
Part 104
Byurr... Satu gelas air putih menguyur wajah Zafran. Zafran tersentak dan tersadar. Perlahan mata Zafran terbuka, lalu memindai keadaan di sekitarnya, tidak ada satu orang pun di situ.
"Siapa yang menyiramku," batin Zafran.
Untuk kedua kalinya Zafran tersentak, kala dia mendapati tangan dan kakinya terikat. Sejenak Zafran mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Tadi dia pingsan efek obat bius itu dan begitu sadar sudah berada di ruangan ini.
"Sudah sadar kau rupanya," tiba-tiba seorang laki-laki datang dan menyeletuk.
"Siapa kamu? Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Zafran dengan suara lantang. Namun, laki-laki itu tak merespon pertanyaan Zafran.
"Hay! Lepas aku!" teriak Zafran, kala melihat laki-laki itu bergerak menuju ke pintu ke luar, seraya berusaha menggerakkan tubuhnya.
"Jika kamu mau melepaskan ku. Aku akan membayar dua kali lipat dari orang yang menyuruhmu." seru Zafran lagi
"Hah! Yang benar kamu!"
"Iya! Berapa mereka membayarmu untuk menculik aku?"
"Lima puluh juta." Jawab laki-laki itu.
"Aku bisa memberi mu seratus juta. Asalkan kamu mau melepaskan ku."
Laki-laki itu tertawa, lalu memanggil temannya. Kedua laki-laki saling berbisik dan berpandangan. Tawaran Zafran tentu saja sangat menggiur bagi ke dua laki-laki itu.
"Tapi aku tidak percaya dengan bualanmu," ujar salah satu laki-laki itu.
"Benar kata temanku. Apa kamu punya uang sebanyak itu?" Laki-laki yang satunya ikut menyela.
"Jika kalian menolak tawaranku. Ku jamin kalian akan menyesal, karena sebentar lagi. Orang-orangku pasti akan mencariku."
"Tidak akan ada seorang pun yang bisa melacak keberadaanmu," ujar salah satu dari laki-laki itu, seraya membanting kedua ponsel Zafran ke lantai keramik, hingga ponsel itu berkecai.
"Apa yang kalian lakukan. Itu ponsel ku." ucap Zafran melotot, matanya membola saat menyadari kedua ponselnya sudah terbelah-belah.
"Hahaha. Kita lihat saja! Apa masih ada yang bisa melacak keberadaan mu," kedua laki-laki itu tertawa secara bersamaan.
Wajah Zafran berubah seketika, Zafran menggenggam erat kepalan tinjunya, karena menahan marah, andai dia tidak terikat, pasti kedua laki-laki itu sudah dihajarnya habis.
Sayup-sayup terdengar suara keributan di luar penyekapan. Kedua laki-laki itu bergegas menuju ke pintu. Zafran menajamkan telinganya saat mendengar teriakan seorang perempuan yang semakin jelas.
"Lepaskan aku."
Brak....Tiba-tiba wanita yang berteriak itu, sudah berada di depan Zafran, terhuyung dan terjatuh akibat dorongan yang sangat keras. Wanita itu mengangkat wajahnya. Dia terkejut saat melihat Zafran, sama terkejutnya dengan Zafran, kala melihat seorang wanita yang sudah terjerembab di dekat kakinya.
"Mama!" Spontan kata mama keluar dari mulut Zafran, kala melihat Asaka yang terjatuh di hadapannya dengan berderai air mata.
"Zafran! Anakku! Kenapa kamu bisa berada di sini. Apa yang telah mereka lakukan padamu," Asaka memindai Zafran dari kaki ke kepala.
"Apa yang kalian lakukan pada putraku," teriak Asaka lantang sambil menatap satu persatu laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Putramu! Jadi dia putramu! Kebetulan sekali, satu kali tepuk dua lalat mata. Hahaha," ketiga laki-laki itu terbahak kesenangan.
Tiba-tiba salah satu laki-laki itu merunduk dan berjongkok, lalu mencengkran dagu Asaka.
"Cuih," Asaka meludahi ke arah lelaki itu. Untung saja dia cepat mengelak, kalau tidak tentu sudah jadi korban Asaka.
"Jangan pernah sentuh aku," teriak Asaka.
__ADS_1
"Bawa dia ke ruang penyiksaan," titah laki-laki itu sambil melepaskan cengkraman di dagu Asaka.
"Ikut saya!"
Tiba seorang laki-laki bertubuh bonsor datang, lalu menjambak rambut Asaka, gerakannya lebih sadis dari laki-laki tadi, hingga terpaksa Asaka mendongakkan kepala, lalu dengan kasar, laki-laki itu menarik paksa Asaka, memintanya berdiri.
"Lepaskan mamaku," teriak Zafran, dia tak tega melihat mama diperlakukan begitu.
"Zafran! Kamu sudah ingat dengan mama. Nak!" ujar Asaka menatap intens ke arah Zafran. Asaka berusaha menggapai kaki Zafran. Namun tarikan keras di rambut, memaksanya menghenti aktifitas itu.
"Zafran! Tolong mama! Mama tidak mau ikut mereka." Asaka kembali ingin menggapai kaki Zafran yang terikat di kursi. Tapi gagal.
Tenaga Asaka kalah kuat oleh laki-laki bonsor itu. Laki-laki itu melepaskan jambakannya, kali ini dia mencekal pergelangan lengan Asaka dan menyentaknya kuat. Asaka terseret.
"Mama! Jangan sakiti mamaku!" teriak Zafran, sambil berusaha menggerakkan kakinya.
Laki-laki bonsor itu, tidak memperdulikan teriakan Zafran. Dia malah menarik paksa dengan kasar tangan Asaka, hingga Asaka menuruti perintahnya.
"Lepaskan mamaku. Aku akan membuat perhitungan pada kalian. Jika sampai mamaku, kalian sakiti," teriak Zafran lagi dengan lantang.
Hanya berteriak yang bisa Zafran lakukan. Sementara kaki dan tangannya terikat menyatu dengan kursi yang didudukinya. Teriakan Zafran semakin histeris, kala laki-laki bonsor itu menyeret Asaka mamanya keluar dari ruangan itu.
"Zafran! Tolong mama." Teriak Asaka seraya memukul-mukul lengan kekar laki-laki yang menyeretnya.
"Sakit! Aku mohon lepaskan aku dan anakku. Anakku pasti akan membayar berapapun yang kalian minta," ujar Asaka lagi seraya menyesap keringat dengan ujung bajunya.
"Tolong! Aku mohon jangan sakiti mamaku," ujar Zafran putus saja.
Teriakan dan permohonan Zafran hanya sia-sia. Dia ditinggalkan sendirian di ruangan penyekapan itu, dua laki-laki yang tadi menculiknya, menghilang setelah suara kesakitan Asaka semakin jauh. Tiba-tiba air mata Zafran luruh tanpa disadari, dia menyesali dirinya sendiri yang tak berguna.
"Mama! Maafkan aku," gumam Zafran dalam keterputusasaan.
"Hay! Gendut! Lepaskan," ujar Asaka, begitu merasa aman dari pendengaran dan penglihatan Zafran.
"Maaf Nyonya. Aku terlalu mendalami peranku," ujar laki-laki bonsor itu, seraya menangkupkan kedua tangan di dada.
Asaka mendengus kesal, seraya memegangi pergelangan tangannya yang terasa perih. Namun dia merasa puas, karena Zafran sudah bisa mengingatnya, sekarang misi berikutnya adalah menguras harta Mayumi mamanya dengan perantara Zafran.
"Sekarang kalian buat aku seakan-akan habis kalian hajar, setelah itu lempar aku kehadapan Zafran."
"Bersiaplah Nyonya!"
Laki-laki bonsor yang bernama Anton mendekat dan mengangkat tangannya kearah Asaka.
"Anton! Kamu mau apa?" Tanya Asaka dengan suara bentakan.
"Membuat Nyonya bebak belur."
"Kamu ingin membunuhku," dengus Asaka kesal.
"Dasar bodoh! Mikir pakai otak," ujar Asaka menohokkan jari telunjuk ke kepala Anton.
Caci maki Asaka mengundang tawa beberapa anak buah Asaka yang lain. Anton hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
*****
Anak buah Rayzad belum berhasil melacak keberadaan Zafran, Rayzad terlihat mondar mandir, begitu juga dengan Ruhi dan Malika.
"Apa sebaiknya kita lapor ke polisi saja. Tuan," ujar Ruhi.
__ADS_1
"Iya Tuan! Sebagai orang hilang," Malika ikut menyela.
"Belum dua puluh empat jam," sahut Rayzad, seraya melipat satu tangan di dada dan satu tangan yang lain memegang dagu.
Suasana semakin menegangkan, kala ponsel Rayzad bergetar dan di layar ponsel tertera Mayumi sebagai pemanggil.
"Angkat! Tidak!" Rayzad hanya menatap intens ke layar ponsel.
Ruhi dan Malika saling berpandangan, tak bisa memberi pendapat. Sementara ponsel Rayzad kembali bergetar.
"Iya Oma!"
"Kenapa lama sekali baru diangkat."
"Maaf Oma. Tadi masih dengan klien," ujar Rayzad berbohong.
"Kamu di mana?"
"Masih di kantor. Oma!"
"Oma ke sana sekarang," ujar Mayumi, lalu memutuskan panggilan telepon.
"Duh... bagaimana ini," ujar Rayzad panik, seraya memegang jidatnya.
Rayzad menarik nafas panjang, dia tidak tahu harus berbuat apa, jika Mayumi datang dan menanyakan keberadaan Zafran. Apa dia harus berbohong lagi.
"Mikir Rayzad! Mikir!" Gumam Rayzad.
"Tuan! Bagaimana kalau tuan ceritakan saja kronologis bagaimana Tuan Zafran menghilang dan lost kontak," ujar Ruhi menyela.
"Oma pasti akan marah pada keluarga Kayesa dan pernikahan tuan Zafran akan terancam gagal. Jika begitu kita yang menanggung imbasnya," jelas Rayzad panjang lebar.
"Iya sich. Bagaimana ini?"
Ruhi dan Malika ikut berpikir. Sementara Rayzad masih mondar mandir seperti setrikaan, Ruhi duduk sambil sikunya bertumpu di paha dan Malika berdiri seraya bersandar di dinding, dahi berkerut, karena sedang berpikir keras.
Rayzad, Ruhi dan Malika orang-orang terdekat Zafran. Sejak Zafran mengenal Kayesa dan ingin menikahinya, Zafran berubah menjadi laki-laki lembut dan baik. Ruhi yang sudah bulat ingin resign saja berubah pikiran, karena perubahan yang signifikan dari atasannya.
Selama ini, Rayzad, Ruhi dan Malika lah yang selalu menyaksikan kearongan Zafran, setiap hari berhadapan dengan atasan yang kalau bicara ketus, kalau menatap tajam, sama sekali tak ada ramah-ramahnya, hanya orang-orang terpaksa dan butuh duit untuk hidup yang sanggup bekerja di perusahaan Zafran.
Belum sempat Rayzad, Ruhi dan Malika menemukan jalan ke luarnya. Dari kejauhan terdengar langkah kaki seseorang. Harap cemas berkecamuk dalam dada Rayzad. Klik, handle pintu ruangan Rayzad diputar, tiga pasang mata spontan menatap ke pintu.
"Oma!" Ketiga bergumam.
Mayumi melangkah masuk, matanya membola menatap tajam ke arah Rayzad. Tubuh Rayzad bergetar kala melihat Mayumi maju beberapa langkah dan mendekat.
"Siapa yang menculik Zafran?" Tanya Mayumi seraya menarik kerah baju Rayzad.
"Apa? Tuan Zafran diculik?" Rayzad kaget, dia balik bertanya.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu keberadaan cucuku. Bukannya setiap saat kamu bersamanya. Hah!" Mayumi menarik ke atas kerah baju Rayzad, hingga Rayzad terpaksa mengikuti gerakan tangan Mayumi.
Suasana mencekam dan menegangkan. Tubuh Rayzad bergetar hebat, keringat mulai memgucur di seluruh tubuhnya, menghadapi Mayumi yang sedang marah, seperti berhadapan dengan malaikat maut.
"Maafkan Oma. Aku ngaku bersalah," ujar Rayzad seraya menangkupkan kedua tangan di dada.
Brak... Mayumi melepaskan cengkramannya, lalu mendorong tubuh Rayzad, hingga tersandar ke dinding. Mayumi mendengus kesal, lalu menarik nafas panjang. Ruhi dan Malika ingin membela Rayzad dengan mengatakan yang sebenar, hanya saja Rayzad melarang mereka dengan memberi kode, agar mereka diam.
"Mereka meminta lima milyar, untuk membebaskan cucuku," ujar Mayumi.
__ADS_1
"Lima milyar? Siapa yang meminta Oma?" Spontan Ruhi bertanya, kekagetan Ruhi memicu keberaniannya muncul, hingga terlontar pertanyaan itu dari mulut Ruhi.
"Penculik itu." Gumam Mayumi.