Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Mirip?


__ADS_3

Seluruh anggota keluarga datang melihat kondisi Lisa.


"Apa separah itu?" tanya Ferdinand pada menantunya Nathan.


Nathan sudah menceritakan penyebab Lisa harus di rawat.


"Iya Pi. Aku juga gak tega melihat Lisa tersiksa seperti itu." raut kesedihan, begitu tampak di wajah Nathan.


"Pembawaan bayi memang berbeda. Doakan saja supaya istri dan anakmu baik-baik saja nak." ujar mami Nindya.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya. Di belainya rambut Lisa dengan lembut. Lisa sendiri tertidur dengan lelap. Seakan ia tak terganggu dengan sekelilingnya.


Setengah jam kemudian, seluruh anggota keluarga pun pamit pada Nathan. Mereka membiarkan Lisa untuk istirahat. Lisa sendiri masih tertidur. Setelah mereka pulang, Nathan kembali duduk di samping brankar Lisa dan menggenggam tangan istrinya.


Ia tenggelam dalam lamunannya. Hingga Nathan tak menyadari, jika Lisa sudah membuka matanya. Lisa menatap wajah suaminya dengan sendu. Ada rasa bersalah di hatinya.


Maafkan aku kak. Aku tidak bisa menjadi wanita kuat untukmu. Selalu saja menyusahkan mu. batin Lisa.


Air mata pun mengalir di pipinya. Saat Nathan tersadar dari lamunannya, Lisa menghapus air matanya dengan cepat. Sayangnya, Nathan sudah melihat air matanya.


"Kenapa sayang? Bagian mana yang sakit?" Nathan terlihat panik. Seketika Lisa tersenyum. Melihat kepanikan suaminya, membuat Lisa bahagia.


"Aku gak apa-apa kak." nada suaranya, masih terdengar lemah.


"Kamu yakin?" Lisa mengangguk. "Mau makan?" Lisa menggeleng.


"Aku mau minum saja." ucapnya.


Nathan segera mengambil air putih yang berada di atas meja samping brankar. Ia pun membantu Lisa untuk duduk dan meminum air putih itu. Untuk sesaat, mereka berdua saling pandang dan terdiam. Seakan mereka berbicara melalui mata mereka.


Nathan mengecup lembut dahi Lisa. Menariknya dalam pelukan hangatnya dan membelai rambut Lisa. Lisa dan Nathan masih belum berbicara. Hingga ketukan pintu menyadarkan mereka. Nathan mempersilahkan orang tersebut masuk.


Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria gagah memasuki ruang rawat itu. Pria dengan setelan jas mahal, senyum yang hangat serta membawa sebuket bunga lavender.


"Bimo... Kok Lo bisa tahu kalau istri gue di rawat?" tanya Nathan dengan raut wajah heran.


"Tadi gue datang ke kantor Lo. Tapi asisten Lo bilang, Lo gak ada karena istri Lo di rawat di rumah sakit. Emang Lo lupa, hari ini kita ada rapat di kantor Lo?" tanya pria bernama Bimo itu.


Nathan terkejut, ia melupakan rapat itu.

__ADS_1


"Ah... Iya, gue lupa bro. Sorry banget." ucapnya menyesal. "Bukannya, gue udah minta tolong Kris yang handle?" tanya Nathan saat ia mengingat bahwa pekerjaan hari ini akan Kris handle.


"Kris juga bilang begitu. Tapi, ada yang mau gue omongin ke Lo. Ini penting." ucap Bimo.


Lisa menatap pria itu. Ia merasa ada kemiripan di antara mereka. Ia bingung. Seingatnya— Ferdinand papinya—hanya memiliki dirinya sebagai anak kandung. Lalu, bagaimana bisa mereka terlihat mirip? Lisa berdeham, mencoba menyadarkan mereka. Nathan dan pria itu melihat ke arah Lisa.


"Sayang, kenalin ini Bimo. Dia sahabat aku sejak SMA." Bimo mengulurkan bunga yang dibawanya. Lisa mengambilnya dan tersenyum.


"Terimakasih." ucapnya.


"Sama-sama.'


"Maaf ya, dulu saat pernikahan kalian, gue gak datang." sesalnya.


"Santai. Gue tahu kok Lo itu orang sibuk." Nathan memakluminya.


Nathan mengajak Bimo keluar. Ia berpamitan pada istrinya dan keluar bersama Bimo. Lisa hanya mengangguk dan tersenyum mengizinkan.


Setelah mereka keluar, Lisa mengambil ponselnya di atas meja dan mengirim pesan pada Mia dan Kenzi. Usai mengirimkan pesan, dokter Dea memasuki ruangannya.


"Bagaimana kondisimu Lis?" tanya dokter Dea.


Dokter Dea pun mulai memeriksa kondisi Lisa siang itu. Setelah selesai, dokter Dea memberikan sedikit saran.


"Apa kau tidak bisa makan?" Lisa mengangguk. Lisa menjelaskan jika ia tak bisa mencium aroma masakan dan nasi.


"Oke, kalau susu bagaimana?" tanyanya lagi.


"Aku belum mencoba minum susu." jawab Lisa.


"Cobalah minum susu. Untuk makan, coba dengan porsi sedikit lebih dulu. Dan sedikit paksaan. Karena bayi dalam tubuhmu, membutuhkan asupan gizi. Dan itu, hanya di dapat darimu. Tidak perlu porsi besar, sedikit tapi sering. Apa kau mengerti?" Lisa mengangguk.


Lisa pun kembali menanyakan tentang mual dan muntah berlebih yang ia rasa. Ia takut, jika itu berbahaya bagi janinnya. Dokter Dea dengan sabar menjelaskan dan memberitahu apa yang Lisa ingin tahu.


Setelah puas bertanya, dokter Dea pun segera berpamitan dan keluar dari ruangan Lisa. Baru saja dokter Dea menutup pintu, Nathan sudah berdiri di hadapannya. Nathan pun mulai menanyakan kondisi Lisa istrinya. Setelah dokter Dea mengatakan jika Lisa dan janinnya baik-baik saja, Nathan memasuki ruang rawat Lisa.


Baru saja ia masuk, perawat mengetuk pintu. Nathan berbalik dan membuka pintu. perawat itu menyerahkan nampan berisi makanan untuk Lisa. Nathan mengambilnya dan mengucapkan terimakasih. Ia duduk di samping istrinya.


"Makan dulu ya." ucap Nathan lembut. Lisa mengangguk.

__ADS_1


Dengan telaten Nathan menyuapi Lisa. Baru dua suap, Lisa sudah tidak ingin memakannya lagi. Nathan tidak memaksanya. Selesai makan, Lisa meminum vitamin yang sudah di antarkan perawat tadi.


"Kakak tidak makan?" tanya Lisa.


"Sebentar lagi." jawabnya.


"Tidak apa, kakak makan saja. Sebentar lagi, Mia dan Kenzi akan datang." Lisa tersenyum.


"Oh iya kak, teman kakak tadi mana?" tanyanya.


"Sudah pulang." Lisa mengangguk.


"Tapi, kenapa aku merasa kalian mirip ya?" gumam Nathan.


Lisa tertegun. Rupanya, Nathan juga menyadari kemiripan mereka. Tak lama kemudian, pintu ruang rawat terbuka. Lisa dan Nathan menoleh ke arah pintu. Terlihat dua orang sahabatnya yang sedang saling menatap tajam. Lisa dan Nathan pun terkekeh.


"Kalian jangan berantem terus. Nanti jadi jodoh loh." sindir Nathan.


"Impossible.." ucap Mia dan Kenzi bersamaan.


"Sudah jodoh kayanya kak." Lisa terkekeh melihat kelakuan para sahabatnya itu.


Mia dan Kenzi menatap Lisa dengan tajam.


"Kenapa kalian melihat Lisa seperti itu? Mau ku buat buta ya mata kalian?" ucap Nathan.


"Sorry bos, jangan marah ya." Kenzi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Gua bisa titip Lisa sebentar kan? Gua mau beli makanan dulu."


"Tenang saja. Lisa aman" ucap Mia.


Nathan pun tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada sang istri. Ia mengecup keningnya dan berpamitan. Nathan pun keluar dari ruang rawat itu menuju kantin rumah sakit.


Sepeninggal Nathan, Mia dan Kenzi pun berbincang dengan Lisa. Mia menanyakan kondisi Lisa. Nathan kembali ke ruang rawat 30 menit kemudian. Melihat tawa di wajah istrinya, membuat Nathan tersenyum. Ia pun bergabung dengan mereka.


Puas bersenda gurau, Lisa mulai merasa mengantuk. Mia dan Kenzi yang melihatnya pun, berpamitan. Mereka membiarkan Lisa beristirahat.


••••••••••••••

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, kondisi Lisa semakin membaik. Dokter Dea pun mengizinkan Lisa untuk pulang. Nathan bersyukur, karena Lisa dan calon bayi mereka kini baik-baik saja. Ia akan melindungi mereka dengan segenap hatinya.


__ADS_2