
Part 58
Sementara Mayumi dan Amora pergi ke sebuah cafe menemui seseorang, untuk melanjutkan misi berikutnya. Di cafe seorang gadis cantik bernama Tatia sudah menunggu kedatangan Amora dan Mayumi.
Tatia yang berwajah melankolis itu, merupakan teman lama Tatia waktu sekolah menengah atas. Tatia berprofesi sebagai menejer yang bekerja di hotel, tempat Kayesa dan Alena menginap.
Begitu bertemu dan berbincang dengan Tatia. Mayumi menjelaskan kerjasama yang ditawarkannya pada Tatia. Setelah Tatia menyetujui, baru Mayumi menjelaskan apa saja tugas Tatia.
Setelah kesepakatan ditanda tangani. Mayumi, Amora dan Tatia, mereka bertiga meninggalkan cafe, menuju mobil. Mayumi dan Amora satu mobil, disupiri oleh Amora. Sementara Tatia membawa mobilnya sendiri.
Kedua mobil itu meluncur meninggalkan cafe, melaju di jalan raya menuju Bandara. Dua jam kemudian mereka sampai ke bandara. Pukul enam lewat empat puluh menit malam. Mayumi mengirim pesan, menanyakan pada cucunya apakah sudah mendarat. Zafran memberitahu Mayumi, kalau dia sudah berada di bandara.
Pukul tujuh pas. Dari jauh Mayumi melihat bayangan Zafran yang sedang berjalan keluar dari bandara. Mayumi memberi isyarat pada Tatia untuk menyambangi Zafran. Sementara Mayumi dan Amora bergegas masuk ke dalam mobil.
"Tuan Zafran. Saya Tatia diutus nyonya Asaka untuk menjemput Tuan," ujar Tatia seraya memperbaiki letak kacamatanya.
Sejenak Zafran menatap ke arah wanita cantik yang memakai dres lengan pendek dan rok mini di atas lutut, hingga kaki jenjangnya yang mulus terekpos bebas.
"Tumben mama mengutus wanita cantik untuk menjemput ku. Pasti Alena tidak tahu, jika tahu, meski dia marah," batin Zafran, karena setahu Zafran, Alena itu sangat posisif dan cemburuan.
"Siapa tadi namamu?" tanya Zafran lagi seraya menatap intens pada Tatia.
"Tatia. Tuan!" jawab Tatia seraya membungkuk hormat.
"Ta ti a.. Nama yang cantik, secantik orangnya," puji Zafran, membuat Tatia salah tingkah.
"Ayok! Tuan! Mobil saya ada di sebelah sana," ujar Tatia lagi, seraya mengambil alih travelbag dari tangan Zafran. Zafran pun mengikuti langkah Tatia, menuju parkir.
Begitu sampai ke mobil, Tatia membuka pintu mobil dan menyilakan Zafran masuk. Setelah Zafran masuk, Tatia menutup kembali pintu mobil, kemudian dia memberi kode ke pada Mayumi, kalau dia sudah siap meluncur.
Mayumi pun memberi isyarat agar Tatia yang duluan dan Mayumi mengikuti dari belakang. Mobil Tatia meluncur mendahului mobil yang dibawa Amora. Mayumi terus memantau mobil yang dikendarai Tatia.
"Tuan! Apa kita langsung ke hotel," tanya Tatia, begitu mobil sudah meluncur di jalan raya.
"Apa di hotel menyiapkan makan malam?" Zafran balik bertanya, dia merasa lapar.
"Ada! Kalau Tuan mau pesan," jawab Tatia.
"Kalau begitu saya makan malamnya di hotel saja," ujar Zafran lagi, lalu dia menumpukan kepala kesandaran kursi.
Sambil melaju di jalan raya, sesekali Tatia melirik kaca spion, mamastikan kalau mobil yang dikendarai Amora masih berada di belakangnya. Dan sesekali Tatia juga melirik kaca spion depan menatap Zafran yang bersandar di kursi dengan mata tertutup.
__ADS_1
"Pria yang tampan," gumam Tatia seraya tersenyum.
Perjalanan dari bandara ke hotel memakan waktu lebih kurang dua jam, membuat Zafran tertidur pulas, dia tak terganggu dengan jalanan yang riuh, mungkin karena efek kelelahan, sampai dia tidak tahu kalau Tatia sudah memarkir mobilnya.
Tatia membuka pintu dan turun, lalu memutar membukakan pintu untuk Zafran. Saat melihat Zafran masih tertidur, Tatia memberanikan diri membangunkan Zafran.
"Tuan! Kita sudah sampai," ujar Tatia menyentuh lengan kanan Zafran.
Perlahan Zafran menggeliat, lalu membuka matanya.
"Ah.. Kita sudah sampai?" Tanya Zafran setengah sadar, dia menatap ke luar dari kaca mobil.
Mendapat pertanyan Zafran, Tatia mengangguk. Sejenak Zafran menumpukan kepala kesandaran kursi, lalu meraup habis wajah dengan kedua tangannya, kemudian berinsut menjulurkan kaki keluar dari mobil.
Melihat Zafran turun dari mobil. Tatia beranjak kebelakang mobil membuka bagasi, menurunkan travelbag dan menyeretnya.
Dreet... Dreet... Dreet. Ponsel Zafran berdering, dari layar ponsel yang bercahaya tertara oma Mayumi yang menelepon.
"Hallo Oma," sapa Zafran begitu panggilan terhubung. Namun suara Mayumi tak terdengar, lalu panggilan mati. Zafran mencoba menghubungi balik, tapi direject Mayumi.
Mayumi yang berada di dalam mobil hanya berjarak beberapa meter, memperhatikan gerak gerik Zafran yang berusaha menghubunginya lagi. Mayumk hanya tersenyum, saat melihat wajah Zafran risau, kala panggilannya direject oleh Mayumi.
Sambil melangkah ke lobi hotel, Zafran kembali menghubungi Mayumi, karena belum berhasil bicara dengan omanya, Zafran memutuskan duduk di sofa lobi dan meminta Tatia meninggalnya.
"Tuan! Apa tuan jadi pesan makan malam?" Tanya Tatia memberanikan diri.
"Iya," jawab Zafran sambil tetap mencoba menelepon Mayumi, belum juga terhubung.
"Tuan pesan menu apa?" Tanya Tatia lagi.
"Menu yang terenak menurut kamu," ujar Zafran lagi, Tatia menyandarkan travelbag Zafra di samping sofa, lalu dia pun pamit.
Zafran kembali menghubungi Mayumi, Mayumi yang sengaja memperlambat Zafran menemui Alena, hanya menatap layar ponsel yang menyala. panggilan Zafran pun terputus. Begitu Zafran menelepon untuk kesekian kalinya, baru Mayumi angkat.
"Sinyal lagi susah, tadi barusan hujan lebat," ujar Mayumi mengarang cerita. Pada hal Mayumi masih berada di mobil yang nangkring di parkiran.
"Tak biasanya di Jakarta sinyal bermasalah," batin Zafra. Tapi dia tidak membantah ucapan omanya.
Seperti biasa Mayumi mulai bercerita dari A sampai Z, hingga Zafran terduduk di lobi hampir satu jam.
Sementara Alena yang sudah mengetahui Zafran sampai di bandara pukul tujuh tadi, sudah memesan menu makan malam dan meminta office girl mengantar ke kamar pukul sembilan malam, karena Alena memperkirakan dua jam perjalanan. Maka Zafran sampai ke hotel lebih kurang pukul sembilan.
__ADS_1
Menu makan malam yang dipesan Alesa, sudah satu jam tersaji, semuanya sudah dingin. Jam di layar ponsel Alena sudah menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Berkali sudah Alena menghubungi ponsel Zafran. Namun, dari tadi nada sambungnya sibuk dan dalam panggilan lain. Karena Zafran sedang menerima panggilan dari Mayumi.
"Ke mana Zafran jam segini belum sampai," batin Alena seraya menatap menu makan malam yang sudah dingin dan tak menyelerakan.
"Mana ponselnya sibuk, tak bisa dihubungi," guman Alena, seraya mencoba lagi menghubungi suaminya.
Berkali menelepon tapi tak terhubung, akhirnya Alena menghubungi Asaka mama mertuanya dan menanyakan apa Zafran ada memberi kabar Asaka, dia lagi di mana.
"Alena! Satu jam tadi Zafran bilang sudah di lobi. Apa sampai sekarang belum sampai?" Tanya Asaka heran, seharusnya Zafran dan Alena sudah bertemu.
"Apa jangan-jangan Zafran memboking kamar sendiri," ujar Asaka lagi, dan dia menyuruh Alena menanyakan ke resepsionis, kala Asaka mencoba menghubungi Zafran. Tapi sambungan teleponnya sibuk.
Alena memutuskan teleponnya, lalu dia beranjak menuju pintu, menarik handle dan menguakkan daun pintu, lalu ke luar kamar, menuju ruang resepsionis. Baru sampai di ruang resepsionis, Alena melihat bayangan suaminya yang sedang duduk manis di sofa, sambil ngobrol di telepon.
"Abang!" Panggil Alena, bersamaan dengan itu. Zafran mengakhiri panggilan teleponnya.
Alena bergegas menemui Zafran, meraih tangan Zafran mencium punggungnya, lalu bergelayut manja di lengan Zafran.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Zafran.
"Ayok ke kamar. Aku mau istirahat, capek," ujar Zafran lagi tanpa ekspresi.
Alena masih bergelayut di lengan Zafran. Zafran menarik tangannya, meminta Alena melepaskan gamitannya, lalu meraih gagang travelbag, dan beranjak menuju kamar.
Begitu sampai di kamar, Tatia dan dua orang pramusaji sedang menunggu di depan kamar, dengan membawa menu pesanan Zafran.
"Aku tidak memesan makanan," ujar Alena seraya membuka pintu.
"Aku yang pesan," sahut Zafran.
"Tapi aku sudah menyiapkan makan malam," ujar Alena lagi protes.
Begitu pintu terkuak, Zafran menatap menu makan malam yang sudah terhidang di atas meja sofa.
"Makanan yang sudah dingin itu bawa keluar saja. Ganti dengan yang baru," titah Zafran pada dua pramusaji itu.
Tatia dan dua orang pramusaji meletakkan menu makan malam, yang dibawanya di atas karpet, lalu menurutkan menu yang tertata rapi di meja sofa dan mengganti dengan yang baru mereka bawa.
"Bawa makanan ini keluar," titah Tatia pada dua pramusaji.
"Tatia! Kamu di sini saja. Sebagai rasa terima kasihku, teman aku makan," ujar Zafran.
__ADS_1