
Part 61
Kayesa menatap tangan Zafran yang mengompres sekitar lukanya. Setelah memastikan luka di lutut Kayesa sudah bersih. Zafran menyiramkan rivanol ke luka itu, lalu mengoleskan obat merah dan menutup dengan kain kasa dan perban.
"Kamu habis dari mana jam segini kelayapan di luar? Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Tanya Zafran, sambil membuka wig di kepala Kayesa.
"Dan ini! Untuk apa kamu memakai wig ini, supaya terlihat lebih cantik? Biar banyak laki-laki yang mau denganmu," Zafran membuang wig itu kelantai.
Tatapan Kayesa menukik ke arah Zafran, dia marah mendengar tuduhan Zafran.
"Tuan tak punya hak mengatur hidupku! aku mau seperti apa! itu pilihanku!" ujar Kayesa ketus.
"Sekarang keluar dari kamarku," Kayesa turun dari tempat tidur dan menarik tangan Zafran.
"Aku tidak akan ke luar dari kamar ini, sebelum kamu menjawab semua pertanyaanku," ucap Zafran, lalu menepis tangan Kayesa yang mencekal lengannya. Lalu dengan kasar Zafran mencekal bahu Kayesa, hingga Kayesa terduduk kembali di tepi ranjang.
Sekali lagi Kayesa menatap Zafran, dia ingin sekali memaki laki-laki yang sekarang berdiri di hadapannya. Tapi untuk apa? Untuk meluahkan kekesalan, karena penghinaan Zafran atau karena Zafran menikah dengan Alena.
Kayesa meraup habis wajah dengan kedua tangannya. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan pelan, berusaha menetralkan kembali emosinya, karena percuma juga dia marah pada Zafran. Laki-laki ego itu tak akan pernah menganggap orang lain benar.
"Apa yang ingin tuan tahu dariku?" Tanya Kayesa dengan suara lirih setelah dia mampu menguasai dirinya.
"Katakan padaku, kenapa kamu berada di sini dan kelayapan tengah malam di luar sana?"
"Aku... Seperti yang tuan tuduhkan, sedang mencari mangsa," jawab Kayesa sambil tertawa sumbang.
"Tuan sudah puaskan. Apa Tuan juga ingin menjadi salah satunya?" Kayesa menatap wajah Zafran yang seketika berubah merah padam.
"Dasar l***r," maki Zafran seraya mengepal lengannya. Entah kenapa Zafran sangat kecewa mendengar jawaban Kayesa.
"Sekarang keluar dari kamarku atau..."
"Atau apa!" Zafran menarik tengkuk Kayesa, mendekatkan wajahnya hingga berjarak cuman satu jengkal, saking dekatnya, hembusan nafas Kayesa saja terasa menyentuh kulit di pipi Zafran.
__ADS_1
Tiba-tiba Zafran merengkuh leher Kayesa, hingga bibirnya menyentuh pipi Zafran.
"Ini yang kamu inginkan?" Bisik Zafran di telinga Kayesa, lalu dengan kasar Zafran mematuk bibir Kayesa.
Kayesa yang tak menduga Zafran akan melakukan itu, tentu saja sangat terkejut. Kayesa berusaha mendorong tubuh Zafran. Namun semakin Kayesa meronta, Zafran samakin bergairah menggerayanginya. Bahkan Zafran sudah hampir hilang kesadarannya.
"Tuan! Aku mohon jangan lakukan ini padaku. Tolong jangan lakukan ini padaku," Kayesa memohon.
Seakan tuli, Zafran tak memperdulikan permohonan Kayesa, di terus menyetuh apa saja yang bisa di jamahnya. Resleting baju Kayesa pun sudah terbuka dan baju Kayesa sudah terturun. Bahkan Zafran sudah menyentuh gundukan kenyal yang sudah setengah terekspos.
Kayesa yang tidak berdaya berada dibawah kungkungan Zafran. Zafran yang sudah mengusai Kayesa sepenuhnya, bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Bahkan Zafran melupakan luka di lutut Kayesa yang baru beberapa menit diobatinya.
Dalam pasrahnya terdengar isak tangis Kayesa. Rasa sakit perasaannya, telah mengalahkan rasa sakit luka di lututnya. Isak tangis Kayesa semakin kuat, hingga tubuhnya tergoncang hebat.
Mendengar suara isak tangisan Kayesa, seketika menyadar Zafran. Dia beristigfar berulang-ulang. Nafsu birahinya yang tadi meletup-letup seketika sirna. Spontan dia menghentikan aksinya yang hampir saja menodai wanita itu.
"Maafkan aku," ujar Zafran seraya melempar tubuhnya ke samping kiri Kayesa, lalu meramas-ramas rambutnya dengan kasar.
"Ya Tuhan! Kenapa aku bisa hilang kewarasan seperti ini," gumam Zafran seraya memukul-mukul kepalanya.
Setelah kesadarannya pulih seratus persen. Zafran menarik selimut, lalu menutupi tubuh Kayesa yang menggigil ketakutan dan setengah terekpos akibat ulahnya.
"Maafkan aku. Aku khilaf," ujar Zafran mendekap erat tubuh Kayesa, lalu menyeka air mata Kayesa yang masih deras mengalir di pipinya.
Melihat airmata Kayesa tak henti meluncur. Hati Zafran sangat sedih, perasaan bersalah bergelayut menyesakkan dadanya. Bagaimana bisa dia bertingkah seperti binatang yang tak punya hati.
Lima tahun Zafran melupakan urusan tentang wanita. Bahkan selama lima tahun dia telah menganggap nafsunya mati. Namun, Tadi nafsu gairahnya kembali bangkit dengan rasa marah yang menguasainya.
"Esa! Maafkan aku, aku salah, aku khilaf karena menuduhmu yang bukan-bukan," ujar Zafran lagi, kala melihat Kayesa bergeming dan air mata itu, terus mengalir tanpa henti.
"Sa! Berhentilah menangis, aku minta maaf," ujar Zafran lagi, dia ikut terisik pilu.
"Sa! Kamu boleh pukul aku sesukamu. Pukul aku. Sa! Pukul!" Zafran meraih tangan Kayesa, lalu menamparkan kewajahnya berkali-kali.
__ADS_1
Melihat Zafran melakukan itu, Kayesa bukannya menghentikan tangisan. Malah semakin kuat. Zafran pun menghentikan aksinya, kala melihat Kayesa yang berada di dalam selimut, menangis dan mematung.
"Esa!" Zafran beranjak duduk, lalu meraih kedua tangan Kayesa, dengan lembut digenggam dan diciumnya punggung tangan Kayesa.
"Aku berjanji tidak akan kasar lagi pada. jangan sedih lagi ya." Zafran kembali menyeka airmata yang bergulir di pipi Kayesa.
Seraya memperbaiki selimut di tubuh Kayesa, Zafran melingkarkan tangan di atas perut Kayesa dan mendekapnya dengan lembut.
Sejenak Kayesa menoleh kearah Zafran, mencari kebenaran ucapan Zafran dari sinar matanya, dia tidak melihat ada kebohongan, sinar mata itu mengandung kesungguhan. Saat diperlakukan lembut oleh Zafran. Rasa takut yang tadi merajai perasaan Kayesa, berangsur hilang dan Zafran pun sudah bisa mengusai emosinya. Kayesa juga menyasadari, kalau dia yang mengundang emosi Zafran.
"Sekarang istirahat dan tidurlah. Aku akan menjagamu," ujar Zafran mengurai pelukannya, kemudian menyeka sisa air mata yang masih membekas di pipi Kayesa.
Kayesa berusaha memejamkan matanya dan menenangkan pikirannya. Begitu juga dengan Zafran yang berbaring di samping Kayesa melakukan hal yang sama. Mereka pun akhirnya tertidur.
******
Sementara Alena setelah memakai tengkleng kambing rasa pedas dan jus pinang yang sudah dibumbui Tatia dengan obat pencahar, sakit perut dan diare, berulang kali bolak balik dia ke kamar kecil, hingga lemas.
Sesuai rencana, Tatia yang sudah tahu apa yang terjadi dengan Alena, kembali lagi ke kamar Zafran dan Alena, dengan membawa air putih hangat kuku. Namun saat melihat Alena berulang ke kemar kecil. Tatia memberi saran pada Zafran untuk membeli obat di apotek yang tidak jauh dari hotel.
Zafran pun meninggalkan Alena yang sedang berada di kamar kecil, dan menitip pesan pada Tatia untuk menjaga Alena selama dia pergi membeli obat. Namun, kala Zafran keluar pintu gerbang hotel dia melihat aksi penjambretan. Spontan darah kelelakiannya hadir untuk menjadi pahlawan, dia pun berlari mengejar dan menghajar pencopet.
Begitu mengetahui yang jadi korban copet adalah Kayesa. Zafran melupakan Alena yang sedang diare. Dia memutuskan menolong dan menjaga Kayesa yang terluka dan memberitahu Tatia lewat pesan whatsapp untuk menemani Alena.
Tatia kemudian memberikan penawar diare, sekaligus obat tidur pada Alena. Dalam sepuluh menit Alena pun tertidur. Saat Alena tertidur, Tatia menelepon Budi agar memindahkan Alena ke kamar lain, menguncinya dari luar dan menyita ponsel Alena.
"Beres," ujar Budi seraya menyerahkan ponsel Alena pada Tatia.
Tatia dan Budi pun berpisah, Tatia kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Budi. Mereka pun beristirahat dan besok akan melanjutkan misi berikutnya.
"Selamat tidur nyenyak Alena," batin Tatia tersenyum puas, saat notifikasi mbanking berbunyi.
(Sudah oma tranfer lima puluh juta) pesan whatsapp dari Mayumi mengiringi notifikasi mbanking.
__ADS_1