Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Di Pantai


__ADS_3

Part 66


"Esa! Dengarkan aku. Aku mau kita bersama selamanya," ucap Zafran dengan suara lirih, seraya menenangkan Kayesa.


Kata-kata Zafran membuat gerakan tangan Kayesa yang memukuli dada Zafran berhenti, lalu perlahan dia menatap wajah Zafran, mencari kebenaran ucapan Zafran dari sinar matanya.


Refleks Kayesa memeluk tubuh Zafran dan menangis terisak di dada bidang laki-laki itu. Dia tidak tahu apa arti tangisannya kali ini. Apakah masih meratapi nasibnya yang malang, karena merasa nyaman berada di dalam pelukan laki-laki yang telah memiliki istri itu, atau tangisan bahagia, karena perasaannya terbalas. Entahlah!


Melihat Kayesa menumpahkan tangisnya, hingga tubuhnya bergetar. Perasaan Zafran terenyuh dan sedih, perlahan dua bulir kristal ikut meluncur di pipinya. Seketika dia menjadi laki-laki cengeng, Zafran memeluk semakin dalam tubuh wanita itu.


"Perasaan apa ini?" Batin Zafran bertanya-tanya, karena seumur hidup tak pernah memiliki perasaan aneh yang sekarang dirasakannya. Selama ini jangankan meneteskan air mata, simpati pada wanita pun belum pernah dilakukannya, karena dulu yang ada dipikirannya, wanita itu hanyalah alat untuk pemuas nafsu laki-laki.


Kenapa sekarang Zafran merasa ada yang berubah saat dia lebih dekat mengenal Kayesa, dia punya perasaan ingin melindungi Kayesa, dia merasa sedih melihat Kayesa menangis. Bahkan dia merasa takut kehilangan wanita itu. Apa ini karma, karena selama ini dia tidak pernah ambil peduli dengan perasaan wanita.


"Ya Tuhan. Delapan wanita yang jadi korban pernikahan semalamku. Apa mungkin masih ada yang bernasib seperti Kayesa, mengandung dan melahirkan anakku," batin Zafran, bayangannya kembali ke masa silam. Bagaimana bejatnya dia waktu itu, bahkan pernah menikahi dua wanita dalam semalam.


Kegilaannya itu berakhir setelah dia menikahi Kayesa. Entah kenapa malam itu, Zafran merasa kalau wanita yang di tidurinya, sangat berbeda dengan wanita sebelumnya. Maka pada malam itu, dia berinisiatif meninggalkan cincin identitas miliknya, ada terselip harapan ingin bertemu lagi dengan wanita itu.


"Lepaskan! Aku tidak bisa bernafas," ujar Kayesa dengan suara serak.


Suara Kayesa membuyarkan lamunan Zafran, dia tidak sadar kalau memeluk Kayesa begitu erat, perlahan Zafran mengurai pelukannya, lalu diangkatnya tangan kanan, membelai rambut Kayesa, mencium puncak kepalanya beberapa detik.


"Berjanjilah untuk tidak menjauh lagi dariku," ujar Zafran seraya memegang kedua pipi Kayesa, lalu menyesap sisa air mata yang masih membekas di pipinya.


Kayesa kembali menatap wajah itu, lalu hanya mengangguk, memberi isyarat, kalau dia akan selalu ada di sisi Zafran.


"Terima kasih," ujar Zafran. Anggukan Kayesa, sangat menenangkan hatinya.


Spontan Zafran meraih dan menarik tangan Kayesa dan membawanya berlari ke bibir pantai, lalu membiarkan air membasahi tubuhnya dan Kayesa. Begitu ombak datang menepi, Zafran dan Kayesa disapu ombak, keduanya saling berpegangan.


Seluruh tubuh Zafran dan Kayesa telah basah, Zafran mengajak Kayesa berdiri tengak di pinggir pantai, sambil menghadap ke laut, lalu Zafran meraih tangan Kanan Kayesa, mengangkat tangan itu keudara, dan berteriak.


"I love you. Esa!" Teriakan Zafran menggema ke seluruh penjuru pantai kuta.


Kayesa terkejut mendengar suara Zafran berteriak lantang, dia sama sekali tak menduga, Zafran akan melakukan itu. Wajah Kayesa bersemu merah, dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

__ADS_1


"Esa! Pantai ini menjadi saksi bisu, kalau aku tak akan pernah meninggalkan mu dalam keadaan apa pun," ujar Zafran menyentuh lembut bahu Kayesa.


"Maukah kamu menerima lamaranku?" Zafran mengeluarkan kotak kecil berwarna merah hati yang sudah basah terguyur air laut.


Seperlima menit, Kayesa menatap tak percaya pada Zafran. Bagi Kayesa ini terlalu cepat da mengagetkan. Namun, Kayesa tidak bisa membohongi hatinya, kalau dia begitu bahagia dilamar Zafra.


"Mau ya?" Tanya Zafran lagi, kala Kayesa hanya menatapnya. Mendapat pertanyaan kedua yang sama, membuat Kayesa yakin akan kesungguhan Zafran. Dia pun mengangguk.


Zafran mengeluarkan cincin berlian itu dari dalam kotak dan menyematkan di jari manis Kayesa. Sebenarnya cincin berlian itu, cincin yang telah dijual Kayesa saat kekurangan uang untuk pengobatan Kiano dan cincin itu ditebus kembali oleh Zafra dan kini telah disematkannya di jari manis kekasihnya.


Kayesa menatap takjub pada cincin berlian yanga telah melingkar di jari manis. Kayesa sama sekali tidak mengenali, kalau cincin yang dipakainya sekarang, adalah cincin yang telah dijual. Karena selama cincin itu bersamanya. Kayesa tidak pernah sama sekali membuka kotak berbentuk hati itu, Kayesa hanya melihat sekilas, pada waktu dia mau menjualnya di toko emas itu.


Sejenak seluruh mata pengunjung menatap ke arahnya. Tentu saja banyak para gadis menatap iri pada wanita yang sedang berdiri di depan Zafran dan disematkan cincin berlian.


"So swety banget," seru para gadis.


"Hay! Aku seperti mengenal laki-laki itu," bisik seorang wanita, salah satu pengunjung pantai.


"Hah! Benarkan? Coba kalian lihat. Bukannya laki-laki itu mirip dengan foto suami Alena, teman kita," ujar wanita itu menunjuk ke arah Zafran.


Tiga wanita yang sedang berjemur di tepi pantai itu, menatap layar ponsel wanita yang bernama Ira, lalu menatap Zafran yang sedang bermain ombak bersama Kayesa.


Jepret... Jepret. Diam-diam Ira mengarahkan kamera ponselnya ke arah Zafran dan Kayesa, lalu mengirim hasilnya ke Alena. Namun sayang, whatsapp Alena tidak aktif, karena Alena sedang berada di pesawat menuju kota Surabaya.


"Kenapa nomor whatsapp Alena tidak aktif," ujar Ira kala melihat pesan yang dikirimnya centang satu.


"Ayok kita berenang. Ngapain mikiran Alena, teman kita yang sombong itu," ujar salah satu dari tiga gadis.


"Benar kata kamu. Yuk!" Ira pun mengurungkan niatnya, yang ingin menelepon Alena. Ketiga gadis itu kemudian bergabung ke bibir pantai, bermain pasir dan ombak.


Sementara Zafran dan Kayesa, kembali berlarian bermain ombak dan pasir putih. Kayesa bahkan melupakan lukanya yang belum sembuh, tanpa disadari kain kasa dan perbannya terlepas karena basah.


"Auu," ringis Kayesa saat tanpa sengaja Zafran tersentuh lututnya.


"Sayang! Kamu kenapa?" Tanya Zafran khawatir.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Kenapa aku bisa melupakan, kalau luka mu belum sembuh," ujar Zafran seraya mengajak Kayesa naik dan ke ruang ganti.


Setelah berganti pakaian, Zafran mengajak Kayesa ke cafe Starbucks Dan Zafran meminta Budi mengambil obat Kayesa di dalam mobil.


"Luruskan kakinya," titah Zafran.


Luka yang belum itu, kini terlihat lembab dan memerah. Setelah mengoles dengan obat, Zafran kembali membungkus luka itu dengan kain kasa dan perban.


"Apa terasa sakit?" Tanya Zafran seraya mengibas-ngibaskan telapak tangannya, ke lutut Kayesa.


Luka itu sebenarnya tidak terlalu besar, karena posisinya berada di lutut, dan sering bergerak, makanya agak lambat pulihnya, inikam lagi terendam air laut. Seharusnya tadi Zafran tidak membawa Kayesa main ombak, agar lukanya tetap kering. Tapi semuanya sudah terlanjur dan Zafran harus bertanggung jawab.


Sejurus Zafran memperhatikan wajah Kayesa dengan rambut basah dan tanpa make up. Kayesa yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah, hingga wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Tuan! Kenapa memandangiku?"


"Sayang! Jangan panggil aku tuan."


"Harus panggil apa?"


"Panggil ayah."


"Hah! Janganlah! Nanti saingan dengan Kiano," ujar Kayesa seraya tertawa, kala ekspresi wajah Zafran terlihat lucu. Melihat Kayesa tertawa, Zafran pun ikut tertawa.


Seorang pelayan mendatangi meja Zafran, menyerahkan daftar menu, pena dan selembar kertas. Zafran menanya Kayesa mau memesan apa. Tapi Kayesa menyerahkan pilihan kepada Zafran, semua menu yang ada, dia tak tahu rasanya, karena memang dia tidak pernah ke cafe.


Zafran menulis pesanannya, dua gelas Iced chocolate cream, Red velvet cake, Almond croissant, lalu mengantar menu pesanannya ke kasir, setelah membayar, dia kembali ke meja.


"Hay! Kamu tuan Zafran, suaminya Alena kan? Kok bisa di sini dengan wanita lain?" sapa Ira dan teman-temannya sudah berdiri di samping Zafran.


Zafran memandang ke tiga gadis cantik dengan pakaian serba minim, dia mencoba mengingat di mana pernah bertemu dengan ketiga gadis seksi ini. Zafran mengingatnya, ke tiga gadis ini hadir sepuluh hari yang lalu di pernikahannya.


"Bukan! Kalian salah orang. Saya tidak kenal Alena. Saya calon suami Kayesa," jawab Zafran datar.


"Masa! Tapi kamu mirip banget dengan suami teman aku." Ira ngotot sambil memperlihatkan gambar Zafran dan Alena waktu sedang bersanding di pelaminan.

__ADS_1


"Mungkin hanya mirip saja," ujar Zafran, lalu mengusir ketiga gadis itu.


__ADS_2