
Part 68
Pesawat yang ditumpangi Alena baru mendarat. Begitu pesawat berhenti melakukan pergerakan, Alena dan penumpang lain berdesakan keluar dari pesawat.
Setelah keluar dari pintu pesawat, dengan sedikit tergesa Alena menyusuri koridor bandara menuju ke tempat pengambilan bagasi. Begitu travelbagnya sudah berada di tangan, dia pun mengontak Zafran. Namun, nomor kontak suaminya itu tidak aktif. Zafran memang mematikan ponsel nya, karena dia sedang bersama Kayesa.
"Zafran! Kenapa ponselnya di matikan. Bagaimana cara aku melacak keberadaannya, jika ponselnya mati," gumam Alena seraya mendudukkan bokongnya di kursi tunggu.
Sambil berpikir, Alena membuka aplikasi whatsappnya. Banyak pesan masuk yang belum dibacanya.
"Apa! Jadi Zafran masih di Bali dan bersama wanita ini." Mata Alena terbelalak, kala membuka pesan dari Ira. Alena langsung menelepon Ira.
"Hallo Alena! Kamu lagi di mana?" Sapa Ira, dia sudah membaca pikiran Alena. Pasti Alena menanuai tentang Zafran.
Alena pun mulai mewawancarai Ira, prihal foto yang Ira kirim. Ira pun menceritakan dengan sedetelnya dari Zafran yang menyatakan cinta, menyematkan cincin dan berduaan duduk di cafe dan yang terakhir Ira mengatakan, kalau Zafran tak mencintainya.
"Kurang ajar Zafran! Berani-beraninya dia mempermainkanku," ugar Alena geram, sambil mengepalkan tinju.
"Sebagai istri! Kamu kasih pelajar sama wanita yang jadi pelakor itu," ujar Ira menyemangati Alena seraya tersenyum, dia membayangkan sebentar lagi rumah tangga Alena akan berantakan.
"Sebagai kawan. Aku mendukungmu," ujar Ira lagi, lalu dia mengakhiri sambungan telepon.
Setelah panggilan telepon berakhir, Alena menelepon pihak bandara, dia ingin kembali ke Bali. Namun, sayang tidak ada lagi tiket pesawat untuk penerbangan hari ini ke Bali, baik sore mau pun malam. Alena terpaksa menunggu sampai besok pagi jam sembilan.
Dengan rasa kesal yang menghentak-hentak. Alena mencari nomor kontak mama mertuanya. Dia akan mengadukan semua kelakuan Zafran pada Asaka, karena hanya Asaka yang bisa mengatasi semua masalahnya, jika itu berhubungan dengan Zafran.
"Hallo mama," sapa Alena begitu sambungan telepon terhubung.
"Alena maaf! Mama lagi sibuk. Dalam satu minggu ini tolong jangan telepon mama dulu, sampai masalah mama selesai," ujar Asaka lalu memutuskan sambungan telepon.
"Ma! Mama!" Teriakan Alena sudah tak terdengar lagi di telinga Asaka.
Oma Mayumi yang sudah jauh hari, mempersiapkan rencana yang matang, untuk membuat Asaka sibuk dan sejenak melupakan masalah apa pun, termasuk Alena. Mayumi mempersiapkan beberapa dokumen penting tentang permasalahan perusahaan dan menyerahkan copyan dokumen itu kepada ke dua anaknya.
"Siapa pun diantara kalian berdua yang bisa memecahkan dan menemukan solusi dari masalah yang sedang dihadapi perusahaan. Maka dia yang berhak menjadi pewaris perusahaan terbesarku di Thailand," ujar Mayumi menyerahkan satu map berwarna kuning ke Asaka dan adiknya.
__ADS_1
"Kuberi kalian waktu lima hari, dimulai dari sekarang," ujar Mayumi lagi, kemudian berlalu.
Sejatinya tidak ada masalah diperusahaan Mayumi, semua itu dilakukannya, agar visi dan misinya untuk menyatukan Zafran dan Kayesa berjalan lancar. Bagi Mayumi memaksa Asaka merestui Zafran dan Kayesa itu gampang, Namun Mayumi tidak melakukan itu, karena dia ingin Zafran berubah menjadi laki-laki baik atas dasar kesadarannya sendiri dan Mayumi yakin kalau Kayesalah wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidup cucunya.
Mayumi yang tahu karakter putrinya dan merasa telah gagal mendidik Asaka, karena dulu dia terlalu memanjakan Asaka, hingga Asaka berkarakter keras dan sesukanya, dan dia tidak mau Zafran cucu mengalami hal yang sama seperti Asaka yang salah memilih pasangan hidup.
"Terus pantau Asaka, selama Zafran belum pulang," titah Mayumi pada Rayzad dan Ruhi.
Selama Zafran tidak berada di Jakarta, selama itu pula Asaka menggantikan kedudukan Zafran di perusahaan bekas suaminya itu. Dan perusahaan itu sudah mutlak diwariskan ke Zafran. Asaka hanya diberi dua puluh persen dari saham perusahaan.
*****
Di hotel
"Esa! Bangun dulu! Makan," ujar Zafran mengusap pelan pipi Kayesa.
Sebenarnya Zafran tak tega membangunkan Kayesa. Tapi dia juga tak tega membiar Kayesa tidur dalam keadaan lapar, karena dari siang tadi sebutir nasi pun belum masuk ke perutnya.
Jam di layar ponsel Zafran sudah menunjukkan pukul dua puluh dua lewat sepuluh menit. Zafran kembali memanggil Kayesa dengan mengusap punggungnya. Perlahan kelopak mata Kayesa terbuka.
"Ada apa?" Tanya Kayesa dengan mata sayu.
"Tapi aku ngantuk," ujar Kayesa kembali menutup kelopak matanya.
"Ayok bangun dulu. Kamu belum makan obat," ujar Zafran mengingatkan.
"Aku tidak lapar. Biarkan aku tidur," ujar Kayesa lagi, lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya, hingga dada.
Sejenak Zafran menatap Kayesa yang kembali tidur. Zafran pun akhirnya mengabaikan menu makan malam yang sudah tersaji, dia mengambil bantal, mematikan lampu, lalu merebahkan tubuhnya di atas keramik dan berusaha memejamkan mata.
Beberapa kali Zafran merubah posisi tidurnya, dari miring ke kiri, miring ke kanan, lalu menelentang. Namun, matanya tak jua terlelap. Hawa dingin dari keramik masuk ke kulit, menusuk tulang belulangnya, ditambah lagi hawa dingin dari ac. Zafran merasa tubuhnya seperti membeku.
Tak kuasa menahan diingin, Zafran bangun, meraih bantal, lalu naik ke tempat tidur. Meletakkan bantal guling di tengah-tengah kasur, sebagai penghalang antara dia dan Kayesa.
Perlahan Zafran memasukkan tubuhnya ke dalam selimut, dia takut gerakannya membangunkan Kayesa. Rasa kantuk membuat Zafran tertidur lelap.
__ADS_1
Kayesa terbangun, saat merasa ada tangan yang melingkar di tubuhnya, perlahan Kayesa membuka kelopak matanya.
"Akhhh," Kayesa berteriak kaget kala menyadari wajah Zafran hanya berjarak sepuluh inci dari wajahnya, dan tangan Zafran melingkar di perutnya. Dengan sekuat tenaga, Kayesa mendorong tubuh Zafran, hingga terguling.
Brakkk, terdengar suara sesuatu benda berat terjatuh.
"Auhhh," ringis Zafran seraya memegang pinggangnya.
Kayesa terkejut, dia tak menduga, dorongannya bisa membuat Zafran terjatuh dari tempat tidur. Spontan Kayesa bangkit dan turun dari tempat tidur.
"Maaf. Aku tidak sengaja," ujar Kayesa.
"Auuu! Sakit sekali," ujar Zafran seraya memegang pinggang.
Kayesa berjongkok, meraih tangan Zafran membantunya berdiri, tangan kanan Zafran ditarik Kayesa, tangan kirinya bertumpu di lantai. Tiba-tiba tubuh Zafran yang sudah setengah berdiri, luruh ke lantai.
"Aku tidak kuat berdiri," ujar Zafran meringis dengan wajah memelas.
Kayesa yang merasa bersalah, berusaha membopong tubuh Zafran dengan cara mengangkat tangan Zafran, dengan posisi kedua tangannya di ketiak Zafran. Namun bobot Zafran tujuh puluh lima kilo itu, terlalu berat buat Kayesa, hingga Kayesa butuh tenaga ekstra, membantu Zafran untuk menggapai tepi ranjang.
"Emang enak ku kerjain," batin Zafran, seraya menatap wajah Kayesa yang mulai berkeringat.
Begitu menggapai tepi ranjang. Zafran berpura-pura kepayahan naik ke tempat tidur. Saat melihat Kayesa membantunya, Zafran tertawa dalam hati.
"Sepertinya kita tidak bisa pulang hari ini," ujar Zafran seraya meluruskan kedua kakinya.
"Aku akan pulang sendiri," ujar Kayesa.
"Aku?"
"Tuan! Tinggal saja di sini, sampai sembuh."
"Lalu siapa yang merawatku?"
"Ada Tatia dan Budi," ujar Kayesa, lalu beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Zafran meraih tas tangan Kayesa yang tergeletak di atas nakas, membuka tas itu, lalu mengambil dan mematikan ponsel Kayesa. Zafran turun dari tempat tidur, membuka travelbagnya dan menyimpan benda pipi itu dibagian yang paling aman. Kemudian Zafran membuka dompet Kayesa dan mengambil kartu ATM yang terselip di situ dan menyimpannya.
Saat mendengar Kayesa menarik handle pintu, Zafran bergegas mengembalikan tas tangan Kayesa di atas nakas, dia pun naik ke tempat tidur dan berbaring seperti posisi semula.