
Beberapa hari berlalu. Stevi masih enggan pulang ke rumah orangtuanya. Meski mamanya sudah memintanya pulang dan mengatakan ingin membicarakan masalah perjodohan itu baik-baik, namun Stevi tidak ingin pulang.
Ponselnya berbunyi. Stevi melihat nama si penelepon.
"Lisa? Tumben sekali." gumamnya.
"Halo kak Stevi!?"
"Iya Lis, tumben kami telepon aku. Ada apa?"
"Aku mau undang kakak ke acara syukuran."
"Syukuran? Syukuran apa? Kamu hamil?" tanyanya.
Terdengar suara Lisa yang terkekeh. Wajar saja jika Stevi tidak mengetahui tentang kelahiran putra pertamanya dengan Nathan. Apalagi, Stevi terlihat sangat sibuk belakangan. Mereka sampai tak sempat bertemu secara pribadi.
"Kelahiran anakku kak."
"Hah? Kamu sudah melahirkan?" Stevi terkejut mendengar berita itu.
"Wajar kakak gak tahu. Satu tahun ini kan, kakak sibuk banget. Aku kirim pesan sekedar tanya kabar saja, jarang di balas."
Stevi mengusap tengkuknya. Apa yang di katakan Lisa memang benar. Meski tak sepenuhnya, namun sebagian besar waktunya memang ia habiskan untuk bekerja.
"Maaf ya, jarang aku balas. Ngomong-ngomong, anak mu laki-laki atau perempuan?" tanyanya lagi.
"Laki-laki kak."
"Selamat ya sudah jadi ibu."
"Terimakasih kak. Jangan lupa datang Sabtu ini ya kak."
"Oke." Stevi pun meletakkan kembali ponselnya.
Ia termenung. Di usianya yang sudah menginjak kepala 3, ia masih sendiri. Entah mengapa, para pria lajang seakan enggan mendekatinya. Hanya Nathan yang cukup dekat dengannya.
Meski pria itu tak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman dekat. Ia adalah tipe pria perhatian yang pernah ia temui. Ah, sepertinya Stevi melupakan Bimo.
Meski pria itu melupakannya karena ada sedikit perubahan di wajahnya, pria itu cukup dekat dengannya. Hei, mereka tak cukup dekat. Bagaimana pun, hubungan mereka masih terbilang ambigu dan tak tahu kemana arahnya.
Bimo sendiri tak mengenalinya. Stevi menghembuskan nafas kasar. Biarlah, jika memang Bimo jodohnya pasti akan dipersatukan pikirnya.
"Berarti, aku harus pulang dulu. Hah... Malas banget. Kan aku lagi kabur, masa pulang? Tapi duit cash udah gak cukup." Stevi merengut.
Bel pintu berbunyi. Membuyarkan pikiran berat Stevi yang tengah bimbang, antara pulang atau tidak.
Stevi berjalan membuka pintu. Seketika raut wajahnya pias. Entah darimana ayahnya mengetahui keberadaannya. Raut wajah penuh kemarahan itu tergambar jelas di wajah ayahnya.
"Pa... Papa..." lirihnya.
__ADS_1
Handoko, ayah Stevi melirik ke dalam apartemen. Melihat dari penataan ruang, pemilihan furniture yang simpel, serta warna cat di dinding yang hanya berwarna krem, membuat Handoko menebak jika pemilik apartemen itu bukan orang yang sepadan dengan keluarganya.
"Punya siapa?" tanyanya seraya menunjuk apartemen itu dengan dagunya.
"Masuk pa." pinta Stevi.
Stevi tidak ingin, ayahnya meledakkan amarahnya di lorong apartemen yang bisa memicu keramaian.
Handoko masuk dan duduk di sofa terdekat. Stevi mengambil air mineral dari kulkas dan memberikannya pada Handoko.
"Sekarang katakan, apartemen ini milik siapa." tanya Handoko tanpa basa basi.
Papa memang tidak pernah memikirkan aku. Datang kesini, bukannya menanyakan kabarku atau membujukku pulang, malah bertanya apartemen ini milik siapa? gumam Stevi.
"Kenapa diam?" tanya Handoko.
"Eh," Stevi tersadar.
"Ini, punya teman Stevi." jawabnya. Stevi menundukkan kepala.
"Laki-laki atau perempuan?" Stevi kembali terdiam.
"Jawab." sentak Handoko."
"Laki-laki." lirihnya.
"Dengan pria tua itu?" Handoko diam.
"Jika papa tetap bersikeras menyuruh Stevi menikah dengannya, maka papa akan segera melihat mayat Stevi." pekik nya. Nafas Stevi tersengal.
Entah bagaimana lagi caranya untuk meyakinkan ayahnya, jika ia tidak ingin di jodohkan.
"Bukan dengan dia. Kali ini, dia lebih muda." ekspresi Handoko berubah sendu.
"Apa papa gak bosan menjodohkan Stevi? Biarkan aku mencari jodohku sendiri pa..." pinta Stevi. Airmatanya bahkan sudah membasahi pipinya.
"Papa tidak ingin mendengarnya. Papa harap, secepatnya kau pulang." Handoko bangkit berdiri dan meninggalkan Stevi.
Stevi terisak. Hatinya sakit mendengar penolakan sang ayah. Tak bisakah ayahnya mempercayainya? Tak bisakah dirinya menentukan kebahagiaannya sendiri?
Ia mengusap airmatanya, kala mendengar bel kembali berbunyi. Ia beranjak dari duduknya dengan lesu.
Bimo menatap Stevi bingung. Mata gadis itu terlihat sembab. Bekas airmata pun tercetak di pipinya.
"Kamu habis nangis?" tanyanya.
Stevi menggeleng. "Habis nonton drama yang sedih. Jadi begini." Stevi menyumpah dalam hati. Ia merasa sedang menutupi sesuatu dari kekasihnya.
"Apa semua wanita menyukai drama?" gumamnya seraya masuk ke dalam apartemen.
__ADS_1
Aku tidak suka. Hanya berbohong saja padamu. gumamnya dalam hati.
Bimo meletakkan tas kerjanya di sofa, kemudian ia memasuki ruang kerjanya. Stevi duduk bersandar di atas sofa. Tidak lama, Bimo kembali keluar dan memasukkan sesuatu ke dalam tasnya.
"Jangan terlalu banyak nonton drama." ucap Bimo seraya berlalu meninggalkannya.
"Hmm..."
"Kau sudah ingin pergi?"tanya Stevi, saat melihat Bimo berjalan menuju pintu.
"Aku hanya mengambil berkas. "jawab Bimo.
Belum sempat Stevi mengucapkan sepatah kata, Bimo pergi dari sana. Stevi semakin kecewa.
*****
Ke esokkan harinya, Stevi membereskan barangnya. Sejak pagi, pria itu memang belum menunjukkan batang hidungnya. Padahal, Stevi ingin berterimakasih atas semua bantuannya dan berpamitan.
Setelah memikirkan ucapan ayahnya, membuat Stevi memutuskan kembali. Akhirnya, Stevi menuliskan surat. Setelah itu, Stevi keluar dari sana.
Stevi melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Bimo.
Sampai akhir pun, kau tidak mengingatku. Terimakasih untuk segalanya.
Stevi membuka aplikasi taksi online dan memesan taksi. Tak butuh waktu lama, taksi pun tiba. Stevi segera masuk.
Satu jam kemudian, Stevi tiba di rumah megah milik ayahnya. Ia di sambut pelukan hangat sang mama. Hanya mamanya lah yang membuatnya ingin kembali ke rumah yang lebih terasa seperti neraka.
Stevi merebahkan dirinya di kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Ia sudah pasrah dengan nasibnya.
"Sudah Stevi. Lupakan Bimo. Pria itu sudah tak mengingatmu lagi. Ayolah...." gumamnya sendiri.
Saat ia tengah sibuk dengan pikirannya, ponselnya berbunyi. Tanda pesan yang baru saja masuk. Ia menyambar ponselnya dan membukanya.
Ia membaca beberapa kata yang tertulis di sana.
Kau dimana? Apa kau sudah pergi? Aku tak melihat barang-barang mu dan hanya menemukan surat di meja.
πππππ
Hai genks..... bagaimana kabar kalian? Maaf ya, karena ceritaku jarang up. Sekalinya up, hanya satu bab.
Sejujurnya, cerita ini sedikit membuatku down. Tahukan kalian, disaat kalian memberikan komen, kritik yang membangun, itu akan memberikan aku semangat untuk menulis.
Sedihnya aku, sedikit sekali yang komen. Membuatku sedikit drop dan tak bersemangat melanjutkan.
Meski begitu, cerita ini akan tetap aku selesaikan.
Oke genks... sekian dulu curhatku hari ini. Semangat dalam menjalani aktivitas, dan thank you allππππ
__ADS_1