
Part 86.
Di belakang Shaga, ada Rizwan yang sedang menenteng belanjaan, Shaga meletakan buah melon dan jeruk yang di bawanya di atas meja sofa ruang tengah.
"Kok Abang dan Shaga bisa barengan?" Tanya Ratih, seraya mengambil belanjaan di tangan suaminya
"Tadi kebetulan ketemu di pasar buah, ku ajak ke sini sekalian," ujar Rizwan menyerahkan semua barang bawaan pada istrinya.
"Wah! Banyak belanjanya. Bang!" Tanya Kayesa sambil menatap kresek belanjaan yang dibawa Ratih.
"Iya! Abang mau makan masakanmu," ujar Rizwad menatap ke arah Kayesa.
"Ah...Aku sudah lupa cara masak yang enak," ujar Kayesa sambil tertawa.
Mendengar tawa Kayesa. Rizwan mencubit pipi Kayesa, dia lupa kalau Kayesa adiknya itu bukan gadis kecil lagi. Merasa cubitan Rizwan di pipi, Kayesa membalas dengan menjewer telinga Rizwan.
"Sakit!" Ucap Rizwan, seraya berusaha menggapai rambut Kayesa, dengan cepat Kayesa menghindar dan tertawa, kala Rizwan tak berhasil menangkapnya.
Diam-diam Shaga memperhatikan Kayesa dari tempat duduknya. Dulu dia dan Kayesa sering bercanda dan tertawa bareng. Itu dulu, saat dia masih mrnggunakan seragam putih abu-abu. Kini wanita itu masih mengisi relung hatinya, walaupun Shaga sudah berkali-kali berusaha melupakan Kayesa.
Makin ke sini, Kayesa semakin cantik, apa lagi jika dia tertawa lepas begitu. Shaga tak berkedip memperhatikannya. Hingga abang adik itu mengakhiri candaannya.
"Abang! Besok ke makam ibu ya."
"Okay," ujar Rizwan, dia merengkuh bahu adiknya, lalu memintanya duduk di kursi samping Shaga.
"Kamu temani Shaga ya. Biar abang yang masak sama Ratih," ujar Rizwan seraya menggapai plastik belanjaannya.
"Tapi kata abang tadi, mau makan masakkanku."
"Besok saja. Haro ini abang yang masak, karena minggu depan abang sudah kembali ke Kalimantan," ujar Ridwan.
"Kalau gitu, aku temani Abang masak!"
"Tidak usah, kamu temani Shaga saja, masa tamu dibiarkan sendiri," ucap Rizwan, seraya beranjak ke dapur.
Sepeninggalan Rizwan, suasana menjadi kaku, Kayesa memainkan jari-jemarinya, dia tidak tahu harus memulai bicara apa. Begitu juga dengan Shaga, entah kenapa otaknya tiba-tiba susah diajak berpikir.
"Akuu..." secara bersamaan Shaga dan Kayesa berbicara.
"Bicaralah duluan," ujar Shaga.
"Kamu saja yang duluan." Kayesa pun meminta Shaga bicara duluan.
Belum sempat Shaga mengutarakan ucapannya, terdengar suara langkah kecil dari luar, beberapa detik kemudian Kiano muncul.
"Eh, anak bunda sudah pulang?" Tanya Kayesa, seraya merentangkan kedua tangan, berjongkok dan membiarkan Kiano masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Gimana mainnya. Enakkan?" Tanya Kayesa, sambil mencuil hidung putranya.
"Celu (seru). Bun," celetuk Kiano.
Seperlima detik kemudian, Zafran masuk ke ruang tengah sambil menggendong Dea kecil. Kayesa menurunkan Kiano dan gendongannya, lalu mengambil Dea dari Zafran.
Melihat Zafran yang datang, Shaga berdiri dan menyalami Zafran. Shaga tak menduga kalau Kayesa dan Zafran seakrab ini, setahu Shaga, hubungan Kayesa dan Zafran hanya sebatas atasan dan bawahan. Dugaan Shaga salah, ternyata di luar kantor, Zafran dan Kayesa saling mengunjungi.
"Silahkan duduk Tuan," ujar Shaga, layaknya seperti tuan rumah.
"Terima kasih. Apa Tuan keluarga Kayesa juga? Tanya Zafran seraya mendudukkan bokongnya di sofa. Karena Zafran sedang berperan amnesia, terpaksa dia pura-pura tidak mengenali Shaga.
"Tidak! Dulu Kayesa teman sekolah menengah atasku. Selain itu aku dan keluarga Kayesa sudah lama saling kenal dan saling mengunjungi," jelas Shaga.
"Maaf! Kita belum berkenalan," ujar Zafran, seraya menyodorkan tangamnya.
Mendengar ucapan Zafran. Shaga merasa heran dan aneh, Zafran mengajaknya berkenalan. Pada hal sudah dua tahun ini dia mengerjakan sebuah proyek besar yang bekerjasama dengan perusahaan Zafran.
"Tuan Zafran amnesia, karena kecelakaan yang di alaminya." Kayesa menyela dan menjelaskan kenapa Zafran tak mengenali Shaga.
"Owh," hanya itu yang ke luar dari mulut Shaga. Dia pun mengerti dan manggut-mangut.
"Pantas saja tuan Zafran melihat saya seperti orang asing," batin Shaga.
Shaga pun, lalu mengulurkan tangan ke arah Zafran, sambil menyebut namanya. Sebenarnya Zafran tertawa geli dalam hati, kala melihat Shaga menyebut nama. Terasa aneh saja.
"Iya! Aku dan Shaga sudah lama berteman, dan aku sudah menganggap Shaga seperti saudara sendiri," jelas Kayesa.
Mendengar penjelasan Kayesa, Zafran menarik nafas lega. Dia tidak perlu khawatir, kalau ada hubungan istimewa antara Shaga dan Kayesa.
"Baiklah, karena hari sudah sora, aku pulang dulu ya," ujar Zafzan.
"Kenapa pulang, makan malam di sini saja." Tiba-tiba Ratih muncul dan menyeletuk.
"Kalau diijinkan Kayesa, nanti saya ke sini lagi nyonya Ratih," ujar Zafran seraya melirik Kayesa.
Kayesa mengalihkan pandangan pada Ratih. Kayesa merasa tak punya wewenang untuk mengijinkan Zafran datang lagi. Karena rumah ini milik abangnya dan Ratih.
"Kami tunggu kedatangan Tuan." ujar Ratih memberi jawaban sebelum dipinta Kayesa.
"Bawa istrinya juga bolehkan. Kak?" Tiba-tiba Shaga menyeletuk.
Mendengar ucapan Shaga, wajah Zafran seketika berubah, begitu juga dengan Kayesa, dia sedikit kaget. Ada gemuruh yang tiba-tiba bergejolak di hatinya.
"Tuan sudah punya istri? Wah... Pasti istri Tuan sangat cantik dan wanita modis," ujar Ratih bertanya dan berspekulasi.
"Esa! Apa aku sudah punya istri?" Zafran tidak menjawab pertanyaan Ratih. Dia malah pada Kayesa, dan Zafran menunggu jawaban dari Kayesa.
__ADS_1
"Iya. Tuan sudah beristri, istri Tuan sangat cantik, seksi dan modis. Nama Alena," jawab Kayesa seraya menatap intens pada Zafran.
"Alena? Wanita jahat itu? Bagaimana bisa aku menikahi dia?" Tanya Zafran pada Kayesa.
Sejenak Kayesa menarik nafas panjang, sebenarnya Kayesa tidak ingin menceritakan keburakan Kayesa. Namun, dia hanya ingin meluruskan, sekaligus memjelaskan kepada orang-orang, agar tak terjadi kesalahpahaman.
"Pernikahan Tuan dengan Alena, karena perjodohan," ucap Kayesa.
"Dan Tuan sudah memasukkan berkas gugatan cerai untuk Alena, sebelum kecelakaan itu terjadi," jelas Kayesa.
"Jadi Tuan akan meninggalkan Alena? Kenapa Tuan tidak belajar mencintainya?" Tanya Ratih.
Sejenak Zafran menatap ke arah Ratih, kemudian menoleh kearah Kayesa. Ditatapnya wajah Kayesa intens, dia ingin memastikan kalau Kayesa tidak terpengaruh dengan ucapan kakak iparnya.
"Ups... Maaf! Saya tidak bermaksud mengintimidasi Tuan."
Sebelum terlanjur memberi pertanyaan berikutnya, Ratih menyadari kalau dirinya tidak berhak untuk ikut campur masalah pribadi Zafran.
"Ah...Tidak apa-apa," ujar Zafran hanya tersenyum, mendengar ucapan Ratih. Kemudian beranjak mendekat ke arah Kayesa.
"Aku ingin bicara berdua saja sama kamu. Bisakan?" Bisik Zafran.
Tak menunggu kata sepakat dari Kayesa, Zafran sudah meraih tangan Kayesa dan menariknya keluar menuju teras rumah. Mata Shaga membola kala melihat Zafran menggenggam erat tangan Kayesa.
"Zafran tidak boleh mengambil Kayesa dari ku," batin Shaga.
Setelah berbicara beberapa menit, Zafran kemudian berpamitan dengan Kayesa, Ratih dan Shaga, dan dia berjanji akan datang lagi untuk menghadari undangan makan malam. Begitu juga dengan Shaga, dia pun berpamitan dan akan kembali nanti pada saat makan malam.
Di dalam monil, Rayzad menunggu Zafran, sedikitpun tak beranjak. Mobil yang dibawa Rayzad meluncur meninggalkan kediaman Rizwan. Mobil melaju di jalan raya. Beberapa ratus meter kemudian, Shaga membelokkan mobilnya kesebuah pusat perbelanjaan, mamasuki parkir. Setelah memakir mobilnya, dia pun turun dari mobil, beranjak masuk ke mall.
"Selamat sore. Tuan!" Sapa ramah pelayan toko, kala Zafran dan Rayzad singgah di sebuah toko perhiasan.
"Apa cincin yang ku pesan semalam sudah siap?" Tanya Rayzad.
"Tunggu sebenyar. Tuan! Saya tanyakan dulu ke bos Angga," ujar pelayan toko.
Setelah menelepon bos Angga, pelayan itu masuk ke sebuah ruangan dan keluar lagi dengan membawa satu kotak warna merah berbentuk hati dan satu kotak berwarna navy berbentuk kubus persegi.
"Ini Tuan." Pelayan menyerahkan kedua kotak itu ke Shaga.
Begitu kedua kotak itu sudah berada di tangan Shaga, Shaga pun kemudian menyerahkan kedua kotak itu ke Zafran. Zafran menerima kotak dan dia membuka kotak berwarna merah dengan sangat hati-hati, dilihatnya sepasang cincin, di belakang cincin itu, satu bentuk bertuliskan namanya dan yang satu bertuliskan nama Kayesa.
Beberapa detik Zafran menatap kedua cincin itu, bagus dan sesuai harapannya. Zafran memasukkan kembali cincin itu kedalam kotak merah, lalu dia membuka kotak berwarna navy, sebuah kalung sangat cantik dan elegan, beberapa batu berlian dengan harga puluhan juta bertahta di kalung itu.
"Kalungnya cantik sekali. Tuan," ujar Rayzad berdecak kagum.
"Pasti semua wanita menyukai dan mendambakan memiliki kalung itu," ujar pelayan toko itu ikut menyela.
__ADS_1
"Apa Tuan akan segera melamar Kayesa?"