
Part 105
"Siapkan uang tunai, lima hari lagi akan aku beritahu tempat," ujar penelepon gelap yang telah mengirim foto Zafran yang sedang terikat.
"Katakan di mana ku antarkan uangnya, hari ini bisa kusiap," balas Mayumi.
Tut... Tiba-tiba panggilan telepon terputus, Mayumi mencoba menghubungi kembali. Namun, nomor telepon yang dituju sudah tidak aktif lagi. Mayumi berdecak kesal.
"Sial! Mereka mencoba bermain-main denganku," maki Mayumi seraya mengepal tinjunya geram.
"Jika mereka menahan Zafran selama lima hari. Pernikahan Zafran akan gagal," batin Mayumi.
Mayumi melayangkan tinjunua ke udara. Dia paling tidak suka dengan orang-orang yang mempermainkannya, biasanya Mayumi tidak akan mengampuni orang seperti itu.
"Zafran harus ditemukan segera, aku tidak mau pernikahannya gagal," titah Mayumi pada Rayzad.
Setelah bicara begitu pada Rayzad, Mayumi lalu pergi meninggalkan Ruangan Rayzad dengan raut wajah tak bersahabat, dia memberi waktu dua hari pada Rayzad untuk menemukan Zafran.
Titah Mayumi, membuat Rayzad serba salah. Seharusnya dia bicara jujur pada Mayumi, bahwa semua ini salahnya Rizwan, hingga Mayumi tidak membebankan kepadanya, atas hilangnya Zafran. Tapi ya... Sudahlah.
"Alu harus segera bertindak dan mencari tahu siapa yang telah menculik Zafran," ungkap Rayzad, dia pun ikut kesal.
Sepeninggalan Mayumi Rayzad meminta orang suruhannya, untuk melacak titik lokasi orang yang baru menelepon Mayumi.
"Tuan! Apa semua ini Alena yang melakukan." Ujar Ruhi.
"Alena! Bukannya dia sekarang berada di rumah sakit?"
"Bisa saja dia menyuruh orang lain." Ujar Ruhi lagi.
Sejenak Rayzad berpikir, hingga dahinya berkerut, lalu dia menarik nafas panjang. Mungkin ada benarnya pendapat Ruhi, Rayzad tidak terpikir ke situ.
"Bagaimana kalau kita cek keadaan Alena di rumah sakit," usul Malika, kala melihat Rayzad dan Ruhi sedang berkecamuk dengan pikirannya masing-masing.
Ruhi dan Rayzad saling berpandangan. Usulan Malika ada benarnya, siapa tahu Alena sudah sehat dan dia yang jadi dalang penculikan Zafran. Rayzad menyetujui usulan Malika, lalu mereka bertiga beranjak meninggalkan ruang kerja Rayzad dan berjalan menuju lift.
Begitu pintu lift terbuka, Rayzad, Ruhi dan Malika masuk ke dalam lift, hanya hitungan menit, lift membawa ketiganya turun ke lantai dasar. Pintu lift terbuka, Rayzad, Ruhi dan Malika ke luar dan langsung menuju parkir.
__ADS_1
Malika dan Ruhi masuk ke dalam mobil Rayzad, begitu ketiganya sudah berada di dalam mobil, mobil pun meluncur meninggalkan kantor menuju rumah sakit. Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Rayzad sudah berhenti di parkiran rumah sakit.
Dengan tergesa Rayzad memarkir mobil, lalu membuka pintu dan turun, begitu juga dengan Ruhi dan Malika. Keduanya turun dan mengikuti langkah Rayzad berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Keadaan Alena yang kritis dan belum sadarkan diri, akibat fraktur keretakan serius dikepalanya, mengakibatkan dokter harus mengambil tindakan operasi kecil untuk mengeluarkan serpihan tulang dan darah yang menggumpal akibat pemukulan dan benturan keras itu.
Dari kejauhan di balik dinding kaca, Alena terbaring tak berdaya, tubuhnya hanya kaku terbujur, hanya turun naik dadanya yang menandakan Alena masih bernafas dan hidup.
"Alena masih koma. Berarti bukan dia pelakunya," bisik Ruhi pada Rayzad yang sedang berdiri di sampingnya, masih menatap kepembaringan wanita itu.
Rayzad menarik nafas dalam, jika bukan Alena, lalu siapa yang telah menculik Zafran.
"Shaga! Yah laki-laki itu berpotensi menculik Zafran, karena dia satu-satunya orang yang menginginkan pernikahan ini gagal," gumam Rayzad.
"Iya! Sepertinya prediksi kita salah," Rayzad membalas bisikan Ruhi.
Setelah memastikan keadaan Alena yang sebenarnya. Rayzad, Ruhi dan Malika pun beranjak, menyusuri koridor rumah sakit, kembali ke parkir.
"Sekarang kita ke mana?" Tanya Ruhi seraya mendudukkan bokong ke kursi belakang.
Mobil Rayzad melaju di jalan raya, dua puluh menit kemudian Rayzad membelokkan mobilnya ke sebuah Dealer mobil milik temannya. Rayzad memarkir mobil, lalu keluar diiringi oleh Ruhi dan Malika.
Sambil memberi isyarat pada Ruhi dan Malika, agar menunggunya du luar, Rayzad masuk ke sebuah ruangan yang dibatasi dinding kaca, terlihat Rayzad menemui seseorang dan bicara sangat serius, sebelum Rayzad ke luar dari ruangan itu, lawan bicaranya memberikan sebuah kunci.
Setelah mengucapkan terima kasih, Rayzad berpamitan. Keluar menemui Ruhi dan Malika, lalu mengajak keduanya kembali ke parkir. Ada mobil warna abu-abu terparkir di samping mobil Rayzad, Rayzad masuk ke mobil itu. Sementara Ruhi dan Malika saling berpandangan.
"Ayok! Masuk." Ajak Rayzad, begitu Ruhi dan Malika masuk, mobil pun meluncur.
*****
Di tempat lain, Kayesa sedang berada di Studio Foto untuk Prewedding, sudah tiga puluh menit dia di sana, belum ada tanda-tanda kemunculan Zafran. Bahkan sudah berkali-kali Kayesa mencoba menelepon Zafran. Namun, nomor ponselnya tak juga bisa dihubungi.
"Bagaimana Kay? Apa Zafran sudah menuju ke sini? Tanya Ratih yang menemani Kayesa. Kayesa hanya menggeleng lemah.
"Sabar ya. Kita tunggu tiga puluh menit lagi," ujar Ratih seraya mengusap punggungnya.
"Iya kak."
__ADS_1
Kayesa mengusap habis wajah dengan kedua tangannya, sebenarnya dia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Karena sampai sekarang Zafran tak kunjung bisa dihubungi.
"Kay! Coba kamu hubungi oma Mayumi," saran Ratih, setelah melihat kegelisahan Kayesa.
Tanpa bantahan, Kayesa merogoh saku celana, mengambil benda pipih keramat itu, menscrol layarnya, mencari nomor kontok Mayumi, lalu menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau. Panggilan tak terhubung, karena Mayumi dalam panggilan lain.
"Bagaimana?" Tanya Ratih lagi, kala Kayesa menurunkan telepon genggamnya dari telinga.
"Tidak nyambung. Lagi sibuk," jawab Kayesa sambil menghela nafas.
Entah kenapa perasaan Kayesa sangat tidak tenang, berbagai pikiran bermunculan di benaknya, rasa takut dan cemas mulai menghantuinya.
"Bagaimana jika Zafran berubah pikiran dan membatalkan pernikahan ini," batin Kayesa dalam hati.
Kalau yang ada dipikiran Kayesa menjadi kenyataan, dia tidak bisa membayangkan, bagaimana malunya dia pada abang dan keluarga istri Rizwan. Mana Ratih sudah mengundang keluarga lewat telepon.
Berkali Kayesa melirik layar ponselnya, sudah hampir satu jam dia di studio dan pihak studio pun sudah menghubungi Zafran dan Mayumi. Namun, hasilnya sama. Nihil.
Tarikan nafas panjang Kayesa, menandakan dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri, karena telah percaya dan berharap pada laki-laki seperti Zafran.
"Bagaimana Key? Apa kita menunggu lagi?" Tanya Ratih, seraya menatap pergelangan tangannya.
Sejenak Kayesa memandang ke Ratih, wanita itu pun gelisah sama seperti dirinya.
"Aku akan menunggu tiga puluh menit lagi. Kak!" Kayesa meyakinkan dirinya, kalau Zafran akan datang dalam waktu tiga puluh menit lagi.
"Baiklah, kakak pergi dulu menjemput Dea di play group, nanti kakak ke sini lagi."
"Tidak usah kak! Pulang ke rumah saja langsung, kasian Dea," ujar Kayesa.
"Okay! Kamu kabari kakak ya, kalau Zafran datang," ujar Ratih, lalu berpamitan dan keluar dari studio.
Sepeninggalan Ratih, Kayesa kembali mencoba menghubungi Zafran. Namun, nomor ponselnya tak juga bisa dihubungi.
"Mungkin lebih baik pulang dan melupakan Zafran," batin Kayesa kecewa, dia tak bisa membohongi perasaannya, dua bulir kristal bening tiba-tiba meluncur di sudut netra, ketika mengingat lebodohannya, Kayesa pun beranjak dari duduknya menuju pintu ke luar.
"Kak tunggu!" Tiba-tiba pemilik studio memanggilnya. Kayesa menoleh dan menghentikan langkahnya, seraya menyesap air matanya.
__ADS_1