Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Kabar Sedih


__ADS_3

Part 38


"Abang! Buka bang!" seru Kayesa.


Bertumpu dengan kedua tangan Kayesa bangkit dan berdiri mengejar Rizwan. Spontan air mata menbanjir tanpa diminta, saat mendengar Rizwan mengatakan ibunya meninggal.


Dengan hati hancur berkeping, bayangan ibunya tergambar jelas. Seraya mengetuk pintu dan memanggil abang, dia menangis sesenggukan.


"Ibu maafkan." Kayesa membatin, ada perih diujung hatinya. Kini air mata menganak sungai.


Sekali lagi Kayesa menatap daun pintu rumah Rizwan, dia berharap laki-laki yang dulu begitu menyayanginya, berubah pikiran dan mau menemuinya.


"Abang! Buka pintunya, kita harus bicara, semua tidak seperti yang abang pikirkan, hiks, hiks, hiks," ucap Kayesa mencoba membujuk hati Rizwan di sela sedunya, sambil meletakkan pipi di daun pintu, dia mengetuk kembali pintu rumah Rizwan.


"Dakk!...Pergi dari rumahku!" Terdengar teriakan dan tendangan keras di daun pintu hingga menghadirkan suara getaran kuat, membuat Kayesa terkejut.


Tiba-tiba sesak di dada Kayesa semakin kuat, sambil menarik nafas panjang, Kayesa mencoba menetralkan emosi dan perasaannya. Kayesa kemudian memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan rumah Rizwan, kembali ke motor.


"Bang! Sebesar apa pun bencimu padaku. Kamu tetap abang yang paling ku banggakan," batin Kayesa.


Sejenak Kayesa menatap kembali pintu rumah itu, lalu Kayesa naik ke motornya, setelah memakai helm, Kayesa melaju meninggalkan rumah abangnya, meluncur ke jalan raya.


Sementara Rizwad menatap kepergian Kayesa dari balik gorden jendala. Sejatinya Rizwan sangat ingin memeluk dan mendekap adik kesayangannya itu. Namun, rasa marah yang menyelimuti hati Rizwan mengalahkan rasa sayangnya.


Masih jelas diingatan Rizwan, tetangganya mengabari, kalau ibunya terjatuh, setelah marah besar dengan Kayesa dan berakhir dengan kepergian Kayesa dari rumah itu. Dan saat Rizwan kembali, Farhana ibunya sudah dibawa tetangganya ke rumah sakit dalam keadaan koma.


Darah Rizwan sempat mendidih, kala asisten rumah tangga yang menjaga Farhana mengatakan, kalau Farhana ibu terjatuh, saat melihat Kayesa pergi dari rumah ini tanpa pamit.


"Andai kamu tidak pergi dari rumah kala itu. Mungkin sampai saat ini ibu masih bersama kita. Abang tak akan memaafkanmu. Kay! Abang benci kamu," teriak Ridwan kesal, seraya meninju dinding rumah dengan sangat kuat, hingga tangannya terluka. Rizwan luruh ke lantai dan menangis.


Suara teriakan Rizwan mengusik Ratih yang baru selesai memandikan anaknya. Ratih keluar kamar ingin mencari tahu apa yang terjadi, rasa penasaran menyeretnya menemui Rizwan.


"Abang! Kamu kenapa?" Ratih berjongkok di depan Rizwad, diraihnya tangan Rizwan yang terluka.


"Ya Tuhan! Kenapa sampai begini," ucap Ratih, lalu bangkit menuju kamar dan keluar lagi dengan membawa kotak obat.


"Abang! Ada apa? Bicara padaku." Ratih mengeluarkan cairan pembersih luka, setelah merasa cukup, baru mengoles obat merah dan menutup dengan kain kasa.


"Kayesa datang menemuiku," ujar Rizwan sambil menyeka air matanya.


"Adik Abang yang menghilang itu?" Tanya Ratih ingin dapat kepastian. Zafran hanya mengangguk.

__ADS_1


"Mana? Mana dia?" Ratih memindai ruang tamu.


"Dia sudah ku usir," ujar Rizwan meraup wajahnya habis dengan kesal.


"Hah! Kenapa Abang usir?"


"Ya Tuhan." Ratih berdiri dan bergegas membuka pintu, lalu berlari keluar pagar. Mengarahkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, mencari sosok yang sama sekali belum dia kenal. Namun, sudah tidak terlihat siapapun di sekitar rumahnya.


Sambil menghela nafas, Ratih bergegas kembali masuk ke rumah. Dilihatnya Rizwan sudah terduduk lesu di sofa ruang tamu. Lamat Ratih menatap wajah suaminya, dari sinar matanya Ratih tahu kalau suaminya itu tidaklah setega, apa yang barusan dilakukannya.


"Abang! Ayok kita cari adikmu."


"Tidak! Aku tak punya adik seperti dia."


"Abang! Bagaimana pun keadaan dia sekarang. Dia tetap adikmu. Abang tak boleh seperti ini, kita tidak tahu apa yang sedang dihadapinya selama ini, hingga dia masih bisa bertahan sampai sekarang," ucap Ratih membujuk hatinya.


"Tapi..."


"Lupakan yang sudah terjadi. Semua orang punya salah dan masalalu. Tapi semua orang berhak untuk berubah," ujar Ratih lagi, seraya menyentuh lembut bahu suaminya.


"Tuhan saja maha pemaaf, masa kita tidak."


"Tapi dia yang telah menyebabkan ibu meninggal."


"Apapun yang terjadi, dia tetap anak abang."


Mendengar ucapan Ratih. Hati Rizwan terenyuh, semua yang dikatakan istrinya benar. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tiba-tiba wajah sedih Kayesa melintas di benaknya. Secepat kilat Rizwan berlari keluar.


"Kay! Kay." Rizwan memanggil nama adiknya berkali-kali.


Rizwan berlari ke arah jalan raya. Sosok Kayesa yang dicarinya sudah menghilang, seraya meremas rambut dengan kedua tangan, Rizwan luruh di trotoar jalan, dia menangis tersedu, lalu memukul-mukul kepalanya dengan kesal.


"Maafkan Abang. Kay! Abang terlalu egois."


"Yuk kita cari adikmu. Pasti dia belum jauh dari sini," ujar Ratih yang menyusul Rizwan, seraya menyodorkan kunci mobil. Rizwan menoleh ke arah istrinya, dia meraih kunci mobil dari tangan Ratih, lalu beediri, meraih tangan Ratih masuk ke mobil dan meluncur ke jalan raya.


*****


Sementara Kayesa, setelah keluar dari pekarangan rumah Rizwan, memacu motornya dengan kecepatan tinggi, hingga beberapa kali dia hampir menyerempet kendaraan lain.


"Hay, hati-hati bawa motornya. Ingat anak di rumah," teriak seseorang yang kesal karena disalip Kayesa.

__ADS_1


Mendengar teriakan orang itu, Kayesa tersadar, dia menurunkan gas motor, mengatur nafas dan beristigfar berkali-kali. Bayangan Kiano kecil menari di benaknya, Kayesa menjalankan motornya pelan.


"Kamu harus bertahan Kayesa. Kiano masih membutuhkanmu," batin Kayesa, mengingatkan dirinya.


Perlahan Kayesa membelokkan motor, masuk ke area parkir sebuah mesin ATM. Kayesa mengambil ATM pemberian laki-laki malam itu di dalam tasnya. kemudian menarik habis sepuluh juta saldo di dalamnya. Setelah memastikan kalau ATM itu kosong, Kayesa mematahkan kartu ATM itu menjadi dua dan membuangnya ke dalam tong sampah.


Uang sisa penjualan cincin empat ratus dua puluh juta, masih tersimpan rapi di dalam rekeningnya, kemaren dia hanya mengambil tiga puluh juta untuk membeli motor dan beberapa keperluan.


Kayesa kembali ke motornya, lalu meluncur meninggalkan ATM menuju jalan raya. Beberapa menit kemudian, Kayesa singgah ke sebuah konter hape.


"Bang! Saya mau tukar tambah ponsel bisa ya?"


"Oh Bisa! Mana ponselnya?"


Kayesa menyodorkan ponsel di tangannya, dia mau mengganti ponselnya dengan yang baru, untuk menghapus semua kenangannya bersama Zafran dan kawan-kawan kerjanya.


"Aku akan memulai hidup baru. Melupakan Zafran dan orang-orang di kantornya," batin Kayesa.


Kayesa juga mengganti nomor kontaknya. Kemudian membeli satu ponsel beserta kartunya untuk Maeka. Setelah melakukan pembayaran, Kayesa pun kembali ke motor, naik motor dan meluncur meninggalkan konter ponsel, melaju ke jalan raya.


Dua ratus meter sebelum sampai penginapan, Kayesa singgah ke swalayan membeli dua stel baju untuknya, dua stel baju untuk Maeka dan dua stel baju untuk Kiano dan beberapa keperluan lainnya, karena semua bajunya, baju Maeka dan Kiano tidak diambilnya waktu keluar dari rumah oma Fatma.


Setelah membayar semua pesanannya, Kayesa kembali ke motor, menaiki motornya, kemudian melaju meninggalkan swalayan, meluncur di jalan raya. Sepuluh menit kemudian, Kayesa sampai ke penginapan di mana dia menitipkan Maeka dan Kiano.


****


Sementara Zafran sudah mendapat laporan dari menejer hotel, kalau Kayesa menginap di hotel tempatnya bekerja. Zafran bahkan sudah menyebar orang-orangnya, untuk mencegah Kayesa pergi jauh.


"Tolong berikan pelayanan prima untuk Kayesa dan anaknya," ujar Zafran lewat panggilan telepon.


"Semua biaya penginapan akan dibayar oleh asisten saya," ujar Zafran lagi.


"Baik. Siap Tuan," ujar menejer hotel.


Zafran juga meminta ke pada pihak hotel untuk menyiapkan menu makan siang dan malam, dan mengantarkannya ke kamar Kayesa. Zafran melakukan semua itu, dia tidak mau putranya terlantar.


Saat Kayesa sampai ke kamar penginapan, Kiano sedang tertidur pulas. Mata Kayesa membola kala melihat ada menu empat sehat lima sempurna yang terhidang di atas nakas.


"Kamu yang pesan. Mae?" Tanya Kayesa menyelidik.


"Eh... Kirain nyonya yang pesan?" Maeka balik bertanya.

__ADS_1


"Tidak! Apa mungkin pihak hotel salah antar," gumam Kayesa.


__ADS_2