
Part 52
Spontan Asaka dan Alesa menoleh ke arah Mayumi yang baru datang. Alena menarik nafas panjang.
"Akan ada drama apa lagi yang sedang direncanakan wanita tua ini," batin Alena seraya menatap Mayumi intens.
"Mama sudah pulang? Gimana jalan-jalannya?" Tanya Asaka mengalihkan perhatiannya pada Mayumi. Dia melupakan keinginan mantunya.
Kedatangan Mayumi yang dadakan, membuat Alena cemberut, karena selama Alena menikah dengan Zafran dan sah menjadi cucu mantu, Mayumi tidak pernah menunjukkan sikap baik pada Alena. Ada saja yang salah di mata Mayumi.
"Buat apa kamu menyusul Zafran ke Thailand. Mengganggu saja," gerutuk Mayumi seraya menatap tajan ke arah wanita itu tak berkedip. Bersusah payah Mayumi mengatur semuanya, untuk menggagalkan malam pengantin Alena, eh... Alena malah ingin menyusul Zafran. Ini tidak boleh terjadi.
"Tapi. Oma!..."
"Aku tidak ingin ada bantahan. Begitu kamu masuk ke keluarga ini, itu artinya kamu harus tunduk dengan perintahku. Asaka! Ajari menantumu, agar tak kurang ajar padaku."
"I-iya. Oma!"
Seketika wajah Alena menegang, dia mengepal genggaman tinju, karena menahan marah. Andai tidak sedang berakting untuk berpura baik di depan mertuanya, sudah diserang dan hajarnya nenek tua itu. Alena melengos kesal.
"Kenapa? Kamu keberatan dengan peraturanku?" tanya Mayumi, kala melihat Alena melengos kesal.
"Mama istirahat dulu," ujar Asaka mengalihkan pembicaraan, lalu menggamit lengan Mayumi mengantar ke kamar. Jika dibiarkannya Mayumi berlama-lama di sini. Bisa-bisa terjadi perang dunia kedua.
"Ajari menantumu itu sopan santun. Jika tidak ingin kudepak dari keluarga kita," ujar Mayumi seraya mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
"I-iya. Oma!"
"Kamu juga! Memcari menantu asal comot," tuding Mayumi.
"Alena anak yang baik. Oma! Percaya padaku, dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan dengan keluarga kita, yang penuh aturan dan tata krama," ujar Asaka memberi pembelaan untuk Alena.
"Maksudmu? Aku suka ngatur-ngatur?"
"Sudah! Mama istirahat saja. Masalah Alena, biar aku yang mengajari," ujar Asaka lagi menyudahi perdebatannya, karena jika dilawan, tidak akan ada habisnya. Kemudian Asaka kembali lagi keluar menemui Alena.
"Mama.."
"Settt.. Kita bicara di kamar saja," Asaka berbisik sambil meletakkan telunjuk di bibir, mencegah Alena untuk meneruskan pembicaraannya.
Wajah Alena ditekuk sedemikian rupa, hingga timbul garis-garis kasar di dahinya. Bibirnya yang cemberut membentuk kerucut. Dia kesal sekali dengan Mayumi yang seakan menghalanginya untuk selalu berdua dengan Zafran.
"Apa sich maunya wanita tua itu," batin Alena.
Begitu masuk ke kamar. Asaka menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Dia ingin bicara tenang berdua saja dengan menantunya.
"Asaka! Asaka! Kamu di mana!"
Belum sempat Asaka berbicara pada Alena. Terdengar teriakan Mayumi dari luar, bergegas Asaka menarik dan menguakkan pintu kamar, lalu keluar menemui mamanya.
"Iya. Ma! Ada apa?" Asaka menemui Mayumi yang sudah berada di dapur sedang mengambil air putih.
__ADS_1
"Punggungku pegal-pegal. Aku mau dipijat," ujar Mayumi, karena dia baru saja melakukan perjalanan jauh. Dari pinggiran kampung tempat tinggal Kayesa, ke Jakarta butuh waktu delapan belas jam pakai mobil, memang cukup melelahkan.
"Biar ku panggil tukang pijat ya. Ma!"
"Tidak usah! Aku mau cucu mantu yang pijat," ujar Mayumi seraya beranjak ke kamarnya sambil membawa air putih di gelas. Asaka mengiringi langkah Mayumi.
"Ma! Biar Asaka saja yang pijat," tawar Asaka.
Mendengar ucapan Asakan. Mayumi yang sudah duduk di tepi ranjang, menoleh dan mengurungkan niatnya untuk berbaring. Sejenak dia menatap Asaka.
"Kau ingin membantah mama?" Tanya Mayumi dengan mata menukik.
Melihat Mayumi menatapnya begitu. Asaka pun beranjak dan mengatakan akan segera membawa Alena ke kamar Mayumi. Mana berani Asaka membantah perkataan Mayumi, bisa tamat riyawat Asaka, jika Mayumi marah dan menarik saham-sahamnya.
Mayumi menatap punggung Asaka, hingga menghilang di balik pintu, Mayumi tersenyum misterius kala melihat Asaka ke luar dari kamarnya menuju kamar Alena.
"Permainan akan segera kita mulai," gumam Mayumi.
******
Tok... Tok... Tok.
"Alena! Buka pintunya. Ini mama."
Karena pintu kamar Alena terkunci, kala Asaka memutar handle pintu, pintu itu tertutup rapat. Setengah malas Alena beranjak dari tempat tidur dan menyeret kakinya menuju ke pintu, lalu memutar anak kunci, menarik handle pintu dan menguakkan daun pintu setengah lebar.
"Iya. Ma! Ada apa?"
"Ikut mama ke kamar oma." Ajak Asaka seraya menarik tangan Alena.
"Alena! Kamu harus bisa mengambil hati oma. Agar kamu bisa diterima menjadi cucu mantu olehnya." Pujuk Asaka.
"Tapi oma nyebelin. Ma!"
"Itu hanya cara oma mengujimu. Ingat! Oma punya banyak perusahaan tambang. Jika kamu bisa mengambil hatinya. Dia pasti akan memberikan salah satunya padmu," ujar Asaka lagi.
"Benaran. Ma! Alena mau. Ma!" mata Alena berbinar bahagia.
Dasar cewek matre, jika berhubungan dengan harta, langsung melek dan bersemangat.
"Mulai sekarang kamu nurut sama oma ya. Jangan sekali pun membantah." ujar Asaka lagi.
Alena mengangguk pasti. Alena membayangkan betapa menyenangkan hidupnya, jika Mayumi mewariskan tambang-tambang itu padanya. Alena akan melakukan apa saja untuk mewujudkan khayalannya.
Seraya menggamit tangan Alena. Asaka mengajak Alena ke kamar oma. Alena yang memang gila harta dengan senang hati mengiringi langkah mertuanya masuk ke kamar Alena.
"Alena sini! dan kamu keluar saja." Mayumi meminta Alena duduk di tepi ranjang, lalu dengan gerakan tangan, dia juga meminta Asaka meninggalkannya berdua dengan Alena.
"Alena! Kamu tahu kenapa kamu dibawa ke kamarku?" Tanya Mayumi, begitu Asaka sudah keluar dari kamarnya.
"Tidak Oma!"
__ADS_1
"Dulu mertuamu yang jadi tukang pijat aku, karena kamu sekarang jadi menantunya, maka tugas itu beralih padamu."
"Tapi Oma. Alena tidak bisa memijat."
"Harus bisa. Jika tidak saya pecat jadi cucu mantu!" Ancam Mayumi.
Bagai petir di siang bolong, kata-kata Mayumi menyambar di telinga Alena.
"Sabar Alena," batin Alena dalam hati, menguatkan dirinya.
"Ingat! Jangan berhenti dan beranjak, kalau saya belum tertidur," ujar Mayumi lagi, lalu dia berbaring mengambil posisi telungkup.
"Dasar tua bangka. Kenapa tidak mata saja sekalian," gerutuk Alena, tentu hanya berani di dalam hati.
Gerakan tangan Alena terasa kasar di pergelangan kaki Mayumi, karena hati Alena geram kesal, hingga teraplikasi kegarakannya.
"Alena! Kamu pandai mijat nggak? Kok kasar gitu."
"Eh... Maaf Oma, terbawa hati senang, jadi bersemangat," ujar Alena, dalam hati dia bersungut kesal.
Dengan hati dongkol Alena memelankan gerakan tangannya, bibirnya yang manyon membentuk kerucut, wajahnya terlihat sangat kusut dan jelek. sekarang gerakannya berubah elusan.
"Alena! Kalau kamu tidak bisa mijat. Aku bisa mencari cucu mantu yang lain," ujar Mayumi lagi lantang. Dia kesal sekali.
"I-iya Oma. Alena bisa," ujar Alena seraya memperbaiki pijatannya.
Lima menit, sepuluh menit, hingga tiga puluh menit. Mayumi masih saja bersuara mengomentari pijatan Alena. Alena yang sudah merasa capek dan pegal mulai kelelahan, dia pun mengantuk.
"Alena!" Teriak Mayumi saat tubuh Alena ambruk, karena tertidur.
"I-iya. Oma." Alena tersentak kaget, dia bangun kembali.
Tangan Alena mulai memijat lagi, hampir dua jam Alena di kamar Mayumi, jari-jari Alena terasa kaku dan tak bisa lagi di gerakkan, barulah Mayumi tertidur.
"Dasar tua bangka. Ku sumpahi semoga cepat mati," batin Alena seraya perlahan turun dari tempat tidur, lalu berjingkat perlahan menuju pintu kamar.
Alena meraih handle dan menguakkan daun pintu, mengendap seperti pencuri dia keluar dari kamar Mayumi. Salah injak sedikit, mengeluarkan suara, bisa-bisa dua puluh empat jam dia disandara wanita tua itu.
"Alhamdulillah selamat," ujar Alena mengurut dada, setelah menutup kembali pintu kamar Mayumi tanpa suara.
"Seet... Alena! Sini." Asaka melambai tangan ke arah Alena, agar segera masuk ke kamarnya.
Bergegas Alena beranjak menuju kamar mama mertuanya, dengan wajah cemberut, dia menghempaskan bobot tubuhnya di atas kasar, lalu berbaring meluruskan pinggangnya yang kelamaan duduk.
"Oma keterlaluan," gerutu Alena kesal.
"Kamu yang sabar. Oma pasti hanya ingin mengujimu. Percaya sama mama," ujarAsaka menghibur mantunya.
"Tapi tetap saja oma keterlaluan. Jari tangan Alena pegal semua," regek Alena, seraya memperlihatkan jari tangannya yang kaku.
"Kapan oma pulang ke Thailand. Alena tak sanggup kalau setiap hari begini. Ma!" rajuk Alena lagi.
__ADS_1
"Kamu tenang! Dua hari lagi, kamu bisa pergi bulan madu ke Bali, karena dua hari lagi Zafran pulang dan mama minta Zafran langsung ke Bali, kalian bisa sepuasnya bulan madu di sana. Tanpa ada gangguan," ujar Asaka.
"Benaran. Ma?" Tanya Alena dengan mata berbinar bahagia.