
Part 43
Dua hari setelah berada di wisma Shaga.
Pagi ini Kayesa terbangun, karena silau sinar matahari menembus celah kaca jendela. Pusing di kepalanya sudah berkurang setelah istirahat dan minum obat. Selama dua hari dia terbaring lemah, Shaga menjaganya dengan baik, dan memberi obat tepat waktu.
Sakit-sakit di tubuh Kayesa pun mulai beransur pulih. Walau di beberapa bagian masih terasa ngilu, tapi sudah bisalah jika melanjutkan perjalanan. Dia tidak boleh terlalu lama di sini.
Kayesa turun dari tempat tidur, matanya memindai kamar, tidak ditemukannya sosok Maeka dan Kiano. Kayesa menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi, lama Kayesa mengguyur tubuhnya dengan air hangat, dia berharap guyuran air membawa semua sakitnya ikut larut dalam pembuangan.
Guyuran air hangat yang terlalu, tiba-tiba berasa dingin menusuk sampai ketulang, dengan cepat Kayesa menyelesaikan ritual mandinya. Diambilnya handuk, setelah melilitkan di tubuh, dia bergegas ke luar kamar mandi.
"Ya Tuhan dingin sekali," batin Kayesa seraya naik ke tempat tidur dan bergelung di dalamnya.
Beberapa menit berada di dalam selimut, suhu tubuhnya kembali normal. Ternyata Kayesa belum sembuh total, dia masih butuh waktu untuk beritirahat, agar benar-benar pulih.
Kala gigilnya sudah menghilang, Kayesa ke luar dari gelungan selimut, dia mengambil baju ganti yang baru datang dari loundry. Setelah mengenakan baju, Kayesa berdiri di cermin, masih terlihat sisa cekung matanya karena demam.
"Alhamdulillah. Nyonya sudah baikan," ujar Maeka, kala melihat Kayesa sedang memoles pipinya dengan bedak. Mendengar suara Maeka, Kayesa menoleh ke belakang.
"Kiano mana?" Tanya Kayesa saat tak melihat sosok putranya.
"Di ruang bermain sambil sarapan dengan tuan Shaga," jawab Maeka.
Mendengar ucapan Maeka, Kayesa menarik nafas panjang, selama dia berada di wisma dan jauh dari Zafran, Kiano tidak pernah menanyakan tentang Zafran pada Kayesa. Tapi sosok Shaga selalu hadir.
"Apa Kiano sudah bisa melupakan Zafran, karena Shaga," batin Kayesa.
"Tuan Shaga. Orangnya baik ya. Nya," ujar Maeka seraya duduk di tepi ranjang.
Sekilas Kayesa menatap Maeka. Pendapat Maeka sama persis dengannya, kalau Shaga memang laki-laki baik, penyayang dan perhatian. Dua hari Kayesa demam, Shaga setia berada di sampingnya.
"Bagaimana menurut Nyonya?" Tanya Maeka lagi
"Apa tuh?" Kayesa balik bertanya, seakan tak mengerti maksud Maeka.
"Pendapat saya tentang tuan Shaga," Maeka memperjelas maksudnya.
"Emang kenapa dengan tuan Shaga," ujar Kayesa lagi.
Maeka menarik nafas panjang, lalu menghempaskannya kesal. Dia tahu kalau Kayesa hanya berpura-pura tak mengerti maksud omongannya.
__ADS_1
"Menurut Nyonya. Apa tuan Shaga baik."
"Hemmm... I-iya! Lumayan baik," jawab Kayesa seraya memasang lipstik di bibirnya.
"Cuma lumayan." Maeka protes, karena Kayesa memberi jawaban yang meragukan.
"Hooh," jawab Kayesa dengan yakin dia mengangguk.
Maeka tidak tahu, kalau Shaga sebenarnya laki-laki masa lalu Kayesa. Jika tahu, mungkin akan mempersalahkan Kayesa, karena telah menyia-nyiakan laki-laki sebaik Shaga.
"Tuan Shaga juga sangat sayang pada Kiano. Nya!"
"Ah yang benar?" Kayesa menatap Maeka dengan mata membola, seakan dia tidak percaya dengan kata-kata Maeka. Pada hal semua Kayesa lakukan untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya.
Dengan piawai Maeka bercerita, bagaimana perlakuan Shaga pada Kiano selama Kayesa sakit. Jika Kayesa beristirahat dan tertidur, Shaga akan menemani Kiano di ruang bermain. Kiano dengan senang hati diajarkan Shaga main gitar dan melukis.
"Sepertinya tuan Shaga lebih cocok jadi ayah sambung Kiano, ketimbang tuan Zafran," celetok Maeka.
"Apa maksudmu?" Tanya Kayesa.
Dasar bodoh! Kayesa tahu kearah mana pembicaraan Maeka. Namun, dia berusaha menutupi kegugupannya dengan memberikan pertanyaan konyol itu. Agar Maeka tidak tahu, gejolak apa yang sebenarnya terjadi di dadanya.
"Maksudku, Nyonya pertimbangkanlah untuk menerima tuan Shaga menjadi ayah sambung Kiano," ujar Maeka.
Sejenak Maeka terdiam, dia mencerna ucapan Kayesa. Hatinya ragu dengan kata-kata Kayesa, karena Maeka selalu diam-diam melihat Shaga memandang Kayesa dengan sinar mata penuh cinta.
"Tapi tuan Shaga sangat berbeda. Nya!"
"Berbeda? Berbeda dari mananya?"
"Dari cara dia memandang Nyonya. Seperti ada binar cinta di matanya."
"Hah! Tahu apa kamu tentang cinta. Jatuh cinta saja belum pernah, sok pula ngomong cinta," ujar Kayesa tertawa lagi, sambil mengibaskan tangan ke arah Maeka.
"Apa Nyonya tak tertarik dengan tuan Shaga?"
Pertanyaan Maeka, spontan membuat Kayesa menghentikan tawanya. Dia mengalihkan pandangannya ke Maeka.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" Kayesa balik bertanya.
"Hanya ingin tahu," jawab Maeka polos.
__ADS_1
"Andai saja aku jadi Nyonya. Aku pasti berusaha menarik simpati tuan Shaga. Sayang sekali, laki-laki setampan tuan Shaga dilewatkan," ujar Maeka dengan mata menerawang seraya menghayal.
Deg....Tiba-tiba jantung Kayesa bergemuruh. Kayesa pun ingin sekali bersama Shaga, tapi itu tak mungkin dia lakukan, karena dia sudah tidak pantas berdampingan dengan Shaga. Kembali Kayesa menarik nafas panjang, dan berusaha menetralkan debar jantungnya. Kayesa menelan salivanya dengan kasar. Kebaikan-kebaikan Shaga padanya dan pada Kiano, malah membuat dada Kayesa semakin menyesak.
"Hay! Tidak usah pikirkan tentang tuan Shaga, mendingan sekarang kita berkemas dan setelah sarapan, kita pergi dari sini."
"Nyonya yakin sudah bisa meneruskan perjalanan?"
"Iya! Sangat yakin."
"Cepatan! Kamu mandi ge," ujar Kayesa seraya menghadap ke cermin, lalu menyisir rambutnya yang masih berantakan.
*****
Sementara di ruang bermain, Shaga sedang menyuapi Kiano menyantap sarapannya. Mereka sudah terlihat seperti anak dan ayah.
"Seeett... Kalian lihat nggak. Tuan Shaga perhatian banget sama ibu dan anak itu," bisik Vira sang resepsionis pada temannya.
"Iya, sudah seperti ayah dan anak. Apa mereka punya hubungan spesial." Salah satu teman Vira menanggapi.
"Mana mungkin. Apa kamu lupa dengan gadis yang dibawa nyonya Arum semalam," ujar Vira.
"Nona Salina maksudmu."
"Iya. Nona Salina cantik dan modis dia lebih cocok jadi pendamping tuan Shaga," ujar Vira lagi. Teman Vira hanya manggut-manggut.
"Husss! Jangan menggosip terus. Kerja! Kerja!" Teman Vira yang menggunkan baju pink mengingatkan dan mereka pun akhirnya berpencar.
Shaga yang masih menemani Kiano sarapan sambil bermain, bukan tak tahu kalau Vira and the geng sedang membicarakannya. Bagi Shaga dia sudah biasa jadi biang gosip.
"Om! Kia sudah kenyang," celetuk Kiano seraya memegang perutnya. Gaya membuat Shaga tersenyum.
"Dua sendok lagi," ujar Shaga seraya menerbangkan sendoknya ke mulut Kiano.
Shaga memang pandai mengambil hati anak-anak, tiga orang keponakan yang dimilikinya semua dekat padanya. Selain itu Shaga juga terkenal ramah dan murah senyum, hingga anak-anak cepat sekali akrab dengannya.
"Hemmm... pintar," puji Shaga saat suapan terakhir masuk ke mulut Kiano. Kiano tertawa mendapat pujian spontan dari Shaga.
Sejenak Shaga tertegun, kala melihat Kiano tertawa. Tawanya itu sangat mirip dengan Zafran, lama Shaga memperhatikan wajah Kiano, kemudian dia membuka ponselnya, menggeser layar ponsel mencari akun media sosial Zafran, lalu menzoom foto profilnya.
"Zafran dan Kiano bagai pinang di belah dua. Matanya, hidungnya dan bibirnya," gumam Shaga.
__ADS_1
Semakin Shaga memikirkan Zafran dan Kiano, semakin Shaga yakin kalau Zafran punya hubungan darah dengan Kiano.
"Ya Tuhan. Apa Zafran yang telah memperkosa Kayesa, hingga Kiano terlahir ke dunia," batin Shaga kaget.