
Stevi tidak tahu harus membalas apa. Pada akhirnya, ia mengabaikan pesan Bimo. Makan malam pun tiba. Stevi keluar dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya.
Suasana di meja makan tidak berubah. Masih terasa dingin. Sedikitpun Handoko tak menaruh perhatian pada Stevi putrinya. Sementara Stevi, sesekali melirik kedua orangtuanya.
Selera makannya semakin hilang. Makanan di piringnya pun masih tersisa. Namun Stevi memilih mengakhirinya. Ia menenggak air putih dan ingin segera kembali ke kamarnya.
Baru saja ia mendorong kursinya, Handoko membuka suaranya. Stevi pun memilih kembali duduk.
"Minggu nanti, orangtua dari pria yang papa pilihkan akan melamar mu."ucap Handoko seraya menggeser piring makannya tadi.
"..." Stevi hanya diam dan mendengarkan. Ia menundukkan kepalanya dalam.
Entah mengapa, ia merasakan airmata menggenang di pelupuk matanya.
"Papa minta, turuti papa kali ini. Kau tahu, pria yang akan papa jodohkan padamu, gagal menikah. Karena gadisnya, lebih memilih pria lain. Karena itu, jangan buat papa malu." Handoko memperingatkan Stevi.
Bagaimana jika aku pun sama seperti gadis itu? Aku juga menyukai pria lain. Apa papa mau mengerti diriku seperti keluarga gadis itu, yang memilih membiarkan gadis itu mengejar kebahagiaannya? kata-kata itu, hanya mampu Stevi ucapkan dalam hati.
"Kamu mengerti maksud papa kan?" tanya Handoko.
"Iya pa." lirihnya.
Stevi pun segera berlalu dari sana. Ia tak lagi bisa menahan sesak yang ada di hatinya. Ia menangis dan meratapi nasibnya
Nadia ibunya masuk ke dalam kamarnya dan memeluk Stevi. Sebagai wanita, Nadia mengerti bagaimana sakitnya hati Stevi.
"Papamu, hanya ingin yang terbaik untukmu." ucap Nadia.
Stevi tak menjawab. Ia lelah berdebat. Ia memilih diam dan melakukan semua keinginan orangtuanya. Karena menurutnya, berlari pun akan terasa percuma jika pada akhirnya, papanya bisa menemukan dan memaksa dirinya kembali.
"Kamu coba ketemu dulu. Jika kau tidak menyukainya, katakan pada papamu." Nadia memberikan saran.
" Papa tidak akan mendengarkan ku." lirih Nadia
Nadia ikut terdiam mendengar pernyataan putrinya. Ia paham bagaimana kerasnya watak suaminya itu. Jika memang sudah menjadi kehendaknya, maka tidak ada yang bisa mengubahnya.
*****
Sabtu pun tiba. Setelah seharian kemarin Stevi mengitari mall, ia pun sudah membawakan kado untuk anak pertama Lisa dan Nathan.
__ADS_1
Acara akan diadakan bertepatan dengan makan siang. Setelah di rasa rapih, Stevi pun bersiap pergi. Dari anak tangga, Stevi melihat kedua orangtuanya sedang menghabiskan waktu di ruang keluarga. Ayahnya yang sibuk dengan MacBook di tangannya, dan ibunya yang sedang merangkai bunga.
"Mau kemana kamu? Itu apa?" tanya Handoko saat melihat Stevi berpakaian rapih dan sopan, serta membawa kado.
"Aku mau ke rumah Nathan pa. Hari ini, dia mengadakan syukuran atas kelahiran anaknya." tutur Stevi.
"Nathan sudah punya anak?" Nadia terlihat terkejut.
"Sudah ma. Dia juga sudah menikah sekitar satu setengah tahun yang lalu."
"Kalau begitu, Stevi pergi dulu ya ma, pa." ucap Stevi sambil berlalu dari hadapan orangtuanya.
Nadia dan Handoko pun hanya menganggukkan kepala. Kemudian, mereka kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Setelah melewati padatnya lalu lintas saat weekend, Stevi tiba di kediaman Lisa dan Nathan. Saat Stevi turun dari mobil dan melangkah masuk, mobil Bimo memasuki halaman.
"Bukannya itu Stevi?" gumam Bimo.
"Apa dia teman Lisa?"
Bimo pun berhenti berspekulasi dan memilih untuk mengkonfirmasinya sendiri. Ia turut melangkah masuk.
Saat ia berada di belakang mereka, ia tertegun mendengar ucapan Nathan. Ia pun berusaha mendengarkan nostalgia mereka.
"Stevi..." Nathan terkejut melihat kehadiran Stevi.
Stevi mengangguk membenarkan. "Kenapa? Lo kaget melihat gue di sini?" tanya Stevi.
"Jelaslah gue kaget. Lo tuh berubah tahu." ucap Nathan.
"Ya iyalah kak, kak Stevi kan sempat mengalami kecelakaan sekitar empat tahun lalu. Sampai dia terpaksa melakukan operasi plastik." Nathan dan Stevi tertegun mendengar ucapan Lisa.
Di belakang sana, Bimo yang mendengar pun tak kalah terkejut. Apa, dia gadis yang ku cari?
"Kok kamu tahu?" Nathan dan Stevi bertanya.
Lisa menceritakan, bahwa saat Stevi di bawa ke rumah sakit, dirinya pun ada di rumah sakit yang sama. Saat itu, ia tengah merawat Bu Laras, ibu angkatnya yang sedang sakit.
Bagaimana wajah Stevi yang terlihat begitu sedih, akibat luka yang menggores wajahnya cukup dalam. Bahkan, saat Stevi menjalani operasi plastik, Lisa mengirimkan beberapa buket bunga dan produk penghilang bekas luka. Ia menitipkannya pada perawat.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak kasih ke aku langsung?" tanya Stevi.
"Waktu itu, aku masih berpikir kalau kakak dan kak Nathan punya hubungan spesial. Jadi, aku sedikit takut mendekati kakak." aku Lisa.
"Emang gue makan orang ya than?" tanya Stevi ragu.
Mereka tertawa mendengar ucapan Stevi. "Emang kakak gak tahu, kalau kakak itu galaknya luar biasa?" tanya Mia. Stevi menggeleng.
"Ya ampun kak, kakak itu senior paling galak yang pernah kami temui." lanjut Mia
"Iya kah?" matanya menatap Lisa, Nathan dan Mia bergantian.
Mereka bertiga menganggukkan kepala serempak. Stevi pun menghela nafas dan tersenyum kaku. Ia merasa tak enak pada para juniornya ini.
"Jadi kamu gadis itu?" mereka menoleh pada suara di belakang mereka. Stevi terdiam membeku.
Ia mengenal baik suara itu. Suara orang, yang belakangan ini selalu di hindari nya. Tidak hanya mengabaikan pesan dan teleponnya, Stevi bahkan memblokir nomor ponsel pria itu.
"Kak Bimo?" sapa Lisa.
"Siapa yang kakak maksud?" tanya Lisa.
Stevi berbalik dan menatap Bimo dalam. Lisa, Nathan dan Mia saling bertukar pandangan. Mereka tak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Katakan. Apa itu kau?" tanya Bimo lagi.
Mata Stevi sudah berkaca-kaca. Sekuat tenaga, ia menahan laju airmatanya. Bolehkah ia memilih untuk tidak menuruti keinginan papanya?
Entah keberanian darimana yang Stevi dapatkan. Hingga ia menganggukkan kepalanya. Bimo mendekati Stevi perlahan.
Lisa, Nathan dan Mia mengerutkan dahinya. Sejurus kemudian, Bimo menarik Stevi ke dalam pelukannya. Tanpa bisa di tahan, airmata Stevi meluncur.
"Aku sudah mencari mu kemana-mana. Nyatanya, kau berada di dekatku." lirih Bimo.
Maaf Bimo, kau terlambat mengenaliku. Maaf, karena kali ini pun, kita tak mungkin bersama. Semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu. ucap Stevi dalam benaknya.
Hatinya terasa sakit saat ini. Karena ia, harus kembali mengubur rasa cinta yang pernah hadir di hatinya. Melupakan semua hal tentang pria yang masih memeluknya ini.
"Sepertinya, mereka saling mengenal." ucap Mia. Lisa hanya mengendikkan bahu tak tahu menahu. Begitupun Nathan yang merasa bingung.
__ADS_1