Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Rencana Shaga


__ADS_3

Part 96


Secepat kilat Shaga ke luar dan persembunyiannya, menyelinap dan menjauh dari tempat itu, dia harus segara pergi dari resto itu, sebelum Kayesa dan Zafran mengetahui kehadirannya, jika itu terjadi bisa-bisa Zafran membekuk dan memenjarakannya.


Langkah kaki Shaga dibuat selebar mungkin, dia beranjak menuju lift dan turun ke lantai dasar, sambil begumam sendiri.


"Bagaimana Kayesa bisa melarikan diri dari sekapan ku," batin Shaga tak habis pikir.


Sambil berjalan, suasana hati Shaga tak karuan, Shaga khawatir kalau tindakan kriminalnya pada Kayesa, diceritakan Kayesa pada Zafran. Pasti Zafran akan memenjarakan dan memutuskan hubungan kerjasama dengannya.


"Aku harus mencari akal, bagaimana bisa terhindar dari masalah ini," gumam Shaga.


Sejenak Shaga berhenti melangkah, dia berpikir keras, agar bisa terhindar dari tuduhan penculikan itu. Tiba-tiba di benaknya terlintas wajah Alena.


"Alena. Dia bisa ku jadikan tumbalnya," batin Shaga tersenyum.


Shaga kembali melangkah, sambil menyusuri koridor mall, Shaga merogoh saku celana, mengambil benda pipih kesayangannya, menggeser layar benda pipih itu, mencari nomor kontak Alena. Shaga menelepon Alena.


Telepon pertama dirijek Alena. Namun, Shaga tak berputus asa, terus dicobanya menghubungi Alena. Shaga merencanakan sesuatu, agar dia terlepas dari tuduhan penculikan Kayesa. Shaga bermaksud memanfaatkan Alena, karena Shaga tahu kalau Alena sangat membenci Kayesa.


"Alena! Aku ingin bertemu denganmu sekarang," ujar Shaga begitu panggilan telepon terhubung. Akhirnya Alena menerima panggilan dari Shaga, setelah panggilan masuk berkali-kali


"Kamu tak berhak memaksaku," jawab Alene ketus, dia sudah tak perduli dengan urusan Shaga. Baginya meladeni Shaga, sama saja membuang waktunya.


"Alena! Ini sangat penting." Shaga meyakinkan Alena, agar tak memutuskan panggilan teleponnya


"Sepenting apa?"


"Sepenting hubunganmu dengan Zafran,"


"Zafran? Aku dan Zafran baik-baik saja. Jadi tolong jangan ganggu aku lagi,"


Setelah mengatakan itu, Alena memutuskan panggilan telepon.


"Alena! Hallo Alena." Suara Shaga sudah tak terdengar lagi di kuping Alena, walau pun Shaga berteriak kencang.


"Sial! Kenapa Alena mematikan ponselnya," maki Shaga, lalu bergegas masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Shaga menghentikan gerakan tangannya, kala ingin menarik pedal gas, pandangannya tertuju ke depan, sepuluh meter dari mobilnya, dia melihat Kayesa berjalan sambil bergandengan tangan dengan Mayumi.


Hati Shaga semakin sakit, kala melihat Zafran membuka pintu mobil dan meminta Kayesa masuk. Shaga meraup habis wajah dengan kedua tangannya, lalu menumpukan kepala pada sandaran kursi. Dia mengurungkan niat untuk segera meluncur dan membiarkan mobil Rayzad pergi dahulu.


Tatapan Shaga tak beralih dari mobil yang bergerak melewati mobilnya, hingga mobil itu menghilang ke luar dari area perkir.


Sementara Kayesa yang berada di dalam mobil bersama Zafran, mengetahui keberadaan Shaga. Kala mobil Rayzad melintas di samping mobil Shaga, Kayesa memperhatikan mobil Shaga, hanya saja dia tidak melihat ada Shaga di dalamnya.


Ada perasan kacau di hati Kayesa, saat mengingat Shaga. Selama dia mengenal Shaga. Shaga laki-laki yang sangat baik, tidak pernah menyakiti Kayesa baik jiwa mau pun raga.


"Maafkan aku Shaga. Gara-gara aku mentalmu jadi terganggu," batin Kayesa seraya menggigit bibir bawahnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Zafran, kala melihat roba wajah Kayesa berubah sedih.


Sejenak Zafran menatap wajah wanita yang duduk di sampingnya. Kayesa merasa risih ditatap Zafran seperti ini, dengan cepat dia menggeleng dan mengatakan tidak ada apa-apa, sambil mengukir senyum dibibirnya.


Hati Zafran merasa lega, kala melihat senyuman merekah di bibir Kayesa. Senyum itulah yang membuat Zafran tidak bisa melupakan Kayesa. Wanita yang selalu berpenampilan sederhana, tetapi terlihat luar biasa di mata laki-laki yang sedang jatuh cinta itu.


"Kenapa tuan menatapku begitu?" Tanya Kayesa risih.


"Kamu makin cantik." Jawab Zafran.


"Ternyata cucu Oma, sudah pandai merayu sekarang," celetuk Mayumi, spontan membuat merah wajah Zafran.


"Betul Oma, sudah banyak omong dia sekarang," Rayzad ikut menyeletuk dan tertawa.


"Apaan sich kamu," ujar Zafran melayangkan satu tinju dari belakang, ke bahu Rayzad yang sedang menyetir.


Suasana di mobil terasa hangat, terdengar tawa canda di dalamnya. Mayumi orang paling bahagia kala melihat perubahan Zafran. Cucunya yang dulu, dingin dan arogan, kini sudah berubah berbalik arah.


Sementara Shaga yang masih berada di parkir mall, masih memendam rasa.


"Kenapa sesakit ini," gumam Shaga.


Perasaan Shaga sangat kacau, pikirannya bolak-balik, kadang pasrah dan mengikhlaskan Kayesa dengan Zafran, kadang muncul egoisnya untuk memiliki Kayesa seutuhnya.


"Kayesa bisa membuatku gila," batin Shaga seraya meremas rambut di kepalanya dengan kasar.

__ADS_1


Sambil menumpukan kedua siku di stir mobil, Shaga kembali meraup habis wajah dengan kedua tangannya, lalu dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


"Kay! Kamu harus jadi milikku," gumam Shaga tak jelas.


Rasa kesal membuat Shaga memuku-mukul stir mobilnya berulang, ingin rasanya dia memaki dan berteriak, agar beban yang menghimpit di benaknya, lepas dan pergi menghilang.


Shaga kembali mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu menggeser layar ponsel, masuk ke aplikasi whatsapp, mencari nomor kontak Alena. Kali ini Shaga nekad, dia mengirim video yang di ambilnya di rumah sakit.


(Alena! Kamu boleh tidak mau mengangkat teleponku. Sekarang putar video yang ku kirim) Shaga menekan tombol kirim.


Semenit, dua menit, bahkan sampai sepuluh menit, pesannya centang dua abu-abu. Belum ada tanda-tanda pesan itu dibuka Alena.


"Ke mana Alena," batin Shaga.


Karena tak sabar menunggu Alena, membaca pesannya. Shaga menekan gambar gagang telepon warna putih di sudut kiri whatsapp Alena. Penggilan terhubung tapi tidak diangkat, Shaga mencoba menelepon lagi.


"Hallo! Tolong jangan ganggu aku. Aku tidak mau berurusan dengan laki-laki tidak waras sepertimu," cerca Alena dari sambungan telepon, lalu dia memutuskan panggilan, menghapus pesan whatsapp dari Shaga dan memblokir nomor kontan Shaga.


"Sial! Kenapa di matikan," maki Shaga, seraya berusaha menghubungi Alena kembali. Namun gagal, karena nomor kontaknya sudah diblokir.


Shaga mendengus kesal, misinya untuk memprovokasi Alena agar marah pada Kayesa gagal, gara-gara Alena tidak mau mendengarkan penjelasan Shaga.


"Ku kirim saja videonya ke nyonya Asaka. Bukannya nyonya Asaka juga tidak menyukai Kayesa," batin Shaga.


Senyum Shaga mengambang, rencananya berubah seketika. Shaga menelepon seseorang, kamudian mengirim video tersebut kepada orang yang baru diteleponnya.


"Kirim video ini ke nyonya Asaka," titah Shaga dipanggilan telepon.


"Baik. Tuan," ujar seseorang dari panggilan telepon, lalu sambungan pun terputus.


Seperlima menit kemudian, ponsel Shaga bergetar, masuk panggilan orang yang baru lima menit mendapat perintah Shaga. Kini dia mengabarkan kalau nyonya Asaka sudah membuka video yang dikirimnya.


"Bagus!" Ujar Shaga lalu memutuskan panggilan telepon.


Shaga membayangkan, bagaimana ekspresi wajah Asaka, yang mengetahui, kalau Zafran malamar wanita yang tidak disukainya. Shaga berharap Asaka melabrak Kayesa, hingga Kayesa membatalkan pernikahannya.


"Kita tunggu saja Zafran. Apa yang bisa kamu lakukan," batin Shaga, karena Shaga tahu kalau Zafran selalu patuh pada Asaka mamanya.

__ADS_1


Sekarang Shaga bisa menarik nafas panjang, sebentar lagi, dia pasti akan mendapat kabar, tentang kemarahan Asaka. Shaga pun menghidupkan mesin mobil, menekan pedal gas dan meluncur ke luar dari area parkir, melaju ke jalan raya.


"Shaga! Shaga! Kamu emang hebat," gumam Shaga tersenyum, memuji dirinya sendiri.


__ADS_2