Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Kenekatan Zafran


__ADS_3

Part 84


"Ayok kita pergi dari sini."


Zafran meraih tangan Kayesa dan mengajaknya keluar dari ruang rawat, dua orang suster yang berusaha menahan langkahnya, terlihat sangat cemas, mereka berdua takut, jika dianggap telah lalai menjaga pasien.


"Tuan! Kami mohon jangan pergi. Biar kami..."


"Minggir! Kalian berdua tak berguna. Masa membuka infus saja tidak bisa," ujar Zafran marah.


Suasana semakin kacau, Mata Zafran melotot ke arah kedua suster itu, dia kesal, karena kedua suster itu, tidak menuruti perintahnya, dengan tangan kokohnya Zafran mendorong kedua suster yang sedang menghalangi langkahnya.


"Tuan! Tolong mengertilah. Jika Tuan pergi dalam keadaan begini. Bisa-bisa kami berdua di pecat."


"Bagus! Seharusnya memang begitu, karena kalian berdua tak pantas bekerja di sini," oceh Zafran semakin kesal.


Lirikan mata Kayesa memberi isyarat pada kedua suster yang masih berusaha menghalangi langkah Zafran. Agar memberi jalan dan membiarkan Zafran pergi, karena sekuat apa pun dua suster itu menahannya, tak akan mampu, Zafran tak akan membiarkan satu orang pun menggagalkan keinginannya. Kedua suster itu pun menyingkir.


"Tuan! Bekas infusnya mengeluarkan darah, sebaiknya ditutup dulu dengan perban, biar tidak berdarah lagi." Kayesa menarik tangan Zafran dan menghentikan langkahnya.


Sekilas Zafran menatap wajah ayu di sampingnya, lalu tatapan beralih pada lengannya, di bekas jarum infus yang ditariknya paksa, terlihat darah segar mengalir di sana.


Kayesa menggapai lengan itu, dan mengangkatnya lebih tinggi, hingga aliran darahnya terhenti, Kayesa memberi isyarat pada Zafran, agar menurut padanya.


Karena tidak ingin melihat Kayesa kecewa, Zafran pun mengangguk, Kayesa meminta kepada dua suster yang tadi berusaha menghalangi langkah Zafran, agar membersihkan darah yang mengalir di pergelangan Zafran.


Kayesa meminta Zafran duduk di kursi tunggu di teras ruang rawat, dia memegang pergelangan tangan Zafran dan meletak di atas paha, kedua orang suster tadi bekerja sambil berjongkok.


Seperlima menit, bekas infus sudah di perban. Kayesa mengucapkan terima kasih sebelum kedua suster itu berlalu.


"Kami yang seharusnya berterima kasih pada Nyonya, karena telah menjinakkan tuan Zafran," bisik salah satu suster itu. Kayesa hanya tersenyum sambil memandang ke arah Zafran, dua suster itu pun berlalu.


Tarikan Nafas lega terdengar dari Kayesa, ketegangan sudah mengendor, Kayesa dan Zafran beranjak dari duduknya, meninggal kursi tunggu. Sambil menyusuri koridor rumah sakit, Zafran menelepon Rayzad, agar segera menjemputnya.


Sepuluh meter dari parkir, terlihat Rayzad sudah ada di sana, berdiri di sisi mobilnya, sambil menatap layar ponselnya. Kala melihat Zafran dan Kayesa berjalan ke arahnya, dia menghentikan aktifitas dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Abang!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Alena dari belakang, setengah berlari Alena mengejar Zafran, di iringi oleh Asaka. Teriakan Alena menghentikan langkah Kayesa dan Zafran. Reflek keduanya menoleh kebelakang, melihat Alena dan Asaka yang datang, Kayesa menarik tangannya dari genggaman Zafran, dia menunduk takut.

__ADS_1


"Alena dan mama," batin Zafran.


Melihat kedua wanita itu mendekat, seketika Zafran merengkuh bahu Kayesa dan mendekapnya, dia tahu kalau keamanan Kayesa sedang terancam, Zafran tidak mau Alena menyentuh dan menyakiti Kayesa.


"Untuk apa kalian menemuiku?" Tanya Zafran dengan suara lantang, sambil menatap Alena tajam.


"Sayang! Ini mama dan dia Alena istrimu. Kenapa kamu bertanya begitu?" Asaka bicara pada Zafran dengan suara lembut, dia berharap Zafran mau memikirkan ucapannya.


"Istri!" Gumam Zafran sangat jelas.


"Ah.... Aku tidak ingat sama sekali, kenapa kepalaku sakit sekali, jika berusaha mengingatnya," ujar Zafran seraya melepaskan rengkuhan di bahu Kayesa.


Zafran memegangi kepalanya dengan kedua tangan sambil berteriak-teriak kesakitan. Ekpresi wajahnya sangat serius, dia terlihat sekarat dengan garis-garis kasar di dahi, karena menahan sakit. Zafran luruh ke aspal.


Rayzad yang melihat akting Zafran tersenyum geli. Zafran yang setahunya keras, dingin dan arogan, gara-gara cinta, bisa berubah romantis, lebay dan memalukan. Ah... Cinta memang aneh, Rayzad berdecak kagum, karena cintanya pada Kayesa telah merubah karakter Zafran.


"Tuan!" Seru Kayesa panik.


Kayesa berjongkok di samping Zafran. Namun, dengan cepat Alena menarik rambut Kayesa, hingga Kayesa mengurungkan niatnya membantu Zafran berdiri, tarikan tangan Alena terasa perih di kulit kepalanya.


Plak... Spontan Zafran berdiri dan menghadiahkan satu tamparan di pipi Alena. Alena terkejut, dia melepaskan rambut Kayesa, lalu mengusap pipi kikinya yang terasa panas, jejak tapak tangan Zafran terlihat di sana.


"Sekali lagi kamu menyentuh dan menyakitinya. Kau ku bunuh!" ancam Zafran dengan mata nyalang menatap ke wajah Alena, lalu Zafran melepas cekalan di leher Alena seraya mendorongnya dengan kasar.


Brak... Alena terjatuh di aspal. Belum hilang rasa sakit di pipinya, kini lutut dan sikunya ikut tergores, karena terhempas.


"Dan kamu! Jika masih berhubungan dengan wanita ini. Aku tak akan pernah percaya, kalau kamu adalah mamaku." Ancam Zafran seraya menudingkan tunjuknya ke arah Asaka.


Mendengar ujaran Zafran, Asaka tidak jadi membuka mulutnya yang sudah siap dengan sumpah serapahnya yang ingin di keluarkannya untuk Kayesa, dia pun berbalik arah dan melunak.


"Maafkan aku. Ma," batin Zafran, sebenarnya dia sangat tidak tega melihat wajah mamanya yang terkaget-kaget, karena perlakuannya.


Masih dalam ketidak percayaan. Asaka tertegun, berusaha memaklumi ucapan Zafran yang baru saja di dengarnya. walaupun hatinya sangat sedih, karena Zafran masih belum bisa mengingatnya.


"Mungkin sebaiknya aku menghindari Alena, agar Zafran mau menerimaku sebagai mamanya, walaupun dia belum bisa mengingatku," batin Asaka.


Secepat kilat Asaka mengambil keputusan, sebelum Zafran benar-benar menginginkannya pergi.


"Nak! Maafkan mama. Mama akan ikut bersamamu dan meninggalkan wanita itu," ujar Asaka seraya bermohon pada Zafran.

__ADS_1


Asaka tidak ingin kehilangan anak satu-satu. Kali ini dia harus mengalah demi Zafran, jika ingatan Zafran kembali, dia yakin Zafran akan jadi anak penurut seperti biasa. Selama ini Zafran tidak pernah kasar padanya, Zafran selalu jadi anak baik, walaupun Asaka sering memaksakan kehendaknya pada Zafran.


"Ma! Alena ikut mama," ujar Alena seraya meraih tangan Asaka yang ingin melangkah masuk ke mobil Rayzad.


Langkah Asaka tertahan, dia menoleh ke belakang, ditatapnya Alena. Hati Asaka iba melihat Alena yang bermohon, apa lagi ditambah dengan linangan air mata. Kali ini Asaka sudah tidak memikirkan persahabatannya dengan Sarla, yang ada di otaknya sekarang, membuat Zafran percaya kalau dia adalah mamanya.


"Pergilah menjauh. Putraku sudah tak menginginkanmu." Asaka menepis tangan Alena dengan kasar, hingga pegangannya terlepas dan Alena terjerembab ke aspal.


"Ma! Mama!" Teriak Alena, dia berusaha bangkit dan mengejar Asaka.


Brak... Asaka menutup pintu mobil dengan kasar, tak memperdulikan teriakan Alena dan memerintahkan Rayzad untuk meluncur.


"Mama! Abang Zafran! Jangan tinggalkan aku," teriak Alena seraya mengejar mobil Rayzad yang sudah melaju.


Marah dan dendam itu yang ada dipikiran Alena sekarang, selama ini apa yang dia inginkan selalu menjadi kenyataan. Dia tidak akan membiarkan wanita murahan itu merampas gudang hartanya. Karena Zafran merupakan ATM bagi Alena, Zafran tidak bisa begitu saja meninggalkannya.


"Aku bersumpah akan mendapatkanmu kembali Zafran," teriak Alena kencang sambil menggenggam kepalan tinjunya.


Teriakan Alena mengundang orang di sekitar menatap aneh kearahnya. Bahkan ada yang berbisik mengatainya tidak waras dan mencibir mengejek.


"Cantik tapi gila," bisik para pengunjung rumah sakit.


"Hay kak! Kakak salah masuk rumah sakit, di sini bukan tempat orang sakit jiwa," teriak seseorang yang merasa terganggu karena ocehan Alena.


Alena melotot ke arah orang yang mengejek memandanginya. Dia berjongkok meraih sebutir batu krikil sebesar ibu jari dan melemparkan ke arah orang itu, untung saja bisa mengelak, kalau tidak lemparan Alena, hinggap di dahinya.


"Bikin kesal saja," gerutu Alena tak jelas, kemudian kembali mempelototi orang-orang yang menatap aneh padanya.


"Aku jadi gila benaran. Jika melayani mereka," batin Alena, dia pun beranjak masuk ke mobil, dia akan memikirkan di rumah saja, bagaimana cara menaklukkan Zafran kembali.


"Sekali milikku akan tetap menjadi milikku, tak akan ku biarkan clearning service itu mengambilnya."


Saking kesalnya Alena memukul-mukul stir mobil berkali-laki, hingga tangannya terasa sakit. Sebelum dia meluncur meninggalkan rumah sakit, Alena menatap wajaknya di kaca spion depan, bekas tamparan Zafran masih memerah, lalu Alena juga memeriksa lutut dan sikunya yang tergores, mengeluarkan tetesan darah yang sudah mengering.


"Semua ini terjadi gara-gara wanita murahan itu," geram Alena.


"Tunggu pembalasanku. Kayesa!" Gumam Alena seraya menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah sakit.


******

__ADS_1


__ADS_2