Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Mengusir Alena


__ADS_3

Part 82


"Kenapa?" Kayesa meraih tubuh Kiano yang memaksa turun dari gendongan Rizwan. Kayesa tertawa terbahak-bahak, diiringi dengan yang lain.


Begitu terlepas dari gendongan Rizwan, Kiano memeluk erat tubuh Kayesa. Semua tertawa melihat kelakuan Kiano yang tampak ketakutan. Ratih mendekati Kiano sambil membawa Dea putrinya.


"Hallo abang Kia! Kenalan yuk! Sama adik Dea," ujar Ratih menyapanya ramah.


Melihat Dea kecil tersenyum padanya. Kiano pun mau turun dari gendongan Kayesa, Ratih dan Maeka membawa Kiano masuk, sementara Rizwan membawa barang bawaan Maeka ke kamar.


"Nyonya! Tuan Rayzad ingin bertemu nyonya." Tono menemui Kayesa yang sudah masuk ke ruang tengah.


"Rayzad? Bagaimana bisa Rayzad tahu saya di sini?" Tanya Kayesa menatap curiga ke arah Tono.


"Apa kamu mengenal tuan Rayzad?" Tanya Kayesa lagi.


Tatapan Kayesa yang mencurigai Tono, membuat Tono mengarang cerita, karena Rayzad sudah berkali-kali mengingatkan Tono, jangan sampai Kayesa tahu, kalau selama ini dia dan Tono ada kerjasama dalam mengawasi Keyesa dan putranya. Tono hanya mengangkat bahunya dan mengatakan kalau dia sama sekali tak mengenal Rayzad.


"Dari mana Abang tahu kalau itu tuan Rayzad?"


"Tadi laki-laki itu bilang padaku. Kalau dia mau ketemu nyonya. Katanya bilang saja tuan Rayzad yang mau ketemu. Gitu." Jelas Tono panjang lebar.


"Dari mana tuan Rayzad tahu, aku ada di sini?" gumam Kayesa.


"Mungkin dia sudah melihat Nyonya dari tadi," Tono menjawab pertanyaan Kayesa, walaupun pertanyaan itu, tidak ditujukan padanya.


Setelah mendengar penjelasan Tono, Kayesa menyeret langkah kaki menuju teras rumah, di sana seorang laki-laki dengan posisi membelakangi sedang berdiri menatapi bunga-bunga yang sedang bermekaran.


"Tuan! Ada apa Tuan mencariku?"


Rayzad memutar tubuhnya, lalu menatap intens ke arah Kayesa, dia maju beberapa langkah.


"Nyonya! Ikut saya sekarang," tanpa basa basi, dan ramah tamah, Rayzad meraih tangan Kayesa dan menariknya menuju ke mobil.


"Lepaskan! Apa-apaan ini, Tuan tak berhak memaksa aku," ujar Kayesa seraya menarik dan menghempas tangannya dengan kasar hingga terlepas.


Kayesa mendengus kesal, matanya menatap tajam pada Rayzad yang memperlakukannya semena-mena. Spontan Kayesa memutar tubuhnya, ingin melangkah masuk. Namun tangan Rayzad kembali meraih dan mencekal pergelangannya.


"Nyonya! Aku mohon ikutlah bersamaku. Tuan Zafran ingin bertemu Nyonya," ujar Rayzad lagi, memaksa Kayesa.


Kayesa menghentikan langkahnya, lalu memandang tajam ke arah Rayzad, dengan geram Kayesa berucap, kalau dia tidak mau ikut Rayzad, apa lagi harus bertemu laki-laki itu. Rayzad tidak memperdulikan keberatan Kayesa, dengan kedua tangannya, dia menarik Kayesa, membuka pintu mobil dan mendorong Kayesa masuk.

__ADS_1


Kayesa yang sudah berada di dalam mobil, berteriak meminta tolong sambil menggedor-gedor kaca mobil, sayangnya suara Kayesa hanya terdengar di dalam mobil, hingga tak ada satu orang pun menolongnya.


Setelah memastikan Kayesa sudah terkunci di mobil. Rayzad pun membawa mobilnya meluncur meninggalkan rumah Rizwan, tanpa pamit. Dia membawa dan menculik Kayesa.


"Berhenti. Aku ingin keluar dari sini," teriak Kayesa seraya memukul-mukul bahu Rayzad.


"Nyonya! Kalau ingin kita berdua selamat. Biarkan aku menyetir dengan tenang," ujar Rayzad dengan nada suara tinggi.


"Aku tak perduli, aku hanya ingin keluar dari mobil ini. Aku tidak mau ketemu laki-laki jahat itu," ujar Kayesa.


Rayzad menepikan mobil dan menghentikannya, lalu meraih kedua tangan Kayesa yang masih berusaha memukulinya. Dan menatap tajam ke wajah Kayesa yang terlihat marah.


"Dengar Nyonya! Tuan Zafran hampir kehilangan nyawanya, karena mencari Nyonya." ucapan Rayzad penuh penekanan.


Ucapan Rayzad seketika menghentikan gerakan tangan Kayesa. Kayesa menarik tangannya perlajan, Namun dia tidak berniat bertanya, karena menurutnya Rayzad berkata begitu, hanya ingin mengalihkan permasalahan.


"Tuan! Aku mohon biarkan aku pergi dari sini. Aku tidak mau bertemu dengan tuan Zafran lagi. Aku tidak mau dianggap pengganggu rumah tangga tuan Zafran," ujar Kayesa dengan mata berkaca-kaca, lalu terisak.


Luka hati Kayesa kembali terkoyak, kala mengingat story di whatsapp Zafran beberapa hari lalu. Kayesa sudah berusaha mati-matian untuk melupakan semua yang telah dilakukan Zafran padanya. Tapi kenapa hari ini Rayzad kembali mengingatkannya tentang laki-laki itu.


"Nyonya! Maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhi permintaan nyonya kali ini. Tuan Zafran kecelakaan saat mencari nyonya dan sekarang dia dirawat di rumah sakit."


"Aku tak perduli. Dia mau kecelakaan, dia mau dirawat, atau mati sekalipun, aku sudah tak perduli," maki Kayesa penuh emosi.


"Coba nyonya lihat, tuan Zafran seperti ini gara-gara nyonya meninggalkannya," ujar Rayzad, seraya menyodorkan layar ponselnya, memperlihatkan wajah Zafran yang berlumuran darah, kala Zafran ditemukan Rayzad di jalan.


Mata Kayesa membola, dia menatap satu persatu foto wajah Zafran yang berlumuran darah, kala mengalami kecelakaan itu. Dan Rayzad juga menunjukkan keadaan Zafran yang sedang koma di rumah sakit.


"Jika terjadi sesuatu dengan tuan Zafran. Nyonya yang harus bertanggung jawab."


"Aku? Kenapa harus aku?" Mata Kayesa menatap tajam ke arah Rayzad, dia tidak terima, kalau dia yang harus bertanggung jawab dengan kejadian yang menimpa Zafran.


"Iya! Karena nyonya yang menyebabkan tuan Zafran kecelakaan," ujar Rayzad lagi terus saja menekan Kayesa.


Kayesa diam, karena dia tahu Rayzad dan Zafran mempunyai karakter yang sama, percuma diajak berdebat, Rayzad tidak akan pernah mengalah.


"Sekarang pilihan ada di nyonya. Nyonya menemui tuan Zafran berarti bebas dari tanggung jawab atau nyonya turun di sini, dan jika terjadi apa-apa dengan tuan Zafran. Maka nyonya siap diadili," ujar Rayzad memberi pilihan.


Sejenak Kayesa menarik nafas panjang, dua pilihat yang sama-sama sulit, di satu sisi, Kayesa sebenarnya ingin sekali bertemu Zafran dan melihat keadaannya, tapi sisi lain, Kayesa ingin pergi dan melupakan Zafran selamanya. Dia ingin menyingkir dari hidup Zafran.


"Bagaimana Nyonya?" Tanya Rayzad lagi, membuyarkan lamunan Kayesa.

__ADS_1


"Baiklah, aku bersedia menemui tuan Zafran," ujar Kayesa akhirnya mengalah.


Tarikan nafas panjang dari Rayzad memandakan dia merasa lega. Rayzad lalu menghidupkan mobil, menekan pedal gas dan kembali meluncur membelah jalan raya.


Sepanjang perjalanan, Kayesa diam seribu bahasa, tak ada obrolan sedikitpun, mata Kayesa hanya menatap lurus ke jalan raya memperhatikan lalu lalang kendaraaan. Sementara Rayzad sesekali melirik Kayesa dari balik kaca spion depan.


Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dibawa Rayzad memasuki area parkir rumah sakit. Setelah memarkir mobil. Rayzad turun lalu membuka pintu untuk Kayesa. Rayzad meraih tangan Kayesa dan menggandengnya masuk dan menyusuri koridor rumah sakit. Dia tidak mau Kayesa pergi dan kabur lagi.


Begitu sampai di depan pintu ruang rawat Zafran, Kayesa menghentikan langkahnya, di dekat Zafran. Ada dua wanita sedang duduk di tepi ranjang pesakitan itu. Kayesa membalikkan tubuh, lalu menarik tangannya dari genggaman Rayzad, siap-siap mengambil langkah seribu untuk pergi dari tempat itu.


"Pergi dari sini! Jangan pernah ganggu aku lagi!" terdengar teriakan Zafran mengusir Alena.


Teriakan Zafran menghentikan langkah Kayesa, dia kembali ke posisi awal, menatap tak percaya dengan apa yang didengarnya. Zafran mengusir Alena dengan suara lantang dan marah.


"Zafran! Dia ini istrimu. Nak! Coba kamu ingat-ingat" Terdengar sahutan dari Akasa menjelaskan.


"Istri? Jika benar dia istriku, kutalak dia hari ini, kita cerai," ucap Zafran, kembali suara lantang Zafran membahana, seraya memegang kepala dengan kedua tangannya.


"Tidak! Aku tidak mau bercerai darimu. Abang tidak boleh menceraikan ku," Alena menangis seraya memeluk tuhuh Zafran.


"Abang! Aku ini istri Abang," ujar Alena dalam isak tangisnya.


"Auuu... Sakit!" Zafran menolak tubuh Alena hingga Alena terjerembab ke lantai.


Zafran lalu mengambil bantal dan melempar ke arah Alena. Sebenarnya saat melihat Alena terjerembab, Zafran ingin tertawa ngakak.


"Aku benci kamu! Aku tak mau melihatmu lagi! Kamu wanita jahat," maki Zafran sambil menudingkan telunjuknya kearah Alena.


Seorang suster berlari ke arah Zafran, buat menenangkannya. Zafran mengambil apa saja yang bisa digapainya, lalu melemparkan ke arah Alena dan Asaka.


"Jika nyonya tidak mau putra nyonya gila dan hilang ingatan permanen. Bawa wanita ini menjauh dari tuan Zafran,"bisik dokter Niko yang baru datang setelah mendapat laporan dari salah satu suster.


Tertegun sejenak. Pandangan Asaka menatap ke arah tempat tidur yang sudah berantakan, karena Zafran mengamuk, dan dua orang perawat laki-laki sedang berusaha menenangkannya.


"Apa lagi yang Nyonya tunggu. Jika Nyonya membiarkan Wanita ini tetap di sini, itu artinya Nyonya sudah siap, kalau Zafran tidak akan mengingat Nyonya sebagai mamanya," ujar dokter Niko lagi.


Spontan Asaka meraih tangan Alena dan menariknya ke luar, walaupun Alena memberontak tidak ingin meninggalkan tempat itu. Saat kedua wanita itu keluar dari ruang rawat Zafran, Kayesa memalingkan tubuhnya ke arah lain, hanya punggungnya yang mengarah ke Alena dan Asaka.


Sementara Asaka yang tidak memperhatikan disekitarnya, tidak menyadari kedatangan Kayesa. Asaka terus memaksa Alena menjauh dan sebelum dia keluar dari ruang bangsal rawat inap sempat berpesan pada perawat penjaga, agar tidak mengijinkan Alena masuk ke ruang putranya.


Dari kejauhan Kayesa menatapi aktifitas dua wanita yang saling tarik menarik, hingga menghilang di tikungan koridor rumah sakit. Kayesa kembali memutar tubuhnya dan maju dua langkah, kini posisinya berada di depan pintu ruang rawat Zafran.

__ADS_1


"Temui tuan Zafran sekarang," titah Rayzad.


__ADS_2