
Part 46
Sementara Shaga setelah kepergian Zafran, masih duduk dalam mobilnya. kejadian demi kejadian kala dia bertemu dengan Kayesa membayang jelas di wajah. Kayesa menghadirkan banyak teka-teki. Namun, Shaga akan berusaha menyingkapnya satu persatu.
Bertemu Zafran di barbershop dan berhasil mengantongi rambut Zafran. Setelah berpisah di parkiran dan membiarkan Zafran meluncur duluan, beberapa saat kemudian dia pun meninggalkan parkir menuju ke rumah sakit menemui seorang dokter ahli untuk melakukan tes DNA.
"Selamat datang tuan Shaga. Tumben tuan Shaga nyasar ke tempat saya. Silakan duduk Tuan," sapa dokter Niko, yang merasa heran dengan kedatangan Shaga yang tergolong langka.
"Terima kasih dokter. Maaf saya mengganggu waktu dokter Niko," ujar Shaga seraya mendudukkan bokongnya di kursi. Shaga menang jarang sekali menemui dokter, karena jika sakit dia lebih memilih pengobatan herbal ketimbang ke rumah sakit.
"Ada yang bisa saya bantu?" Dokter Niko bertanya, lalu ikut mendudukkan bokongnya di kursi depan Shaga.
Sebelum menjawab pertanyaan dokter Niko. Shaga mengeluarkan dua sampel rambut dari saku kemejanya yang dibungkus plastik kecil.
"Aku butuh hasil tes DNA dari ke dua rambut ini," ujar Shaga seraya menyodorkan sampel rambut ke dokter Niko.
"Ini rambut milik siapa? Tuan Shagakah?"
"Bukan," jawab Shaga.
Shaga menjelaskan ke dokter Niko kalau dua sampel rambut itu, satu milik Zafran dan yang satu lagi milik anak laki-laki kecil yang di duga Shaga anak Zafran.
"Aku hanya ingin mengetahui. Apakah anak laki-laki kecil itu putranya tuan Zafran."
"Dan tolong rahasiakan ini dari siapa pun," ujar Shaga lagi.
"Baik tuan Shaga. Jika hasilnya sudah keluar nanti, saya kabari Tuan," ujar dokter Niko.
Setelah berbincang beberapa saat, Shaga pun berpamitan. Dokter Niko menatap kepergian Shaga hingga punggungnya menghilang di balik tikungan koridor rumah sakit.
Sepeninggalan Shaga, dokter Niko mengambil ponsel di atas maja kerjanya, lalu menggeser layar ponsel mencari nomor kontak Zafran, begitu dapat dikliknya gambar gagang telepon warna hijau, Niko menghubungi Zafran.
"Hallo tuan Zafran," sapa Niko begitu panggilan terhubung.
"Iya dokter Niko. Ada apa?"
Sebelum bicara, Niko menarik nafas panjang, lalu dia menceritakan pada Zafran, tentang kedatang Shaga yang membawa sampel rambutnya dan rambut Kiano.
"Tolong dokter palsukan saja hasil tes DNA nya," ujar Zafran setelah Niko menyelesaikan penjelasannya.
"Baik Tuan." Niko pun menutup sambungan telepon.
Setelah sambangan telepon terputus. Zafran berdiri dari tempat duduknya, lalu mondar mandir seperti setrikaan.
"Untuk apa Shaga ingin mengetahui hubunganku dengan Kiano," batin Zafran geram, dia paling tidak suka ada yang ikut campur urusannya.
Sejenak Zafran mengingat pertemuannya dengan Shaga di barbershop tadi pagi. Selama menjadi langganan di barbershop itu, Zafran memang tidak pernah bertemu dengan Shaga, ternyata kedatangan Shaga tadi pagi di barbershop ada misi yang tersembunyi.
__ADS_1
Zafran yang memang sedang gundah gulana, karena memikirkan Kayesa yang telah menbawa pergi Kiano. Kini ditambah pula berita tentang Shaga yang ingin membongkar rahasianya. Hati Zafran bertambah gulana, dia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja dan menelepon menejer barbershop langganannya.
"Pecat karyawanmu yang tadi pagi berkerjasama dengan Shaga. Jika tidak ingin barbershop mu rata dengan tanah," ancam Zafran dengan suara lantang.
"Ba-baik Tuan." Terdengar jawaban gemetar dari sambungan telepon.
Dengan geram Zafran memutuskan panggilan telepon, berani bermain-main dengannya, berarti siap bangkrut dan miskin, Zafran tidak pernah menarik kata-kata. Jika dibilang habisi, maka tamatlah riwayatnya.
Sementara Alena sejak Kayesa Resign dari perusahaan Zafran, merasa leluasa, tak ada lagi pemandangan yang menyakitkan matanya. Setiap hari dia bisa berlenggang manis keluar masuk ruangan Zafran. Seperti siang ini.
"Bang! Makan siang keluar yuk." Ajak Alena seraya bergelayut manja di lengan Zafran.
Menjadi perempuan yang tak tahu malu, walau ditolak berkali-kali oleh Zafran, Alena tetap pede akan berhasil mendapatkan hati Zafran. Maka dengan berbagai cara dilakukannya. Apa lagi sekarang sudah tidak ada Kayesa, dia tak perlu bersaing lagi.
"Pergi saja sendiri. Aku lagi banyak pekerjaan," tolak Zafran seraya menepis lengan Alena.
Wajah Alena ditekuk sedemikian rupa, hingga berkerut sempurna. Dia merogoh saku dres kerja, mengambil ponsel, lalu mencari nomor kontak Asaka mamanya Zafran.
"Tante..."
Belum sempat Alena bicara pada Asaka, ponselnya dirampas Zafran. Zafran sudah tahu taktik Alena, Alena selalu menggunakan sejatanya, dengan menelepon Asaka, agar keinginannya terpenuhi, dia akan meminta Asaka memaksa Zafran.
"Hallo ma!" Zafran menyapa mamanya dari sambungan telepon Alena.
"Apa kamu bertengkar lagi dengan Alena?" Terdengar suara Asaka bertanya, karena biasanya jika Alena menghubunginya pasti Zafran membuat ulah yang membikin Alena kesal.
"Iya tante," ujar Alena
Kala mendengar Zafran memanggilnya sayang, love-love berterbangan di kepala Alena. Spontan dia bergayut manja di lengan Zafran, lalu melakukan video call dengan Asaka. Dasar ganjen!.
"Tante kapan ke sini?" Tanya Alena.
"Dua hari lagi."
"Dua hari lagi. Alena senang dengarnya tante," ujar Alena dengan mata berbinar bahagia, berlonjak girang, dia akan bisa menguasai Zafran, karena Zafran begitu patuh pada mamanya.
"Mama mau ke sini?" Tanya Zafran dengan dahinya berkerut.
"Kenapa kamu bertanya begitu? Nggak suka mama mengunjungimu?" Mata Asaka membola melihat ke arah Zafran.
"Nggak gitu. Ma! Zafran senang mama ke sini, cuman apa tak mengganggu pekerjaan mama, kalau tidak penting-penting aman, lebih baik mama stay saja di sana," ujar Zafran berusaha tersenyum manis. Pada hal hatinya berkata tidak.
"Mama mau lihat calon menantu mama," ujar Asaka.
Waw.. Mendengar Asaka mengatakan Alena calon menantu. Alena semakin besar kepala.
"Ah... Tante! Alena senang dengarnya," ujar Alena merengek manja.
__ADS_1
"Ihh... Memuakkan," batin Zafran. Namun, dia berusaha menutupinya dengan merengkuh bahu Alena, menunjukkan pada Asaka kalau dia juga turut senang.
"Udah ya. Ma! Kami mau pergi makan dulu," ujar Zafran seraya menutup panggilan telepon. Jika tidak Alena pasti semakin kepedean.
"Nih ponselmu!" Zafran menyerahkan dengan kasar ke Alena, seraya mengurai rengkuhan dari pundak Alena dan mengusap-usapkan kedua tangan kebagian tubuh, yang tadi menyentuh tubuh Alena, dengan gerakan seperti membuang debu.
Melihat perlakuan Zafran. Sponta wajah Alena yang tadi cerah, seketika berubah, kini wajahnya ditekuk sedemikian rupa, hingga muncul garis-garis kasar di dahinya. Alena cemberut dengan bibir monyong membentuk kerucut.
"Awas saja. Aku aduan ke tante," ancam Alena seraya menatap intens kearah Zafran. Dia berharap Zafran meminta maaf padanya.
"Jangan dikit-dikit ngadu sama mama," ujar Zafran seraya meraih kembali ponsel Alena yang bereaksi ingin menelepon lagi.
Dengan gerakan reflek, Alena menarik tangan Zafran yang merampas ponselnya. Namun, Zafran bertindak lebih gesit, hingga Alena tidak berhasil menganbil kembali ponselnya.
"Sekarang keluar dari ruanganku." Zafran menarik tangan Alena, lalu mendorongnya ke pintu masuk.
Cit.. Zafran menekan tombol remote dan mengunci pintu dari dalam, di luar masih terdengar teriakan Alena yang meminta Zafran mengembalikan ponselnya seraya menggedor-gedor pintu ruang kerja Zafran, hingga mengganggu kosentrasi para karyawan lain.
"Hay! Bisa diam tak!" teriak Ruhi sambil membentak.
"Heh! Emang kamu siapa. Beraninya membentak-bentak aku," balas Alena dengan teriakan pula.
Karyawan yang merasa terusik, keluar dari ruangannya. Ingin tahu apa yang sedang terjadi, kala mendengar Alena berteriak-teriak, semua mata menatap Alena. Ada yang bergumam tak jelas, ada yang menggelengkan kepala.
"Dia lagi, dia lagi," batin Malika, lalu membalikkan tubuh melanjutkan pekerjaannya.
"Hem, sehari saja tak bikin ulah. Bisa nggak," celetuk yang lain.
Seisi ruangan lantai tiga, seperti sudah biasa dan familiar mendengar teriakan-teriakan Alena. Anehnya, setakat ini belum ada tindakan Zafran untuk memecatnya, coba saja karyawan lain, tidak menunggu kali kedua, pasti sudah diusir Zafran dari kantornya.
"Dasar sinting," gumam para karyawan, lalu mereka pun bubar dan masuk keruangan masing-masing.
Sejak Alena masuk ke perusahaan itu, tidak ada lagi ketenangan, setiap hari ada saja ulah Alena, kalau tidak dengan bos mereka, yah.. dengan sesama karyawan, kadang ngedumel sendiri tanpa sebab.
"Ada apa non Alena?" Tiba-tiba Lala cs Mira muncul.
Dua tikus kecil itu, paling suka melihat Alena meradang. Lala dan Mira biasanya tukung kompor dan tukang kipas, agar emosi Alena semakin meledak-ledak.
Lala dan Mira, orang yang pertama bahagia, saat mengetahui Kayesa Resign dari perusahaan, karena memang dari awal Lala cs Mira memang tak menyukai Kayesa.
Alena yang kurang beruntung, sejak Kayesa berhenti, memang bebas keluar masuk ke ruangan Zafran. Namun, Zafran jarang berada di tempat, hingga kesempatan Alena bertemu Zafran sangat kecil dan langka.
"Apa tuan Zafran bikin kesal lagi?" Tanya Lala dengan bibir monyong, hingga berbentuk kerucut. Alena hanya mengangguk.
"Aku punya solusinya, supaya bos Zafran tak berkutik lagi," Mira ikut menyela.
"Sini ku bisiki," ujar Mira, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Alena.
__ADS_1
"Boleh juga tu. Ide yang cemerlang," ujar Alena dengan tersenyum girang.