
Part 42
Maeka meraih tangan Kayesa, membantu Kayesa bangun, lalu memapah tubuh Kayesa ke tempat tidur, Kayesa terlihat sangat lelah dan lemas, mungkin efek kebanyakan mengeluarkan air mata.
"Minum dulu. Nya!" Maeka menyodorkan segelas air putih kepada Kayesa, sebelum Kayesa merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Kayesa menenggak habis air putih yang diberikan Maeka, tenggorokan yang tadi serat, kini terasa basah dan lega. Kayesa meluruskan kakinya dibantu oleh Maeka.
"Tidur dan istirahatlah. Nyonya pasti sangat letih," ujar Maeka seraya menarik selimut, hingga menutupi tubuh Kayesa.
Untung Kiano yang tertidur pulas tidak terusik oleh keributan yang Kayesa buat. Kiano pasti terlalu lelah karena perjalanan panjang yang ditempuhnya bersama bunda dan kakak asuhnya.
Lamat Kayesa menatap wajah polos tak berdosa milik putranya. Laki-laki kecil ini tak pernah minta dilahirkan kedunia dalam keadaan yang tak diharapkan, dengan proses serumit yang Kayesa hadapi, penuh caci maki dan hinaan yang selalu dilontarkan orang-orang yang tak pernah tahu kronologi yang sebenarnya.
"Kiano ku terlahir bukan sebuah kesalahan, dan ayah kandung Kiano pun telah memberikan sesuatu untuk mencukupi kebutuhannya," batin Kayesa sambil mengusap lembut kepala Kiano.
"Dia anugrah terindah yang ku miliki. Terima kasih Tuhan, sudah menitipkan anak sepintar dan sehebat Kiano," gumam Kayesa lagi, lalu Kayesa memajamkan matanya, dia sudah siap menghadapi hari esok dan hari-hari berikutnya. Kayesa pun tertidur. Begitu juga dengan Maeka.
****
Pagi-pagi sekali Kiano sudah terbangun, celotehnya mengusik Kayesa. Perlahan Kayesa membuka matanya yang masih sangat mengantuk, lalu dengan ditumpu tangan kanan Kayesa berusaha bangkit dari tidurnya.
"Aduhhhh..." Kayesa memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut perih dan terasa pusing.
"Nyonya kenapa?" Maeka mendekat dan menyentuh dahi Kayesa.
Hangat! Sentuhan tangan Maerka di kulit Kayesa terasa hangat, keringat dingin mengucur di dahi Kayesa. Pada hal kamar full ac.
"Nyonya demam," ujar Maeka, meminta Kayesa kembali berbaring.
Kepala Kayesa berdenyut hebat, dia kembali terbaring saat berusaha bangkit. Selain itu dia juga merasa tubuhnya sakit-sakitan, tulang belulangnya seakan mau rontok semua. Tiba-tiba tubuhnya menggigil kedinginan. Maeka menarik selimut, hingga menutupi tubuh Kayesa sampai ke leher.
"Nyonya! Tunggu sebentar ya," ujar Maeka, ke luar kamar menuju resepsionis.
"Kak. Bisakah panggilkan dokter, seperti nyonya Kayesa diserang demam."
"Ada apa?" Tanya Shaga yang dari tadi pagi sudah memantau situasi kamar Kayesa.
__ADS_1
"Ini Tuan. Salah satu tamu di kamar dua puluh delapan B terserang demam, dan kakak ini minta tolong dipanggilkan dokter," ujar resepsionis menjelaskan.
"Demam! Bagaimana bisa." Shaga bergegas menuju kamar dua puluh delapan B. Dilihatnya Kayesa sedang bergelung dengan selimut karena kedinginan. Dan seorang anak laki-laki sedang memeluk tubuh Kayesa.
"Hallo ganteng," sapa Shaga seraya meraih tubuh Kiano dan menggendongnya. Seketika Kiano menatap wajah laki-laki asing dan menatapnya intens. Namun dia tidak menolak saat Shaga mengangkat tubuhnya dari pembaringan.
Sambil menggendong Kiano, Shaga duduk di tepi tempat tidur Kayesa, lalu Shaga menelepon salah satu dokter kenalannya untuk segera meluncur ke wisma. Kemudian Shaga memerintahkan salah satu karyawannya memesan bubur dan membuatkan teh hangat.
Seperlima menit kemudian, seorang wanita cantik berprofesi dokter datang dan masuk ke kamar Kayesa diantar oleh resepsionis.
"Anak pintar, ikut kakaknya dulu ya. Om mau temani tante dokter periksa bundanya," ujar Shaga, lalu menyerahkan Kiano pada Maeka.
"Vira! Bawa mereka ke tempat sarapan dulu," titah Shaga pada resepsionisnya.
Wanita yang dipanggil Vira mengajak Maeka dan Kiano keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang makan. Sementara Shaga berdiri di samping dokter Tirana yang sedang memeriksa keadaan Kayesa.
"Bagaimana keadaan Kayesa?" Tanya Shaga, kala Tirana selesai memeriksa Kayesa dan memasukkan kembali stetoskop ke dalam tasnya.
"Tidak ada yang serius, hanya kecapean dengan istirahat yang cukup akan memulihkannya kembali," ujar Tirana seraya menuliskan resep dan menyerahkannya pada Shaga. Kemudian Tirana berpamitan.
Sepeninggalan dokter Tirana, seorang office girls masuk membawa semangkok bubur dan segelas teh hangat.
"Kay! Makan dulu buburnya ya." Shaga membantu Kayesa duduk.
Kayesa duduk dengan bertumpu pada sandaran tempat tidur. Sementara Shaga duduk di tepi ranjang di samping sebelah kanan Kayesa.
Mangkok berisi bubur sudah berada di tangan Shaga. kemudian menyuapi Kayesa. Kayesa yang masih merasa pusing dan lemas tak berdaya hanya menurut saja apa kata Shaga.
"Sudah." Kayesa menolak suapan ke lima.
"Harus habis, biar pulih tenaganya," ujar Shaga memaksa Kayesa menerima suapan ke enam.
Kayesa menggeleng, lalu merebahkan tubuhnya kembali, dia tidak bisa terlalu lama duduk, kepalanya terasa berat dan perut mual. Sambil meremas rambut dengan kedua tangan, Kayesa memejamkan mata, merasakan denyutan di kepala.
Seperlima menit kemudian, office girls menyerahkan obat dari apotek ke Shaga seraya meletakkan segelas air putih di atas nakas, lalu pamit keluar.
"Kay! Minum obanya dulu," titah Shaga, dia kembali membantu Kayesa duduk.
__ADS_1
Shaga membuka plastik obat, tiga buah butir obat berbentuk pil ada digenggamannya, Shaga meminta Kayesa membuka mulut, lalu memasukkan tiga pil itu dan menyodorkan bibir gelas ke bibir Kayesa. Kayesa menenggak air putih setengah gelas bersamaan dengan tiga butir pil.
"Sekarang kamu tidur dan istirahatlah, semoga begitu bangun nanti sudah pulih," ujar Shaga membantu Kayesa berbaring kembali, lalu menarik selimut menutupi tubuh Kayesa.
"Shaga! Berjanjilah padaku. Jangan katakan pada siapa pun, kalau aku dan anakku ada di sini," ucap Kayesa dengan suara lirih, dia mencekal lengan Shaga yang ingin beranjak.
"Iya. Aku janji," ujar Shaga.
"Terima kasih," ucap Kayesa seraya melepaskan tangan Shaga dan memejamkan matanya.
Sepersepuluh menit kemudian Kayesa terlelap, karena efek obat yang diberikan dokter Tirana. Sebelum beranjak dari tempatnya, Shaga merapikan anak rambut Kayesa yang berserakan, menyelipkan di telinga Kayesa. Shaga bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar kamar.
"Kenapa Kayesa ingin merahasiakan keberadaannya. Apa ada orang yang ingin menjahatinya," batin Shaga sambil menarik handle pintu dan menutup rapat.
"Aku harus mencari tahu," batin Shaga lagi.
Sambil berjalan menuju kamar pribadinya, Shaga merogoh sakunya mengambil ponsel, kemudian menelepon seseorang.
"Tolong kamu cari tahu karyawan yang berkerja di perusahaan Zafran, yang bernama Kayesa," titah Shaga.
"Baik. Segera laksanakan tugas," terdengar sahutan dari panggilan telepon.
"Saya tunggu kabarnya dalam waktu tiga puluh menit," ujar Shaga lalu memutuskan panggilan teleponnya.
Tiga puluh menit kemudian, Shaga mendapat kabar kalau Kayesa sudah tidak berkerja di perusahaan Zafran dan Kayesa risegn tak tahu sebab musababnya, dari romur yang beredar karena ada seorang wanita yang bernama Alena yang selalu memusuhi Kayesa.
"Sekarang kamu cari tahu tentang Alena," titah Shaga lagi pada orang yang baru memberinya informasi.
Lima menit kemudian Shaga pun sudah dapat kabar siapa Alena sebenarnya. Alena calon istri Zafran yang dipilih oleh Asaka ibunya.
"Berarti Zafran dan Kayesa hanya sebatas atasan dan bawahan. Tapi kenapa Alena cemburu padanya. Apa Zafran menyukai Kayesa?" Shaga menghubung-hubungkan beberapa kemungkinan.
Shaga berpikir, jika dugaannya selama ini salah, lalu siapa laki-laki yang dicintai Kayesa. Shaga mengingat-ingat kembali wajah Kiano putra Kayesa, sekilas bayangan Zafran ada kemiripan dengan Kiano.
"Jika tuan Zafran bukan suami Kayesa, lalu siapa ayah Kiano?" Shaga bertanya dalam hati.
"Haruskah kutanyakan kebenarannya pada Kayesa? Bagaimana jika Kayesa tersinggung dan marah?" Banyak kemungkinan bermunculan di benar Shaga.
__ADS_1
"Apa Kiano terlahir dari hasil perkosaan," batin Shaga, masih terngiang di telinga Shaga, terdengar jelas tadi malam Kayesa mengatakan, kalau kehadiran Kiano tidak diharapkan.
"Itu artinya..." Shaga tidak meneruskan ucapannya.