri sendiri.


Ardian terus mengikuti kemana Tania pergi. Hingga Tania memasuki lokasi yang Ardian tahu sebuah bar dan diskotik.


"Tunggu, apa Tania kembali seperti dulu?" gumamnya.


Ia terus melangkah mengikuti Tania. Tania duduk tepat di meja bar counter. Ardian pun memilih duduk di sudut dan mengawasi putrinya itu.


Terlihat Tania memainkan gelas berisi minuman beralkohol. Ardian menggelengkan kepalanya.


Seorang pria mendekati Tania yang sudah mulai terlihat mabuk. Ardian hampir saja berdiri, namun ia kembali duduk saat Tania mendorong pria itu.


"Jangan ganggu gue." pekik Tania pada pria itu.


"Gue cuma mau ngajak Lo minum." ucap pria itu.


"Pergi sana." usir Tania.


Pria itu tak lagi memaksa dan meninggalkan Tania. Tak lama, datang beberapa gadis menghampiri Tania. Mereka terlihat saling berpelukan dan tersenyum.


Ardian masih setia mengawasinya. Tepat di saat Tania tak lagi mampu bergerak, pria yang di usir Tania tadi kembali mendekatinya. Dari tempatnya, Ardian bisa melihat tatapan nakal dari pria itu.


Tania memang tidak menggunakan pakaian seksi seperti gadis yang kebanyakan datang ke tempat itu. Namun, pria tetaplah pria. Mereka memiliki sisi b******* dalam diri mereka.


"Lepaskan dia." ucap Ardian.


Pria itu menoleh dan tersenyum sinis. "Kau juga menginginkan gadis ini, pak tua?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya." jawab Ardian singkat.


"Kalau begitu, tunggu sampai aku selesai." pria itu menyeringai dan berbalik hendak meninggalkan Ardian di sana.


"Jika kau melangkah lagi, maka ku pastikan kaki mu tak bisa lagi kau gunakan." Ardian menatap tajam pria itu.


Ada ketakutan dari sorot mata pria itu. Tak bisa di pungkiri, aura yang di keluarkan Ardian, cukup membuat lawannya menggigil ketakutan.


Sial.. Sudah lama aku menginginkan gadis ini, masa iya harus ku lepaskan? gumamnya dalam hati.


Tania bergerak sedikit dan menatap Ardian dengan mata sayu nya. "Ayah ... Ah.. Tidak mungkin." ia mengibaskan tangannya.


Ayah? Ah.... sial.... Aku benar-benar cari mati....


Ardian masih menunggu. Tak lama kemudian, pria itu melepaskan Tania setengah hati. Ardian segera menggendong Tania, tanpa mempedulikan tatapan orang lain. Ardian segera membawanya.


Sebelum meninggalkan tempat itu, dia mencari supir pengganti untuk membawa mobil yang di kemudikan Tania tadi.


*****


Tania terbangun dengan sakit kepala yang cukup hebat. Ketika matanya benar-benar terbuka, ia duduk dan mencoba mengingat kejadian malam tadi.


Ia segera membersihkan tubuhnya. Sakit kepalanya sedikit berkurang. Tania memutuskan tidak bekerja hari ini. Setelah membersihkan diri, ia turun dan berniat sarapan.


"Sejak kapan kau kembali melakoni kegiatan itu lagi?" tanya Ardian. Suaranya terdengar menahan amarah.


Tania terdiam. Ia baru menyadarinya. Bagaimana dirinya bisa sampai ke rumah? Jelas di tempat itu, tak ada yang mengetahui rumah ayahnya. Apa penglihatannya semalam benar? Tania belum berani membalikkan tubuhnya menghadap Ardian.


"Kenapa tidak di jawab? Bukan kah ayah sudah melarang mu ke tempat seperti itu lagi?" geram Ardian.


"Maaf ayah..." Tania tertunduk.


"Apa karena ayah bukan ayah kandungmu, jadi kau tak lagi mengingat perkataan ayah?" kali ini, terdengar suara Ardian bergetar menahan tangis.


Tania berbalik memeluk Ardian dan menangis. "Bukan begitu ayah. Maafkan Tania. Tania memang salah." Tania menangis.


Ardian membalas pelukan Tania dan ikut menangis. Memang benar Ardian telah berbuat jahat dengan memisahkan Tania dari ayah dan ibunya. Tetapi, cinta yang di berikan nya tulus pada Tania. Saat Tania terjerat pergaulan yang tak baik dulu pun, Ardian lah yang menyelamatkannya.


"Kenapa kau melakukan ini nak?" tanyanya sendu.


Gerald menundukkan kepalanya. Entah mengapa, ia merasa bersalah pada Tania.

__ADS_1


"Tania hanya ingin...." Tania tak bisa meneruskan ucapannya.


Mana mungkin gue bilang ke ayah, kalau gue stress dengan sikap Gerald yang gak jelas? Yang ada, ayah bakal nanyain hubungan gue sama dia lagi! Gue sama dia kan gak ada hubungan apa-apa? ucap Tania dalam hati.


"Kenapa? Bukankah sudah ayah katakan, jika kau punya masalah sekecil apapun, ceritakan pada ayah? Apa kau lupa itu?" Ardian yang sudah melepas pelukannya pada Tania, mengusap airmata di pipi Tania.


"Ini salah saya om." ucap Gerald.


Ardian menatap Tania seakan meminta jawaban.


"Tania pasti bingung dengan sikap saya kemarin." jelasnya.


Tania menundukkan pandangannya. Ardian masih menyimak.


"Tania, ayo kita coba menjalin hubungan yang serius." pinta Gerald pada Tania.


Seketika, Ardian mengerti apa yang terjadi dan menggelengkan kepalanya. Tania sendiri terkejut mendengar pernyataan Gerald.


"Maksudnya?" tanya Tania.


"Jadilah kekasihku." Tania membelalakkan matanya.


"Jangan bercanda Ge...." Gerald menatap tania tanpa berkedip.


"Apa aku terlihat sedang bercanda?" ucap Gerald dengan wajah datar.


"Ayah dan papamu, yang meminta Gerald untuk menjagamu. Papamu sangat yakin, jika kamu akan bahagia bersama Gerald. Ayah juga merasa papamu benar." ucap Ardian.


Tania mendesah. Ia memijit pangkal hidungnya. Rasanya, sakit kepalanya kini semakin menjadi.


"Apa ayah gak mikirin perasaan Tania?" tanya Tania.


"Kau tidak memiliki kekasih. Jadi, tidak salahkan, ayah dan papamu mencarikan jodoh untukmu?" Tania merasa semakin pusing.


"Tapi kenapa harus dia?" tanyanya lagi.


"Apa aku tidak pantas untuk mu? tanya Gerald.


"..." Tania menatap tajam pada Gerald.


"Aku hanya bertanya." ucap Gerald.

__ADS_1


"Percayalah pada pilihan kami. Kali ini saja. Jalani saja dulu. Kami tidak akan memaksa kalian untuk menikah secepatnya."


Tania melempar punggungnya ke sandaran sofa yang di duduki nya. Rasanya teramat lelah pikirannya pagi ini. Kepalanya pun semakin terasa berat.


__ADS_2