
Part 62
"Auuu." Kayesa terbangun dari tidurnya, kala merasa ada sesuatu beban, tiba-tiba menindih lututnya yang terluka.
"Aduhhhh." tanpa sadar Kayesa terpekik.
"Esa! Ada apa?"
Zafran terbangun dari tidurnya, kala mendengar suara jeritan Kayesa. Kayesa menunjuk kaki Zafran yang melingkar di atas kakinya. Spontan Zafran mengangkat dan menjauhkan kakinya.
"Ma-maaf," ujar Zafran menyadari kesalahannya. Bagaimana bisa kakinya sudah berada di atas kaki Kayesa.
Perlahan Zafran menyingkap selimut, ada bercak darah kering menempel di kain kasa dan perban. Seketika kejadian tadi malam membayang dibenak Zafran.
"Kasian Kayesa, tadi malam bukan kakinya saja ku sakiti, tapi perasaannya juga," batin Zafran seraya memeriksa luka di lutut Kayesa, kain kasa dan perban sebagai pembalut lukanya hampir terlepas, dengan hati-hati Zafran menarik kain pembungkus itu. Begitu pembalutnya terbuka, disekitar luka membengkak, berair dan memerah.
"Ya Tuhan. Ini pasti karena ku tindih tadi malam," batin Zafran menatap Kayesa dengan rasa bersalah yang berlipat-lipat.
"Sakit ya?" pertanyaan konyol apa yang Zafran lontarkan, dah jelas tadi Kayesa meringis kesakitan.
"Kita kedokter ya. Takutnya lukamu infeksi," ujar Zafran, dia meraih tangan Kayesa dan membantunya bangun dari tidur.
kedua tangan Kayesa memegang erat selimut untuk menutupi dadanya, yang terekspos karena perbuatan Zafran tadi malam. Zafran yang menyadari kalau baju Kayesa belum diganti, bergegas mengambil handuk dan menutupi bagian tubuh atas Kayesa. Saat Zafran ingin membantu Kayesa turun dari ranjang.
"Aku bisa sendiri," ujar Kayesa seraya menepis tangan Zafran ingin meraih tanganya.
Baru saja Kayesa menjejakkan kaki kanannya ke lantai, terasa nyeri mendera lututnya, lebih sakit dari semalam, mungkin karena infeksi. Dengan tertatih Kayesa berusaha berjalan menjangkau handle pintu kamar mandi.
Zafran hanya menatap punggung Kayesa yang hilang di balik pintu. Di dalam kamar mandi, Kayesa bersandar di dinding tepat di bawah shower. Tanpa membuka baju yang masih menutup separoh tubuhnya, Kayesa menghidupkan shower dan membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya beberapa lama, tanpa sengaja mata Kayesa melihat dirinya dari pantulan cermin.
Mata Kayesa membola saat melihat ada dua tanda kepemilikan Zafran membekas dilehernya. Seketika peristiwa lima tahun, yang merenggut masa depannya terbayang jelas di mata Kayesa. Tiba-tiba tubuh Kayesa lemas dan luruh di lantai keramik. Dia menangis tersedu di bawah percikan air.
Zafran menatap layar ponselnya, sudah tiga puluh menit Kayesa di kamar mandi, belum juga keluar. Zafran mulai khawatir.
"Esa! Kamu baik-baik sajakan?" Zafran menggedor pintu kamar mandi seraya memanggilnya.
Semenit, lima menit, bahkan sepuluh menit tidak ada sahutan. Zafran mulai panik, dia meraih ponselnya dan menelepon Tatia. Seperlima menit kemudian Tatia datang dengan membawa kunci cadangan.
"Ini Tuan." Tatia menyerahkan anak kunci ke Zafran.
__ADS_1
Begitu mendapat anak kunci, Zafran bergegas membuka pintu kamar mandi dan menguakkan selebarnya.
"Astagfirullah. Esa!" Zafran bergegas mengangkat tubuh Kayesa yang di dapatinya sedang tertunduk lemas tak berdaya.
Setelah menangkat tubuh Kayesa ke tempat tidur, Zafran meminta Tatia mengganti baju Kayesa dengan baju yang kering. Saat Tatia mengganti baju Kayesa, Zafran menelepon seorang teman lamanya, yang berprofesi sebagai dokter .
Selesai menelepon dokter, Zafran mengecek pesan whatsapp yang masuk, karena dari tadi malam, baru pagi ini dia menyentuh ponselnya.
(Abang! Aku ada urusan. Pagi ini harus pulang ke Jakarta) pesan whatsapp dari Alena yang dikirim pukul lima subuh.
"Syukulah kalau Alena sudah sembuh," batin Zafran karena waktu ditinggalkannya tadi malam, Alena masih dalam keadaan diare hebat.
Zafran melirik jam di layar ponselnya, menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit.
(Kamu pulang saja duluan ke Jakarta, abang masih ada urusan) Zafran membalas pesan whatsaap dari Alena. Centang satu, itu artinya whatsapp Alena tidak aktif.
"Tumben whatsappnya tidak aktif," batin Zafran.
Setelah membaca pesan whatsapp Alena. Zafran merasa lega, dia tidak perlu khawatir dengan keadaan Alena. Zafran memasukkan kembali ponsel ke saku celananya, lalu duduk di samping Kayesa. Kala melihat Zafran duduk di samping Kayesa, Tatia pun pamit keluar.
"Esa! Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Zafran pada Kayesa yang hanya diam menatap kosong langit-langit kamar.
Kayesa tersentak kaget, kala mendengar Zafran menyebut Kiano. Tiba-tiba semangat beramunisi ganda.
"Aku harus pulang sekarang," ujar Kayesa sambil bangkit dan turun dari tempat tidur. Namun, tiba-tiba tubuh Kayesa limbung, dan luruh ke karpet.
"Esa!" Zafran kaget, spontan dia mengangkat tubuh Kayesa. Dan mendudukkan bokongnya di tempat tidur. Pada saat kulit Zafran bersentuhan dengan Kayesa, terasa hangat.
"Kamu demam. Sa!" Zafran melatakkan punggung tangan di dahi Kayesa.
"Lepaskan Aku, aku mau pulang." Kayesa menepis tangan Zafran dan berusaha turun lagi dari tempat tidur. Namun, ditahan Zafran.
"Iya! Kita akan pulang hari ini. Kamu tenang ya," ujar Zafran menyentuh lembut pipi Kayesa, lalu mendekapnya erat. Kayesa malah menangis di dalam pelukan Zafran.
Dokter Ni Luh Ayu datang bersama dengan Tatia. Tatia menyilakan Ni Luh Ayu masuk ke kamar Kayesa, lalu pamit keluar dan kembali lagi dengan membawa sebuah nampan yang berisi tiga gelas teh hangat. Tatia meletakkan nampan itu di atas nakas.
"Dok! Tolong periksa luka di lutut. Esa," Zafran menguraikan pelukannya dan memperlihatkan luka di lutut Kayesa.
Ni Luh Ayu mendudukkan bokongnya di samping Kayesa, lalu mengecek luka yang memerah.
__ADS_1
"Ini tidak apa-apa, yang membuat luka ini membengkak dan merah, karena ada gesekan keras." Dokter Ni Luh Ayu menekan-nekan kulit di sisi luar luka.
"Apa lutut nona ada terbentur, hingga mengenai lukanya?" Tanya Ni Luh Ayu.
"Iya. Dok! Tanpa sengaja tertindih kaki saya tadi malam." Zafran yang menjawab pertanyaan dokter.
"Oh pantas. Makanya luka sedikit membengkak dan merah, ini yang menyebabkan nona demam, karena lukanya infeksi," ujar dokter Ni Luh Ayu menjelaskan.
"Dek! Bisa saya minta air hangat kuku," ujar Ni luh Ayu kepada Tatia.
"Bisa. Dok!" Tatia beranjak keluar dan kembali lagi dengan semangkok air hangat kuku dan sebuah handuk kecil.
"Biar saya bantu. Dok," ujar Tatia, dulu sebelum bekarja di hotel Tatia pernah menjadi asisten seorang dokter. Karena dokternya pindah dinas, Tatia terpaksa mencari pekarjaan lain dan dia diterima di hotel ini.
"Boleh! Pastikan dulu air kompresnya tidak terlalu panas," ujar dokter Ni Luh Ayu.
"Siap." Tatia dengan piawai melakukannya, membasahi sedikit handuk, lalu menekan pelan pada sisi luka. Sementara itu Ni Luh Aya mengecek suhu tubuh dan tensi Kayesa.
Setelah selesai memeriksa Kayesa, membersikan luka, memberi obat dan mengganti perbannya. Ni Luh Ayu menuliskan resep dan menyerahkan pada Zafran untuk ditebus di apotek. Pada saat mau pulang, Ni Luh Ayu memberi isyarat pada Zafran kalau dia ingin bicara serius berdua saja dengan Zafran.
"Tatia! Aku titip Esa sebentar. Mau antar dokter keluar."
"Baik. Tuan!"
Dokter Ni Lih Ayu dan Zafran berjalan beriringan keluar kamar dan menyusuri koridor hatel.
"Siapa wanita tadi. Apa di calon istrimu?" Tanya Ni Luh Ayu.
"Kenapa kamu bertanya begitu. Apa dia tidak cocok untukku?"
Zafran tidak menjawab pertanyaan Ni Luh Ayu. Dia malah balik bertanya.
"Bukan! Cocok kok, dia cantik. Hanya..." Ni Luh Ayu menggantung ucapannya.
"Hanya apa. Yu?" Zafran menahan langka Dokter perempuan itu. Dia pun ikut menghentikan langkahnya menunggu jawaban dari Ni Luh Ayu.
Dokter cantik itu menarik nafas panjang, lalu menatap wajah Zafran intens, dia ingin melihat keseriusan Zafran dari sinar matanya.
"Wanitu itu memiliki trauma masa lalu," jawab Ni Luh Ayu.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"