Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Kesedihan Kenzi


__ADS_3

Sudah beberapa hari setelah kejadian Mia meninggalkan Kenzi di loby. Sampai hari ini, Mia bahkan tak pernah menghubunginya. Saat Kenzi mengajaknya menjenguk Lisa pun, tak ada tanggapan darinya.


Entah mengapa, Kenzi merasa Mia menghindarinya. Sejak pagi, Kenzi bahkan sudah mengiriminya banyak pesan. Namun Mia tak membalasnya satu pun. Di baca pun tidak.


Kenzi memutuskan akan menemui Mia di departemennya dan mengajaknya makan siang bersama. Kenzi pun berusaha fokus pada pekerjaannya.


Setelah berkutat dengan pekerjaan, saat makan siang pun tiba. Kenzi bergegas menuju ruangan Mia. Tiba di ruangan itu, ia melihat meja Mia tanpa penghuni.


"Maaf, apa Bu Mia tidak masuk kerja?" tanyanya pada bawahan Mia.


"Oh, Bu Mia sedang cuti pak." jawabnya.


"Oh begitu ya." Kenzi menatap nanar ruangan Mia.


Kenapa dia tak memberitahuku? pikirnya.


Kenzi mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Lisa.


"Halo.."


"Lo tahu Mia cuti?" tanya Kenzi tanpa basa-basi.


"Sorry, Mia bilang Lo gak boleh tahu." Kenzi menghela nafas lelah.


"Lo kan tahu perasaan gue ke dia bagaimana? Apa alasan dia?" tanyanya lagi.


"Bukannya udah gue bilang ke Lo buat ungkapin perasaan Lo ke dia? Apa salah, kalau dia merasa Lo gak sedikit pun menaruh rasa untuk dia? Jangan salahkan dia."


Lisa memutus telepon secara sepihak. Kenzi tak tahu harus berbuat apa. Selera makannya tiba-tiba saja menghilang. Ia memutuskan mendatangi Mia.


Pikirannya berkelana pada kejadian beberapa hari yang lalu. Apa benar dirinya lah yang bersalah? Tanpa terasa, Kenzi sampai di kediaman Mia. Ia pun memberanikan diri memencet bel.


"Eh.... Mas Kenzi. Masuk mas." ucap ART di rumah Mia.


Kenzi memang sering ke rumah Mia. Itulah sebabnya, hampir seluruh pekerja di rumah Mia mengenalnya. Apalagi, orangtua Kenzi dan Mia, merupakan orang kepercayaan Ferdinand.


"Kok sepi bi?" tanya Kenzi.


"Tante sama Mia kemana?"


"Bukannya Mia lagi cuti?" tanyanya lagi.


"Ibu, bapak sama non Mia gak di rumah. Mereka pergi ke Malang mas ke tempat eyang."

__ADS_1


"Eyang sakit?" tanya Kenzi lagi.


"Gak mas. Lusa, non Mia akan bertunangan. Eyang ingin, pertunangan di lakukan di rumahnya." jelas ART tersebut.


Kenzi terkejut mendengar pernyataan itu. Kenapa Lisa tak memberitahunya hal ini tadi? pikirnya. Ada rasa kecewa yang terlihat jelas di wajah Kenzi.


*****


Setelah memutus sambungan telepon Kenzi, Lisa berjalan layaknya setrikaan. Hingga Nindya menegurnya.


"Kamu kenapa nak? Ada yang tidak nyaman?" tanya Nindya khawatir.


"Gak kok mi." jawab Lisa.


Nathan baru saja ke luar dari kamar saat melihat wajah khawatir ibunya. Ia bergegas menghampiri mereka. Nathan memang sudah mulai mengambil cuti sejak kemarin. Mengingat kandungan Lisa sudah memasuki bulannya dan tinggal menunggu waktu saja.


"Kenapa sayang?" Nathan terlihat cemas.


"Gak ada apa-apa kak." jawab Lisa seraya menunjukkan senyumnya.


"Yakin?" Lisa mengangguk.


Nathan menghembuskan nafas lega. Jujur saja, ia sungguh merasa takut sekali.


"Kak..." Nathan menatap Lisa.


"Apa aku salah?" Nathan mengernyit bingung.


"Memisahkan Mia dan Kenzi?"


Nathan akhirnya paham, jika istrinya itu tengah mengkhawatirkan masalah lain. Ia memeluk bahu Lisa dan mengusap lengannya.


"Itu permintaan Mia kan?" Lisa mengangguk.


"Kita tidak bisa melakukan semua keinginan orang lain dengan sempurna. Sekali pun kamu tidak mengatakannya, lambat laun Kenzi akan mengetahuinya. Entah darimu, orang lain, ataupun dengan sendirinya." Nathan menyampaikan opininya.


"Kakak benar." Lisa menghembuskan nafas lega dan bersandar di d*** suaminya.


*****


Seminggu berlalu. Mia kini sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Kali ini, sang tunangan yang mengantar dirinya bekerja.


"Terimakasih." ucap Mia pada sang tunangan ketika mereka sudah tiba di depan gedung kantornya. Senyumnya mengembang.

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku pergi dulu." ucap pria itu. Mia mengangguk dan segera keluar dari mobil.


Begitu mobil itu pergi, Mia mulai memasuki loby. Dia berjalan seperti biasa menuju lift. Saat memasuki lift, Kenzi turut masuk ke lift yang sama dengannya. Sebelum karyawan lain masuk, Kenzi segera menutup pintu lift.


Mia berpura-pura tak peduli. Meski kenyataannya, jantungnya sudah bergemuruh dengan hebatnya.


"Apa kabar." tanya Kenzi setelah pintu menutup.


"Baik." jawab Mia singkat.


"Kenapa kau pergi begitu saja hari itu?" tanyanya lagi.


"..." Mia terdiam tak menjawab.


"Kau bahkan tak membaca atau pun membalas pesanku. Kenapa?" tanyanya lagi. Kenzi menatap pada Mia dari pintu lift.


Mia menundukkan pandangannya. Tak ingin terlihat lemah di hadapan Kenzi.


"Kau bahkan bertunangan tanpa memberitahuku." lirih Kenzi.


Mia menaikkan pandangan dan menatap Kenzi dari pintu lift. Dia tak heran Kenzi tahu secepat itu. Karena keesokkan hari setelah pertunangan, ART nya memberitahu tentang kedatangan Kenzi dan memberitahu segalanya.


Perih. Hati Mia terasa amat perih. Kenzi tahu tapi tak berusaha menghentikan pertunangan itu.


"Saat Lo tahu, kenapa diam saja? Kenapa gak Lo hentikan?" tanya Mia. Airmatanya jatuh tanpa di minta.


Beruntung, dia tiba di lantai tempatnya bekerja. Mia segera menghapus airmatanya dan melangkah keluar.


Kenzi menatap nanar kepergian Mia. Semua perkataan Mia terus terngiang di telinganya. Mungkinkah Mia menyadari perasaannya dan menunggu dirinya mengatakan rasa itu?


Dasar b****. Bukannya Lisa udah bilang kemarin? gumamnya.


Kenzi menyugar rambutnya. Ia merutuki dirinya sendiri. Dirinya terlalu percaya diri, jika Mia tak akan berpaling darinya. Apalagi, setelah Mia mengirimkannya nasi goreng waktu itu.


Jujur saja, Kenzi juga menyadari perasaan Mia padanya. Sayangnya, Kenzi tidak tahu jika Mia menanti dirinya mengungkapkan perasaan cintanya.


Bukankah Mia sudah tahu? Untuk apa lagi ia menyatakannya? Tak bisakah Mia menjalaninya begitu saja? pikiran-pikiran seperti itu, terus melintas dalam benaknya.


Kenzi merasa frustasi. Ia tak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan. Di depannya, sudah menumpuk dokumen-dokumen yang harus di periksa nya sebelum di tanda tangani oleh Gerald dan Ferdinand.


Mia, tahukah kau aku terluka? Kenapa kau lakukan ini? Kau sudah tahu aku menyukaimu. Bahkan aku menginginkanmu. Tapi kenapa? Siapa orang yang kau pilih itu? Apa dia jauh lebih baik dariku? Apa dia selalu memperhatikanmu lebih dari aku? Hah....


Gerald mengetuk pintu ruangan Kenzi. Entah sudah berapa kali ia mengetuk. Namun pintu itu tak juga terbuka. Akhirnya, Gerald membuka pintu dan melihat pemandangan yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


Sahabat sekaligus asistennya, terlihat terpuruk dan berantakan. Gerald sampai menggelengkan kepala tak percaya melihat penampilan Kenzi. Dia sudah mendengar cerita pertunangan Mia dengan seseorang dan bagaimana perasaan Kenzi pada Mia dari Lisa. Namun ia tak menyangka dampaknya jadi seperti ini.


__ADS_2