
"Melihatmu seperti ini, sepertinya kau harus segera menyelesaikan masalahmu." ucap Gerald.
Kenzi terkejut mendengar suara Gerald. Ia menyadari penampilannya yang sudah terlihat berantakan. Kenzi terdiam tak menjawab. Tiba-tiba saja Tania ikut menerobos masuk.
"Ken.... Ayo ikut kami." ajak Tania.
Kenzi menatap pada dua orang yang ada di hadapannya bergantian.
"Sudah jangan ganggu dia." Gerald melarang Tania semakin memasuki ruangan Kenzi.
"Apa sih. Ayo Ken. Gak seru kalau gak ada Lo." sungut Tania.
"Kamu...." Gerald menatap tajam Tania.
Nyali Tania menciut. Ia melipat b****nya dan tak lagi bicara. Ia mengikuti keinginan Gerald. Keduanya pun meninggalkan ruangan Kenzi.
"Apa Gerald sudah berhasil merebut hati Tania?" Kenzi bermonolog dengan dirinya sendiri.
Kenzi kembali mencoba fokus. Jam makan siang pun tak di hiraukan nya. Perutnya tak sedikitpun merasakan lapar. Ia memaksa diri mengerjakan semua pekerjaan.
Pintunya kembali di ketuk. Tanpa peduli siapa itu, Kenzi menyuruh orang itu masuk. Terdengar suara pintu yang terbuka. Kenzi tak mengalihkan sedikitpun pandangannya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Lo belum pulang? Lembur?" Kenzi terdiam tanpa bisa bergerak.
Dia merasa dirinya seakan berhalusinasi mendengar suara Mia. Ia pun menghela nafas kasar dan menggelengkan kepalanya. Ia tetap tak melihat orang yang berada di hadapannya.
"Zi..." teriak suara itu lagi.
Kenzi pun memberanikan diri mengangkat pandangannya. Dalam hati ia berharap, jika apa yang di dengarnya salah. Tidak mungkin Mia ada di sini.
Setelah melihat dengan jelas, jantungnya kini berpacu dengan cepat. Apakah ini khayalannya? pikir Kenzi. Apakah beberapa hari tak bertemu, dan saat bertemu status Mia kini sudah bertunangan, membuatnya jadi berhalusinasi?
"Gue bukan halusinasi Lo. Ini gue Mia." ucap Mia.
"Duduk." Kenzi mempersilahkan Mia duduk.
"Lo lagi banyak kerjaan?" tanya Mia.
"Gak juga." jawabnya singkat. Mia mendengus.
"Ada apa Lo ke rumah gue waktu itu?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Kenzi menatap Mia dalam. Ingin rasanya Kenzi merengkuh Mia dalam dekapannya. Namun urung di lakukan nya.
"Gak ada. Cuma kaget saja dengar Lo cuti. Gue pikir Lo sakit. Jadi gue niat jenguk Lo. Ternyata, Lo bertunangan. Kenapa Lo gak kasih tahu gue?" tanya Kenzi lirih. Kenzi mati-matian menahan sesak di d***.
Lo gak peka atau b**** sih Kenzi? rutuk Mia dalam hatinya. Mia berusaha menahan gejolak yang ingin menerobos dari dalam dirinya.
Inginnya dia memaki-maki pria di depannya ini. Menyumpahinya, memukulinya hingga puas. Namun ia menahannya. Airmatanya saja sudah membendung. Ia menengadahkan kepala menghalau airmata itu keluar.
"Karena gue ngadain acaranya di tempat eyang. Jadi, gue rasa gak perlu banyak orang yang tahu." lirihnya.
Baru saja Mia selesai mengucapkan hal itu, ponselnya berbunyi. Mia meraih ponsel dalam tasnya dan melihat nama si pemanggil. Setelah itu, ia menjawabnya.
"Halo.."
"..."
"Tunggu sebentar. Aku keluar sekarang."
Mia bangkit berdiri dan berpamitan pada Kenzi. "Gue duluan ya. Udah di jemput." ucapnya.
Mia berbalik dan melangkah, namun Kenzi menahan lengannya. Airmatanya mulai tumpah. Melihat kondisi Kenzi saat masuk ruangannya tadi saja, sudah membuat sesak d*** Mia. Di tambah pria itu kini menahannya.
"Apa Lo yakin dengan keputusan Lo?" tanyanya.
Mia hanya mengangguk dan memaksa lepas lengannya dari cengkeraman Kenzi. Kenzi tak mampu menahan Mia. Yang Kenzi tak tahu, Mia menangis karena pertanyaan Kenzi. Keputusan yang di ambil nya, adalah hasil dari kejadian Minggu lalu.
*****
Gerald mengajak Kenzi bicara. Setelah rapat berlangsung tadi. Kini, di ruang rapat itu hanya ada mereka berdua.
"Kenapa Lo gak fokus selama rapat?" tanya Gerald.
"Maafkan saya pak." Kenzi meminta maaf atas kelalaiannya.
"Sekarang gue bicara sebagai teman Lo. Gak usah terlalu formal. Cerita kalau Lo punya masalah." ucap Gerald.
Kenzi pun menceritakan tentang rasa sakit hatinya karena Mia bertunangan. Tidakkah Mia melihat, bahwa Kenzi menginginkannya? Tidakkah Mia menyadari rasa cinta Kenzi padanya. Hingga cerita Kenzi berakhir, Gerald hanya mendengarkan.
"Jadi, karena itu Lo gak fokus?" tanya Gerald saat Kenzi tak lagi bersuara. Kenzi menganggukkan kepalanya.
"Lo pernah dengar gak, kalau wanita itu selalu mengutamakan perasaannya daripada logikanya?" Kenzi mengernyitkan dahi.
Ia memang pernah mendengar tentang hal itu. Namun tak pernah tahu, jika hal itu adalah kenyataan. Ia pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mia butuh kepastian dari Lo. Bukan hanya sekedar bukti. Sebenarnya, bagi kita kaum Adam, pasti lebih memilih membuktikan rasa itu daripada harus mengucapkannya. Tapi berbeda bagi kaum hawa. Mereka lebih mengedepankan emosi dan perasaan mereka. Itu sebabnya, mereka membutuhkan pernyataan kita lebih dulu dibandingkan bukti.
"Kalau sudah seperti ini, Lo gak bisa menyalahkan Mia atas semua yang terjadi. Lo terlalu percaya, bahwa Mia akan tahu hati lo tanpa perlu Lo ungkapkan." Gerald menerangkan.
Kenzi terdiam. Ia meresapi semua ucapan Gerald dan membenarkannya dalam hati. Dia memang b**** dan terlalu percaya diri. Nyatanya, hampir seluruh wanita di dunia ini membutuhkan sebuah pernyataan. Meski bukti pun pada akhirnya mereka butuhkan.
"Jadi gue harus gimana sekarang?" tanya Kenzi lirih.
"Ungkapkan perasaan Lo ke Mia. Sebelum dia menikah. Gue dengar, pernikahannya sudah di atur satu bulan lagi." Kenzi terperanjat.
"Lo gak bohong kan?" ada raut cemas yang terlihat jelas di wajah Kenzi.
Gerald menggeleng dan bangkit berdiri. Kemudian, dia melangkah meninggalkan ruang meeting. Kenzi terduduk lemas. Satu bulan, waktu Kenzi hanya satu bulan. Jika tidak, tidak mungkin baginya mengganggu rumah tangga Mia dan tunangannya itu nanti.
Ia segera merencanakan hal-hal yang harus di lakukan nya. Tak ingin Mia, berpaling darinya. Jujur saja, Kenzi masih melihat binar cinta untuk dirinya di mata Mia. Masih tidak berubah sejak dulu.
Kenzi pun segera menghubungi Mia.
"Halo."
"Punya waktu mi?' tanya Kenzi.
"Kapan?"
"Malam ini?" ucapnya tak ingin membuang waktu.
Kenzi masih menunggu jawaban Mia.
"Mi..." panggil Kenzi, setelah Mia terdiam selama lebih dari setengah menit.
"Oke. Dimana?"
"Nanti gue kirim pesan ke Lo tempat dan waktunya. Lo harus datang. Gue akan tunggu Lo sampai datang." ucap Kenzi.
"Gue gak bisa janji. Takut tiba-tiba berhalangan."
"Pokoknya, gue akan tunggu Lo sampai datang."
Kenzi memutuskan sambungan telepon dan segera mencari restoran. Setelah menemukan restoran yang tepat, ia mereservasinya.
Setelahnya, ia mengirimkan pesan pada Mia, tempat dan waktu pertemuan mereka.
πΌπΌπΌπΌπΌ
__ADS_1
Apakah Kenzi berhasil menyatakan cintanya pada Mia atau tidak? Nantikan terus kisahnya.
Sebenarnya, bab ini sudah di ketik semalam, tapi karena matanya tak bisa diajak berkompromi, jadilah baru ku publish.... Terimakasih genks.... Jangan lupa like, komen dan vote serta hadiahnya ya genks.... Thank you all...ππππ lope-lope buat kalian cemua