Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Akting Alena


__ADS_3

Part 75


Asaka berlari ke arah Alena, dia mendekap tubuh Alena dan berusaha merampas pisau di tangan Alena, yang ingin mengiris urat nadinya.


"Alena! Sadar Alena!"


"Biarkan Alena mati. Ma! Zafran tidak menginginkan Alena, hiks, hiks, hiks," ujar Alena dalam ratapannya.


Prak... Asaka melemparkan pisau yang sudah dirampasnya dari Alena, lalu kembali memeluk menantunya yang sedang gundah itu, terdengar tangisan Alena dalam dekapan Asaka. Sementara Alena yang berpura sedih dan menangis, di dalam hati tersenyum senang, saat melihat Asaka panik.


Setelah Alena dihalangi oleh Mayumi untuk masuk apartement Zafran. Alena sangat dendam pada wanita tua itu, dia berjanji akan melakukan apa saja, untuk membalas perlakuan Mayumi. Begitu Alena sudah berada di apartement Asaka, Alena menelepon Sarla mamanya dan mereka berdua merencanakan sesuatu.


"Alena! Jangan pernah lepaskan Zafran, dia satu-satu harta yang kita miliki. Papamu sudah bangkrut, kamu harus bisa menguras semua milik Zafran," ujar Sarla dari sambungan telepon.


"Beres. Ma! Alena akan wujudkan impian papa dan mama," ujar Alena, lalu mematikan sambungan teleponnya, kala mendengar suara Asaka memanggil mananya, Alena pun bersiap menjalankan misinya. Dan Asaka menganggap, Alena benar-benar ingin menghabisi nyawanya.


Beberapa saat Asaka membiarkan Alena menuntaskan tangisnya, saat tak terdengar lagi. Asaka mengurai pelukannya.


"Ceritakan pada mama. Apa yang terjadi selama kamu di Bali dan kenapa kamu pulang tanpa Zafran? Apa kamu bertengkar?"


Sambil menyeka sisa air matanya. Alena mulai bercerita dari awal Zafran datang bersama wanita bernama Tatia, kejadian makan malam, hingga Zafran meninggalkannya dan pergi bersama Kayesa.


"Kayesa? Aku seperti pernah mendengar nama wanita itu," gumam Asaka.


"Kayesa itu. Clearning service di kantor Zafran, yang diberi tugas, hanya membersihkan ruangan Zafran," sungut Alena dengan wajah ditekuk, cemberut hingga bibirnya membentuk kerucut.


"Oh, cuman clearning service."


Asaka tertawa tipis menanggapi ucapan Alena. Dia merasa lucu saja, bagaimana bisa seorang Alena yang cantik, pintar dan modis, cemburu dengan seorang clearning service, yang kedudukannya paling rendah di kantor Zafran.


"Walaupun clearning service. Zafran selalu belain dia. Ma!" Sungut Alena lagi.


"Jadi cuman gara-gara itu. Kamu mau bunuh diri. Ya Tuhan, Alena! Pendek kali pikiranmu," ujar Asaka, seraya menepuk jidatnya sambil terkekeh.


Ditertawakan mama mertua, membuat Alena kesal, andai Asaka tahu bagaimana Zafran memperlakukan Kayesa, pasti Asaka akan berubah pikiran dan tak menganggap remeh lagi pada clearning service itu.


"Kamu tidak usah pikirkan masalah Zafran dan wanita itu... siapa tadi? Kayesa, yah... Kayesa, mama pastikan mereka tak punya hubungan apa-apa. Okay!"


Asaka membingkai pipi mantunya itu dengan ke dua tangannya, dia berjanji akan segera menemukan Zafran, membawanya pulang untuk Alena dan memastikan wanita clearning service itu tidak akan mengganggu hubungan Alena dan Zafran lagi.


"Sekarang kamu rehat. Tidur cantik, mama mau ke kantor dulu."


"Ma! Mana uang yang Alena minta," ujar Alena menahan langkah Asaka yang mau pergi.


Setengah ikhlas, Asaka merogoh tas tangan mengambil dompet, lalu membukanya. Asaka mengambil dua lembar ratusan. Namun, Alena lebih gesit menarik satu ikat ratusan yang berisi lima juta rupiah dari dompet mertuanya.


Mata Asaka membola, saat Alena mengambil semua isi dompetnya, dia berusaha menjangkau kembali uang yang dirampas Alena. Spontan Alena mengelak, hingga Asaka tidak berhasil mengambil kembali uang yang dirampas Alena.

__ADS_1


"Alena! Kembalikan uang mama."


"Ini buat Alena saja. Salahkan anak mama, kenapa tidak kasih nafkah ke istrinya," ujar Alena, lalu memasukkan uang itu ke dalam tasnya.


"Jangan kamu ambil semua, sisakan buat mama," sungut Asaka.


Alena tak memperdulikan keberatan mama mertuanya, yang penting sekarang dia punya pegangan, walaupun hanya lima juta, cukuplah buat jajan sepuluh hari. Bagi Asaka uang segitu belum ada apa-apanya, sebenarnya berkali lipat dari itu dia punya, hanya saja dia kurang suka dengan cara Alena yang merampas tanpa ijin.


"Ah. Benar kata mama Mayumi kalau Alena tak beradab. Bagaimana cara Sarla mengajari putrinya, hingga tumbuh besar, tapi tak ada sopan santunnya," batin Asaka seraya menarik tas Alena dan merampas kembali uang yang tadi Alena ambil.


"Mama! Jangan diambil lagi. Itu sudah jadi milik Alena." Alena berusaha merampas kembali uang yang berada di tangan Asaka. Namun, gagal. Asaka lebih gesit, dengan cepat memasukkan ke dalam tas dan menyisakannya dua lembar ratusan.


"Ini jatah kamu satu minggu," ujar Asaka meletakkan uang ratusan dua lembar ke telapak tangan Alena.


"Satu minggu," gumam Alena.


Mata Alena tak berkedip, melihat dua lembar uang ratusan di tangannya. Dan Asaka memintanya berhemat, dengan uang dua lembar, dijatah makan untuk satu minggu.


"Ah. Mama Asaka pelit," ujar Alena seraya menatap intens pada Asaka.


Tak memperdulikan ocehan Alena. Asaka memasukkan uangnya kembali ke dalam tas, menutup resletingnya dengan rapat, sambil memperbaiki cantolan tas di bahu, Asaka beranjak menuju pintu ke luar.


"Mama! Mana cukup, uang dua lembar untuk satu minggu," Alena protes, dia berharap Asaka akan memberi tambahan. Nyatanya tidak.


"Jika mama tidak dapat membawa Zafran untukku. Aku akan mengadakan jumpa pers, membuat pernyataan kalau keluarga terkaya di kota ini, hanya memberi nafkah istrinya dua ratus ribu," ancam Alena dengan suara lantang.


"Nih untukmu semua. Jangan pernah bicara apapun pada wartawan," ujar Asaka. Asaka tahu betul, kalau papanya Alena salah satu pemilik redaksi di kota ini. Bisa hancur reputasinya jika itu terjadi.


"Semuanya tergantung Zafran dan mama. Jika mama bisa membujuk anak mama itu, untuk menemuiku. Aku akan tutup mulut," ujar Alena seraya memasukkan uang yang diberikan Alena.


Asaka berjanji pada Alena, agar segera membawa Zafran untuknya. Sementara Asaka beranjak pergi. Alena menutup pintu apartement, duduk di sofa dan kembali menelepon Sarla mamanya, berdiskusi untuk melancarkan misi berikutnya.


******


Di tempat lain.


Zafran dan Kayesa sudah kembali ke Jakarta, Zafran membawa Kayesa ke rumah oma Fatma. Rumah yang dulu pernah ingin diberikannya pada Kayesa. Namun, Kayesa keburu kabur membawa Kiano dan Maeka. Zafran tidak langsung mengantar Kayesa pulang, karena di kantor ada pertemuan penting yang tidak bisa diwakilkan.


"Esa! Berjanji padaku, tetap di sini sampai aku kembali dari kantor. Aku akan mengantarmu pulang setelah semua pekerjaanku beres," ujar Zafran seraya meraih tangan Kayesa dan menggenggamnya erat.


Genggaman tangan Zafran, membuat Kayesa gugup, detak jantungnya berdebar kencang. Dia tak bisa berkata-kata, yang bisa dia lakukan hanyalah mengangguk, tanda dia setuju menunggu Zafran pulang dari kantor dan mengantarnya pulang ke kampung, di mana dia, Maeka dan Kiano tinggal.


Seraya melepaskan pegangannya, Zafran meraih kunci mobil dan ponselnya, lalu beranjak melangkah menuju pintu, sebelum ke luar, Zafran memutar tubuhnya kembali menatap Kayesa yang juga sedang menatapnya. Tiba-tiba Zafran mendekati Kayesa dan kembali memeluknya. Entah kenapa ada rasa berat meninggalkan Kayesa sendiri.


"Esa! Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu." Zafran mengurai pelukan, lalu meraih kedua tangan Kayesa dan menciumnya dengan lembut.


Ada rasa yang menjalar di seluruh organ tubuh Kayesa, Kayesa seperti melambung di awang-awang. Dia tidak seperti sebelum-sebelumnya yang menganggap kalau Zafran hanya menggoda dan mempermainkannya. Beberapa hari berada di sisi Zafran, telah merubuh persepsinya terhadap laki-laki itu.

__ADS_1


"Kamu maukan hidupku denganku?" Tanya Zafran seraya menatap intens ke bola mata Kayesa.


"Bagaimana dengan Alena?" Tanya Kayesa, bagaimana pun Alena sudah menjadi istri sah Zafran.


"Aku akan mengakhiri hubungan ku dengan wanita itu," ujar Zafran seraya membingkai wajah Kayesa dengan kedua tangannya. Dia berusaha meyakinkan Kayesa.


"Kamu maukan menunggu ku, sampai semua urusanku dengan Alena selesai?" Tanya Zafran, yang dijawab Kayesa dengan mengangguk.


"Aku berjanji, tidak akan mengecewakanmu," ujar Zafran, sekali lagi, lalu kembali memeluk Kayesa, kemudian pamit pergi ke kantor.


Sepeninggalan Zafran. Kayesa masuk ke kamar, naik ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang. Pandangan Kayesa lurus ke langit-langit kamar, dia senyum-senyum sendiri seperti orang yang kasmaran.


Ah... Kalau boleh jujur, sekarang hatinya penuh dengan taman bunga yang sedang bermekaran. Dia merasa menjadi wanita yang paling cantik sekarang, mengkhayal sebentar lagi akan menjadi ratu di hati Zafran.


"Apa aku sudah jatuh cinta pada Zafran," batin Kayesa.


"Lalu perasaan apa yang kumiliki pada Shaga," gumam Kayesa, karena setiap kali menyebut nama laki-laki masalah lalunya itu, hatinya selalu bergetar.


Lama Kayesa termenung memikirkan perasaannya pada Zafran dan pada Shaga. Di samping Zafran Kayesa merasa nyaman, karena praduga Kayesa, Zafran mengenalnya di masa sekarang, tak ada yang mengganjal di hatinya.


Sementara Shaga, mengenalnya di masa lalu, di mana dia masih perawan dan bebas. Kayesa bahagia berada di samping Shaga. Namun, ada dugaan kalau Shaga tidak bisa bahagia dengan keadaannya sekarang dan Kayesa merasa, Kiano akan menjadi beban jika dia bersama dengan Shaga.


"Zafran lebih tepat menjadi ayah sambung Kiano," batin Kayesa.


Selama Zafran kenal Kiano, Kayesa sudah melihat buktinya, kalau Zafran begitu menyayangi Kiano. Dan Kiano pun sudah merasa nyaman memanggil Zarfan dengan sebutan ayah. Kiano dan Zafran sudah sangat cocok.


"Aku memutuskan untuk memilih Zafran dan akan menunggunya sampai dia dan Alena berpisah," batin Kayesa, lalu memejamkan matanya, membawa sosok Zafran ke dalam mimpi.


******


Sementara Asaka yang baru sampai di parkir, tak sengaja matanya melihat mobil Zafran terparkir manis. Asaka bergegas keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke kantor, langsung menuju ke lantai atas.


"Ruhi! Apa Zafran sudah datang?" Tanya Asaka, kala sampai di meja sekretaris Rayzad.


"Sudah Nyonya!" Jawab Ruhi seraya menunduk.


Aura ketidaknyaman tercium dari langkah Asaka, dia harus segera menemui putranya itu dan memperingatkan apa yang telah dilakukan Zafran pada Alena istrinya, sebelum Alena menyebarkan gosip tak sedap yang akan mencoreng nama baiknya.


Dengan jari tunjuk, Asaka memasukkan kode beberapa nomor pasword. Pintu ruangan Zafran pun terbuka.


"Mama!" Sapa Zafran terkejut, kala melihat Asaka masuk. Dia belum memberitahu Asaka kalau sudah kembali ke Jakarta.


"Diam di tempatmu. Mama ingin bicara." Kata-kata Asaka membungkam Zafran yang ingin beranjak menyambut kedatangan Asaka.


"Ray! Pertemuan kita lanjutkan besok," ujar Zafran dan meminta Rayzad meninggalkan dia dan mamanya. Rayzad beranjak dan pamit.


"Kamu telah membuat mama malu. Zafran! hiks, hiks, hiks." Asaka meraup habis wajahnya sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2