
Part 71.
Saat Zafran sampai ke paviliun. Dilihatnya Kayesa masih duduk bermenung di sofa, tak terpengaruh sedikit pun dengan kedatangan Zafran.
"Kamu kenapa?" Sapa Zafran, mengusik lamunan Kayesa.
Kayesa yang tidak menyadari kedatangan Zafran, tentu saja kaget, dia menoleh ke arah laki-laki yang masih duduk kursi roda, didorong oleh suster Santi, yang mendekat ke arahnya.
"Apa Tuan sudah baikan?" Tanya Kayesa seraya beranjak dan mengambil alih gagang kursi roda.
Secara seksama, Kayesa menilik ke arah Zafran, dilihatnya keadaan Zafran biasa saja, seperti tidak ada keluhan dan kejadian. Walaupun Zafran masih terduduk dikursi roda.
"Enak saja baikan. Ini punggung masih sakit, kalau dah baikan, ngapain juga aku pakai kursi roda," ujar Zafran dengan intonasi tinggi.
Seperti tahu, dengan pemikiran Kayesa. Zafran kembali mengarang cerita. Agar Kayesa tidak melulu menaruh curiga padanya. Sementara Kayesa yang mendengar ucapan Zafran hanya menarik nafas panjang.
"Kalau begitu. Tuan istirahat saja," ujar Kayesa.
Suster Santi yang sempat mendengar Kayesa dan Zafran berdebat, hanya bisa diam. Dokter Santi juga heran, karena tadi waktu Zafran duduk ke kursi roda, sepertinya tak ada yang sakit.
"Apa mungkin tuan Zafran terkena penyakit dalam," batin Santi.
"Tuan! Tugas saya sudah selesai mengantarkan tuan. Saya permisi Tuan! jika butuh sesuatu bisa call saya," ujar Suster Santi, seraya berpamitan meninggalkan Kayesa dan Zafran.
Kayesa menatap kepergian suster Santi, hingga punggungnya menghilang dari balik pintu. Sepeninggalan suster Santi. Kayesa beranjak mendorong kursi roda Zafran.
"Mau dibawa ke mana aku?"
"Ke kamar," jawab Kayesa.
"Aku tidak mau ke kamar. Aku mau di sini saja," ujaran Zafran menghentikan langkah Kayesa.
Sambil menatap ke arah Zafran, Kayesa memutar kembali kursi roda ke posisi awal. Kayesa mendorong kursi roda lebih dekat ke sofa, lalu Kayesa membantu Zafran turun dari kursi roda duduk ke sofa.
"Tuan! Apa boleh aku pinjam ponsel Tuan lagi?"
Dengan wajah memelas Kayesa bermohon pada Zafran, dia berharap Zafran mau meminjami ponsel padanya untuk yang kedua kali.
"Kamu mau menelepon siapa lagi. Apa sudah ingat nomor kontakmu?" Tanya Zafran menyelidik, sambil memicingkan matanya.
__ADS_1
Ada rasa tidak senang di hati Zafran, kala Kayesa ingin meminjam ponselnya lagi. Zafran takut, kalau Kayesa menelepon seseorang dan kemudian membawa wanita itu pergi darinya. Hancurlah semua rencananya.
Kayesa hanya menggeleng, mendengar pertanyaan Zafran, lalu dia menjelaskan, ingin menghubungi Maeka melalui masseger. Kayesa tak ingin membuat Maeka dan Kiano khawatir dengan ketidakpastian kabarnya.
Zafran merogoh saku celananya, mengambil dua benda pipih itu, yang satu masih di non aktifkannya, dan satu hanya orang tertentu yang mengetahui nomor kontaknya. Zafran menyerahkan ponsel yang on kepada Kayesa.
Kayesa menerima ponsel Zafran, lalu berseluncur ke aplikasi fecebook. Login ke facebooknya, untung Kayesa masih ingat kata sandinya. Kayesa meluncur kepencarian. Maeka terlihat sedang online.
(Maeka! Ponsel aku hilang. Tolong kirim nomor kontakmu) Kayesa mengirim pesan.
Semenit, dua menit belum juga dibaca Maeka. Kayesa menunggu dengan gelisah, hingga sepuluh menit.
(Bagaimana bisa hilang nyonya?) Tanya Maeka membalas pesan Kayesa, serta menyertakan nomor ponselnya.
Setelah mendapat dan mencatat nomor ponsel Maeka. Kayesa melakukan video call lewat masegger, yang sebelumnya, dia sudah minta ijin pada Zafran dan Zafran mengijinkannya.
(Bunda! Kapan bunda pulang. Kiano sudah kangen bunda?) Terlontar pertanyaan Kiano begitu mendapati wajah Kayesa di balik layar ponsel.
Mendapat pertanyaan Kiano, spontan Kayesa menoleh ke arah Zafran, seakan dia meminta Zafran memberikan jawaban atas pertanyaan putranya.
"Besok bunda dan ayah pulang." Zafran yang mengerti tatapan Kayesa, segera menyambar ponsel dan memberi jawaban pada putranya. Zafran yang semula ingin berlama-lama bersama Kayesa, malah tidak tega menunda-nunda, saat melihat wajah polos Kiano.
Setelah menjawab pertanyaan Kiano, Zafran kembali menyerahkan ponselnya ke Kayesa, sambil mencuri dengar, Zafran membiarkan Kayesa bicara leluasa pada Kiano. Seketika wajah Kayesa berubah ceria.
"Terima kasih. Tuan!" Kayesa menyerahkan ponsel Zafran. Setelah menelepon beberapa menit, sebenarnya masih ingin berlama-lama, tapi di enak dengan Zafran.
Kini hati Kayesa merasa sangat senang, karena dia sudah bisa menghubungi Kiano dan Maeka. Paling tidak rindu pada putranya itu sudah terobati, dan Maeka juga tidak mengkhawatirkannya lagi.
Zafran yang diam-diam memperhatikan Kayesa, merasa bersalah, karena telah membuat wanita itu bersusah hati. Perbuatan Zafran di masa lalu saja belum tentu termaafkan oleh Kayesa. Sekarang dia membuat kesalahan lagi. Jika Kayesa tahu semua ini, pasti Kayesa akan membencinya berkali lipat.
"Esa! Kamu lapar nggak?" Tanya Zafran mengalihkan pikiran Kayesa, Kayesa hanya mengangguk.
Tadi pas sampai di klinik Zean, Zafran melihat, kalau disebelah kiri klinik ini ada resto. Zafran bermaksud mengajak Kayesa ke sana, dengan lugas dia beranjak dari duduknya.
Mata Kayesa membola, saat melihat Zafran berdiri dari sofa. Zafran yang nenyadari, kalau Kayesa memperhatikannya, spontan berpura-pura memegang pinggangnya menekan seperti gerakan memijat.
"Kalau masih sakit, pakai kursi roda saja," ujar Kayesa meraih gagang kursi rosa dan mendorong ke arah Zafran.
"Singkirkan kursi roda itu. Aku udah bisa jalan kok," ujar Zafran seraya melangkah dengan pelan, supaya tidak ketara kalau selama ini dia telah membohongi Kayesa.
__ADS_1
"Serius! Tuan sudah baikan?"
Mata Kayesa menilik Zafran dari ujung kepala hingga ke kaki. Zafran bisa berdiri gagah dan tegap, tak ada tanda-tanda kalau dia sedang bermasalah. Tentu saja, karena memang dia hanya berpura-pura.
"Ayok!" Zafran tak memperdulikan mimik Kayesa yang masih tak mempercayainya. zafran meraih tangan Kayesa dan mengajaknya ke luar paviliun.
Kayesa belum habis pikir, tadi Zafran masih duduk di kursi roda dan didorong oleh dokter santi. Dan sekarang malah sudah bisa melangkah seperti biasa.
Ah... Kayesa menepis semua pikiran jelek di kepalanya, dia mengiri langkah Zafran, yang penting baginya sekarang, Zafran sehat dan besok dia kembali ke Jakarta.
Masih menggandeng tangan Kayesa, Zafran memasuki resto, lalu menuju meja di sudut sebelah kanan. Zafran menarik sebuah kursi dan meminta Kayesa duduk, lalu dia pun duduk di samping kiri Kayesa.
Seorang pramusaji mendekat dan meyodorkan daftar menu. Kayesa dan Zafran memesan menu makan siangnya. Selama menunggu pesanan, seorang rekanan bisnis Zafran menelepon, Zafran beranjak menjauh dari Kayesa, dan menerima telepon.
Setelah mengakhiri sambungan telepon dengan rekan bisnisnya. Zafran menelepon Budi dan bicara sangat serius dan kembali ke meja setelah teleponnya berakhir. Zafran mendudukkan bokongnya di posisi awal.
"Apa Alena yang menelepon Tuan?" Tanya Kayesa menatap intens ke arah Zafran.
"Kenapa? Apa kamu cemburu sama Alena?" Zafran malah balik bertanya sambil berbisik.
Wajah Kayesa seketika memerah seperti kepiting rebus. Godaan Zafran langsung mengena di hatinya. Tiba-tiba saja debar jantung Kayesa berdetak dua kali lipat dari biasanya. Ah... Benarkah dia cemburu?
"Bodohnya aku. Kenapa juga bertanya begitu sama dia," batin Kayesa menyesali ucapannya.
Melihat perubahan wajah Kayesa, membuat Zafran tersenyum. Entah kenapa dia sangat menyukai wajah Kayesa, jika sedang tersipu begitu. Wajah polos Kayesa terlihat semakin manis, membuat Zafran tak bosan memandangnya.
Rasa gugup di hati Kayesa, semakin menjadi, kala dia menoleh kearah Zafran dan Zafran sedang menatapnya, berpadu pandang membuat Kayesa makin tersipu dan membuang pandangan ke tempat lain. Untungnya pramusaji datang mengantar hidangan, hingga Kayesa menjadi terselamatkan.
Zafran berinisiatif mengambil piring, lalu memasukkan dua sendok nasi dan meletakkan di depan Kayesa. Tiba-tiba saja dia ingin melayani wanita itu dengan baik.
"Kamu harus makan yang banyak," ujar Zafran seraya memasukkan paha ayam masak bumbu ke piring Kayesa.
Kayesa melakukan hal yang sama, dia mengambil piring dan memasukkan dua sendok nasi dan sepotong ayam goreng ke dalam piring dan meletakkannya di depan Zafran.
"Tuan juga harus makan yang banyak," ujar Kayesa seraya meletakkan piring di depan Zafran. Tentu saja Zafran tercengang, dia tak menyangka kalau Kayesa akan melakukan hal sama.
"Okay! Kita lomba ya. Siapa yang kalah menghabiskan nasi dan potongan ayamnya. Maka dia yang bayar tiket pesawat besok," ujar Zafran.
"Okay! Siapa takut," ujar Kayesa menantang
__ADS_1