
Part 74
Mendengar teriakan Asaka yang mengusirnya. Tentu saja Alena terkejut, dia sama sekali tak menduga, kalau wanita yang selalu membelanya itu, kini begitu tega, mengeluarkan kata-kata yang sangat menusuk hati Alena, karena hanya gara-gara fitnah Mayumi, si nenek tua itu.
"Ini tidak boleh terjadi. Jika aku terusir dan dibenci mama Asaka, wanita bau tanah itu, pasti tersenyum penuh kemenangan," batin Alena, dia harus tetap berada di apartement ini, agar bisa membalas semua perlakuan wanita tua itu.
Secepat kilat Alena berpikir, dia pun berakting, dengan wajah memelas penuh penyesalan, berupaya menarik simpati Asaka.
"Mama! Jangan usir Alena. Alena minta maaf, tak sengaja telah membuat oma terjatuh," ujar Alena dengan suara serak, dibuat seperti sangat menyesal.
Seraya meraih tangan Asaka, Alena bermohon. Tapi Asaka dengan kasar menepis tangan menantunya itu hingga terlepas. Namun, Alena tak menyerah, kali ini dia menunjukkan kesungguhannya, dengan bersimpuh di kaki Asaka.
"Mama! Alena minta maaf. Alena tidak bermaksud menyakiti oma," ujar Alena dengan mata berkaca-kaca, dia berharap bisa berhasil membujuk Asaka dengan drama air matanya.
"Jangan sentuh aku. Aku muak melihatmu. Setelah memperlakukan oma dengan buruk, kau bilang tidak sengaja!" bentak Asaka, seraya mencekal leher baju Alena, memaksanya berdiri, lalu mendorong tubuh Alena, hingga mentok ke dinding pintu.
Sekarang punggung Alena bersandar di daun pintu. Kalau tidak lagi sedang mencari simpati mertua dan oma, tak sudi dia diperlakukan begitu, sudah pasti dia akan menyerang Asaka. Tapi kali ini tak mengapa dia mengalah dami misi yang besar untuk mendapatkan Zafran seutuhnya.
"Alena minta maaf. Alena janji tidak akan seperti ini lagi. Ma! Alena mohon maafin Alena." Alena menangkupkan kedua tangan di dadanya. Bahkan airmatanya mulai mengalir di pipi.
"Alena bisa jelaskan kesalah pahaman ini. Ma! Alena mohon. Ma!" Ujar Alena lagi, dia berusaha membela diri.
"Apa yang aku lihat, sudah menjelaskan semuanya," Bentak Asaka lebih lantang, seraya melepaskan cekalan tangannya dengan kasar, hingga Alena luruh kelantai.
Alena berudaha menggapai kaki Asaka yang ingin melangkah pergi. Langkah kaki Asaka terhenti, kala Alena memeluk kaki Asaka sambil menangis dan bermohon. Namun Asaka tak perduli, dia menentang Alena, hingga pegangan Alena terlepas dan dia terjerembah di lantai.
Suasana semakin memanas, Alena sudah terperangkap dengan jebakan Mayumi, sekarang Asaka yang selalu membelanya pun, sudah tidak berpihak lagi padanya. Jika dia terus bertahan dengan pendapatnya, maka Asaka pun akan berubah membencinya.
"Jika mama Asaka tidak melunak. Aku harus menarik simpati oma," batin Alana.
Bergegas Alena bangkit dari duduknya, mendekati Mayumi, lalu bersimpuh di depan wanita tua itu.
"Oma! Maafkan Alena. Tadi Alena tidak sengaja," ujar Alena meraih kedua tangan Mayumi dan memciumnya.
Setelah mencium kedua tangan Mayumi, Alena berjongkok menyentuh kedua kaki Mayumi. Mayumi menepisnya dengan kasar, hingga Alena kembali terjerembab ke lantai. Namun, dengan cepat Alena bangkit, kembali meraih kaki Mayumi dan bermohon pada Mayumi agar memaafkannya, jika Mayumi memaafkannya, pasti Asaka pun akan melakukan hal yang sama.
"Asaka! Kamu pilih. Dia yang ke luar dari apartement ini atau aku." teriak Mayumi.
Mendengar ucapan Mayumi. Tentu saja Asaka memilih Alena yang keluar, Asaka maju beberapa langkah, lalu meraih tangan Alena, memaksanya berdiri dan mendorongnya ke arah pintu.
__ADS_1
"Pergi ke apartement mama, ini kuncinya, jangan bikin emosi oma makin memuncak, Mama akan membujuk oma," bisik Asaka seraya menyerahkan kunci apaetement yang bersebelahan dengan apartement Zafran, lalu menarik gagang travelbag dan melemparkannya pada Alena seakan dia sedang mengusir dan marah besar pada menantunya itu.
Dengan ekor mata, Asaka menatap kepergian Alena, hingga punggungnya menghilang di balik dinding, Asaka kemudian menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Sambil menarik nafas panjang, Asaka beranjak ke sofa mendakati Mayumi, lalu mendudukkan bokongnya di samping Mayumi. Asaka sebenarnya tahu, kalau ibunya itu hanya akting, karena dari awal Asaka sudah tahu kalau Mayumi tidak menyukai Alena.
"Menantumu itu sangat tak beradab," ujar Mayumi memgomel.
"Maafkan Alena. Ma! Nanti aku akan ajari dia supaya lebih bisa beradab pada orang yang lebih tua," ujar Asaka seraya merengkuh bahu Mayumi dan mengusap-usap lembut.
"Aku tak sudi punya cucu mantu seperti dia," ujar Mayumi.
"Alena baik dan cantik. Aku rasa cocok buat Zafran. Ma!"
"Caocok dari mananya," gerutuk Mayumi.
"Coba mama kenali dulu. Pasti mama juga bakalan menyukai Alena," ujar Asaka lagi, berusaha membujuk Mayumi.
"Ah.. Sudahlah, malas aku membahas wanita itu," ucap Mayumi, lalu beranjak dari duduknya masuk ke kamar.
Asaka tidak merespon atau pun membantah ucapan Mayumi, dia hanya menatap kepergian Mayumi, hingga punggung wanita tua itu hilang di balik pintu kamar. Lama Asaka duduk bermenung di sofa.
Asaka beranjak dari duduknya. Berjalan menuju kamar Mayumi, mengangkat tangan dan mengetuk pintu kamar Mayumi.
"Oma! Apa aku boleh masuk." Asaka memanggil Mayumi ibunya dengan sebutan oma sejak Zafran kecil dan mulai bicara.
Sepi, tak terdengar sahutan atau pun suara langkah kaki. Asaka memutar handle pintu, tidak dikunci, lalu menguakkan daun pintu. Terdengar suara Mayumi yang melarangnya masuk, dengan alasan dia ingin istirahat. Asaka menarik kembali handle dan menutup pintu kamar Mayumi.
Dreet... Dreet... Dreet. Baru saja Asaka beranjak meninggalkan kamar Mayumi, ponselnya bergetar, Asaka merogoh saku celana levisnya, mengambil benda pipih itu, sejenak ditatapnya layar ponsel yang menyala, lalu menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau.
"Hallo. Ada apa Alena?" Tanya Asaka saat panggilan telepon terhubung.
"Ma! Alena kehabisan uang. Alena mau pesan makan siang."
"Apa Zafran tidak memberimu uang?"
"Tidak. Ma! Dia malah meminggalkan ku, pergi dengan wanita lain, hiks, hiks, hiks," ujar Alena seraya menangis.
"Sudah! Kamu jangan nangis, jangan sedih ya," bujuk Asaka.
__ADS_1
"Alena sedih, Ma! Zafran telah menyakiti Alena," ujar Alena lagi, suara tangisnya makin kencang.
"Sudah Alena! Urusan Zafran serahkan ke mama. Tungga mama telepon Zafran dulu," ujar Asaka, lalu memutuskan hubungan telepon dengan Alena.
Dengan ibu jarinya, Asaka menggulir layar ponsel, mencari nomor kontak Zafran, lalu menghubungi putra semata wayangnya itu. Namun, ponsel Zafran tidak aktif.
"Kenapa ponsel Zafran tidak aktif," batin Asaka.
Asaka kembali menggulir layar ponselnya, mencari nomor kontak Rayzad, bagitu ketemu, langsung menelepon Rayzad. Beberapa kali dihubunginya nomor kontak Rayzad. Namun, tetap saja ponsel Rayzad juga tidak aktif.
Asaka berpikir sejenak, dia tak habis akal. Asaka kembali menggulir layar ponselnya dan menelepon nomor kantor. Sambungan telepon terhubung, tak ada yang juga mengangkat.
"Pada ke mana orang-orang, ditelepon tak ada yang angkat," gerutu Asaka.
Asaka mengulangi kembali menelepon nomor kantor, beberapa menit dan beberapa kali, baru ada yang mengangkat telepon.
"Hallo! Ini dari siapa? Mau bicara sama siapa?" Tanya Ruhi.
"Ruhi! Ini saya, Apa Rayzad ada di kantor?" Tanya Asaka ketus.
"Ada nyonya, sedang di ruang meting dengan rekan kerja dari Singapore," jawab Ruhi.
"Meting? Kenapa Rayzad tidak memberitahu saya?"
Selama Zafran pergi dan tidak berada di kantor, puncak kepemimpinan diambil alih oleh Asaka. Sekarang Rayzad meting dengan orang penting, dia tak diberitahu, Asaka merasa kalau Rayzad telah melangkahi dan mengambil kekuasaannya.
"Kata tuan Rayzad, dia bisa menghendle sendiri proyek kerjasama itu, tanpa melibatnya nyonya," Ruhi mencoba memberikan penjelasan.
"Bisa-bisanya Rayzad tidak memberitahuku, kalau hari ini ada meting penting," batin Asaka
Karena kesalnya, Asaka memutuskan sambungan telepon, tanpa basa basi, dia menggerutuk tak jelas. Asaka beranjak menuju kamarnya, meraih tas tangan dan kunci mobil, sambil berjalan ke luar kamar, Asaka memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Sebelum ke luar dari apartement, sejenak Asaka menatap pintu kamar Mayumi yang tertutup rapat, sambil menghela nafas, Asaka melewati kamar itu dan menuju pintu utama apartement. Asaka membuka pintu apartement, keluar dan menutup pintu kembali, berjalan ke apartementnya.
"Alena! Buka pintunya. Ini mama."
Tidak ada sahutan dan langkah kaki. Sayup terdengar suara Alena. Asaka memutar handle pintu tidak dikunci, perlahan Asaka membuka dan menguakkan daun pintu apartement dan matanya membola saat melihat apa yang sedang dilakukan Alena.
"Alena! Jangan lakukan itu," teriak Asaka.
__ADS_1