
Part 64
Zafran menatap intens wajah Kayesa, lalu mendudukkan bokongnya di samping Kayesa. Suhu tubuh Kayesa jadi panas dingin, saat bahu Zafran mepet ke tubuhnya.
"Ihhh...Pakai baju sana," ujar Kayesa risih, dia khawatir, kalau Zafran mendengar napasnya yang mrmburu. Kayesa mendorong bahu Zafran agar menjauh dari dirinya.
"Kamu udah kuat dorong-dorongku, udah tak demam lagi." Zafran menangkap tangan Kayesa yang masih berusaha mendorong bahunya. lalu mencekal tangan itu, hingga Kayesa menghentikan gerakanya.
Kayesa diam tak berkutik, kala Zafran menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Zafran merasakan suhu tubuh Kayesa sudah tidak sehangat tadi, suhu tubuh Kayesa sudah normal kembali. Itu artinya obat yang diminum Kayesa, sudah beraksi.
"Apa luka di kakimu masih sakit?" Tanya Zafran. Kayesa hanya mengangguk kecil.
"Apa masih terasa nyeri," tanya Zafran lagi.
Kayesa hanya menggeleng, Zafran kembali duduk ke posisi awal, lalu melepaskan cekalan tangannya, meraih tubuh mungil itu, dan mendekapnya erat.
Aroma segar dari tubuh Zafran yang masih lembab, membuat Kayesa lupa, kalau sedang berada dalam pelukan laki-laki yang berusaha dihindarinya. Kali ini dengan mata terpejam Kayesa menikmati bau harum tubuh laki-laki itu. Kayesa bersandar di dada bidang itu.
Melihat Kayesa hanya diam, Zafran tersenyum senang, jarang-jarang Kayesa begitu, biasanya pasti berontak. Zafran mengangkat tangannya, memberanikan diri membelai kepala Kayesa. Entah kenapa Zafran pun ikut menikmati hangatnya tubuh Kayesa dalam pelukannya.
"Hay! Apa kamu ingin tidur di pelukanku," ujar Zafran seraya mencubit lembut hidung Kayesa. Dia menggoda Kayesa demi menutupi kegugupan hatinya.
Spontan Kayesa terperanjat, dia tersadar dari perasaan nyaman yang memang tak seharusnya dia nikmati. Kayesa membuka matanya, menjauhkan kepalanya dan mendorong tubuh Zafran sekuat tenaganya, hingga pelukan Zafran terurai dan menjauh beberapa jengkal.
"Pergi ke jalan-jalan yuk," ajak Zafran, mengalihkan pembicaraan, dia tak tega melihat wajah Kayesa memerah karena godaannya, membuat Kayesa salah tingkah.
"Tapi aku..." Kayesa tidak meneruskan ucapannya.
"Kalau tidak kuat, nanti ku gendong" ujar Zafran lagi.
Sejenak Kayesa berpikir, luka di lututnya masih terasa sakit. Tapi kalau cuman jalan-jalan tanpa membawa beban, sepertinya dia masih kuat. Mungkin dengan melihat suasana di luar, rasa pusing dan lemas bisa hilang.
"Gimana? Mau?" Tanya Zafran penuh harap. Kaseya hanya mengangguk.
"Aku belum mandi."
"Mandi sana, aku tunggu," ujar Zafran.
Kayesa turun dari tempat tidur, dia melangkah, tubuhnya masih sedikit goyang, nyeri di lutut juga masih terasa. Namun tidak sesakit dan selemas tadi. Sementara Kayesa masuk ke kamar mandi, Zafran beranjak dari duduknya, membuka travelbag, mengambil kaos abu-abu dan celana pendek warna hitam.
"Sa! Aku menunggumu di loby ya," teriak Zafran setelah selesai memakai bajunya. Zafra mengarahkan mulutnya ke pintu kamar mandi, agar suaranya terdengar dan menembus derasnya air shower di kamar mandi.
"Iya," jawab Kayesa, sama nyaringnya dengan suara Zafran.
Seperlima menit kemudian, Kayesa menyelesaikan mandinya, lalu ke luar dari kamar mandi, dia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Kayesa mengambil dua stel baju yang masih bersisa di travelbag, Kayesa meraih dres terusan warna abu-abu garis hitam.
__ADS_1
Setelah mengeringkan tubuh dan rambutnya, Kayesa memakai dres abu-abu itu, bajunya sangat cocok di tubuh Kayesa. Dari pantulan cermin, Kayesa terlihat lebih ramping, kemudian Kayesa mematut-matutkan bedak ke wajahnya dan menorehkan sedikit lipstik di bibirnya.
"Sa! Apa kamu sudah siap?" Terdengar suara Zafran dari balik pintu.
"Iya!"jawab Kayesa, seraya duduk di tepi ranjang dan mengoleskan obat luka di letutnya.
Terdengar suara pintu dibuka, muncul setengah wajah Zafran. Saat melihat Kayesa sedang mengobati lukanya, Zafran mendekat dan mengambil alih membalutkan kain kasa dan menutup dengan perban.
"Obatnya sekalian dibawa," ujar Zafran meraih plastik berisi obat dan memasukkan ke dalam tas tangan Kayesa.
Zafran dan Kayesa keluar kamar secara beriringan, menyusuri koridor hotel menuju parkir. Di parkir Budi sudah standby, begitu melihat Zafran dan Kayesa, Budi membuka pintu mobil dan menyilakan keduanya masuk.
"Tuan dan nyonya sangat kompak. Baju couplean," celetuk Budi sambil menakan pedal gas dan meluncur meninggalkan hotel menuju pantai kuta.
Kayesa dan Zafran saling berpandangan, mereka berdua tak menyadari, kalau memakai baju dengan warna yang sama.
*****
Di kamar lain.
Alena terbangun dari tidur panjangnya saat sinar matahari menyembul dari celah ventilasi. Alena merasa heran, kenapa dia berada di kamar yang berbeda.
Alena mengingat kembali kejadian tadi malam, seteleh dia makan tengkleng kambing yang super pedas. Perut mules dan sakit, dalam jarak waktu lima menit dia bolak balek kamar kecil, hingga dia diberi obat oleh Tatia. Setelah itu dia tak sadarkan diri dan tertidur hingga pagi.
"Nyonya sudah bangun?" Tanya Tatia yang masuk mengantarkan sarapan.
"Kata tuan Zafran, sarapannya makan dan habiskan," ujar Tatia seakan dia mendapat pesan dari Zafran. Padahal tidak sama sekali.
"Mana suamiku? Dan kenapa aku berada di sini? Ini bukan kamarku." Alena menatap tajam ke arah Tatia.
"Suami nyonya sudah pulang," jawab Tatia, seraya meletakkan nampan berisi nasi goreng, segelas jus dan air putih.
"Dan yang memindahkan nyonya ke kamar ini. Yah... Tuan Zafran karena dia tak bisa merawat nyonya. Dia meminta aku yang menjaga nyonya sampai pulih dan kamar ini bersebelahan dengan kamarku," ujar Tatia lagi dengan santai.
"Kalau nyonya ingin segera pulih dan pergi dari kamar ini. Sarapannya di makan," ujar Tatia lagi.
"Tenang. Kali ini makanannya aman dari obat pencahar dan obat tidur," celetuk Tatia sambil tertawa.
"Jadi kau...!" Alena melemparkan sebuah bantal ke arah Tatia. Tatia mengelak sambil terkekeh.
"Ada yang nyonya butuhkan lagi, sebelum aku keluar?"
"Tolong ambilkan ponsel ku," titah Alena, meminta Tatia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja rias.
Tatia meraih ponsel Alena yang tadi malam sempat disitanya, untuknya dia punya teman yang ahli teknologi, hingga dengan gampang bisa meretas ponsel Alena dan tadi pagi, Tatia yang mengirim pesan whatsapp ke Zafran dari ponsel Alena, kemudian Tatia mematikan ponsel Alena dan meletakkan di atas meja rias, tempat Alena diasingkan.
__ADS_1
"Ini Nyonya," ujar Tatia menyerahkan ke Alena.
"Hay! Kok ponsel ku mati? Ini pasti ulahmu jugakan?"
"Yee... Mana aku tahu, mungkin baterai lowbet," ujar Tatia meninggalkan Alena, dia malas berdebat dengan wanita itu.
Sambil menggerutuk tak jelas, Alena menghidupkan ponselnya. Begitu ponselnya on, beberapa notifikasi pesan whatsapp masuk. Alena mengecek satu persatu pesan yang maksud.
(Kamu pulang saja duluan ke Jakarta, abang masih ada urusan) pesan masuk dari Zafran.
"Ah... Dia memilih sibuk dengan urusannya, dari pada menjagaku," batin Alena kesal, seraya menggerser layar ponsel mencari nomor kontak Zafran dan menghubinginya. Aktif tapi tak diangkat.
Sejenak Alena menatap layar ponselnya, berharap Zafran meneleponnya balik. Namun, ditunggunya hingga dua puluh menit, tak ada tanda-tanda panggilan masuk.
Seharusnya tadi malam, menjadi malam terindah, setelah malam pengantennya tertunda gara-gara Zafran keluar negeri dan kenyataannya tadi malam, malah Alena sakit perut dan diare. Malam pengantennya pun tertunda untuk kedua kalinya.
"Semua ini gara-gara wanita yang bernama Tatia itu. Dia seperti sengaja menjebakku, atau wanita itu....." Alena mengingat kembali saat makan malam tadi. Zafran dan wanita itu terlihat sangat dekat.
"Jika Zafran tak punya hubungan dengan wanita itu, mengapa dia meminta wanita itu menemaninya makan tadi malam."
Alena meletakkan ponsel di atas tempat tidur, dengan wajah yang masih acak-acakan Alena berjalan tertatih menuju pintu kamar.
Tangan Alena menggapai handle dan menguakkan pintu kamar, berjalan menyusuri koridor hotel menuju meja resepsionis. Beberapa orang yang melihat penampilan Alena kusut masai, berbisik-bisik.
"Ada yang bisa kami bantu. Nyonya?" Tanya salah seorang resepsionis.
"Aku ingin bertemu nona Tatia. Beritahu dia," ujar Alena seraya menggeprak meja resepsionis, hingga sang resepsionis terkaget-kaget.
"Mimpi apa aku tadi malam. Pagi-pagi disambangi orang setengah waras," batin resepsionis, menatap ke arah wajah Alena.
"Nona Tatia ke Surabaya. Nya!"
"Surabaya? Tadi barusan dari kamarku."
"Baru sepuluh menit turun dari sini," ujar resepsionis lagi.
"Dengan siapa dia ke Surabaya?"
"Dengan Tuan... Nira! Nona Tatia pergi ke Surabaya dengan siapa tadi?" Resepsionis itu berteriak seraya pada salah seorang office girl yang sedang membersihkan meja di lobi.
"Tuan Zafran," ujar Nira tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Zafran!" Gumam Alena terkejut, hingga dahinya berkerut.
"Sudah ku duga," gumamnya lagi
__ADS_1
Mendengar penjelasan resepsionis itu, Alena memutar tubuhnya berjalan tertatih kembali ke kamarnya.
"Aku harus menyusulnya sebelum terlambat.