Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Kedatangan Asaka


__ADS_3

Part 49.


Pesawat yang membawa Asaka kembali ke tanah air baru mendarat. Asaka sengaja tak memberitahu Zafran kalau dia sudah sampai. Dari bandara Asaka naik taxi online menuju apartement putranya.


"Ya Tuhan. Apa aku tidak salah lihat?" Asaka yang sudah sampai di apartement Zafran, masuk ke ruang kerja, ingin mengambil kunci kamar yang biasa di tempatinya. Asaka membuka laci meja kerja Zafran, dia menemukan sesuatu yang membuat detak jantungnya berhenti berdetak. Sesak!


Tangan Asaka gemetar saat membaca isi lembaran itu. Dia nyaris jatuh ke lantai karena kaget, untungnya segera duduk di kursi kerja Zafran. Kala mata Asaka melihat sebuah amplop berkop rumah sakit berwarna putih, Asaka mengambil dan membuka isinya.


Awalnya Asaka mengira lembaran itu merupakan vonis penyakit dsri dokter. Ternyata selembar kertas yang berisi hasil tes DNA Zafran dengan seorang anak laki-laki bernama Kiano. Asaka menarik nafas panjang dan berusaha menetralkan jantungnya.


"Ya Tuhan. Jadi Zafran punya anak di luar nikah. Ini tidak bisa dibiarkan, anak ini harus ku singkirkan. Jika tidak dia akan membuat malu keluarga besarku," gumam Asaka seraya mengepal timjunya geram.


Sambil mengurut dadanya yang terasa sesak. Asaka bangkit dari duduknya, diurungkannya niat mengambil kunci kamar. Perlahan Asaka beranjak menuju ruang tengah dan duduk di sofa, lalu menumpukan kepala kesanandaran kursi, mengatur nafas yang berantakan.


Sekali lagi Asaka menatap lembaran kertas yang berada digenggamannya. Asaka mengulang kembali mengeja tulisan yang tertera di situ. Dia berharap kalau tadi dia salah baca. Namun, walaupun berulang dibaca hasilnya tetap sama.


Asaka meraup habis wajah dengan ke dua tangannya. Lalu menarik nafas pannjang dan menghembuskannya dengan kasar. Dia berharap hembusan nafasnya bisa membuat lega perasaannya. Nemun tidak.


Dengan beringsut Asaka menjangkau tas tangan yang tergeletak di lantai di samping travelbag. Asaka mengambil ponsel dari dalam tas, mencari nomor kontak Rayzad dan menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau, menghubungi Rayzad.


Sementara Rayzad yang sedang membahas masalah Kayesa bersama Zafran terkejut, kala melihat layar ponselnya bercahaya, di sana tertera tulisan nyonya besar yang memanggil. Dia dan Zafran saling berpandangan.


"Apa mama sudah sampai di bandara," batin Zafran yang belum mengetahui kalau Asaka sudah sampai ke apartement. Dan Zafran juga lupa kalau mamanya itu punya remote kontrol pintu apartementnya. Walaupun pinnya sudah diganti, Asaka akan tetap bisa masuk.


"Angkat saja, mungkin mama minta jemput," titah Zafran.


Sedikit ada keraguan di wajah Rayzad, sebenarnya dia malas berurusan dengan nyonya besar, karena Rayzad tahu, kalau Asaka selalu memberi perintah di luar nalar.


"Hallo Nyonya," sapa Rayzad begitu hubungan telepon tersambung.


"Kok lambat angkat teleponnya," balas Asaka kencang dan ketus, sampai-sampai Rayzad menjauhkan ponsel dari telinganya. Karena suara cempreng Asaka menusuk.


"Hallo! Hallo!"


Terdengar teriakan Asaka lebih kencang dari speaker ponsel yang Rayzad aktifkan.


"Iya. Nyonya! Saya dengar kok. Nyonya nggak usah teriak-teriak," balas Rayzad memberanikan diri, seraya memandang Zafran yang berwajah datar.


"Ku perintahkan padamu. Tolong habisi anak yang bernama Kiano, aku tidak mau tahu bagaimana cara. Besok sudah ku terima kabarnya. Tut..."


Sambungan telepon terputus. Rayzad dan Zafran berpandangan beberapa saat. Ucapan Asaka bagaikan bom mematikan bai Rayzad dan Zafran.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Tuan aku harus bagaimana," ucap Rayzad seraya meraup habis wajahnya.


"Di mana mama tahu tentang Kiano?" Tanya Zafran panik.


Zafran menekuk wajahnya sedemikian rupa. Dia berpikir dan mengingat, masalah tes DNA itu, hanya dia, dokter dan Rayzad yang tahu.


"Siapa yang membocorkan rahasia ini. Kamu atau dokter?" Zafran menoleh ke arah Rayzad.


"Aku tak pernah bicara sama siapapun. Tuan." Rayzad membela diri, karena memang dia tak melakukannya.


"Jika bukan kamu. Pasti dokter itu," gumam Zafran menduga.


"Jadi apa yang harus kita lakukan untuk mengelak perintah nyonya besar tuan," Rayzad terlihat cemas dan risau.


"Kamu tidak usah panik."


"Bagaumana saya tidak panik Tuan. Jika saya tidak membunuh Kiano. Maka saya yang akan di bunuh," ujar Rayzad.


"Aku harus melakukan sesuatu," ujar Zafran, tiba-tiba pikirannya buntu, dia pun mondar madir sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk.


Sementara Rayzad menggigil, hingga terduduk, perintah dari Asaka membuat separoh tubuh Rayzad menjadi lumpuh. Jika perintah itu tidak diturutinya, itu artinya Asaka pasti akan menghabisinya dan memerintahkan orang lain untuk membunuh Kiano.


"Bagaimana Tuan. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Rayzad lagi, dengan suara lirih.


Semua karyawan menoleh, kala melihat Zafran dan Rayzad berjalan laju menyusuri koridor kantor. Mereka tahu, jika Zafran dan Rayzad sedang menghadapi masalah serius, hingga satu orang pun tak ada yang berani menyapanya. Termasuk Alena, dia hanya mengintip dari jauh.


Zafran masuk ke dalam lift diiringi Rayzad, keduanya berdiri mematung, tak ada satu obrolan pun yang terdengar. Begitu lift terbuka, Zafran dan Rayzad bergegas keluar dan beranjak menuju parkir.


Setelah berada di dalam mobil. Zafran memintai Rayzad menghubungi Tono, agar menambah penjagaan untuk Kayesa dan Kiano. Rayzad merogoh saku kemeja, mengambil ponsel dan menelepon Tono, memerintahkan sesuai anjuran dari Zafran.


Lamborghini milik Zafran meluncur meninggalkan kantor, menuju jalan raya. Zafran memacu lamborghini dengan kecepatan tinggi, untuk sampai ke apartement dia hanya butuh waktu lima belas menit.


Begitu memasuki area apartement, Zafran langsung memarkir mabil dan turun, lalu beranjak menuju lift. Begitu lift terbuka, bergegas Zafran dan Rayzad masuk, dalam beberapa detik lift terbuka kembali, secara bersamaan Zafran dan Rayzad keluar.


Dua laki-laki itu bergegas dengan langkah panjang-panjang menyusuri koridor apartement, begitu sampai di depan apartementnya, Zafran melihat pintu apartement setengah terkuak.


"Bagaimana mama bisa masuk. Pasword pintu sudah ku ganti," gumam Zafran heran. Dia lupa kalau Asaka pegang remote kontrol juga.


Asaka menoleh ke arah pintu saat mendengar langkah kaki dan gerakan pintu yang di dorong lebih lebar dari luar. Matanya menatap tajam ke arah Rayzad dan Zafran.


"Apa ini Zafran. Apa ini benar?" Asaka menunjukkan lembaran kertas itu ke arah Zafran. Asaka langsung menberondong Zafran dengan pertanyaan. Tak ada sapa ramah dan pelukan kangen seperti biasa, jika bertemu.

__ADS_1


Secepat kilat Zafran merampas kertas itu, melipat menjadi beberapa bagian, lalu memasukkan ke dalam saku celananya. Sementara mata Asaka menatapnya tak berkedip. Zafran merentangkan kedua bermaksud ingin memeluk Asaka. Namun, Asaka menepis dan mendengus kesal.


"Zafran! Kata kan pada mama!. Kalau itu tidak benar!" cerca Asaka dengan lantang, seraya mencengkram kedua bahu putranya.


"Ini benar. Ma! Kiano anak kandungku," ujar Zafran dengan suara lirih.


Plak... Sebuah tamparan mendarat di pipi Zafran. Seketika wajah Asaka memerah, dia benar-benar kecewa mendengar pengakuan putranya. Zafran memegang pipi yang terasa panas dengan tangan kanannya.


"Siapa wanita yang telah melahirkan anak itu! Pe****r yang telah kau tiduri. Hah!" Asaka menggoncong tubuh Zafran dengan kuat, tiba-tiba air matanya merembes tak terbendung, karena menahan kesal dan marah. Asaka tak menduga kalau tabiat suaminya menurun ke putranya, yang dia takutkan selama ini menjadi kenyataan.


"Dan kau! kenapa berada di sini!" kecam Asaka menoleh ke arah Rayzad yang dari tadi hanya diam mematung.


"Sekarang kerja perintah ku! Habisi anak itu, kapan perlu bersama pe****rnya!" Titah Asaka seraya menarik kerah baju Rayzad.


Rayzad bergeming, sedikitpun tidak mengiyakan, juga tidak membantah, dia hanya menunduk, tak berani mengangkat wajahnya.


"Apa lagi kau tunggu! Pergi sana!" teriak Asaka, sambil menarik kerah baju Rayzad dengan kuat dan memaksanya ke luar.


"Mama! Aku mohon jangan lakukan itu," Zafran menangkupkan kedua tangan di dada, dia menghalangi aksi Asaka yang memaksa Rayzad keluar.


Reflek Asaka melepaskan kerah baju Rayzad, dia menoleh kearah Zafran, matanya merah bersinar marah, lalu lengannya terulur dan mengcekal dagu Zafran.


"Mama tidak akan pernah membiarkan anak h***m itu hidup," maki Asaka.


"Tapi. Ma!..."


"Mama tidak ingin mendengar alasan apapun darimu," ujar Asaka lagi, seraya mendorong Zafran, hingga terhuyung.


"Dan kamu! Cari anak itu!" Asaka berteriak lagi, memberi perintah pada Rayzad yang masih berdiri mematung, Asaka menudingkan telunjuknya ke wajah Rayzad.


Teriakan Asaka, membuat tubuh Rayzad bergetar hebat. Seketika keringat berkucur di seluruh tubuhnya. Dia berada dalam situasi simalakama.


"Mama! Aku mohon jangan lakukam itu. Aku akan melakukan apa pun. Tapi jangan bunuh anakku, aku menyayanginya seperti mama menyayangi aku," Zafran berjongkok dan bersimpuh di kaki Asaka seraya terisak.


Asaka menepis tubuh Zafran dengan kakinya, hingga Zafran terguling ke lantai. Namun, Zafran tak putus asa, dia bangkit dan terus bermohon pada Asaka. Dia tak perduli Asaka akan menghukumnya, asalkan Kayesa dan Kiano selamat dari ancaman Asaka.


Seumur hidup Asaka tak pernah melihat putranya menangis dan bermohon seperti ini. Bahkan sekata, Zafran tak pernah membantah ucapannya. Hari ini demi anak itu, Zafran melawan keinginan Asaka dan sanggup melakukan hal yang sangat hina menurut Asaka.


"Bangunlah!" Asaka terenyuh dengan keseriusan putranya dan dia meminta Zafran berdiri.


"Mama akan membiarkan anak itu hidup. Dengan satu syarat," ujar Asaka dengan intonasi suara rendah.

__ADS_1


"Apa. Ma? Aku pasti memenuhinya." Zafran bangun, lalu meraih kedua tangan Asaka.


"Menikahlah dengan Alena."


__ADS_2