
Part 92
Dua mobil iring-iringan pembawa hantaran lamaran berhenti di depan rumah Rizwan. Rizwan yang kebetulan sudah rapi dan siap-siap mau pergi ke bank merasa heran. Dia berdiri di depan pintu dan menatap dua mobil yang sudah parkir di halaman rumahnya.
"Siapa yang datang?" Tanya Ratih yang sudah berdiri disamping suaminya, dia pun sudah berpakaian rapi mau mengantar Dea ke play group.
Belum sempat Rizwan menjawab pertanyaan istrinya. Pintu mobil pertama terbuka, seorang wanita tua turun dari mobil, terlihat dari baju yang dipakainya sangat modis dan mewah. Wanita itu masih terlihat sangat cantik dan smart, sambil mencantolkan tali tas tangan di bahunya, wanita itu berbicara pada supirnya.
Mata Rizwan menatap lurus ke wanita itu. Dia mengingat di mana pernah bertemu dengan wanita itu. Karena wajah wanita tua itu sangat familiar di matanya.
"Nyonta Mayumi. Iya dia pasti wanita kaya itu," batin Rizwan, kala ingat kalau dia sering melihat wanita itu lalu lalang di berita online di kotanya.
"Apa yang membuat wanita ini sampai ke sini," batin Rizwan lagi.
Masih tertegun dengan pikirannya dari mobil kedua keluar tiga orang laki-laki dan dua orang wanita, dengan membawa beberapa parsel berisi barang-barang brended.
Rizwan berbisik pada Ratih, kalau yang datang ke rumah mereka adalah salah satu pengusaha yang bisnisnya berkembang pesan di Thailand ibunya dari nyonya Asaka. Rizwan memintah Ratih untuk memberikan Dea pada pengasuhnya. Ratih pun masuk mengantar putrinya ke dalam.
"Ayok Bang! Kita sambut kedatangan mereka," ujar Ratih yang sudah kembali menemui Rizwan dan membuyarkan lamunan suaminya.
Mendengar ucapan Ratih, Rizwan tersadar, dia pun begegas menyambangi Mayumi dan beberapa orang pengiringnya.
"Aku ke sini ingin melamar Kayesa untuk cucu ku," Mayumi menjelaskan kala melihat wajah Rizwan yang kebingungan menatapnya
"Nyonya mau melamar adikku?"
Di hati Rizwan masih bertanya-tanya. Bagaimana wanita ini bisa kenal Kayesa? Apa yang membuat dia tertarik pada adiknya, hingga mau melamar Kayesa untuk cucunya? Namun, suara Rizwan seakan tercekat di tenggorokan tak bisa di keluarkan.
"Iya! ku harap kamu tidak keberatan."
"Apa Nyonya tidak salah orang?" Tanya Rizwan lagi, dia meragukan ucapan Mayumi.
"Tentu saja tidak," ujar Mayumi lagi.
"Apa Nyonya tahu, kalau adik ku statusnya sudah jan..."
"Oma!"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara Kayesa yang sudah berdiri di belakang Rizwan, lalu maju beberapa langkah, menyodorkan tangan, menyalami dan mencium punggung tangan Mayumi. Spontan Rizwan menatap ke arah Kayesa. Rizwan tidak meneruskan ucapannya. Rizwan mendekati Kayesa dan menarik tangannya sedikit menjauh dari Mayumi.
"Kamu sudah mengenal wanita itu?" Bisik Rizwan di telinga Kayesa. Kayesa hanya mengangguk, lalu Kayesa mengajak Rizwan kembali mendekati Mayumi.
"Maaf Oma! Ini abang ku," ujar Kayesa, kali ini dia yang menarik tangan Rizwan. Rizwan menyodorkan tangan menyalami Mayumi.
"Oma sudah tahu kalau ini abangmu. Rayzad yang memberitahu," ujar Mayumi.
"Esa! Oma ke sini melamarmu secara resmi dan akan membicarakan tentang pernikahanmu," ujar Mayumi lagi, seraya merengkuh kedua bahu Kayesa.
Perlakuan Mayumi pada Kayesa, semakin membuat Rizwan melongo. Dia tak percaya Kalau Mayumi dan Kayesa begitu akrab. Sementara Kayesa mendengar ucapan Mayumi biasa saja, karena tadi malam Mayumi sudah mengutarakan niatnya.
"Ayok Nyonya! Dan rombongan disilakan masuk dulu." Ratih yang dari tadi hanya diam, mengajak Mayumi dan rombongan masuk ke rumahnya.
Suasana di rumah Rizwan menjadi ramai, karena ruang tamu kecil dan sempit, Rizwan memgajak tamunya ke ruang tengah. Setelah semuanya masuk dan duduk, Rizwan meminta maaf, karena tidak punya persiapan untuk menyambut kedatangan Mayumi.
"Saya yang minta maaf, karena tidak memberitahu Kayesa dan keluarga di sini," ujar Mayumi.
Acara lamaran dan seserahan hantaran berlangsung hikmat. Rizwan meminta maaf pada Mayumi dan rombongan karena hanya bisa memberikan jamuan seadanya. Sebenarnya Mayumi datang secara dadakan juga karena tidak ingin merepotkan Kayesa dan keluarganya.
Ketika Mayumi mengatakan, kalau resepsi pernikahan cucunya dan Kayesa akan di langsungkan minggu depan. Rizwan merasa keberatan, karena dia harus melakukan beberapa persiapan.
"Nyonya tidak usah panggil saya Tuan. Lebih dari restu akan saya berikan, Nyonya mau bertamu ke rumah saya saja, saya senang. Inikan pula mau menjalin hubungan dengan keluarga saya," ujar Rizwan merasa sungkan, karena Mayumi memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Alhamdulillah kalau begitu, saya menjadi lega sekarang," ujar Mayumi lagi.
Gampang bagi Mayumi, kalau hanya resepsi pernikahan satu hari pun dia bisa menyiapkan. Mayumi tinggal telepon orang-orang, untuk tempat acara dia punya hotel, untuk ketering dia punya usaha kuliner, untuk dekor dia tinggal telepon sahabat karibnya.
Mendengar penjelasan Mayumi, Rizwan tidak punya alasan lagi untuk menolak dan menundanya. Begitu juga Kayesa. Setelah kata sepakat diambil, Mayumi dan rombongan pun pamit pulang.
"Esa! Oma pulang dulu," ujar Mayumi beranjak dari duduknya, melangkah ke teras, Kayesa memgikuti langkah Mayumi.
"Iya Oma. Terima kasih untuk semuanya," ujar Kayesa, seraya meraih dan mencium punggung tangan Mayumi.
Seraya melambaikan tangan ke arah Kayesa, Rizwan dan Ratih. Mobil yang membawa Mayumi meluncur meninggalkan rumah Rizwan. Kayesa mengiringi kepergian mobil Mayumi dengan ekor matanya, hingga mobil itu menghilang di balik tikungan.
Baru saja Kayesa memutar tubuhnya ingin melangkah mengikuti Rizwan dan Ratih yang sudah duluan masuk ke dalam rumah, sebuah mobil datang dan berhenti tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Shaga," batin Kayesa menatap pintu mobil Shaga yang perlahan bergerak terbuka.
Setelah pintu terbuka, Shaga turun dari mobilnya, lalu dia menatap Kayesa yang sedang berdiri menatapnya juga.
"Siapa mereka?" Tanya Shaga.
"Yang mana?" Kayesa balik bertanya.
"Oma Mayumi."
Deg... Seketika jantung Shaga seakan berhenti berdetak, kala me dengar Kayesa menyebut nama Mayumi.
"Ikut aku sekarang," ujar Shaga menarik paksa Kayesa, lalu membuka pintu mobil dan mendorong Kayesa masuk.
Brak... Shaga menutup pintu mobil dengan kasar, sehingga menimbulkan suara yang mengagerkan. Kayesa bergedik, dia tidak perna melihat Shaga semarah ini.
"Shaga! Kamu mau bawa aku ke mana?" Tanya Kayesa, saat Shaga menarik pedal gas dan meluncur menuju jalan raya.
Mobil yang dikendarai Shaga meluncur dengan kencang, beberapa mobil yang disalipnya, mengundang kemarahan supir lain. Sepertinya Shaga sudah kesetanan dan tak memperdulikan keselamatannya. Entah apa yang membuat pikirannya kembali berubah. Pada hal tadi malam saat melihat Kayesa menerima cinta Zafran, dia sudah berniat mengihklaskan wanita itu.
"Shaga! Berhenti! Apa kamu mau kita mati," teriak Kayesa mulai panik.
Shaga sama sekali tak memperdulikan teriak ketakutan Kayesa. Mendengar suara Kayesa, Shaga semakin melajukan mobilnya.
"Shaga! Aku mohon hentikan! Turunkan aku di sini."
Melihat lajunya mobil yang dibawa Shaga. Kayesa tak berani menatap ke depan, dia menutup mata dengan kedua tangan dan berdoa semoga Shaga mendengar teriakannya.
Ceeiiiit... Injakan rem mendadak terdengar mendencet, kepala Kayesa ikut terantuk kursi di depannya, karena dia tidak sempat menyeimbangkan tubuh.
"Astagfirullah. Apa yang terjadi," gumam Kayesa saat merasa mobil berhenti mendadak.
Belum sempat Kayesa berpikir jernih, pintu mobil terbuka dan tangan Shaga sudah menarik dan mencekal lengannya. Tampa bicara Shaga memaksa Kayesa turun dari mobil.
Begitu keluar dari mobil, Shaga menyeret Kayesa ke sebuah rumah minimalis berwarna abu rokok dan berpagar besi warna hitam, setinggi dua meter. Shaga mengeluarkan kunci dari saku celana dan membuka pintu rumah itu.
"Masuk!" Ujar Shaga mendorong tubuh Kayesa saat pintu terbuka.
__ADS_1
"Shaga! Rumah ini..." Kayesa tidak meneruskan ucapannya, matamya membola memindai seisi rumah.