Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Sayang, kamu belum bangun?" hari sudah beranjak siang ketika Nathan membangunkan Lisa. Sudah beberapa hari ini istrinya itu bangun lebih siang dari biasanya.


"Kakak udah mau berangkat ya?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur. Lisa masih mengumpulkan kesadarannya. Matanya bahkan masih sedikit terpejam.


"Udah beberapa hari ini kamu bangun lebih siang dari aku. Kamu sakit?" Nathan terlihat khawatir.


"Gak kok kak. Aku baik-baik aja." Lisa tersenyum.


"Yakin?" Lisa mengangguk.


"Ya udah aku berangkat dulu ya sayang." Nathan mengecup kening Lisa dengan sayang. Lisa hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku ya." lagi, Lisa mengangguk.


Setelah Nathan berangkat, Lisa mulai memaksa dirinya bangkit dari tempat tidur. Entah apa yang terjadi.


Badanku terasa remuk dan lelah. Sepertinya aku terlalu memaksakan diri. batinnya.


Selesai mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan mulai merias wajahnya secara natural. Ketika sedang merapihkan meja riasnya, Lisa tak sengaja melihat kalender yang ada di sana.


Ia terkejut, karena kalender itu belum berganti. Seharusnya ia sudah mengganti kalender itu ke bulan April. Namun yang terjadi, kalender itu masih di bulan februari.


Apa aku lupa ya? Tunggu...


Ia segera membuka laci meja riasnya. Di lihatnya bahwa pembalut yang ia beli di bulan februari akhir, belum terbuka.


Tamu bulanan ku belum datang?


Matanya membola. Ia baru sadar, jika ia sudah terlambat datang bulan.


Aku harus beli testpack. Atau aku harus ke dokter saja?


Akhirnya, Lisa memutuskan membeli testpack lebih dulu. Ia tidak ingin terburu-buru memeriksakan diri ke dokter kandungan. Ia pun segera menuju meja makan.


"Pagi mi." sapa Lisa.


"Pagi sayang. Tumben kamu kesiangan?" tanya Nindya mami mertuanya.


"Iya mi, badan Lisa terasa remuk." Lisa terlihat merenggangkan otot tubuhnya. Terlihat sekali rasa lelah melandanya.


"Jangan terlalu memaksakan diri sayang. Nanti kamu sakit." Nindya mengusap lembut punggung tangan Lisa menantunya.


"Iya mi. Terimakasih ya mi, mami sudah perhatiaan sama Lisa." lirihnya.

__ADS_1


"Iya sayang. Kamu menantu mami yang sudah mami anggap putri mami sendiri." tutur Nindya.


Lisa pun memulai sarapannya. Usai sarapan, Lisa pun berangkat ke kantor. Sebelumnya ia meminta supir yang mengantarnya, mampir ke apotik terdekat. Lisa meminta supirnya menunggu di mobil. Ia pun masuk sendiri.


Lima menit kemudian, Dewi kembali masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mobil kembali melaju ke perusahaan Darmawan Corp..


Tiba di gedung kantor, ia menuju ruangannya dan memulai pekerjaannya. Di tengah pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terlihat nama Nathan di sana.


" Halo kak." jawab Lisa.


"Kamu sakit sayang?" tanya Nathan khawatir.


"Gak kok. Aku cuma kecapean saja." tutur Lisa.


"Tapi tadi pak Maman bilang kamu mampir ke apotik?"


"Tapi aku gak apa apa kak."


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Ya sudah, aku kembali bekerja dulu ya sayang."


"Iya kak."


Telepon pun di matikan. Lisa teringat testpack yang ia beli. Ia membuka tas dan mengambilnya. Ia pun menuju toilet. Segera ia baca petunjuk penggunaannya. Setelah ia ikuti, ia pun menunggu beberapa menit.


Ketegangan begitu terlihat di wajahnya. Namun setelahnya, ia tersenyum cerah ketika melihat garis dua di testpack itu.


Terimakasih Tuhan. Kau sudah percayakan aku untuk merawat makhluk ciptaan Mu ini. Terimakasih sayang, kamu mau hadir di dalam sini. Lisa mengusap perutnya yang masih rata.


Tanpa terasa, air mata jatuh di pipinya. Air mata kebahagiaan. Ia akan memberitahu suami tercintanya. Ia simpan hasil testpack itu dan kembali ke ruangannya.


Ia menaruh testpack itu di atas meja dan memfotonya. Ia kirimkan itu pada sang suami dengan caption: 'menantimu💖'.


Nathan yang melihat gambar yang di kirimkan Lisa, merasa sedikit bingung.


Apa maksud Lisa? Apa dia menginginkan kehadiran baby? batin Nathan.


Nathan menghela nafas kasar. Ia pun membalas pesan istri tercintanya.


[Sabar ya sayang, kita akan tetap berusaha. Aku pun menginginkan kehadirannya.] Nathan.


Lisa yang membaca pesan itu, tertawa terbahak. Sepertinya, suami tercintanya tidak mengerti maksud gambar itu.


Biarlah, akan aku jadikan kejutan untukmu. Lisa pun tersenyum Ia membalas pesan suaminya itu.

__ADS_1


[Iya sayang☺️] Lisa mulai mengatakan kata sayang pada Nathan.


Nathan yang menerima pesan itu pun tersenyum. Baru kali ini, Lisa nya menyebutnya sayang. Ada rasa bahagia yang mengalir di dalam dadanya.


_________________


Sore pun tiba. Lisa membereskan meja kerjanya dan bersiap kembali ke rumah. Rumah yang kini menjadi tempat ternyaman dan di rindukannya. Ia pun tak sabar memberikan kejutan pada suami tercintanya.


Dalam mobilnya, tak hentinya Lisa tersenyum. Menambah kecantikan wajahnya. Senyum itu terus merekah hingga ia masuk ke dalam kamarnya.


Ketika ia sampai, Nathan belum tiba di rumah. Segera ia masuk dan menyapa mertuanya. Mencium punggung tangan mereka dan langsung menuju kamarnya. Di kamar, ia berpikir akan menaruh testpack tadi di mana.


Aku taruh mana ya?


Ia putuskan, menaruhnya di dekat kaca wastafel kamar mandinya. Ia pun membersihkan dirinya. Keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya terbuka. Nathan tersenyum melihatnya. Lisa pun tersenyum.


Nathan menghampirinya dan ingin menciumnya, namun Lisa menolak.


"Ih.... Mandi dulu kak." Nathan mengernyit.


"Tumben. Biasanya juga gak pernah nolak." ucapnya.


"Sudah sana mandi dulu." ucap Lisa.


Nathan pun segera masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya. Selesai membersihkan diri, ia membuka pintu kamar mandi. Namun, belum sempat ia melangkah keluar, ekor matanya menangkap sesuatu di dekat kaca wastafel.


"Apa ini?" gumamnya ketika ia mengambil benda itu.


Ia teringat dengan gambar yang di kirim Lisa pagi tadi. Ia terkejut dan segera masuk ke kamarnya. Ia lihat sekeliling kamar, namun Lisa tak ada. Kemudian ia melihat pintu balkon kamarnya yang terbuka sedikit. Ia pun melangkah ke balkon. Ia lihat istrinya tengah memandang langit yang gelap.


Ia memeluknya dari belakang. Lisa tidak terkejut. Ia menebak jika suaminya, sudah mengetahui hal itu. Ia pun tersenyum. Nathan mengecup pundak Lisa seraya membisikkan sesuatu.


"Terimakasih sayang." lirihnya.


Nathan semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Lisa.


"Terimakasih untuk apa kak?" tanyanya.


"Kamu masih mau rahasia-rahasian sama aku ya?" Nathan mengusap perut Lisa lembut.


"Gak ada rahasia kak." Lisa berbalik menghadap Nathan. Nathan berjongkok dan menatap perut Lisa yang masih rata.


"Papi tunggu kamu sayang." ia mengecup perut itu.

__ADS_1


Lisa mengusap rambut Nathan lembut dan penuh cinta. Penantian mereka, akhirnya membuahkan hasil. Semoga ini, menjadi awal kebahagiaan mereka.


__ADS_2