Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Bertemu Alena


__ADS_3

Part 76 baru.


"Mama! Mama kenapa?" Tanya Zafran panik kala melihat Asaka menangis tersedu.


"Kelakuan kamu pada Alena, membuat mama malu pada keluarga tante Sarla," ujar Asaka lagi, tangisannya semakin kencang, hingga tubuhnya tergoncang.


"Kenapa kamu meninggalkan Alena dan pergi dengan wanita clearning service itu?"


"Clearning service. Pasti Alena sudah menceritakan semua tentan Kayesa," batin Zafran.


Zafran tidak langsung menjawab pertanyaan Asaka, dia meraih bahu wanita itu dan membimbingnya untuk duduk di sofa, lalu Zafran pun mendudukkan bokongnya di samping Asaka.


"Ma! Aku..."


"Mama lebih baik mati. Jika kamu membuat mama malu. Kamu tahukan, bagaimana nekadnya Alena. Hah!" Cerca Asaka.


Asaka tidak memberikan waktu pada Zafran untuk membela diri. Asaka hanya mau Zafran menyadari kesalahannya. Bahwa dia mengabaikan wanita yang telah menjadi istrinya. Asaka tidak mau sampai Alena mengadu pada mamanya, mau ditarok di mana mukanya, jika Sarla tahu kalau putranya telah memperlakukan putrinya dengan tidak baik.


"Ma! Mama dengar dulu penjelasan aku," ujar Zafra seraya meraih kedua tangan Asaka. Namun, dengan kasar ditepis oleh Asaka.


"Kamu tahu inikan." Asaka mengambil botol kecil berisi pestisida racun serangga.


Mata Zafran membola, kala melihat botol kecil itu. Dulu waktu Zafran baru tamat sekolah dasar, Asaka pernah meminum racun itu, gara-gara memergoki suaminya berselingkuh, sedikit saja terlambat membawa ke rumah sakit, pasti nyawa Asaka tidak tertolong waktu itu. Peristiwa itu sangat membekas diingatan Zafran.


"Mama! Apa yang mama lakukan." Zafran berusaha merampas botol pestisida itu. Namun gagal, Asaka dengan cepat menyimpan di dalam tasnya.


"Jika kamu tidak minta maaf pada Alena. Biar mama mati saja, dari pada mama malu dengan Sarla," Ancam Asaka.


"Baik. Ma! Aku akan minta maaf sama Alena. Kasih botol racun itu ke aku," ujar Zafran berusaha membujuk Asaka.


Berulang Zafran meminta botol pestisida itu pada Asaka. Asaka tak menggubrisnya, Zafran tak bisa buat apa-apa selain memenuhi keinginan mamanya, dia tidak mau mamanya nekad dan mengulangi kebodohannya lagi. Jadi mau tak mau dalam hal ini, Zafran mengalah.


"Aku tidak mau mama kenapa-kenapa," batin Zafran.


"Sekarang mama minun dulu. Netralkan emosi mama, setelah itu kita temui Alena," ujar Zafran menyodorkan sebotol air mineral, dengan kasar Asaka meraih botol itu, membuka penutup botol dan menenggak isinya.


Setelah menutup kembali botol air mineral. Asaka merogoh tas tangannya, lalu menelepon Alena dan mengajaknya berjumpa. Alena yang memilih tempat pertemuannya.


"Satu jam lagi, Alena kabari ya. Ma!"


"Baik. Mama tunggu," ujar Asaka, lalu menutup panggilan teleponnya.


Sementara Asaka menunggu di ruang kerja Zafran. Zafran menemui Rayzad diruangannya, dan melanjutkan perbincangan tentang proyek jalan tol yang tadi dibicarakannya. Zafran dan Rayzad terlibat pembicaraan yang sangat serius, karena proyek yang mereka tangani tidak tanggung-tanggung, berjumlah Triliunan.

__ADS_1


Satu jam kemudian Alena mengirim pesan whatsapp dan memberitahu Asaka tempat pertemuannya di sebuah hotel berbintang. Setelah membaca pesan whatsapp Alena, Asaka beranjak dari duduknya, ke luar dari ruangan kerja Zafran menuju ruang kerja Rayzad.


"Ayok kita berangkat. Alena sudah menunggu," ujar Asaka seraya berdiri di depan pintu.


Sejenak Zafran menoleh ke arah Asaka, lalu melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul satu tiga puluh. Setelah berpamitan dengan Rayzad, Zafran beranjak mengiringi langkah Asakq menuju lift.


Begitu lift terbuka, Asaka dan Zafran keluar menuju parkir, di parkir supir Asaka sudah menunggu kedatangan Zafran dan Asaka.


"Aku pakai mobilku saja. Ma!"


"Tidak! Di mobil mama saja, ngapain dua mobil, pemborosan." celetuk Asaka.


"Nanti Aku mau kembali ke kantor lagi." Tolak Zafran.


"Tidak! Masuk!" Titah Asaka memaksa Zafran masuk kedalam mobilnya.


Tanpa bicara dan bantahan lagi, Zafran masuk. Begitu Zafran sudah berada di dalam mobil, Asaka memutup pintu mobil dan dia membuka pintu depan, duduk di samping sang supir. Mobil pun meluncur meninggalkan kantor, menuju jalan raya.


Di sepanjang perjalan tidak ada percakapan antara Zafran dan Asaka. Zafran asik dengan layar ponselnya dan chatan dengan Kayesa.


(Esa! Maaf makan siangnya baru kupesan, tadi lagi sibuk dengan kerjaan jadi sampai lupa) pesan terkirim.


(Tidak apa-apa. Tadi aku sudah makan mie dimasakin sama bibik Maryam) balasan dari Kayesa setelah beberapa menit.


(Iya! Nggak apa-apa. Fokus saja sama kerjaannya dulu) balas Kayesa.


(Terima kasih sayangku) Zafran mengakhiri pesannya dengan emoji love.


(Sama-sama sayang) Kayesa juga mengakhiri pesannya dengan emoji love.


"Ah.. Indah jatuh cinta," batin Zafran seraya mendekap ponselnya seraya memejamkan mata, dia membayangkan wajah cantik Kayesa. Zafran mulai lebay.


"Ayok turun! Sudah sampai."


Suara Asaka mengagetkan Zafran dan membuyarkan lamunannya. Zafran menatap Asaka yang sudah membuka pintu mobil untuknya. Lalu Zafran memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya, dan mengulurkan kaki, turun dari mobil.


Sejenak Zafran berdiri memindai bangunan hotel mewah di depannya. Melihat Zafran hanya menatapi hotel, membuat Asaka menggamit tangan putranya itu, lalu berjalan melangkah memasuki pintu utama hotel.


"Selamat siang Nyonya dan Tuan," sapa ramah resepsionis.


"Nyonya dan Tuan sudah ditunggu nyonya Alena di ruang vip," ujar resepsionis seraya menyilakan masuk.


Seorang office boy yang ditugaskan Alena menunggu kedatangan Zafran dan Asakan, menjemput dan mengantarkan Zafran dan Asaka ke lantai sembilan, ke cafe yang sudah diboking oleh Alena.

__ADS_1


Saat Zafran memasuki cafe hotel, terlihat nuansa estetik yang berbeda. Hotel mewah ini, dibangun dengan arsitektur unik, memadukan fasad kontemporer dengan suasana interior mid-century serta sentuhan material daur ulang dan berbagai tanaman penyegar ruangan.


Di samping cafe ada rooftop Hotel dirancang sebagai bar yang cozy untuk hangout, dengan the awan Lounge lantai sembilan. Di sini paling enak menikmati suasana petang Jakarta sambil menyantap burger dan Asian tapas ataupun aneka menu Indonesia ditemani bir dingin.


"Selamat datang suami dan mertuaku," ujar Alena seraya merentangkan kedua tangannya, memeluk Asaka.


"Kamu cantik sekali sayang," sambut Asaka.


Asaka memandang dengan kagum pada sosok Alena yang cantik dan anggun dengan gaun mini, berleher V yang sangat rendah, hingga saat Alena merunduk akan terlihat jelas belahan gunung kembarnya.


"Kamu sangat beruntung punya istri secantik Alena," ujar Asaka menoleh ke arah Zafran.


Mendengar Asaka memuji Alena, Zafran hanya tersenyum tipis, baginya bagaimana pun dandanan Alena tak ada menarik-menarinya, dia sudah biasa disuguhi wanita-wanita seksi kaya Alena. Jadi dia sudah tak berselera dengan wanita setipe Alena. Zafran menarik sebuah kursi lalu mendudukkan bokongnya.


"Mama! Lihat tuh anak mama, cuek banget ke aku," rengek Alena seraya mengadu, wajahnya ditekuk, cemberut, hingga bibirnya membentuk kerucut.


"Duduk ge, di samping dia," bisik Asaka.


"Tapi. Ma!"


"Sudah sana! Nanti juga bakalan jinak," ujar Asaka masih sambil berbisik.


Alena melepaskan gamitan di tangan mertuanya, beranjak dan menarik kursi di samping Zafran, lalu mendudukkan bokongnya. Kehadiran Alena sama sekali tidak mengusik Zafran yang sedang asik memainkan layar ponselnya.


"Sudah! Sini ponselnya mama yang simpan."


Tiba-tiba Asaka sudah berdiri de sebelah kiri Zafran dan merampas ponselnya. Sejenak Zafran memoleh dan menatap wajah Asaka. Asaka memberi isyarat kepada Zafran, agar meminta maaf pada Alena.


"Alena! Aku minta maaf ya," ujar Zafran seraya mengulurkan tangan kanannya.


"Hanya begitu cara abang minta maaf? Mama..." ujar Alena merajok, dia memanggil Asaka, agar mengajari Zafran meminta maaf padanya.


Pandangan Asaka menukik ke arah Zafran, seharusnya Zafran tak perlu diajarkan lagi, bagaimana cara meminta maaf. Karena Asaka tahu, Zafran mengerti apa maunya. Melihat tatapan tajam dari Asaka, Zafran menoleh ke arah Alena, lalu meraih kedua tangannya.


"Alena! Maafin abang ya," ujar Zafran seraya mengecup punggung tangan Alena.


"Aku mau maafin abang, tapi dengan satu syarat. Bilang dengan mesra, Alena istriku sayang. I love you so much," ujar Alena seraya memperagakan, dan meminta Asaka memvideokan.


Hening sejebak, Zafran dihadapkan pada sebuah simalakama. Tapi karena desakan Asaka, akhirnya Zafran pasrah.


"Ayok Zafran! Tunggu apa lagi," ujar Asaka mengingatkan.


"Alena istriku sayang. I love you so much," ujar Zafran memenuhi permintaan Alena. Alena menyodorkan pipi kiri dan pipi kanannya ke arah Zafran.

__ADS_1


"Makasih ya sayang," ujar Alena seraya menyodorkan gelas minuman bersoda yang sudah dicampur obat perangsang.


__ADS_2