
Layaknya wanita yang tengah mengandung, Lisa pun mengalami mual dan muntah serta mengidam. Seperti pagi ini, sejak membuka matanya Lisa mengalami morning sickness. Entah bebauan apa yang mampu menusuk dengan tajamnya di indera penciumannya. Hingga perutnya bergejolak dengan hebat dan berakhirlah Lisa dengan ketidakberdayaannya.
Setelah mengetahui kehamilannya, Lisa seolah di uji dengan hebatnya. Ia tidak bisa makan sedikit pun. Makanan apa pun yang masuk ke dalam mulutnya, akan kembali di m****hkannya.
Nathan begitu cemas melihat kondisi Lisa yang kini terkulai lemas dan tak berdaya. Ingin rasanya ia menggantikan posisi Lisa saat ini.
Andai apa yang kamu rasa bisa di pindahkan padaku, aku rela menggantikan mu. Maafkan aku sayang. batinnya.
Lisa yang terlalu lemas kini tertidur. Nathan hanya bisa mengusap rambutnya lembut. Tersirat dengan jelas dari raut wajahnya jika Nathan begitu cemas. Lisa terbangun merasakan lembutnya belaian dari Nathan.
"Kakak sudah mau berangkat?" tanyanya lemah.
"Hemm... Tapi, sebelumnya kita ke dokter ya?" Lisa tersenyum. Ia bisa melihat wajah suaminya yang di penuhi rasa khawatir. Namun ia tahu, jika suaminya itu tak mungkin meninggalkan pekerjaannya.
"Aku gak apa apa kok kak." ucapnya ingin menghilangkan rasa khawatir yang melanda suaminya.
"Sudah dua hari kamu begini sayang. Aku gak tega liat kamu m****h terus. Badan kamu juga semakin lemah." Nathan mencoba membujuk Lisa. Rasa khawatirnya, benar-benar tak bisa di tahan lagi.
Pada akhirnya, Lisa mengikuti kemauan Nathan. Lisa juga mengkhawatirkan kesehatan janinnya. Dua hari ini, sedikit pun makanan tak bisa ia telan. Mual dan m****h parah yang di alaminya, seakan sudah melewati batas kewajaran. Bagaimana baby mereka bisa bertumbuh jika Lisa tak bisa menelan makanan? Ia harus menanyakannya pada dokter.
Dokter Dea, yang juga adalah teman dari Lisa sudah di hubungi. Lisa dan Nathan pun bersiap-siap berangkat ke rumah sakit. Namun, begitu Lisa masuk ke dalam mobil, perut Lisa kembali bergejolak.
"Kak, aku gak kuat. Bau banget di dalam mobil." ucapnya seraya menutup hidung dan mulutnya. "Hoek...Hoek..." Lisa segera keluar dari mobil.
Nafas yang sebelumnya terasa sesak di dalam, kini terasa bebas dan menyegarkan ketika Lisa keluar dari mobil. Nathan semakin frustasi melihat kondisi Lisa.
"Bagaimana mau periksa ke rumah sakit kalau begini? Baru masuk mobil, sudah mau m****h lagi. Giliran di luar, enggak." gumam Nathan. Nathan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ketika Nathan berpikir, ekor matanya menangkap suatu benda yang terparkir cantik di garasinya. Ia menepuk dahinya. Kenapa ia bisa melupakan sepeda motor itu?
__ADS_1
Ah iya aku kan punya motor yang biasa aku pakai dulu. senyumnya mengembang. Ia berlari ke dalam rumah mencari kunci motor itu. Lisa hanya memandangnya heran.
Motor itu adalah kendaraannya ketika kuliah dulu. Saat kuliah, Nathan sangat jarang membawa mobil. Bukan ia tak menyukai motor sport, namun ia tak ingin membuang uang dengan percuma hanya untuk memenuhi hobinya.
Ketemu. Akhirnya Nathan menemukan kunci itu. Dengan begini, ia bisa tetap pergi ke dokter.
"Ayo sayang kita pergi." Nathan menggenggam tangan Lisa lembut. Lisa yang masih dalam kondisi lemah, hanya menurut.
"Eh... Nathan, kamu mau pergi pakai motor?" tanya mami Nindya yang saat di dalam tadi melihat Nathan mengambil kunci motor. Ia segera berlari menyusul Nathan.
"Iya mi. Lisa gak nyaman naik mobil." tutur Nathan. Mami Nindya mengerutkan dahi bingung.
"Bukannya malah terbalik ya?" tanyanya heran.
"Tadi Lisa langsung mual dan ingin m****h mi begitu di dalam mobil." mami Nindya menghela nafas dan mendekati mereka.
"Benar begitu sayang?" tanya lembut pada Lisa. Lisa mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu. kamu hati-hati ya nak. Nathan, jangan ngebut-ngebut ya bawa motornya. Lisa masih lemas tuh." mami Nindya memperingati.
"Iya mi. Kami pergi dulu ya." Lisa dan Nathan mencium punggung tangan mami Nindya dan mami Nindya tersenyum serta menganggukkan kepalanya.
Nathan memakaikan helm, dan memastikan Lisa sudah duduk dengan benar. Ia pun menarik tangan Lisa untuk memeluk pinggangnya. Lisa tersenyum.
"Biar gak jatuh." ucap Nathan.
Setelah di rasa aman, Nathan melajukan motornya menuju rumah sakit.
•••••••••••••
__ADS_1
Tiba di rumah sakit, Lisa turun perlahan. Setelah memarkirkan motornya, Nathan memapah istrinya dengan hati-hati. Mereka segera menuju poly obgyn, tempat dokter Dea berada.
Karena sebelumnya Lisa sudah membuat janji temu, maka mereka masuk lebih dulu. Di ruangan dokter Dea, dokter Dea segera memeriksa kondisi Lisa. Beberapa menit setelah pemeriksaan, dokter menyarankan agar Lisa di rawat.
"Sebaiknya kamu di rawat Lis." ucap dokter Dea.
"Apa separah itu?" tanya Lisa.
"Kamu mengalami dehidrasi. Lebih baik di bantu dengan infus dulu saat ini. Apalagi, kamu tidak bisa menelan makanan sedikit pun. Jika kamu tidak di rawat, aku khawatir janin kamu tidak bisa bertahan." dokter Dea menjelaskan.
Nathan terkejut. Ternyata, kondisi Lisa cukup mengkhawatirkan.
"Saya setuju dok. Saya tidak ingin, istri saya menderita. Melihatnya seperti ini saja, sudah membuat saya benar-benar khawatir. Tolong rawat istri saya dengan baik dok." ucap Nathan. Hati Lisa menghangat. Senyum manis terpancar di wajahnya.
"Terimakasih kak." ucap Lisa tulus.
"Kenapa berterimakasih sayang?" tanyanya. Nathan mendekati brankar Lisa dan mengusap rambut istrinya itu.
"Terimakasih karena kakak sudah mengkhawatirkan aku." Nathan tersenyum.
Nathan pun mengurus segala administrasi untuk biaya rawat inap Lisa. Setelah selesai, ia mengikuti dokter Dea menuju ruangan yang akan di tempati oleh Lisa. Di ruangan itu, dokter Dea segera memasang selang infus di pergelangan tangan Lisa.
Selesai dengan pemasangan infus, dokter Dea pun berpamitan. Karena ini sudah memasuki jadwal prakteknya.
Dengan setia Nathan, menunggu Lisa di sana. Lisa yang sudah di infus, segera tertidur. Mungkin, rasa lelah yang menderanya membuatnya lebih cepat tertidur. Nathan menghubungi kantornya, dan meminta asistennya untuk menghandle semua pekerjaannya. Ia pun menghubungi seluruh keluarga, untuk memberitahu kondisi Lisa.
Setelahnya, Nathan kembali ke ruang rawat Lisa. Ia menggenggam tangan Lisa, dan memandangi wajah istrinya.
Wajahnya yang terlihat pucat, kini sedikit membaik. Dengan setia, Nathan menunggu Lisa. Ia berharap, istri dan calon baby mereka baik-baik saja. Sungguh, tak bisa Nathan bayangkan jika ia harus kehilangan mereka. Orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
Diciuminya punggung tangan Lisa. Lisa yang tertidur, merasa tak terganggu sedikitpun. Sepertinya, Lisa butuh istirahat. Setelah satu jam Nathan memberitahu seluruh keluarga, mereka pun memasuki ruang rawat Lisa tanpa membuat keributan. Begitu sayangnya mereka pada Lisa dan calon bayi yang berada di rahim Lisa.
Hingga rela menyisihkan sedikit waktu untuk melihat kondisi calon ibu itu.