Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Kayesa luluh


__ADS_3

Part 83


Sejenak Kayesa tertegun, matanya tertuju pada kain perban di kepala Zafran, dan infus yang masih menggantung. Zafran duduk di atas tempat tidur yang sudah berantakan, dengan tangan dan kaki dipegang perawat.


Lama Kayesa menatap arah Zafran, dia berpikir, kalau benturan di kepala Zafran pasti sangat keras, mengakibatkan luka yang cukup besar, hingga efeknya, membuat Zafran menderita lupa ingatan.


"Apa Zafran juga lupa denganku," batin Kayesa.


"Bukannya lebih bagus, jika dia melupakanku. Apa iya aku menginginkan Zafran tak mengingatku" batin Kayesa lagi, pikiran dan perasaannya sedikit kacau.


"Apa Nyonya berniat akan pergi lagi dari tuan Zafran? Apa Nyonya menginginkan Tuan lebih parah dari ini? Siapa Nyonya senang sekarang, melihat tuan Zafran terluka dan hilang ingatan," ujar Rayzad mengajukan beberapa pertanyaan yang menohok, membuat lamunan Kayesa buyar.


Kayesa mengalihkan tatapannya ke arah Rayzad yang terus menyudutkannya, seakan apa yang terjadi dengan Zafran, seratus persen salah Kayesa. Melihat tatapan tajam Kayesa, membuat Rayzad menghentikan ocehannya, dan meminta Kayesa untuk segera menemui Zafran.


"Nyonya! Bicaralah pada tuan Zafran. Semoga kehadiran Nyonya membuat tuan Zafran mengingat sesuatu," ujar Rayzad mengakhiri ocehannya.


Perlahan Kayesa menyeret langkah kaki masuk dan mendekati hospital bad. Dua orang perawat masih berusaha menenangkan Zafran yang masih berusaha menggapai sesuatu.


"Lepaskan aku! Aku mau mengusir wanita jahat itu," teriak Zafran, lalu menatap satu persatu perawat yang memegangi kedua tangannya.


Dengan ekor matanya, Zafran melirik Kayesa yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya.


"Tolong lepaskan dia," titah Kayesa.


Rasa iba terbit di hati Kayesa, saat melihat Zafran di pegangi oleh dua perawat.


"Tapi Nyonya! Jika kami lepaskan tuan Zafran akan membuat kekacauan lebih besar lagi," ujar salah satu perawat itu.


"Tidak! Dia tidak akan melakukan itu, tadi karena emosinya saja sedang tidak setabil. Sekarang kalian pergilah," titah Kayesa lagi.


Dua perawat itu menyingkir dari hospital bad, Kayesa lalu berjongkok dan mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Zafran yang sudah tahu kedatangan Kayesa, tadi dia marah pada Alena bukan bermaksud ingin menarik simpati Kayesa, tapi itu murni dilakukannya, karena dia memang sangat tidak mengingin Alena.


Dan Zafran berpura-pura Amnesia, karena dia tidak mau menyakiti perasaan Asaka mamanya, kala dia harus berlaku kasar pada wanita itu. Asaka pasti memaklumi perbuatan Zafran, karena dia menyangka Zafran melakukan itu dalan keadaan hilang ingatan.


Kini di hadapannya sedang duduk wanita yang dirindukannya. Dia akan tetap berperan amnesia, agar Kayesa tidak berniat meninggalkannya lagi. Dan dia akan tetap amnesia sampai Asaka menerima Kayesa.

__ADS_1


"Tuan! Apa Tuan mengingatku?" Tanya Kayesa.


Mendengar pertanyaan Kayesa, tentu saja Zafran tertawa di dalam hati. Zafran sudah menduga kalau Rayzad menceritakan pada Kayesa kalau dia hilang ingatan. Zafran perlahan mengangkat kepala, tatapan matanya menembus retina mata Kayesa.


Seketika debar jantung Kayesa berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya. Kayesa menarik nafas panjang, dia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu hebat.


"Ya Tuhan. Kenapa setiap bersama Zafran, perasaanku seperti ini," batin Kayesa.


Jantung Zafran berdebar sama kencangnya dengan jantung Kayesa. Lama Zafran menatap Kayesa, tak berkedip sedikit pun, dia takut jika berkedip dan saat membuka mata, Kayesa menghilang dari matanya. Sementara harap cemas Kayesa menunggu apa yang akan dilakukan Zafran padanya.


"Ya Tuhan. Bantu aku menetralkan detak jantungku, agar Zafran tak mendengarnya," batin Kayesa berdoa, rasa gugup menghingapi perasaan Kayesa.


"Tuan! Aku Kayesa, yang pernah menjadi clearning service di kantor Tuan," ujar Kayesa, berharap Zafra mengenalinya, dan menghentikan tatapannya.


Zafran rasa ingin tertawa melihat mimik kecemasan di wajah Kayesa. Namun ditahannya, Kayesa tidak boleh tahu kalau dia hanya berpura amnesia, jika dia tak mau Kayesa meninggalkannya lagi.


Perlahan Zafran mengulurkan tangannya, lalu dengan tangannya itu, dia membingkai wajah Kayesa. Semakin lama Zafran menatapnya, Kayesa semakin gugup.


"Ya Tuhan. Kenapa debar jantung ini semakin berdetek kencang," batin Kayesa, seraya menunduk dan mengalihkan tatapannya


Deg.... Detak jantung Kayesa seakan berhenti sejenak. Kala mendengar Zafran mengatakan, kalau dia wanita yang dicintai Zafran. Seketika suhu tubuh Kayesa panas dingin, dia mendadak demam.


"Kamu ke mana saja. Aku mencarimu kemana-mana," ujar Zafran lagi, seraya menguraikan pelukannya.


"Ma-maafkan aku. A-aku membuat Tuan terluka dan hilang ingatan," ucap Kayesa terbata-bata, matanya kembali menatap ke wajah Zafran.


Melihat ketulusan di mata Zafran, membuat netra Kayesa tiba-tiba berkaca-kaca, tanpa disadari, dua bulir kristal jatuh bergulir di pipinya. Itulah Kayesa, sebenarnya dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia sudah jatuh cinta pada Zafran, hanya saja belum berani mengakuinya.


Zafran kembali memeluknya erat. Hati Kayesa begitu mudah luluh kembali, dengan sekejap dia bisa melupakan apa yang telah Zafran lakukan, yang membuat hatinya terluka. Kayesa memberanikan diri membalas pelukan Zafran.


"Jika amnesia saja dia mengingatku, berarti sadarnya pun dia tak pernah melupakanku." Kayesa terharu, hingga air matanya yang bergulir semakin deras.


"Aku minta maaf, karena sudah terlalu banyak membuatmu kecewa." ujar Zafran, perlahan menguraikan kembali pelukannya, lalu menyeka air mata di pipi Kayesa. Dan dia berjanji tak akan pernah, membiarkan mata itu menangis lagi.


Kayesa hanya diam, dia memang ingin berharap banyak pada Zafran, agar Zafran tidak akan menyakitinya lagi. Dan memasrahkan takdir hidupnya, jika memang Zafran jodohnya, dia akan bersama Zafran, jika tidak berarti itulah takdir yang akan dijalani.

__ADS_1


"Tuan! Aku ijin pulang dulu. Kiano sama Maeka baru datang ke Jakarta." Kayesa baru ingat kalau tadi dia pergi tanpa pamit. Pasti Kiano sekarang sedang mencarinya.


"Aku ikut pulang denganmu," ujar Zafran seraya mengulurkan kaki, ingin turun dari tempat tidur.


Tangan Zafran bergerak ingin mencabut jarum infus di pergelangan tangan kiri Namun, dengan cepat tangan Kayesa reflek mencegah. Kayesa menatap wajah Zafran dan memberi isyarat dengan menggelengkan kepala, agar Zafran tidak melakukan itu.


Gerakan tangan Zafran berhenti, kala melihat Kayesa melarangnya. Zafran memperbaiki duduknya di tepi hospital bad, sambil menjuntaikan kakinya, lalu meraih kedua tangan Kayesa.


"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon," ujar Zafran seraya menatap intens wajah Kayesa.


Seulas senyuman hadir di bibir Kayesa yang di tariknya satu inci ke kiri dan satu inci ke kanan. Perlahan Kayesa menarik tangannya dari genggaman tangan Zafran, lalu dia menopangkan kedua telapak tangan Zafran dan mengusapnya pelan.


"Aku hanya pulang sebentar, melihat putraku, setelah itu aku akan kembali ke sini menemani Tuan," ujar Kayesa, tangannya menepuk-nepuk lembut punggung tangan Zafran.


"Tapi aku ingin pulang bersamamu."


"Tuan! Tuan masih sakit, Tuan masih perlu perawatan dokter."


Sejak bertemu kembali dengan Kayesa, Zafran merasa sakit di kepala akibat benturan keras sudah tak terasa lagi. Bahkan tubuhnya yang tadi terasa remuk redam, sekarang sudah bugar. Zafran merasa tidak perlu infus dan rawat inap lagi.


"Aku sudah sehat. Coba kamu lihat, aku sudah kuat," ujar Zafran memaksakan diri berdiri.


"Suster! Suster!"


Dua orang suster bergegas menemui Zafran


"Tolong buka infus saya!"


Kedua suster itu saling berpandangan, lalu menatap ke arah Zafran.


"Tapi Tuan..."


"Kalian tidak mau membuka infusku? Aku bisa buka sendiri."


Secepat kilat Zafran mencabut paksa jarum infus dan membuangnya ke lantai, seketika darah mengucur dari bekas jarum infus.

__ADS_1


"Tuan! Apa yang tuan lakukan?" seru Kayesa panik


__ADS_2