Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Terkurung


__ADS_3

Part 77


"Sama-sama sayangku," ujar Zafran seraya meraih gelas yang disodorkan Alena ke mulutnya. Zafran sudah membaca apa yang ada dipikiran Alena.


"Sayang! Minumlah sedikit saja. Ini minuman kupesan untukmu," ujar Alena.


Dengan tangan kanannya, Alena mengambil alih kembali gelas minuman itu, lalu Alena menyodorkan ke bibir Zafran, seraya tersenyum yang teramat manis. Sekilas Zafran melirik Asaka yang menjauh beberapa langkah membelakangi, sambil menelepon seseorang.


"Sayang! Bibirmu lebih manis dari minuman itu," ujar Zafran mengambil minuman di tangan Alena, lalu dia mematuk bibir Alena, mengalihkan perhatian Alena.


Mendapat perlakuan Zafran, yang membuat jantung Alena berdetak kencang dan memompa aliran darahnya. Perlahan Alena memejankan mata dan menikmati permainan bibir Zafran yang menari-nari. Di saat Alena lengah, Zafran menukar gelas minuman yang di tangannya dengan yang ada di atas meja.


Sementara Asaka yang melihat permainan panas dimulai, diam-diam meninggalkan ruangan itu, setelah mengirim video story di whatsapp Zafran dan meninggalkan ponsel Zafran di atas meja.


"Makan yuk! Aku lapar," ujar Zafran mengakhiri permainannya, setelah berhasil menukar gelasan minuman.


Alena yang terlanjur bergairah, merasa tidak senang, kala Zafran melepaskan pagutannya. Dia menarik nafas kesal. Namun, Kala melihat Zafran menenggak isi gelasnya sampai habis, Alena tersenyum misterius.


"Sebentar lagi, semua khayalanmu akan jadi kenyataan Alena," batin Alena senang, dia pun meraih gelas minuman yang telah ditukar Zafran dan menenggak habis isinya sampai tetes terakhir.


"Selamat menikmati hasil kerjamu Alena," batin Zafran tersenyim tipis.


Mata Zafran berpindah ke meja, menu yang terhidang sangat mengugah selera. Tanpa basa basi, dengan santai Zafran menyantap menu makan siang, yang sudah terhidang hingga perutnya terasa kenyang. Berbeda dengan Alena, selera makannya hilang seketika.


Dada Alena berdebar aneh tak seperti biasanya, ada perasaan menyesak dan berat, dia terlihat gelisah, keringat mulai mengucur di dahinya, Alena merasa ada sesuatu yang tak beres terjadi padanya. Tubuhnya mulai terasa panas.


"Apa aku salah minum," batin Alena menyadari yang terjadi padanya, dengan ekor matanya, Alena melirik Zafran yang terlihat biasa saja.


"Kamu kenapa?" Tanya Zafran pura-pura tak tahu. Pada hal dalam hati bersyukur.

__ADS_1


"Aku pusing, tolong antar aku ke kamar," ujar Alena seraya memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Alena sudah setengah mati menahan gejolak birahi yang meletup-letup, karena efek dosis tinggi obat perangsang itu sudah menyerang.


Zafran memenuhi permintaan Alena, dia memapah Alena menuju kamar nomor delapan ratus tujuh puluh dua, hanya berjarak sepuluh meter dari cafe. Begitu sampai di depan pintu kamar, Zafran memutar handle pintu, ternyata tidak dikunci.


Brak... Tiba-tiba seseorang mendorongnya masuk, lalu menutup dan mengunci pintu secara otomatis dari luar. Zafran dan Alena terkurung di dalam kamar.


"Hay! Apa-apa nih! Buka pintunya," teriak Zafran seraya berdiri dan menekan angka-angka sandi dengan acak, tapi tak berhasil.


"Selamat berbulan madu Zafran sayang." Terdengar suara seorang wanita sambil tertawa.


"Mama! Buka pintunya. Ma!" Teriak Zafran lagi, ternyata Asaka pelakunya, teganya Asaka menjebak putranya sendiri.


Senyum Alena mengambang, kala mendengar suara mama mertuanya dari luar. Asaka telah memperlancar misinya, walau dia yang terjebak dengan obat perangsang ini, tidak apa-apa karena Alena yakin, tubuh moleknya yang mulus, akan mampu meruntuhkan kelelakian Zafran.


Berkali Zafran memanggil Asaka. Dia berusaha untuk ke luar dari kamar ini, jujur dia sangat takut tidak bisa menahan nafsu bejat yang telah dikekangnya selama lima tahun. Namun, suara Asaka tak terdengar lagi, bahkan bunyi langkah kaki semakin menjauh, karena Asaka telah pergi meninggalkan kamar dengan senyuman merekah di bibirnya.


Alena yang tak karuan rasa, mulai mengerang tak jelas, obat perangsang yang ditelan, telah membuat setengah kewarasan Alena hilang, Keringat sudah membasahi sekujur tubuh Alena, debar jantung Alena berdetak berkali-kali lipat dari biasanya, aliran darah terasa memacu ke alat vitalnya yang berdenyut hebat, Alena berada dipuncak horny, ada sesuatu desakan yang ingin dipenuhi.


Melihat Zafran tak bereaksi, membuat Alena semakin liar, dia memeluk tubuh Zafran dan mengesek-gesekkan gunung kembarnya ke dada Zafran. Jujur Zafran mulai tergoda, nafasnya terdengar naik turun, gairah kelelakuannya terusik. Namun, tiba-tiba bayangan Kayesa melintas, spontan Zafran mendorong tubuh Alena, hingga pelukannya terlepas.


"Sayang! Tolong lakukan. Aku... Ah..." ujar Alena lagi semakin liar, dia kembali mendekat dan menarik tangan Zafran, mengajaknya naik ke tempat tidur. Zafran menepis tangan Alena dengan kasar.


"Ya Tuhan," gumam Zafran menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu berpaling membelakangi Alena.


Mendapat penolakan dari Zafran, membuat Alena semakin gencar menyerang Zafran. Alena yang tak kuat menahan rasa panas yang mengalir di tubuhnya, menanggalkan pakaiannya. Kini dres mini yang dipakai Alena sudah berserak di lantai dan tubuhnya pun terekpos, yang masih melekat tinggal cd dan bra.


"Abang! Lihat aku bang!" Alena kembali mendekati Zafran dan dia berdiri tepat di depan Zafran. Zafran kaget, kala melihat Alena hanya memakai cd dan bra.


"Astagfirullah," batin Zafran, baru kali ini dia mengucap istigfar, saat disuguhi barang mulus dan bagus.

__ADS_1


Spontan Zafran berpaling menghadap ke pintu dan mendekapkan tubuhnya ke daun pintu, sambil mulutnya komat kamit berdoa, agar dia terhindar dari godaan Alena. Tiba-tiba tangan Alena mendekapnya dari belakang, membuat Zafran panas dingin.


"Ya Tuhan bantu aku, lepaskan aku dari siksaan itu," batin Zafran sambil kembali mendorong tubuh Alena.


Andai kejadian ini terjadi lima tahun yang lalu, Alena sudah habis ditelannya tanpa sisa. Zafran tidak memungkiri, melihat tubuh molek Alena yang terekpos, darah kelelakiannya pun mendidih. Namun, dia tidak ingin melakukannya, karena dia tidak mau menodai janjinya dengan Kayesa.


"Abang! Tolong aku. Aku mohon," ujar Alena lagi, mendesisnya penuh gairah.


Zafran menghindar dari gapaian Alena, dia melompat naik ke tempat tidur, mengambil selimut, membalut tubuh Alena, lalu menyeretnya ke kamar mandi.


Alena yang tak berdaya, hanya merengek memohon kepada Zafran, dengan mata liar dan nafas memburu, tubuhnya terasa panas karena horny. Zafran meletak tubuh Alena yang berbalut selimut di bawah shower dan menghidupkan krannya.


Setelah menghidupkan kran shower, Zafran ke luar dari kamar mandi, dia tidak memperdulikan Alena yang memanggil-manggilnya. Zafran menutup pintu kamar mandi dan menahan handle pintu dari luar, agar Alena tidak bisa ke luar.


"Abang! Aku sudah tak tahan. Tolong aku! sekali ini saja. Bang!" Terdengar lirih suara Alena berpacu dengan bunyi aliran air di shower.


Sekuat tenaga Alena menahan gairah yang semakin memanas. Karena tak kuat lagi, Alena luruh di bawah guyuran air, dia biarkan air dingin itu mengalir di kepalanya, hingga tubuhnya menggigil kedinginan.


Sementara Zafran yang sudah tidak mendengar suara Alena lagi, menarik nafas lega. Merasa capek berdiri, Zafran duduk dan menyandar di daun pintu kamar mandi. Sambil meraup habis wajah dengan kedua tangannya, Zafran menghela nafas panjang.


"Bagaimana caranya aku keluar dari kamar ini," batin Zafran, seraya memindai penjuru kamar, tidak ada jendela atau pun celah aksesnya menuju ke luar.


"Minta bantuan Rayzad," gumam Zafran, seraya meraba saku baju dan celana, mencari beda pipih keramat miliknya.


"Ya Tuhan! Ponselku sama mama," batin Zafran sambil menepuk jidatnya.


Lama Zafran duduk bersandar di daun pintu kamar mandi, suara gemericik air masih terdengar jelas. Zafran melirik jam tangan di pergelangannya, jarum pendek menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit, sudah hampir magrib.


"Esa! Pasti sedang menungguku," batin Zafran seraya bangkit dari duduknya, menuju pintu kamar, berusaha memutar handle pintu dan menekan-nekan kembali angka-angka dengan acak, berharap pintu terbuka

__ADS_1


"Hallo! Siapa pun di luar, tolong buka pintunya," Zafran menggedor-gedor pintu seraya berteriak-teriak. Namun, tak ada sahutan.


__ADS_2