Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Bertemu Malika


__ADS_3

Part 55


"Apa itu?" Kayesa balik bertanya.


Malika menarik nafas panjang, dia meraih gelas air putih, menenggak dua tugukan. Lalu mengambil sendok dan menyuap nasi goreng kemulut.


"Berita apa? Jangan bikin aku penasaran." Kayesa menyentuh lengan Malika yang seperti sengaja mempermainkannya.


"Janji! Kamu tidak sedih ya," ujar Malika menatap intens ke arah Kayesa.


"Sedih? Sedih untuk apa?" Kayesa semakin penasaran.


"Kamu benaran tidak tahu?" Malika balik bertanya. Rasanya mustahil kalau Kayesa melewatkan berita seheboh itu, karena Malika belum tahu kalau Kayesa sudah tinggal jauh dari Jakarta.


Mendengar Malika malah bertanya, sponta Kayesa hanya menggelengkan kepala, karena dia memang benar-benar tak tahu maksud Malika.


Sejurus Malika menatap wajah Kayesa. Entah kenapa ada rasa tak tega bergelayut di hati Malika untuk mengatakan berita pernikahan Zafran dan Alena. Malika merasa kalau Kayesa menyimpan sesuatu rasa pada Zafran. Tak tahu rasa apa, tapi setiap kebersamaan Kayesa dan Zafran, Malika selalu memperhatikan rona bahagia di wajah temannya itu.


"Malika! Katakan padaku. Ada apa?"


"Tuan Zafran dan Alena sudah menikah." jawan Malika dengan suara lirih.


"Hah!" Mata Kayesa membola, hampir saja sendok ditangan terlempar saking kagetnya.


Ucapan Malika, bagaikan petir di siang bolong. Mata Kayesa membola seakan tak percaya dengan ucapan Malika. Karena setahu Kayesa, Zafran tak menyukai Alena, ada saja alasan Zafran untuk menolak Alena. Kayesa kira Zafran benaran tak menyukai gadis centil itu, ternyata Zafran hanya akting.


"Kamu serius. Tak lagi bercandakan?" tanya Kayesa lagi.


Malika mengangguk pelan.


"Tuan Zafran benaran sudah menikah?" Tanya Kayesa untuk yang kesekian kalinya, untuk memperkuat pernyataan Malika. Dia takut kalau salah dengar. Namun, anggukan Malika mampu membuat roman wajah Kayesa mengeruh.


"Benaran! Kamu tidak sedang lagi cemburukan. Esa?" Tanya Malika menatap intens wajah Kayesa yang berubah tegang. Ada bias penyesalan di wajah Malika, seharusnya tadi dia tidak mengatakan berita itu pada Kayesa.


Cemburu! Lama Kayesa menetralkan detak jantung yang tiba-tiba berdebar anah. Benarkah dia cemburu? Entahlah! Yang jelas ada rasa nyeri yang tak dimengerti Kayesa.


"Ya nggaklah. Ngapain aku cemburu. Kamu ada-ada saja," ujar Kayesa tertawa sumbang, menutupi kegalauannya.

__ADS_1


Entah kenapa mendengar berita ini, menghadirkan sesuatu yang sulit di terjemahkan di dadanya. Apa mungkin, karena Kayesa teringat Kiano putranya, untung saja, Kayesa cepat membawa Kiano menjauh dari Zafran. Jika tidak mungkin Kiano akan hancur, karena Zafran sudah memiliki keluarga baru dan melupakannya.


"Secarakan. Kamu dan tuan Zafra sangat dekat," ungkap Malika, tak bisa dipungkiri, satu kantor tahu, kalau Kayesa merupakan satu-satunya karyawan yang bebas keluar masuk ruang kerja Zafran, selain itu, Zafran selalu meminta Kayesa menemaninya kalau lagi meting.


"Hanya sebatas atasan dan bawahan," ujar Kayesa menanggapi ucapa Malika. Karena sejauh dia bersama Zafran, tidak ada yang istimewa terjadi, hanya biasa saja, makan, jalan bareng, itupun bersama Kiano.


"Cara tuan Zafran memandangmu dan memandang Alena. Sangat berbeda," Malika kembali berspekulasi.


"Ah. Kamu kayak sudah jadi peramal saja," kayesa menepis ucapan Malika seraya kembali terkekeh.


Tidak ayal ucapan Malika mengusik kalbunya, Kayesa mengingat-ingat kembali. Sorot mata Zafran yang menatapnya, memang berbeda dengan Zafran menatap wanita lain. Tapi Kayesa tidak berani mengambil kesimpulan apapun tentang tatapan itu. Karena dia sadar diri, kalau Zafran tidak mungkin jatuh cinta pada wanita seperti dia. Tidak berkelas dan janda beranak satu.


"Apa benar tuan Zafran menyukaiku," batin Kayesa mulai terusik.


"Tidak mungkin," secepatnya Kayesa menepis khayalan itu.


"Hay! Ketahuan lagi mikirin tuan Zafran." Malika meledek Kayesa, spontan Kayesa kaget, dengan reflek Kayesa mengetuk kepala Malika.


"Mana berani aku mikirin tuan Zafran," ujar Kayesa menutupi kebohongannya.


"Kenapa takut diulek Alena, hahaha." Malika tertawa dahsyat. Kayesa pun ikut tertawa. Kalau cuman Alena, Kayesa gampang mengatasinya.


"Ah, kamu sok tahu."


"Aku serius. Esa! Ku rasa tusn Zafran mencintaimu," bisik Malika.


Deg... Jantung Kayesa berdetak kencang, dua kali lipat dari biasanya, saat mendengar ucapan Malika. Kayesa menghela nafas panjang, lalu menelan salivanya dengan kasar.


"Itu tidak mungkin. Pasti penilaian kamu salah."


"Esa! Jika penilaian aku salah, untuk apa selama ini, dia selalu melindungimu dari serangan-serangan Alena. Cobalah kamu berpikir jernih." Malika menyentuh kedua bahu Kayesa.


"Jika benar Zafran mencintaiku, kenapa dia menikahi Alena. Itu bukti kalau ucapanmu hanya omong kosong. Malika!" tanya Kayesa dengan tersenyum tipis


"Tusn Zafran menikahi Alena dibawah ancaman nyonya Asaka. Mamanya," ujar Malika berbisik, menbuat Kayesa terkesima.


"Dari mana kamu dapat kabar burung itu, heh!" Kayesa tertawa lagi, karena dia menganggap Malika hanya membual.

__ADS_1


"Dari..."


"Seet. Sudah! Jangan menggosip lagi. Ntar di dengar sama dinding. Bahaya," ucap Kayesa, kini tertawa semakin jelas, dia tidak ingin mendengar ocehan Malika yang membuat hatinya melambung. Dan kemudian jatuh terhempas


Kayesa dan Malika mengakhiri gosipnya. Kini mereka menikmati menu sarapan, setelah selesai sarapan. Malika kembali ke ruang acara dan Kayesa kembali ke kamarnya.


Sepeninggalan Malika, tidak bisa dipungkiri, Kayesa mencerna satu persatu ucapan Malika, tentang kebersamaannya, tentang Zafran yang selalu melindunginya dari amukan Alena. tentang semua kenangannya.


"Benarkah tuan Zafran menikahi Alena, karena dipaksa nyonya Asaka," batin Kayesa, dia jadi kepikiran dengan laki-laki yang pernah jadi bosnya itu.


Dari awal mengenal Zafran, Kayesa punya penilain sendiri terhadap laki-laki itu. Menurur Kayesa Zafran punya dua sisi kehidupan yang susah ditebak, kadang dia baik, sangat baik malah. Namun, Zafran juga suka menjengkelkan.


"Ya Tuhan. Kenapa aku jadi memikir Zafran? Kenapa ada perih di hati ini, kala mendengar dia menikah dengan Alena? Apa benar kata Malika aku cemburu?" Kayesa membrondong dirinya sendiri dengan pertanyaan.


Kayesa menggati baju dengan piyama kembali. Tadi waktu sarapan dia menukar piyamanya dengan dres, karena tidak ingin dresnya terlihat kusut, maka Kayesa membuka dres dan mengganti dengan baju tidur.


Masih banyak waktu Kayesa berada di hotel ini. Sekarang saja baru pukul sembilan, masih ada waktu tiga jam lagi. Sambil menghilangkan rasa suntuknya. Iseng-iseng Kayesa berselancar masuk ke dunia maya, susah lama dia tidak pernah mengunjungi Facebooknya.


Kala Kayesa login, matanya terbelalak, saat melihat status Shaga satu hari yang lalui menandainya. Di dalam status itu tertera fotonya, dengan bunyi status, tentang dia yang hilang dan sedang dicari keluarga. Jika melihat dan bertemu bisa menghubungi nomor tertera.


"Pasti ini nomor telepon Shaga. Apa maksudnya membuat pengumuman ini? Apa dia disuruh Zafran? Tapi untuk apa, bukannya Zafran sudah menikah?" Bermunculan beberapa pertanyaan lagi di benak Kayesa.


Sejurus Kayesa mengingat Shaga, laki-laki yang masih dicintai. Namun, tak bisa dimilikinya itu. Kini wajahnya membayang jelas, Shaga yang kemaren mengutarakan kembali isi hati. Namun, Kayesa menolaknya.


Sekali lagi Kayesa menatap beranda facebooknya, dia menyembunyikan dari profil status Shaga yang menandainya. Hati Kayesa jadi bimbang dengan ucapan Shaga satu bulan lalu, kalau dia masih mencintainya, kenapa Shaga membohongi publik dengan menshare pengumuman tentang kehilangan ini.


"Pasti ini ada hubungannya dengan uang dan kedudukan. Pasti Shaga berkerjasama dengan Zafran. Aku harus berhati-hati," batin Kayesa.


Dreet... Dreet... Dreet. Suara getar ponsel menyadarkan Kayesa dari lamunan, Sejenak Kayesa menatap layar ponsel yang menyala, di sana tertulis oma Mayumi yang menanggilnya.


"Hallo Oma," sapa Kayesa setelah mengucap salam.


"Pukul sebelas tiga puluh kamu dijemput oleh asisten Oma."


"Bukannya habis tengah hari, kata Oma tadi pagi," Kayesa mencoba mengingatkan.


"Habis tengah hari jadwal penerbangannya," ujar Mayumi lagi.

__ADS_1


"Penerbangan? Maksudnya Oma?"


__ADS_2