Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Berubahkah Asaka


__ADS_3

Part 101


Rona wajah Zafran seketika menegang saat melihat wajah Asaka terpampang di berita viral dua jam yang lalu.


"Rayzad! Bagaimana bisa mama ditahan pihak berwajib?" Tanya Zafran kala pada Rayzad yang baru saja masuk ruang kerjanya.


"Oma yang suruh Rayzad lapor polisi," celetuk Mayumi.


"Kenapa Oma? Kasian mama," keluh Zafran.


"Biar saja. Sekali-sekali memberi pelajaran pada mama mu."


"Tapi ini sudah kelewatan. Oma!"


"Ah... Ini belum seberapa. Biarkan saja mama mu dan Alena di tahan beberapa jam. Nanti baru dibebaskan," beber Mayumi.


"Tapi nama baik mama akan tercemar."


"Nanti bisa kita pulihkan."


Zafran hanya khawatir, kalau Asaka mamanya bukan tambah sadar. Tapi malah dendam pada omanya, karena Zafran tahu betul karakter Asaka yang tidak mau mengalah dengan siapa pun, termasuk dirinya dan Mayumi.


"Aku harus ke kantor polisi, membebaskan mama," ujar Zafran, tak terima alasan Mayumi.


"Apa kamu mau semua rencana mu gagal?"


"Tapi Oma! Kantor polisi tidak baik untuk mama."


"Tidak Zafran! Biarkan mama mu dan Alena di sana. Kapan perlu Oma buat mereka menginap di sana beberapa hari, sampai resepsi pernikahanmu dengan Kayesa selesai," Mayumi memberikan penjelasan pada Zafran, kalau dia melakukan itu, bukan tidak ada tujuan.


Penjelasan Mayumi menyadarkan Zafran. Bagaimana dia bisa lupa, kalau dia sekarang, sedang berpura lupa ingatan. Hampir saja rencana yang sudah disusunnya gagal, kalau tidak diingatkan oleh oma.


Zafran kemudian meminta Ruhi ke kantor polisi untuk melihat dan menjenguk Asaka dan Alena. Selain itu Zafran menitipkan sebuah amplop rahasia kepada Ruhi. Yang entah apa isinya.


Sementara Asaka dan Alena sudah dimasukkan ke dalam jeruji besi, untuk tahanan sementara. Di dalam situ sudah ada empat orang penghuninya sebelum Asaka dan Alena masuk. Keempat napi itu terlihat galak dan beringas, kala melihat Asaka dan Alena.


"Pak polisi. Tolong lepaskan aku. Aku tidak bersalah, ini hanya salah paham," teriak Alena, dia tidak terima kalau harus mendekap di sini.


"Hay! Jangan berisik," seru salah satu napi, dia kesal mendengar teriakan Alena.


Alena menoleh, dia menatap wanita yang bobot tubuhnya berlebih. Tiba-tiba saja bulu kuduk Alena merimang, saat melihat wanita tambun itu tersenyum sinis.


"Hay Cantik! Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?" Tanya napi yang berkulit coklat pada Alena.


"Apa kamu seorang pelakor yang meracuni istri tua selingkuhan mu," cerca salah satu napi itu lagi sambil tertawa.

__ADS_1


Plak... Satu tamparan Alena mendarat di pipi narapida yang baru mencercanya. Namun, Alena lupa dia sedang berhadapan dengan siapa, hingga emosinya meletup-letup.


Bukk... Bokem mentah dari wanita yang ditamparnya menghantam wajah Alene, bukan sekali saja, tapi bertubi-tubi, hingga dalam hitungan detik Alena bebak belur dan terkapar di lantai dengan wajah berdarah.


"Apa yang kamu lakukan padanya," teriak Asaka panik, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Alena bisa dilumpuhkan hanya sekejap mata.


"Alena! Bangun Alena!" Asaka menggoyang-goyong tubuh Alena, dari hidung keluar darah segar, di sudut bibirnya pun menetes darah, akibat tonjokan keras yang menghantam, beberapa lebam bisa menjadi pemandangan indah di wajah Alena.


Berkali Asaka mengoyang tubuh Alena, berusaha membuat Alena sadar dari pingsannya. Namun, Alena bergeming, tak sedikit pun ada tanda-tanda Alena sadar.


"Tolong! Tolong! Pak polisi, tolong Alena pingsan," teriak Asaka mengusik polisi yang sedang berjaga.


"Jika kamu tidak ingin seperti dia, jangan bicara apapun pada polisi," bisik napi yang tadi memukuli Alena.


"Kamu jangan macam-macam dengan ku. Aku berada di sini, karena membunuh! Jadi aku tidak takut lagi untuk melakukan yang kedua kalinya. Paham!" Ujar Napi itu lagi mengancam.


"Aku tidak takut sama kamu. Aku akan bicara pada pak polisi kalau kamu yang telah membuat Alena pingsan." Cerca Asaka dengan suara lantang dan menantang.


Buk... Buk... Dua tendangan mengenai pinggul Asaka, lalu dua pukulan melayang di punggungnya. Asaka luruh ke lantai keramik, sebelum ambruk, dua tinju menghantam wajahnya. Seorang dari napi yang berbadan besar secepat kilat menduduki Asaka yang posisinya tengkurap. Asaka tak berdaya.


"Tolong lepaskan aku." Terdengar lirik suara Asaka.


Dua orang polisi jaga berlarian, kala mendengar suara gaduh. Dua polisi itu segera menolong Asaka dan mengamankan napi yang memukuli Alena dan Asaka.


Seorang petugas polisi, dibantu oleh scurity dan dua orang berseragan putih-putih, mengangkat tubuh Alena dan Asaka ke dalam mobil ambulance yang kebetulan lewat di depan kantor polisi dan dicegat oleh salah satu anggota polisi, kebetulan pula ambulancenya kosong, karena baru mengantar pasien.


Bersamaan dengan kejadian itu, atas perintah Zafran, Ruhi datang ke kantor polisi, ingin menjeguk Alena dan Asaka. Tapi Ruhi terlambat, Asaka dan Alena sudah di masukkan ke ambulance.


"Apa yang terjadi dengan nyonya Asaka dan Alena?" Tanya Ruhi kaget, saat melihat dua orang berpakaian putih itu, mengangkat tubuh Asaka dan Alena ke dalam ambulance.


Ambulance yang membawa Alena dan Asaka segera meluncur ke rumah sakit terdekat. Sementara Ruhi menelepon Zafran dan menceritakan apa yang menimpa Alena dan Asaka.


"Tolong kamu urus mama dan Alena," titah Zafran lewat panggilan telepon.


"Baik tuan," ujar Ruhi, lalu menutup sambungan telepon.


Setelah panggilan telepon berakhir, Ruhi masuk ke mobil, menarik pedal gas, meluncur ke jalan raya, mengikuti ambulance yang membawa Asaka dan Alena.


Begitu sampai di rumah sakit, Alena dan Asaka dilarikan ke ruang IGD. Setelah dilakukan pemeriksaan secara teliti oleh tim dokter, Alena dinyatakan tidak baik-baik saja, karena banyak lebam di sekujur tubuhnya, dan terdeteksi ada keretakan serius ditengkorak kepala, hingga Alena perlu penanganan intensif.


Sementara Asaka setelah dilakukan pemeriksaan dan dipasang inpus oleh tim dokter, dianjurkan untuk rawat inap beberapa hari dalam rangka pemulihan trauma atas pemukulan brutal yang didapatnya.


"Bagaimana keadaan mama?" Tanya Zafran pada Ruhi, begitu sampai ke ruang rawat Asaka. Terlihat sekali Zafran merasa khawatir.


"Biar Oma saja yang masuk." Mayumi mencegah Zafran, kala ingin melangkahkan kaki masuk menemui mamanya.

__ADS_1


"Tapi Oma..."


"Ingat misimu belum selesai," ujar Mayumi mengingatkan.


Mendengar ucapan Mayumi, Zafran mundur beberapa langkah, memberi jalan pada Mayumi masuk ke ruang rawat Asaka. Asaka melirik dengan sudut matanya, melihat kearah pintu yang terkuak, dan suara seseorang menyeret langkah kaki mendekat.


"Mama," gumam Asaka.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Menurut mama. Apa aku baik-baik saja?" Asaka tidak menjawab pertanyaan Mayumi. Dia malah balik bertanya.


"Mama puas! Melihat aku terbaring di sini sekarang," ujar Asaka penuh penekanan, seakan dia berada di kantor polisi, Mayumilah aktornya.


Sejenak Mayumi menatap Asaka, lalu membuang muka. Asaka mendengus kesal, dia merasa wanita yang sekarang berdiri, sambil melipat tangan di dada itu, sama sekali tak memperdulikannya, walaupun dia sekarang terbaring tak berdaya di tempat tidur ini.


"Belum." Jawab Mayumi enteng


Tentu saja jawaban Mayumi membuat mata Asaka membola. Dia sama sekali tak menduga, kalau mamanya akan mengatakan itu.


"Mama tak punya perasaan. Kenapa mama memusuhi anak mama sendiri," celetuk Asaka lagi dengan suara geter.


"Coba tanya dirimu sendiri. Apa selama ini aku pernah menjadikan mu musuh?"


Asaka terdiam, apa yang dikatakan Mayumi mamanya benar, selama ini Mayumi selalu memanjakan dan memenuhi keinginannya, termasuk menerima Alena untuk menjadi cucu mantunya. Namun kala Mayumi mengetahui Zafran tidak menyukai Alesa, Mayumi berpihak pada Zafran dan memusuhinya.


Setelah merenungi kata-kata Mayumi, hati Asaka terketuk. Perlahan Asaka mengulurkan kaki, turun dari tempat tidur, menggeser tiang infus, lalu berjalan mendekati Mayumi.


"Mama! Aku minta maaf ya."


Tangan Asaka terulur meraih kedua tangan Mayumi, Asaka menggenggam kedua tangan itu, lalu menarik tubuh Mayumi masuk ke dalam pelukannya.


Tak ada yang ke luar dari mulut Mayumi. Dia bergeming, hanya merasakan pelukan putri pertamanya itu, sudah lama kehangatan itu tak dirasakan. Hari ini hati Mayumi terasa sejuk dan damai kembali, perlahan tangan kanannya terangkat, dan mengusap lembut punggung Asaka.


"Semoga saja. Asaka benaran berubah," batin Mayumi.


"Kita mulai dari awal lagi ya. Ma!" Asaka mengurai pelukan, lalu menatap wajah tua di depannya. Mayumi mengembangkan senyum tulus dan mengangguk.


"Aku ikut pulang bersama mama," ujar Asaka seraya memegang dan mendorong tiang infus, menuju pintu ke luar.


"Kamu mau ke mana?" Mayumi menahan langkah Asaka.


"Menemui dokter, agar membuka infus dan mengijinkan ku pulang."


"Tidak Asaka! Kamu..."

__ADS_1


__ADS_2