
Part 99.
"Bang Zafran! Buka pintunya!" Terdengar teriakan dan gedoran di pintu apartement Zafran.
Tentu saja suara berisik dan gedoran kencang itu, mengusik ketenangan Zafran yang lagi fokus di depan layar laptop yang sedang mengerjakan berkas penting untuk pertemuan dua jam lagi di kantornya.
"Pagi-pagi kok sudah ada yang bikin ribut," batin Zafran berdiri dari duduknya dan beranjak ke luar dari ruang kerja.
"Biar Oma saja yang lihat, kamu selesaikan pekerjaanmu," ujar Mayumi yang ikut terusik, dia melarang Zafran ke luar, takut kalau kosentrasi Zafran tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
Tubuh Zafran diputar kembali ke posisi awal, dia duduk di kursi kerja yang tadi sempat ditinggalkan. Dan meneruskan kerjaannya yang sempat tertunda.
Langkah Mayumi maju ke pintu depan, tangannya menggapai gagang dan membuka pintu setengah lebar. Begitu pintu terbuka, Alena berusaha menerobos masuk. Namun, usahanya sia-sia, karena tubuh Mayumi menghalanginya, hingga langkah Alena terhenti.
"Oma! Biarkan aku masuk. Aku ingin bertemu Zafran." Alena menyibak tubuh Mayumi dengan kedua tangannya. Namun, Mayumi bergeming, merasa usahanya sia-sia, Alena merubah posisi, dengan mendorong sekuat tenaga tubuh Mayumi, Mayumi tetap bergeming.
"Minggir Oma! Jangan sempat aku melakukan kekerasan," kecam Alena seraya menatap tajam ke wajah Mayumi.
"Coba saja kalau kamu berani," tangtang Mayumi.
"Oma! Aku mohon beri aku jalan. Aku hanya ingin bertemu Zafran, sebentar saj." kali ini suara Alena melunak, karena jika dia tetap bersekeras, maka Mayumi akan lebih keras lagi.
"Aku tidak mengijinkan mu masuk, karena Zafran tidak mau menemuimu." Mayumi mendorong ke luar tubuh Alena yang sudah melewati pintu utama.
"Oma! Sebentar saja," Alena bermohon lagi.
"Tidak! Ya tidak! Jangan memaksa," bentak Mayumi dengan suara lantang, kesabarannya sudah menurun beberapa oktaf.
"Oma! Oma tak punya hak melarangku. Karena Zafran itu suamiku. Minggir!" Alena ikut membentak, dia membalas dengan suara yang sama kencangnya.
Plakk.... Tiba-tiba satu tamparan Mayumi mendarat di pipi Alena. Spontan Alena mendongakkan wajahnya ke arah Mayumi, sambil memegang pipi kanan yang terasa panas.
"Oma menamparku! Awas saja aku akan membalasmu," dengan geram dan bibir gemetar, Alena menudingkan telunjuknya ke wajah Mayumi.
Tamparan Mayumi, memicu emosi Alena, hingga naik ke ubun-ubun. Alena maju satu langkah, dia tidak perduli lagi sekarang berhadapan dengan siapa.
Mata Alena menatap marah pada Mayumi, tangan kanannya terangkat ke udara dan sudah bersiap ingin menjambak rambut Mayumi. Kali ini dia benar-benar marah, dia harus menghajar wanita tua yang membuat emosinya tak terkontrol. Saat tangan kanan Alena terangkat tepat di kepala Mayumi. Tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan tangan Alena.
Krek... Terdengar bunyi tautan tangan yang keras karena saling menghantam.
"Kamu! Jangan ikut campur urusanku," maki Alena, saat melihat pemilik tangan kekar itu.
Seorang laki-laki bernama Rayzad dan kepercayaan Zafran, berdiri tepat di depan Alena, dia memelintir tangan Alena, hingga Alena meringis kesakitan.
__ADS_1
"Sakit! Lepaskan!" Bentak Alena menatap tajam ke arah Rayzad.
Bukan menuruti perintah Alena. Rayzad malah menangkap tangan kiri Alena yang berusaha mencakar wajahnya. Kedua tangan Alena diputar kebelakang, Rayzad memegangi kedua tangan Alena dengan kuat dan mendorong tubuh Alena, hingga mepet ke tembok.
"Jangan pernah sentuh nyonya Mayumi dengan tangan kotormu," bisik Rayzad di telinga Alena.
Pipi sebelah kiri Alena mencium dinding, karena Rayzad mendorong dan menahan kedua tangan Alena dengan kencang. Alena tak berkutik. Namun, di dalam hati beribu makian di luahkannya untuk Rayzad.
"Lepaskan! Ku mohon," terdengar serak suara Alena yang mulai melemah, tidak segarang tadi.
Sedikit pun Rayzad tak perduli dengan permintaan Alena. Dia malah semakin kuat mendorong tubuh Alena ke tembok, hingga pipi Alena yang mencium dinding terasa sakit.
"Lepaskan dia Ray! Biarkan dia pergi dari sini," Seru Mayumi, dia tak ingin berlama-lama berurusan dengan wanita itu.
"Jika kamu berani macam-macam lagi, akan ku patahkan kedua tanganmu," ujar Rayzad.
"Pergi dari sini!" Rayzad mendorong kasar tubuh Alena ke sebelah kiri, hingga dia terjerembab di bawah kaki Mayumi.
"Jika ingin berumur panjang, berdiri! Dan pergi dari sini." Mayumi menohokkan telunjuknya ke dagu Alena, lalu mengangkat ke atas, hingga Alena perlahan berdiri mengikuti gerakan tangan Mayumi.
"Pergi sana!" Usir Mayumi seraya menunjuk ke arah lift.
Mata Alena nyalang menatap Rayzad dan Mayumi secara bergantian, Alena mundur beberapa langkah, gerahamnya berbunyi gemeretak, dendamnya begitu membara, hingga suaranya terdengar sangat bergetar.
Secepat kilat Alena memutar tubuhnya, lalu melangkahkan kaki beranjak menyusuri koridor apartement, menuju lift. Dia sangat kesal pada Mayumi, karena sejak wanita tua itu hadir, dia sulit sekali mendekati Zafran. Mayumi terus saja punya alasan untuk menghalanginya.
Mayumi melengos kesal, dia berpikir, bisa-bisanya Asaka menikahkan cucunya Zafran pada wanita tak beradab begitu. Sejatinya Mayumi bisa saja membuat Alena membusuk di penjara dengan tuduhan penyerangan. Namun. itu tak dilakukannya, karena Alena masih berstatus istri sah Zafran.
Bayangan Alena menghilang di balik pintu lift. Mayumi menarik nafas panjang, dia akan membuat perhitungan pada wanita tak tahu diri itu. Mayumi masuk ke ruang tengah diiringi oleh Rayzad, lalu meraih ponselnya yang tadi tergeletak di atas meja sofa. Dan menelepon seseorang.
"Urus perceraian Zafran dan Alena. Aku mau akte cerainya segera terbit," titah Mayumi pada seseorang di dalam panggilan telepon.
"Baik Nyonya, saya tunggu berkes-berkasnya sekarang," sahut lawan bicaranya.
Setelah mengakhiri percakapan dengan orang suruhannya, Mayumi masuk ke ruang kerja Zafran. Saat melihat Mayumi masuk, Zafran mendongakkan kepalanya ke arah Mayumi.
"Siapa yang ribut di luar tadi. Oma!" Tanya Zafran sambil mematikan laptop dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Wanita stres itu," celetuk oma ngasal.
"Wanita stres, mama ya?"
Bayangan Zafran kembali keperistiwa semalam. Saat dia mengusir mamanya dari apartement. Mana tahu peristiwa itu membuat Asaka hilang kendala dan stres.
__ADS_1
"Bukan! Yang satu lagi."
"Alena?"
"Hooh," Mayumi mengangguk.
"Dia lagi," gumam Zafran.
Zafran menarik nafas panjang. Andai dulu dia bisa menolak keinginan Asaka mamanya, pasti kejadiannya akan berbeda sekarang. Dia tidak perlu berurusan dengan wanita arogan itu.
"Kamu tidak usah khawatir. Oma sudah mengurus perceraianmu dengan wanita itu."
"Serius Oma!"
"Hooh," ujar Mayumi seraya mengangguk pasti.
"Terima kasih! Aku sayang Oma."
Mata Zafran berbinar bahagia, dia beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Mayumi, lalu melingkarkan tangan kanan ke bahu wanita tua itu, mengecup pipi Mayumi yang sudah terlihat garis-garis halus yang menandakan, kalau Mayumi sudah cukup berumur.
Mendapat dukungan dari omanya, Zafran tidak perlu pusing lagi memikirkan bagaimana caranya menjauhkan Alena dari hidupnya. Dia percaya Mayumi pasti dengan gampang melakukannya.
"Ayok sekarang kita siap-siap ke kantor. Hari ini kita ada meting dengan klien penting," ujar Mayumi menepuk pipi Zafran.
"Ayok Oma!"
Zafran meraih tas kerja dan ponselnya, lalu secara beriringan keluar menyusuri koridor apartement menuju lift. Begitu lift terbuka Zafran, Mayumi dan Rayzad masuk, dalam beberpa detik, lift membawa mereka turun ke lantai dasar, dan langsung ke parkiran.
Rayzad membuka pintu mobil, menyilakan Zafran dan Mayumi masuk, lalu dia masuk dan duduk di depan stir, menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan apartement, melaju di jalan raya.
Kepergian Mayumi dan Zafran dari apartement, tidak luput dari pengawasan Asaka. Di karenakan belakang apartement Asaka menghadap ke parkiran, dia bisa dengan jelas melihat aktifitas di parkir dan pintu utama apartement.
Begitu memastikan mobil yang membawa Zafran dan Mayumi meluncur dan menghilang dari pandangannya, Asaka menarik handle pintu dan keluar dari apertementnya, maju beberapa langkah, dia sudah berdiri di depan pintu apartement Zafran.
Asaka memasukkan beberapa angka pasword di handle pintu. Sudah lengkap di tekannya angka-angka yang biasa dipakai Zafran. Namun, pintu apartement tak kunjung terbuka.
"Apa Zafran mengganti paswordnya," pikir Asaka, lalu dia mencoba dengan menekan nomor lain, hasilnya tetap sama.
Asaka bergumam kesal, tadi dia berencana masuk ingin mengamankan buku nikah Zafran dan Alena, agar Zafran tidak bisa mengugut cerai Alena. Namun, rencananya gagal, Asaka tidak bisa masuk ke apartement Zafran.
Sementara mobil yang membawa Zafran dan Mayumi memasuki area parkir kantor. Setelah memarkir mobil, Rayzad turun, membuka pintu untuk Zafran dan Mayumi.
"Bang Zafran."
__ADS_1
Baru saja Zafran ke luar dari mobil, terdengar teriakan seorang wanita memanggilnya. Spontan Zafran menoleh ke sumber suara, dia pun kaget.