Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Kegalauan Zafran


__ADS_3

Part 45


Shaga yang diam-diam mencuri dengar percakapan Zafran di telepon, sempat kaget saat mendengar beberapa kali nama Kayesa di sebut.


"Jadi Zafran yang sedang dihindari Kayesa, dengan memintaku merahasiakan keberadaannya," batin Shaga.


"Apa yang telah dilakukan Zafran pada Kayesa," batin Shaga lagi.


Prasangka Shaga terhadap Kayesa yang dianggapnya wanita murahan, seketika berubah seratus persen. Pemandangan yang dilihatnya di rumah makan itu, bisa saja hanya keterpaksaan Kayesa, karena berada di bawah tekanan Zafran, kalau tidaj mana mungkin Kayesa kabur.


"Sungguh biadab kau Zafran. Aku akan membuatmu berlutut di depan Kayesa," batin Shaga lagi seraya menggenggam erat kepalan tinju, karena kesal.


Dengan sudut matanya, Shaga memperhatikan gerak gerik Zafran yang mencurigakan. Zafran terlihat sangat serius menanggapi pembicaraan seseorang dari sambungan teleponnya.


"Dengan siapa Zafran berbicara. Pasti itu orang suruhannya yang ditugaskan untuk mengawasi Kayesa," batin Shaga lagi.


Helaan nafas dan kerutan di dahi Zafran menandakan dia sedang kecewa. Tanpa salam dia memutuskan hubungan telepon setelah memberikan perintah pada seseorang yang menghubunginya.


"Ada apa Tuan Zafran? Apa ada hal yang sangat serius? Tuan terlihat seperti panik?" Pertanyaan beruntun sengaja Shaga lontar, bentuk simpati pada Zafran. Pada hal dia hanya berpura prihatin, agar bisa mengorek info tentang Kayesa.


Zafran tidak langsung menjawab pertanyaan Shaga. Dia meraup habis wajah dengan kedua tangannya, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


"Hanya masalah karyawan," jawab Zafran, lalu mendudukkan bokongnya kembali.


"Masalah karyawaan. Tapi Tuan terlihat begitu kesal, pasti masalahnya sangat serius," ujar Shaga lagi, berharap Zafran mau mengasih bocoran.


"Karwayan saya telah mencuri barang berharga dari kantor saya dan kabur," jawab Zafran berbohong.


"Apa! Beraninya karyawan Tuan berbuat begitu. Apa dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa," Shaga pura-pura geram, sampai-sampai dia berdiri dari duduknya.


"Siapa karyawaan yang telah mencuri itu?" Tanya Shaga seraya kembali duduk.


"Namanya Kayesa."


Deg... Berdetak jantung Shaga mendengar tuduhan Zafran pada Kayesa. Tapi Shaga berpura-pura berpihak pada Zafran dan ikut menghujat Kayesa.

__ADS_1


"Kayesa? Yah... Saya sepertinya pernah mendengar namanya. Wanita janda punya anak satu itu kan?"


"Iya betul. Apa tuan Shaga ada melihatnya. Dia telah kabur membawa barang berharga milikku."


"Dasar wanita murahan. Punya anak tak tahu siapa ayahnya, eh... Sekarang malah jadi pencuri lagi," cerca Shaga berbicara asal, dia sengaja melakukan itu, untuk memancing reaksi Zafran.


Seketika wajah Zafran berubah, saat mendengar kata-kata Shaga yang mengatakan kalau Kiano tak tahu siapa ayahnya, itu artinya Shaga menganggap Kiano lahir di luar pernikahan.


"Ya Tuhan. Pasti orang-orang di luaran sana selalu mengatai Kayesa sebagai wanita murahan, karena telah melahirkan anak tanpa suami," batin Zafran, tiba-tiba muncul rasa bersalahnya, saat mendengar ucapan Shaga yang memojokkan Kayesa.


"Kenapa Tuan? Apa ada kata-kataku yang salah?" Shaga bertanya lagi, kala melihat perubahan di wajah Zafran dan Zafran juga tidak merespon ucapannya.


"Tidak," jawab Zafran seraya menggeleng.


"Kenapa tidak lapor polisi saja. Tuan," usul Shaga lagi, seraya intens menatap wajah Zafran.


Keingintahuan Shaga tentang hubungan Zafran, membuatnya mencari cara agar Zafran mau membuka mulut. Namun, Zafran bukan sebodoh yang Shaga kira, dia tidak mudah terpancing oleh pertanyaan-pertanyaan Shaga.


"Apa pun yang terjadi di perusahaan saya. Saya tidak pernah berurusan dengan polisi, karena di perusahaan saya selalu menjaga reputasi karyawan, walaupun karyawan itu berbuat salah." Zafran melunak dan dia berharap Shaga tidak lagi ikut campur masalahnya.


"Tuan Salah. Dengan memberi kesempatan kedua, biasanya karyawan akan lebih baik," ujar Zafran lagi.


Pandainya Zafran memutar balikkan fakta. Selama ini jangankan memberi kesempatan kedua, kesalahan kecil saja, Zafran langsung memecat karyawannya, tanpa memberi kesempatan karyawannya memberi alasan untuk membela diri, hingga dia dijuluki CEO yang diingin dan kejam. Shaga pun pernah mendengar romur julukan itu.


"Saya salut pada Tuan. Tuan begitu baik pada bawahan, pantas saja karyawan Tuan betah bekerja di perusahaan Tuan." Pujian Shaga menampar wajah Zafran secara tidak langsung, seketika wajah itu kembali berubah merah padam seperti kepiting rebus.


Seorang pramusaji datang mengantarkan dua gelas kopi dan meletakkan di atas meja. Setelah menyilakan, pramusaji itu berpamitan.


"Ayok diminum tuan Shaga," ujar Zafran seraya meraih gelas kopinya.


Zafran bisa bernafas lega, paling tidak secangkir kopi ini, bisa menyelamatkannya dari pertanyaan-pertanyaan Shaga. Dan Zafran pun mengalihkan pembicaraan ke proyek kerjasama tentang pembuatan jalan tol. Shaga pun sudah tidak berminat mengorek keterangan tentang Kayesa.


Tiga puluh menit kemudian pertemuan pun berakhir, Zafran dan Shaga berpisah di parkiran. Zafran langsung meluncur menuju kantornya. Begitu sampai di kantor Zafran langsung menemui Rayzad.


"Bagaimana bisa Kayesa menghilang tak meninggalkan jejak?" Tanya Zafran sedikit emosi.

__ADS_1


"Kayesa mengganti ponsel dan nomor kontaknya, makanya susah di lacak, dan orang hotel baru tahu Kayesa pergi setelah dua hari. Pasti Kayesa sudah keluar dari kota ini," jelas Rayzad.


"Dan Kayesa pergi dengan menggunakan motor, makanya pihak travel tidak ada yang tahu," lanjut Rayzad.


"Sebar foto Kayesa di setiap hotel dan penginapan. Minta mereka menahannya, jika menemukan Kayesa, beri imbalan seratus juta untuk mereka," titah Zafran.


"Tapi Tuan. Jika foto Kayesa yang kita sebar, akan ada orang-orang jahat yang memanfaatkan. Mereka bisa saja menculik Kayesa dan putramu," ujar Rayzad.


Mendengar ucapan Rayzad, Zafran kembali berpikir, dia tidak mau ada orang yang menyakiti Kayesa dan putranya. Jika itu terjadi pasti Kayesa akan semakin menjauh darinya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?"


"Sebar mata-mata kita di bagian perbatasan kota. Jika mereka melihat Kayesa, cukup melindungi dan memberitahu pada kita. Jangan melakukan apa pun," Rayzad memberi ide yang lebih cerdas dan aman buat Kayesa dan Kiano. Zafran manggut-manggut tanda setuju.


Zafran menyerahkan semua penyelidikan ke Rayzad, satu-satunya orang yang tahu tentang Kiano putra Zafran. Rayzad pun menelepon seseorang untuk menyebar mata-mata di suluruh penjuru perbatasan kota.


Lima menit kemudian, salah seorang mata-mata Rayzad mengirim foto dan lokasi keberadaan Kayesa. Walau pun Kayesa sudah mengganti ponsel dan nomor kontak, agar sulit dilacak. Namun, Rayzad punya cara lain untuk mendapatkan info.


"Tuan! Orang saya sudah tahu di mana keberadaan Kayesa sekarang." Rayzad memberitahu Zafran.


"Ayok kita susul mereka," titah Zafran seraya bangkit dari duduknya.


"Jangan gegabah Tuan. Jika Tuan tidak ingin kehilangan jejak Kayesa lagi," ujar Rayzad mencegah langkah Zafran.


"Aku harus segera membawa pulang putraku," ujar Zafran bersekeras.


Dahi Zafran berkerut, dia memikirkan keadaan Kiano. Pasti Kiano capek dan lelah, karena Kayesa melakukan perjalanan jauh hanya menggunakan motor. Tak terbayang oleh Zafran bagaimana keadaan Kiano sekarang.


"Kasian Kiano. Aku harus menjemputnya sekarang," ujar Zafran lagi seraya meraih kunci mobil.


"Apa Tuan yakin. Kayesa akan mengijinkan Tuan membawa Kiano. Jika Tuan memaksakan kehendak, aku jamin Kayesa akan membenci Tuan."


Mendengar ucapan Rayzad, Zafran menghentikan langkahnya, selama ini dia sudah berusaha menjaga hati Kayesa, dengan tidak mengatakan kebenaran, kalau dia adalah ayah kandung Kiano, karena dia takut Kayesa membencinya.


Zafran menarik nafas panjang, dia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Bersabar dan membiarkan Kayesa membawa Kiano atau menjemput Kiano dengan paksa.

__ADS_1


"Tapi Ray! Aku ingin Kiano bersamaku," ujar Zafran, seraya beranjak.


__ADS_2