
Part 73
Ekpresi wajah Zafran menunjukkan kalau dia merasa lucu, kala mengetahui Kayesa yang terlihat pemberani, ternyata takut dengan makhluk sekecil tikus.
"Itu tikusnya!" Teriak Zafran mengagetkan.
Spontan Kayesa menggelinjang, kembali mengeratkan pelukannya. Saking takut Kayesa tak berani membuka matanya. Tubuhnya menggigil dan keringat jagung mulai mengucur di dahi.
Melihat keadaan Kayesa, membuat Zafran menghentikan tawanya, ada rasa iba pada Kayesa, yang ternyata ketakutannya bukan sebuah permainan. Kayesa fobia dengan binatang lucu yang bernama tikus.
Zafran membiarkan beberapa saat, hingga Kayesa terlihat agak tenang. Dengan lembut diusapnya kepala Kayesa, lalu Zafran menyesap keringat yang mengucur di dahi Kayesa.
"Esa! Tikusnya sudah pergi," bisik Zafran di telinga Kayesa.
Perlahan Kayesa menguraikan pelukan, melonggarkan lingkaran tangannya, lalu membuka kelopak mata dan mengangkat wajahnya menatap ke arah Zafran. Bola mata bening itu, membuat debar jantung Zafran tak beraturan.
Keadaan Kayesa sudah kembali normal, gigil ketakutan sudah tak dirasa, Zafran menyentuh lembut ke dua pipi Kayesa dengan kedua tangannya.
"Mau ikut ke kamarku atau masih mau di kamar ini?" Tanya Zafran tersenyum, mulai lagi menggodanya.
Tentu saja pertanyaan Zafran membuat mata Kayesa melotot. Terlalu sekali kalau Zafran menyuruhnya masih tetap di kamar yang banyak tikusnya. Apa dia tak tahu kalau tikus-tikus itu, bisa membuat Kayesa mati dalam ketakutan.
"Dasar laki-laki tidak peka," maki Kayesa, seraya membuang muka.
"Jangan marah, nanti cantiknya hilang," ujar Zafran, seraya meraih dagu Kayesa, dan memaksa kembali menghadap kearahnya.
"Biarin, habis Tuan jahat," ucap Kayesa dengan wajah cemberut, seraya memukul dada Zafran dengan kedua tangannya.
Dua tangan Zafran menangkap tangan Kayesa, lalu menariknya maju, Zafran tertawa melihat wajah cemberut Kayesa, hingga bibirnya maju beberapa inci.
"Kalau begini kamu terlihat sangat cantik," bisik Zafran.
Mendengar rayuan Zafran bukan membuat Kayesa senang, dia malah semakin merengut, hingga bibir tipis itu membentuk kerucut. Tawa Zafran semakin lebar, kala melihat wajah Kayesa ditekuk.
"Terus saja menggodaku," cicit Kayesa merajok. Zafran menghentikan tawanya.
Tarikan nafas panjang Kayesa menandakan kalau dia sangat kesal dengan perlakuan Zafran. Namun, Kayesa belum mau menjauh dari Zafran, dia takut kalau tikus-tikus itu kembali bermunculan.
__ADS_1
"Tidak usah takut lagi," ujar Zafran beranjak beberapa langkah mendekati pintu kamar.
Kayesa yang masih trauma atas kejadian yang baru menimpanya, menggamit tangan Zafran, rasa takut masih menyelimuti perasaannya, dia akan menguntit Zafran ke mana saja, sebelum memastikan kalau dia benar-benar sudah aman.
Mata Zafran memindai ruangan kamar yang sudah terlihat usang. Banyak barang-barang yang tak terpakai di dalamnya. Pantas saja banyak tikusnya, karena di dalam kamar memamg berpotensi untuk dihuni oleh makhluk menjijikkan itu, selain pencehayaan yang remang karena penerangan seadanya, kertas-kertas pun banyak berserakan yang menjadi media si tikus untuk membuat sarang.
Zafran menarik handle dan menutup pintu kamar, lalu memutar anak kunci, mengunci dari luar. Tangan Zafran beralih menjangkau gagang travelbag Kayesa, memutar tubuh melangkah menuju kamarnya.
Sementara Kayesa masih menguntit Zafran seperti anak kecil yang takut ditinggalkan. Tanpa bicara sepatah pun, Zafran menarik handle dan menguakkan pintu kamarnya. Setelah meletakkan travelbag Kayesa di samping travelbagnya, dia pun naik ke tempat tidur, merebahkan tubuh, memejamkan mata, pura-pura tidur.
Perlahan Kayesa melepaskan tangan Zafran, dengan posisi membelakangi Zafran, dia duduk di lantai dan menyandarkan punggung ke tepi tempat tidur. Kayesa meraup habis wajah dengan kedua tangannya, lalu menarik nafas panjang.
Beberapa menit berdiam diri dan merenungi apa yang baru terjadi, membuat Kayesa mengantuk. Dengan berbantal tangan Kayesa membaringkan tubuhnya di atas lantai keramik, beberapa menit kemudian dia pun tertidur.
Zafran memicingkan mata, mengintip ke bawah, dari atas tempat tidur, dia hanya bisa melihat punggung Kayesa. Tidak ada pergerakan selain tarikan nafas Kayesa.
"Pasti Kayesa sudah tertidur," batin Zafran, kala mendengar dengkuran kecil Kayesa.
Perlahan Zafran mengulurkan kaki, turun dari tempat tidur, lalu berjingkat mendekat ke arah Kayesa. Zafran berjongkok di samping Kayesa.
"Esa! Esa!" Perlahan Zafran memanggil nama Kayesa, seraya menggoyang-goyang telapak tangannya di wajah Kayesa. Namun Kayesa tidak merespons, dia sudah tertidur sangat lelap.
Setelah meluruskan kaki Kayesa, Zafran menarik selimut, hingga menutupi tubuh Kayesa sampai ke dada. Kemudian meletakkan bantal guling sebagai pembatas, Zafran pun berbaring di samping Kayesa dan ikut tertidur.
*******
Sementara Alena yang sangat kesal, karena belum berhasil menghubungi Zafran, memutuskan pulang ke Jakarta. Begitu sampai ke apartement, pintu apartement Zafran terkunci dari dalam.
Tok... Tok... Tok, Alena mengetuk daun pintu beberapa kali. Seperlima menit kemudian terdengar langkah kaki diseret ke arah pintu. Alena sudah memasang senyum termanisnya, untuk Zafran atau mama mertuanya yang membuka pintu.
"Oma!" Sapa Alena, kala yang membuka pintu Mayumi, senyuman Alena langsung hilang, berganti dengan wajah keterkejutannya.
"Kamu pulang sendirian? Mana Zafran?" Tanya Mayumi seraya menatap tajam ke arah Alena, lalu menatap kebelang Alena, seakan mencari sosok Zafran. Pada hal Mayumi tahu, kalau Zafran sedang bersama Kayesa.
"Jadi Zafran belum sampai ke sini. Oma?" bukannya memjawab pertanyaan Mayumi, Alena malah balik bertanya.
"Kalau Zafran sudah pulang, ngapain Oma nyari dia," ketus Mayumi menggeleng, sambil berdecak heran.
__ADS_1
"Saya tak tahu Zafran ada di mana. Sudah yang call tapi nomor ponselnya tidak aktif," Alena membela diri.
"Kok bisa suami sendiri tidak tahu ada di mana. Istri macam apa
Kamu. Dasar istri tak berguna!" cerca Mayumi dengan nada setengah tinggi.
Sekilas Alena menatap wanita tua yang sedang memaki-makinya. Alena ingin secepatnya masuk dan beristirahat di kamar. Namun, Mayumi yang berdiri di tengah-tengah pintu, menghalangi langkahnya.
Sementara Mayumi memang sudah merencanakan sesuatu, agar Alena tidak masuk ke apartement.Dia sengaja menghadang Alena di depan pintu dan mencari akal agar Alena terusir.
"Kamu tidak akan saya ijinkan masuk, jika tidak dengan Zafran," ujar Mayumi merentangkan kedua tangannya.
"Tapi Oma, ini rumah suamiku," Alena ngotot seraya menatap tajam pada Mayumi.
Tawa Mayumi pecah, saat mendengar Alena mengatakan kalau Zafran suaminya. Melihat Mayumi mentertawakan dirinya, emosi Alena serasa sampai ke ubun-ubun.
"Apa Zafran sudah mengakuimu sebagai istri? Apa Zafran sudah menyentuhmu? Apa bulan madu berhasil?" Tanya Mayumi masih di sela tawanya.
Sejenak Alena mencerna pertanyaan Mayumi, dari pertanyaannya Alena mengambil kesimpulan, semua yang terjadi padanya adalah perbuatan Mayumi, kalau tidak di mana Mayumi tahu, jika dirinya belum diakui dan Zafran sebagai istri, jika dia belum disentuh Zafran.
"Pasti wanita tua ini yang mengacaukan bulan maduku dengan Zafran," maki Alena tentu saja hanya berani di dalam hati.
"Apa maksud Oma? Aku sudah sah menjadi istri Zafran di mata hukum dan agama. Apa lagi yang membuat Oma meragukanya?"
Alena tidak menjawab pertanyaan Mayumi, dia malah memberi penjelasa dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Alena berharap wanita tua itu membiarkannya masuk dan beristirahat, karena jika berlama-lama berhadapan dengan Mayumi bisa-bisa kegilaannya memuncak.
"Oma! Beri aku jalan! Kalau tidak..."
"Kalau tidak kenapa?" Tantang Mayumi seraya berkacak pinggang.
Brak! Alena menerobas masuk, hingga Mayumi terhuyung ke dinding pintu.
"Hay! Dasar tak punya adab," teriak Mayumi seraya menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Bersamaan dengan itu Asaka melihat perbuatan Alena.
"Aduh kepala ku sakit," ujar Mayumi dengan suara lantang seraya memegangi kepalanya, dia meringis seperti orang habis kejatuhan batu besar.
Asaka berlari ke arah Mayumi, membantu Mayumi berdiri dan memapahkan duduk di sofa. Setelah mendudukkan Mayumi di sofa, Asaka beranjak mendekati Alena, Asaka menatap tajam pada menantunya itu.
__ADS_1
Plak, sebuah tamparan mendarat di pipi wanita itu. Asaka tak habis pikir, kenapa Alena bisa sekasar itu pada ibunya.
"Keluar dari sini!" Usir Asaka seraya menuding Alena dengan tunjuknya.