Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Sahabat


__ADS_3

Hari terus berganti. Tanpa terasa, mereka sudah menjalani pernikahan mereka selama 13 bulan.


Jika di tanya apakah mereka tidak ingin memiliki momongan? Jawabannya adalah sangat menginginkannya. Keluarga mana yang tidak menginginkan keturunan? Bukankah setiap pasangan yang sudah menikah menginginkan kehadiran buah hati di tengah-tengah mereka? Sama halnya dengan Nathan dan Lisa.


Mereka menyerahkan segala hal termasuk kepercayaan akan hadirnya malaikat kecil di dalam keluarga mereka pada sang pencipta.


Mereka hanya menikmati waktu berdua. Tidak terburu-buru dalam hal momongan. Desakan keluarga pun, tak mereka hiraukan. Keluarga mereka bahkan sudah menyuruh mereka memeriksakan tingkat kesuburan mereka. Bukan hanya itu program bayi tabung pun di sarankan. Akan tetapi mereka menjawab dengan santai, bahwa mereka masih menikmati masa-masa berdua.


Pada akhirnya keluarga menerima keputusan mereka.


______________


Hari ini, Lisa akan bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Saat ini, mereka sedang sarapan pagi berdua. Papi Gerry sedang menemani mami Nindya ke puncak sejak kemarin malam. Mami Nindya sedang menghadiri arisan dengan teman-teman sosialitanya.


Sebenarnya, mami Nindya ingin mengajak Lisa ke arisan tersebut. Sekalian memperkenalkan menantunya itu pada teman-teman sosialitanya itu. Sayangnya, Nathan tidak mengizinkannya.


"Kak, hari ini Lisa mau ketemu sahabat-sahabat Lisa ya." Lisa mengatakan keinginannya.


"Jam berapa?" tanya Nathan.


"Sekalian makan siang kak." Nathan mengangguk.


"Tadinya, aku mau ajak kamu makan siang bareng sekalian ketemu klien."


"Maaf kak. Aku udah terlanjur janjian sama mereka. Apa lagi, kita udah rencanain dari seminggu yang lalu." Nathan mendesah. Raut kekecewaan tampak di wajah Nathan.


Lisa menggenggam tangan Nathan. "Kita makan malam bareng aja ya." ajak Lisa.


"Kalau malem kan biasa." Lisa memutar otak mencari cara untuk meredakan kekecewaan suaminya.


"Nanti Lisa masak yang special buat kakak." Lisa mengembangkan senyum termanisnya. Nathan tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Oke...." mereka melanjutkan kegiatannya.


___________________


Lisa sudah sampai di tempat yang telah di sepakati. Sambil menunggu, ia memesan cappucino. Selesai memesan, sahabat yang di tunggunya tiba. Lisa tersenyum melihat dua orang sahabat baiknya itu berdebat dengan sengitnya. Entah apa yang mereka perdebatkan.

__ADS_1


"Pokoknya, gue yang menang bukan lo." ucap Mia dengan ketusnya kemudian duduk di samping Lisa.


"Gak bisa gitu lah. Gue kan cuma ngalah aja sama lo." wajah Kenzi sudah terlihat kesal.


Ya, Lisa memang sedang bertemu dengan sahabatnya Mia dan Kenzi. Mereka sudah bersahabat sejak masih kecil. Sampai sekolah pun, mereka selalu di sekolah yang sama. Hanya saat di universitas Kenzi memilih untuk melanjutkannya di swedia.


Orang tua Mia dan Kenzi adalah tangan kanan papi Ferdinand orang tua kandung Lisa. Sejak kecil, mereka memang sudah di biasakan bersama. Mia di persiapkan sebagai asisten pribadi Lisa. Sementara Kenzi, sebagai asisten pribadi Gerald.


Mia dan Kenzi memang selalu ada untuk Lisa. Sama halnya dengan Lisa, yang selalu berusaha agar selalu ada untuk sahabatnya itu. Seperti itulah persahabatan mereka. Mereka selalu menunjukkan loyalitas mereka satu sama lain.


Tak sampai di situ. Mereka pun selalu saling menolong. Mereka berusaha selalu ada saat salah satu dari mereka membutuhkan bantuan. Saat suka maupun duka, mereka akan selalu menghadapinya bersama.


Persahabatan mereka sudah teruji. Waktu yang mereka habiskan, sudah menjadi bukti nyata. Saat sahabat mereka salah, mereka akan mencoba saling menegur dan memberitahukannya tanpa menghakimi. Saat kesedihan yang melanda, maka mereka akan saling menghibur. Saat kebahagiaan yang mereka rasakan, mereka akan saling berbagi.


Sahabat sejati, memang akan selalu ada baik dalam suka, maupun duka. Akan selalu mendukung dalam setiap keadaan.


Begitulah persahabatan Lisa, Mia dan Kenzi. Sebagai pria, Kenzi akan berdiri di barisan depan ketika Mia dan Lisa menghadapi persoalan.


Bertengkar? Tentu saja mereka sering bertengkar namun persahabatan mereka, bisa mengatasi itu.


Mereka sudah saling mengenal sifat masing-masing. Lisa yang terlihat lembut, sebenarnya juga memiliki sisi yang tidak di ketahui suaminya Nathan.


Mia yang ceria, juga memiliki sisi yang sedikit mirip dengan Lisa. Begitu pula dengan Kenzi.


Jika amarah mereka sudah meledak, maka mereka bertiga bagaikan bom yang akan menghancurkan dunia. Mereka memang masih mentolerir perbuatan musuh-musuh mereka.


"Kalian kenapa dari dulu gak pernah akur ya?" tanya Lisa dengan senyum mengejek. Pesanan Lisa pun tiba. Kenzi dan Mia pun memesan.


"Zi aja tuh yang selalu bikin gue kesel." jawab Mia.


"Gak ke balik tuh?" Kenzi tak mau kalah.


"Dasar... Kalo deket aja kaya musuh. Coba kali jauh saling kangen." gumam Lisa yang masih bisa di dengar oleh mereka.


"Kata siapa?" jawab mereka bersamaan. Lisa memandang mereka bergantian.


"Tapi juga kompak dalam hal tertentu." lanjut Lisa. "Mending kalian pacaran aja." Lisa menyarankan. Pelayan mengantarkan pesanan Mia dan Kenzi.

__ADS_1


"Yang ada kita gak akan pernah akur Lis. Baru berapa hari pasti putus." Mia terlihat menggebu menjelaskannya.


"Gue juga ogah pacaran sama lo." jawab Kenzi.


"Yakin...?" mereka menganggukkan kepala bersamaan. "Berarti, gue boleh dong ya buka rahasia kalian?"


"JANGAN!!!" jawab mereka bersamaan. Lisa memandang mereka bergantian sambil tersenyum geli.


"Ya udah jangan ribut lagi. Pesan makan yuk. Laper nih." mereka memesan makan siang.


Lima belas menit kemudian, makanan yang mereka pesan sudah tiba. Sambil makan, mereka bersenda gurau.


Tanpa mereka sadari, ada beberapa pasang mata yang melihat interaksi mereka. Sepasang mata, menatap penuh cinta dan merasa bahagia melihat senyum bahagia yang tercipta di wajah cantik Lisa. Ya, Nathan ternyata berada di cafe yang sama dengan Lisa. Ia menatap Lisa dengan senyumnya yang manis.


Lain hal dengan satu pasang mata lagi dari arah yang berbeda. Wanita itu, begitu tidak suka dengan interaksi Lisa dan sahabatnya.


Akankah persahabatan mereka mampu mengalahkan setiap musuh mereka? Mampukah Lisa mempertahankan rumah tangganya?


Mengingat, musuh mereka tidak akan melewatkan kesempatan yang ada. Mereka akan selalu memanfaatkan kondisi dan situasi yang ada. Menyerang dari segala arah.


Lisa tiba di rumah tepat pukul empat sore. Sebelum Nathan tiba. Namun, saat mobil yang di bawanya memasuki halaman rumah, mobil Nathan sudah terparkir di sana.


"Loh, kak Nathan pulang cepat? Kok gak kasih kabar?" gumamnya.


Lisa mempercepat langkahnya memasuki rumah dan mencari keberadaan suaminya itu. Benar saja, Nathan sudah selesai mandi saat Lisa memasuki kamar mereka.


Nathan mengembangkan senyumnya melihat Lisa masuk.


"Kok kakak gak kabarin Lisa kalau pulang cepat?" protes Lisa.


"Kejutan sayang." Nathan mendekati Lisa dan memeluknya.


"Aku belum mandi kak. Masih bau keringat." ucap Lisa.


"Gak apa-apa. Aku malah pengen bikin kamu semakin keringatan." Nathan pun memulai aksinya.


Dan terjadilah apa yang di inginkan Nathan.

__ADS_1


__ADS_2