Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Bertemu Rizwan


__ADS_3

Part 37.


"Ayok bun. Ikut Kiano."


Kiano menarik tangan Kayesa, dengan terseok-seok Kiano membawa Kayesa masuk ke sebuah kamar yang full berisi mainan. Dan dengan bangga memperlihatkan isi kamar tempatnya bermain.


"Hah!"


Mata Kayesa terbelalak saat sampai ke kamar yang di maksud Kiano. Kamar berukuran enam kali delapan meter itu full berisi mainan dari bawah sampai ke atas dengan empat rak. Lalu Kayesa memindahkan tatapannya ke Zafran.


"Sini!" Kayesa menarik tangan Zafran ke luar dari kamar, menjauh dari Kiano.


"Apa maksud Tuan dengan semua ini?" Tanya Kayesa dengan intonasi tinggi.


"Tuan mau menyogok anakku?" Tanya Kayesa lagi.


Mata Zafran tak berkedip menatap Kayesa. Dia tak menduga Kayesa bisa bicara begitu, menuduhnya yang tidak-tidak. Pada hal Zafran ikhlas melakukan semua itu semata-mata ingin membuat Kiano bahagia.


"Apa Tuan punya niat ingin mengambil anakku?" Kayesa menatap kesal pada Zafran yang hanya diam, tak menanggapi sedikit pun ucapan Kayesa.


"Apa Tuan tak punya mulut untuk menjawab pertanyaanku atau tuduhanku memang benar," kecam Kayesa menatap tajam ke arah Zafran.


Zafran menarik nafas panjang, dia ingin sekali memberi tahu Kayesa kalau dia adalah laki-laki yang telah menikahinya lima tahun lalu, laki-laki yang telah meningalkannya, setelah melampiaskan nafsu. Laki-laki yang telah merenggut masa depan Kayesa, karena harus mengandung dan membesarkan Kiano. Tapi Zafran takut, dia takut Kayesa membencinya dan membawa Kiano pergi dari hidupnya.


"Esa! Aku hanya ingin membuat Kiano merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku tak punya maksud apa-apa."


"Hah! Sulit kupercaya. Seorang Zafran yang kaya raya, bisa melakukan apa saja. Tapi mau berbagi kasih dengan anak seorang clearning service. Apa tuan tidak takut mendapat rumor tidak baik," ujar Kayesa seraya menarik nafas panjang.


"Apa salah. Jika aku menyayangi Kiano? Jujur pertama bertemu Kiano. Aku langsung menyukainya, dia membuat hidupku jadi berarti," ujar Zafran seraya menyentuh kedua bahu Kayesa.


"Apa alasan Tuan, menyukai anak ku?"


"Esa! Aku mohon padamu. Jangan tanya lagi, kenapa aku begitu menyayangi Kiano. Aku hanya ingin Kiano merasakan kasih sayang seorang ayah," ujar Zafran lagi sambil menangkupkan kedua tangan di dada.


Rasa haru meliputi perasaan Kayesa. Dari mata Zafran dia melihat tak ada kebohongan di sana. Tapi rasa khawatir dan rasa cemas telah meliputi hatinya, hingga ketulusan dari Zafran tak bernilai apapun di matanya.


"Esa! Aku akan melakukan apa pun. Asalkan kasih ijin aku untuk terus bersama Kiano. Please!" Lagi-lagi Zafran bermohon dengan wajah memelas.


"Tidak! Aku tidak mau Kiano ketergantungan pada Tuan," ujar Kayesa dengan wajah datar.

__ADS_1


Kayesa membuang pandangannya ke arah jendela, dia tidak ingin melihat wajah Zafran yang terus bermohon padanya, yang bisa membuat keputusannya berubah-rubah.


"Esa..."


"Sudah! Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi dari Tuan. Tuan sudah membuatku kecewa dengan membawa Kiano dan Maeka pergi tanpa seizinku," ucap Kayesa, tak memberi kesempatan Zafran untuk memberi alasan lagi.


"Tapi. Sa!"


Zafran berusaha meraih tangan Kayesa.


"Maaf Tuan. Aku mohon Tuan tidak ikut campur dengan kehidupanku dan anakku," ujar Kayesa seraya menepis tangan Zafran.


Bergegas Kayesa melangkah meninggalkan Zafran, lalu berjalan ke arah Kiano, mengangkat dan menggendong Kiano, kemudian beranjak ke pintu utama. Zafran berusaha menghentikan langkah Kayesa.


"Tolong jangan halangi langkahku," ucap Kayesa ketus, dia menatap tajam ke arah Zafran.


Mendengar ucapan Kayesa, Zafran menghentikan langkahnya, menatap punggung Kayesa yang membawa Kiano ke luar pagar.


"Nyonya! Tunggu nyonya!" Maeka berlari-lari mengejar Kayesa. Kayesa tidak memperdulikan teriakan Maeka, karena dia terlanjur kecewa dengan pengasuh putranya itu.


"Nyonya. Aku minta maaf, tadi ponsel Maeka terjatuh dan eror. Waktu nyonya nelepon tak bisa diangkat," Maeka mencoba menjelaskan.


Sejurus Kayesa menoleh ke arah Maeka yang sedang berusaha mensejajari langkahnya.


"Aku ikut nyonya ke mana pun nyonya pergi."


Mendengar ucapan Maeka, Kayesa melanjutkan langkahnya, menyusuri trotoar jalan. Setelah berjalan dua ratus meter, Kayesa dan Maeka sampai di sebuah halte. Kayesa memutuskan untuk istirahat sejenak.


"Nyonya! Kita mau ke mana? Tanya Maeka, seraya mendudukkan bokongnya di samping Kayesa.


"Kita akan pergi dari kota ini," jawab Kayesa.


"Ke mana?"


"Ke mana saja, yang jelas jauh dari kota ini," ujar Kayesa.


"Bunda! Ayah ikut kita pelgi (pergi) jugakan?"


Pertanyaan Kiano membuat hati Kayesa bagai teriris. Haruskah keegoannya akan menghancurkan kebahagiaan putranya. Tapi Kayesa melakukan ini juga karena sayang dengan Kiano. Kayesa tidak ingin Kiano akan lebih sedih lagi, jika suatu saat Zafran menikah dan melupakan Kiano.

__ADS_1


"Tidak sayang. Ayah akan tetap di sini."


"Kenapa bunda? Kenapa kita halus pelgi dali lumah oma (harus pergi dari rumah oma)?"


"Kiano sayang. Kita anak pergi mencari oma dan om Kiano, kalau kita sudah ketemu oma dan om Kiano. Baru kita jumpa ayah lagi ya." Kayesa menyentuh lembut kedua pipinya.


"Hole (hore), Kiano punya oma dan om juga. Bun!" Kiano bersorak riang, matanya berbinar bahagia.


Kayesa memutuskan akan menemui abangnya Rizwan. Menjumpakan Kiano dan menceritakan semua pada abangnya, prihal kenapa dia pergi dari rumah.


Sementara Zafran yang hanya bisa melihat punggung Kayesa, dengan wajah sedih tak ingin mencegah Kayesa membawa Kiano pergi. Sebenarnya bisa saja Zafran memaksa Kayesa tetap berada di sini. Namun, semua itu tak dilakukannya, karena dia tidak mau Kayesa semakin membencinya.


"Hallo Rayzad! Tolong kamu awasi Kayesa, ke mana dia pergi," titah Zafran dari panggilan telepon.


"Ingat! Kuperintahkan kepadamu! cegah dia di keluar dari kota ini," titah Zafran lagi, lalu memutuskan panggilan teleponnya.


Rayzad lalu menyebar foto Kayesa pada seluruh jaringan tranfortasi untuk tidak menerima penumpang yang bernama Kayesa, jika akan berpergian keluar dari kota ini.


****


Sementara Kayesa membawa Maeka dan Kiano ke penginapan, untuk hari ini, dia akan menginap di sebuah wisma. Setelah mendapat wisma, Kayesa mengantar Maeka dan Kiano ke kamar.


"Maeka! Tolong jaga Kiano. Siapa pun orang yang ingin mengajak mu keluar, termasuk tuan Zafran. Jangan pergi tanpa seijinku," ujar Kayesa.


"Baik. Nya!"


Setelah menitip pesan pada Maeka, Kayesa keluar dari wisma, mengorder gocar, dia akan pergi mengambil motor yang tadi ditinggal di parkir kantor. Tepat pukul enam belas, Kayesa sampai ke parkir kantor, mengeluarkan kunci motor, memakai helm lalu naik ke atas motor.


Sebelum meluncur meninggalkan kontor. Kayesa menatap sejenak ke arah gedung yang sudah memberinya banyak pengalaman. Seraya menarik nafas panjang, Kayesa meluncur meninggalkan parkir, melaju ke jalan raya.


Kayesa membelokkan motornya ke alamat rumah Rizwan, Kayesa berharap abangnya sedang berada di rumah. Dua puluh menit kemudian Kayesa menghentikan motornya, lalu turun dan melangkah masuk ke pekarangan rumah Ridwan.


Tok... Tok... Tok... Kayesa mengetuk pintu yang tertutup rapat, beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki seseorang, seperdetik berikutnya, daun pintu terkuak, seorang laki-laki yang tidak asing bagi Kayesa, berdiri tegap menatap kearahnya.


"Bang!" Kayesa berhambur memeluk laki-laki itu.


"Kamu!" Rizwan mendorong tubuh kayesa, hingga pelukannya terurai.


"Untuk apa kamu pulang. Sejak kamu pergi yang menyebabkan ibu meninggal, aku sudah menghapus namamu dalam keluarga kita."

__ADS_1


"Ibu meninggal." Kayesa terkejut, mata berkaca-kaca.


"Iya! Semua itu gara-gara kamu! Pergi dari sini! Aku tak punya adik sepertimu." Rizwan mendorong Kayesa hingga terjatuh, lalu menutup daun pintu dan mengunci dari dalam.


__ADS_2