
"Kenapa sih harus berurusan dengan Alena? Kan sudah kubilang, lebih baik menghindar. Tak ada untungnya bersetegang dengannya," ujar Zafran begitu sudah berada di dalam lift.
Kayesa mengangkat wajahnya. Menatap tajam ke arah Zafran, laki-laki itu selalu saja menyalahkan, sama sekali tak memperdulikan perasaan Kayesa. Zafran hanya ingin menjaga kemesraan wanita si pembuat onar itu, seakan-akan dia menganggap semua yang dilakukan Alena adalah suatu kewajaran.
"Bukan aku yang berurusan dengannya. Tapi dia yang selalu cari masalah denganku," ungkap Kayesa dengan ketus, membela dirinya.
Mendengar perkataan Kayesa, Zafran menarik napas panjang. Dia tidak bermaksud menyalahkan Kayesa, atau menganggap apa yang dilakukan Alena benar. Zafran berkata begitu pada Kayesa, karena dia tahu Kayesa tidak seperti Alena yang egois dan selalu menganggap dirinya benar.
"Iya! Aku tahu kalau yang selalu membuat onar itu Alena. Tapi…"
"Nah, itu sudah jelas," ujar Kayesa, menyela ucapan Zafran, dia tidak memberi kesempatan Zafran untuk membela Alena.
Sekali lagi Zafran menarik napas panjang, lalu menatap ke wajah Kayesa yang terlihat kesal.
"Maksudku, tidak bisakah kamu mengalah."
"Mengalah! Aku bosan mengalah," ketus Kayesa lagi.
"Mengalah bukan berarti kalah, mengalah untuk menghindari masalah," jelas Zafran dengan bahasa yang lebih halus.
Kali ini Kayesa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan. Semua orang bisa bicara seperti Zafran. Jika dia tidak berada dalam posisi Kayesa.
"Mengertikan maksud?" tanya Zafran kembali melihat Kayesa tidak merespon ucapannya.
"Aku minta padamu, agar perseteruanmu dengan Alena tidak semakin memburuk. Kamu harus menghindar dari Alena,"-Zafran menyentuh kedua bahu Kayesa.
"Bisa! Aku bisa menghindari Alena, dengan cara menghindarimu," Kayesa menohokkan telunjuknya ke dada Zafran. Rasa kesalnya masih menggumpal di dada. Dan bisa-bisa Zafran menyuruh Kayesa terus mengalah.
Zafran kaget kala mendengar Kayesa berkata begitu. Sejatinya, apa yang dikatakan Kayesa benar. Andainya saja dia tidak melibatkan Kayesa dalam kehidupannya. Pasti Kayesa tidak akan menjadi korban kemarahan Alena, yang merasa terabaikan oleh Zafran, yang lebih peduli pada Kayesa. Tentu saja Kayesa menjadi sasaran kekesalannya.
__ADS_1
"Dan satu lagi, supaya Alena tidak membuat onar lagi. Kamu jangan lagi memintaku datang ke kantor ini," ujar Kayesa berapi-api, seraya melangkah cepat keluar dari lift begitu pintunya terbuka.
Zafran menyusul langkah Kayesa, kekesalan Kayesa membuatnya lupa bahwa Zafran adalah CEO di kantor ini. Tak ada satu orang pun yang berani yang bertindak tidak sopan pada Zafran di kantor ini.
"Tidak! Kayesa tidak boleh menghindar. Jika itu terjadi, aku akan kehilangan anakku," batin Zafran.
Dengan langkah yang dibuat lebar, Kayesa tidak menoleh sedikitpun. Kayesa sampai di parkir, mengambil helm, dan menunggangi motornya.
Sementara Zafran yang baru sampai di parkir, ketika dia melihat Kayesa naik ke motornya. Zafran melangkah ke arah Kayesa, memaksa Kayesa turun dari motornya, lalu Zafran melepaskan helm dan meletakkannya di stang motor. Kemudian menarik tangan Kayesa, membawanya ke arah mobilnya.
Zafran menekan remote kontrol dan pintu mobil terbuka, lalu mendorong tubuh Kayesa memintanya masuk. Dengan wajah ditekuk sedemikian rupa, Kayesa tidak mampu menolak keinginan Zafran. Dia pun duduk di depan, di samping stir. Kalau bukan karena Kiano, Kayesa tidak akan mau masuk ke mobil ini lagi.
"Ke mana kamu memindahkan Kiano dan Maeka?" tanya Kayesa saat sudah berada di dalam mobil. Tanpa basa-basi, Kayesa langsung menuduh Zafran sebagai pelaku hilangnya Kiano dan Maeka.
"Kamu akan tahu nanti," jawab Zafran.
"Kenapa kamu tidak bertanya kepadaku dulu? Apakah aku ingin pindah atau tidak?" Kayesa mulai mengeluarkan uneg-unegnya.
Tentu saja pertanyaan Zafran memicu emosi Kayesa dan membuatnya marah kembali.
"Hai! Kamu lupa kalau Kiano itu anakku?" Kayesa menekan intonasi lebih tinggi, kala mengatakan "anakku".
"Tidak," jawab Zafran tanpa ekspresi.
Duh… Ucapan Zafran yang datar tanpa beban membuat Kayesa ingin mengeluarkan sumpah serapahnya.
"Kalau kamu tahu Kiano itu anakku, seharusnya kamu meminta izin dulu. Bukan main bawa begitu saja," ucap Kayesa lagi. Suaranya semakin tinggi.
"Iya! Kenapa? Ada yang salah?" dengan santai Zafran bertanya, seakan-akan dia tidak merasa bersalah telah membuat Kayesa panik bahkan menangis.
__ADS_1
"Salah lah, ini sama saja dengan penculikan," ujar Kayesa lagi.
"Hah! Masa ayah dipanggil menculiknya. Nggakkan?"
"Dia itu anakku dan kamu itu bukan ayahnya Kiano."
"Siapa bilang aku bukan ayah Kiano. Kiano saja mengakui, aku ayahnya," ujar Zafran santai.
Mendengar ucapannya, Kayesa merasa terkejut dan ingin berteriak, memuntahkan semua rasa marah dan sakit hatinya. Bagaimana bisa Zafran begitu santai menyatakan dirinya sebagai ayahnya anak Kayesa. Kayesa menarik nafas panjang dan menelan saliva dengan kasar.
"Sabar Kayesa! Lebih baik tidak berdebat dengan Zafran. Hanya akan membuang energi lebih baik bermain kasar, dan pergi dari kota ini," batin Kayesa sambil mengurut dadanya.
"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Zafran seraya menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan kantor.
Zafran melirik Kayesa dari spion depan. Kayesa diam tak merespon pertanyaannya, sebenarnya dia tahu kalau Kayesa masih kesal padanya. Tapi Zafran beranggapan bahwa dia melakukan semua itu demi kenyamanan Kayesa dan Kiano. Kayesa hanya salah menafsirkan niatnya.
Helaan nafas Kayesa terdengar berat sekali. Dia tak habis pikir Zafran memindahkan Kiano dan Maeka tanpa persetujuannya. Besok-besok, Zafran bisa jadi menculik Kiano darinya.
Melihat Kayesa hanya diam, Zafran kembali fokus menyetir. Dia berharap setelah bertemu dengan Kiano nanti, Kayesa mau memaafkannya.
Mobil melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, Kayesa hanya sibuk dengan layar ponselnya. Pesan yang dikirimkannya ke Maeka sampai saat ini belum dibaca. Tak mungkin Maeka seperti ini.
"Pasti Zafran yang melarang Maeka mengangkat dan membalas teleponku," batin Kayesa sambil menoleh ke arah Zafran. Lagi-lagi, Kayesa berburuk sangka pada Zafran. Kehadiran Zafran mengganggu ketenangannya. Andai saja dia tidak bertemu dengan laki-laki itu, pasti hidupnya sekarang tidak rumit.
Berbeda dengan Zafran, pertemuannya kembali dengan Kayesa merupakan sebuah anugrah terindah karena kehadiran Kayesa mengenalkannya pada sosok Kiano. Mobil yang membawa Kiano memasuki pintu gerbang sebuah rumah. Zafran memarkir mobilnya dan turun, begitu juga dengan Kayesa.
Dari dalam rumah terdengar suara Kiano berteriak memanggil 'bunda' dan berlari mendapati Kayesa. Kayesa berjongkok dan mengadang Kiano dengan kedua tangannya. Kiano masuk ke dalam pelukan.
"Bunda! Ayah belikan mainan," Kiano menunjukkan remote mobil kontrol yang dipegangnya.
__ADS_1
"Jika Zafran terus memanjakan Kiano, lambat laun Kiano tidak akan bisa melupakan kebaikan-kebaikan Zafran," batin Kayesa sambil menatap ke arah Zafran.
"Itu hanya mainanku dulu. Kusimpan dan masih bagus. Kalau tidak percaya, kamu bisa melihatnya di dalam kamarku. Masih banyak yang lain," ujar Zafran sambil berbohong.