Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Hampir Luluh


__ADS_3

Part 98


Klik... Zafran membuka pintu yang sudah ditutup Mayumi.


"Bisakah Nyonya tidak membuat keributan di tempat ku," bentak Zafran, dengan suara lantang. Lalu secepat kilat Zafran menutup pintu kembali.


"Zafran! Ini mama sayang, mama yang telah melahirkanmu," ucap Asaka serak, seraya mengetuk pintu berkali-kali.


Mendengar suara serak dan tangis isak Asaka, hampir saja pertahanan Zafran goyah, hati remuk redam, dia tidak pernah memperlakukan wanita bergelar mama itu seperti sekarang.


"Maafkan Zafran. Ma!" Gumam Zafran seraya menyandarkan punggungnya ke daun pintu.


Tak sedikit pun Zafran ingin membuat mamanya terluka, dia hanya ingin Asaka tidak lagi mendikte hidupnya, seperti yang selama ini dilakukan Asaka.


Dengan berpura amnesia, Zafran hanya mau menyadarkan mamanya. Kalau tidak semua kehendak dan harapan Asaka harus terjadi sesuai keinginannya.


"Semoga dengan begini mama menyadari kesalahannya," batin Zafran lagi seraya menyesap wajah dengan kedua tangannya, lalu mengintip dari lubang pintu, di lihatnya Asaka sudah tidak ada, mungkin telah masuk ke apartementnya.


"Kamu kenapa?"


Tiba-tiba Mayumi sudah berdiri di belakang Zafran, membuatnya terkejut. Perlahan Zafran memutar tubuhnya menghadap ke arah omanya. Mayumi yang tadi sudah masuk ke kamarnya, kembali ke ruang tamu, saat melihat Zafran mengintip di lobang pintu.


"Apa mamamu bikin ulah lagi?" tanya Mayumi.


"Apa Oma tahu kalau aku sedang berbohong," pikir Zafran, dia tidak menjawab pertanyaan omanya.


"Lakukan saja jika menurutmu baik, semoga dengan begini. Mamamu bisa berubah," ujar Mayumi menepuk bahu Zafran.


Zafran terperangah, menatap wajah Mayumi yang sedang tersenyum menatapnya. Dari ucapannya Zafran mengambil kesempulan, kalau Mayumi mengetahui kebohongannya.


"Apa Oma..."


"Tahu, tentang kamu pura-pura lupa ingatan." Mayumi menyela ucapan Zafran, kali ini dia tertawa.


Tentu saja Mayumi tahu, karena Niko sudah menceritakan pada Mayumi, sebelum Mayumi sampai ke rumah sakit. Mana berani dokter Niko berbohong pada Mayumi, sementara gajinya dibayar oleh wanita itu. Dan misi Zafran lupa ingatan hanya untuk mamanya Asaka dan Alena.


"Maafkan Zafran ya Oma. Zafran melakukan ini, hanya..."


"Tidak usah minta maaf. Oma sudah tahu rencanamu. Sekarang kita fokus kepernikahanmu," ujar Mayumi menepuk lembut pundak cucunya.


Spontan Zafran merengkuh bahu wanita tua itu, setakat ini hanya Mayumi yang mengerti tentang dia. Mayumi walaupun orangnya keras dan tegas, tapi sangat menyayangi Zafran. Di luar sudah tak terdengar lagi teriakan Asaka, karena Asaka sudah masuk ke apartementnya.


Sementara itu Kayesa yang sudah kembali ke rumah Rizwan, diantar Rayzad, tadi Kayesa sengaja meminta Rayzad mengantar Zafran dan Mayumi lebih dulu, baru dia, walau pun sempat berdebat dengan Zafran. Namun akhirnya Zafran mengalah.


Saat mendengar suara mobil Rayzad memasuki pekarangan rumah. Ridwan, Ratih, Maeka dan Kiano ke luar dari rumah, menatap mobil yang berhenti dan memperhatikan pintu mobil yang terbuka.


"Bunda!" Teriak Kiano segera berlari, saat melihat Kayesa yang turun.


Kayesa berjongkok, dia merentangkan kedua tangan, memeluk Kiano, lalu mengangkat tubuhnya. Rizwan beranjak mendekat.

__ADS_1


"Kamu dari mana?" Tanya Rizwan dengan nada penuh tekanan.


Kayesa mengangkat sedikit wajahnya. Jika dia ceritakan kalau Shaga tadi yang menculiknya, pasti Rizwan langsung bertindak dan lapor polisi.


"Maaf bang. Tadi aku yang jemput Kayesa membawanya ke butik untuk fitting baju. Maaf! Karena buru-buru tak sempat pamit," ujar Rayzad yang baru ke luar dari mobil. Rayzad terpaksa berbohong, karena Kayesa tidak mau Shaga bermasalah dengan pihak berwajib.


"Iya bang, karena tadi sudah ditunggu Oma Mayumi." Kayesa memperkuat kebohongan Rayzad.


"Sukurlah. Tadi abang sempat panik nyariin kamu. Mana ponselmu tak dibawa," ujar Ridwan merasa lega, kalau Kayesa adiknya baik-baik saja.


"Lain kali kalau pergi. Pamit," gerutu Ridwan sambil berlalu.


"Iya maaf."


Setelah Rizwan melangkah masuk sambil mengajak Ratih. Kayesa menurunkan tubuh Kiano dan menyuruh Maeka mengambil Kiano, Maeka meraih tangan Kiano dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa kamu tidak menceritakan yang sebenarnya pada abang mu?" Tanya Rayzad, saat memastikan tak ada lagi yang mendengar percakapan mereka.


"Aku tidak mau Abang Rizwan memenjarakan Shaga. Dia sudah terlalu banyak menderita karena aku."


"Maksud mu?" Rayzad bertanya lagi.


Kayesa menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu dia mulai bercerita tentang pernikahan semalamnya, yang menyebabkan dia harus meninggalkan Shaga tanpa pamit dan berita.


"Aku tahu bagaimana rasa sakit ditinggal orang yang kita cintai," ujar Kayesa mengakhiri kisahnya.


"Aku melakukan ini karena aku tidak ingin ada yang terluka."


"Shaga pasti terluka." ungkap Rayzad, dia tidak menduga sama sekali, ternyata pernikahan semalam Zafran dan Kayesa, membuat luka dalam hari Shaga.


"Iya! Aku tahu. Tapi aku bukan yang terbaik untuk Shaga, dia berhak mendapat wanita yang lebih baik dari aku," ujar Kayesa dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar penuturan Kayesa, Rayzad tertegun sejenak. Begitu besarnya cinta Kayesa pada Shaga, hingga dia tak mau menyakiti laki-laki itu. Bahkan dia berpikir kalau dia tidak pantas bersanding dengan Shaga.


"Lalu apa motivasimu mau menikah dengan tuan Zafran?"


"Kenapa kamu bertanya begitu? Bukannya tadi sudah ku jawab," ujar Kayesa sebal, karena Rayzad terus saja mengintrogasinya.


"Apa kamu yakin. Shaga tidak akan melakukan hal buruk lagi?"


Mendengar pertanyaan Rayzad, Kayesa mendongakkan wajahnya menatap laki-laki kepercayaan Zafran itu. Andai boleh jujur, dia pun masih khawatir, kalau Shaga akan mengulangi perbuatannya. Tapi jika dilaporkan kepihak yang berwajin, nama baik Shaga pasti akan tercemar, Kayesa tidak mau itu terjadi.


"Jika Shaga melakukan hal buruk lagi. Aku pastikan Zafran akan memenjarakannya," celetuk Rayzad, membuat Kayesa terperangah.


"Shaga tidak seburuk yang kamu duga," ujar Kayesa, masih membela laki-laki yang menculiknya tadi pagi.


"Firasatku mengatakan kalau Shaga tidak akan pernah mengikhlaskan kamu menikah dengan tuan Zafran," Rayzad memprediksi kemungkinan yang akan terjadi.


Keyakinan Kayesa tentang Shaga menjadi goyah, kala mendengar ucapan Rayzad. Bayangan Shaga seketika melintas di benak Kayesa. Bagaimana tadi Shaga memperlakukannya. Shaga menyeret dan memaksa Kayesa masuk ke dalam kamar. Kemudian Shaga mengunci kamar dan meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


"Apa benar, Shaga sekarang sudah berubah menjadi jahat," gumam Kayesa.


"Nyonya! Tuan Zafran menelepon," ujar Maeka tiba-tiba datang sambil membawa benda pipih milik Kayesa di genggamannya.


Lamunan Kayesa buyar, kala mendengar suara Maeka. Kayesa meraih ponsel yang diserahkan Maeka, dia menerima panggilan dari Zafran.


"Hay! Kenapa lama sekali baru angkat teleponku," ucap Zafran dengan nada kesal.


Bagaimana Zafran tidak kesal, ini panggilan yang kesepuluh kalinya. Sekali lagi tak diangkat Kayesa, Zafran sudah berniat akan menyusul Kayesa ke rumah Rizwan.


"Ma-maaf tuan..."


"Nggak ada maaf-maaf, lain kali jangan seperti ini ya. Aku tuh khawatir tahu." Zafran tidak memberi kesempatan pada Kayesa untuk membela diri, dia malah menyela ucapan Kayesa.


"Eyelah tuan! Nyonya Kayesa tu baik-baik saja kok." Tiba-tiba Rayzad nyeletuk mengejek Zafran, sengaja membesarkan suaranya, biar terdengar oleh Zafran.


Mendengar ada suara Rayzad, Zafran meminta Kayesa menyerahkan ponselnya ke Rayzad. Kayesa menyodorkan benda pipih itu ke Rayzad, dengan bahasa isyarat Kayesa memberi tahu kalau Zafran ingin bicara padanya.


"Hallo tuan." Sapa Rayzad begitu ponsel Kayesa menempel di telinganya.


"Pulang atau ku pecat," terdengar suara ancaman dari Zafran.


"Jangan gitu tuan, anak buah kayak aku susah dicari," ujar Rayzad terkekeh, tak takut dengan ancaman Zafran, karena dia tahu Zafran tidak sejahat itu.


Sebelum mendapat makian tambahan dari Zafran, Rayzad menyerahkan ponsel Kayesa, langsung pamit, masuk mobil dan meluncur meninggalkan Kayesa yang menatap kepergiannya.


Setelah kepergian Rayzad, Kayesa melihat ke layar ponselnya, panggilan telepon dari Zafran belum terputus.


"Hallo tuan! Tuan Rayzad sudah pulang."


"Syukurlah. Aku khawatir saja, lama-lama dia di sana. Kamu yang digodanya."


Deg...


"Zafran cemburu," batin Kayesa.


"Tentu saja aku cemburu," ujarZafran seakan tahu isi hati Kayesa.


Mendengar pengakuan Zafran yang tak di sangka-sangka, membuat mata Kayesa membola, entah kenapa hati kayesa menjadi senang dan bahagia.


"Jangan senyum-senyum gitu, jelek tahu," terdengar lagi suara Zafran dari telpon genggam yang masih nempel di telinga Kayesa.


"Apaan. Mana ada aku senyum-senyum," celetuk Kayesa, dia seakan tertangkap basah oleh Zafran. Sebelum Zafran menggodanya lebih lanjut, Kayesa pun memutuskan panggilan telepon tanpa pamit dan salam, lalu beranjak masuk.


"Kok senyum-senyum sendiri," sapa Maeka yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Ah...Kamu sama saja dengan Zafran," gerutu Kayesa langsung masuk ke kamar, berdiri di depan cermin, dia menatap wajahnya yang memerah. Kayesa tidak tahu bagaimana groginya dia, jika berhadap langsung dengan Zafran sekarang.


"Kay! Ada apa denganmu," batin Kayesa, seraya mengusap wajah dengan kedua tangan, lalu melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2