
Part 95
Tatapan Kayesa tertuju pada Rayzad, lalu dia menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar, sebelum dia menjawab pertanyaan Rayzad.
"Karena tuan Zafran cinta terakhirku," jawab Kayesa, dia tidak ingin berdebat lagi, dengan mengatakan itu, Kayesa yakin Rayzad tidak akan bertanya lagi.
Mendengar jawaban Kayesa, Rayzad menginjak rem secara mendadak, hingga terdengar bunyi decetan, lalu dia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Kayesa. Rayzad mencari kebenaran dari manik mata Kayesa. Namun secepat kilat, Kayesa mengalihkan tatapannya.
"Ada apa?" tanya Kayesa, seraya menatap lurus ke depan, sambil berpura menajamkan tatapannya, seakan khawatir, jika Rayzad menabrak sesuatu.
"Apa ucapanmu serius?" Rayzad balik bertanya.
"Iya! Sangat serius," ujar Kayesa.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Aku hanya ingin memastikan. Jika kamu tidak akan membuat tuan Zafran nekad lagi, seperti minggu kemaren, dia hampir kehilangan nyawanya," ujar Rayzad.
"Aku berjanji, tidak akan meninggalkannya lagi."
"Ku pegang kata-katamu. Jika kamu mengingkarinya, aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup," ujar Rayzad dengan nada mengancam.
Setelah menarik nafas lega. Rayzad menarik pedal gas, dan mobil yang dikendarainya kembali melaju di jalan raya, menuju butik langganan keluarga Alfaro. Sepersepuluh menit kemudian, mobil Rayzad pun memasuki parkiran sebuah mall.
Begitu mobil berhenti, Rayzad membuka laci dasboard mobil, mengambil sebuah sisir, menyerahkan ke Kayesa, Rayzad meminta Kayesa merapikan rambutnya yang berantakan. Rayzad tidak mau nanti Mayumi melihat wajah dan rambut Kayesa kusut masai, lalu menintrogasinya dengan pertanyaan-pertanyaan.
Setelah memastikan Kayesa sudah rapi, Rayzad turun, lalu memutar membuka pintu untuk Kayesa. Kayesa menjulurkan kakinya keluar dari mobil Rayzad. Rayzad kemudian mengajak Kayesa menuju lift.
"Kita mau ke mana?" Tanya Kayesa, kala sudah berada di dalam lift.
"Menjumpai Oma Mayumi," jawab Rayzad.
Begitu pintu lift terbuka, Rayzad dan Kayesa ke luar secara beriringan. Lalu berjalan menuju butik, di mana Mayumi sudah menunggunya.
"Esa! Akhirnya kamu muncul juga," ujar Mayumi seraya memeluk Kayesa.
"Maaf Oma. Tadi ada..."
"Iya! Oma. Tadi jalanan sedikit macet, karena ada kecelakaan. Iya kan tuan Ray?" Kayesa menyela ucapan Rayzad, sambil mengedipkan mata memberi isyarat kepada Rayzad, kayesa tidak mau Rayzad bicara tentang penculikannya.
"I-iya! Oma," ujar Rayzad memberi penguatan pada ucapan Kayesa.
__ADS_1
Mayumi membawa Kayesa memasuki sebuah ruangan. Di sana sudah ada Zafran yang sedang berdiri di depan cermin. Zafran terlihat sangat tampan dengan jas yang dikenakannya.
"Bagaimana? Apa aku kelihatan ganteng?" Tanya Zafran ketika melihat Kayesa menatapnya tak berkedip.
"Hay! Kamu kenapa?" Zafran menggoyangkan telapak tangannya kearah wajah Kayesa, hingga Kayesa tersadar dari lamunannya.
"A-aku..." Kayesa sangat gugup. Dia tak meneruskan ucapannya.
"Esa! Sini!" Mayumi memanggil Kayesa.
Panggilan Mayumi, mengalihkan pandangan Kayesa dari Zafran. Mayumi melambaikan tangan ke arahnya. Sebelum beranjak meninggalkan Zafran, Kayesa berpamitan dulu.
"Yuk! Oma temani ke ruang ganti," ujar Mayumi seraya menggamit tangan kiri Kayesa.
Kayesa mengikuti langkah Mayumi masuk ke ruang ganti, di sana dua orang karyawan butik sudah mempersiapkan gaun yang dipesan Mayumi. Kedua karyawan butik itu membantu Kayesa memasang gaun slayar warna nude. Warna ini menghadirkan kesan kalem, elegan, dan juga cantik dalam satu waktu.
"Gaun ini cocok sekali di tubuhmu," Mayumi memberi komentar dengan takjub.
Semua mata yang ada di butik, menatap Kayesa yang keluar dari ruang ganti. Begitu juga dengan Zafran, dia terpukau melihat penampilan Kayesa.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Mayumi pada Zafran.
Kayesa tersipu malu, kala mendengar ucapan spontan dari Zafran. Dia merasa sedikit melambung dengan pujian Zafran.
"Apa Zafran hanya ingin menghiburku," batin Kayesa.
"Aku bicara serius, kamu memang sangat cantik," bisik Zafran di telinga Kayesa, membuat wajah Kayesa memerah seperti kepiting rebus.
Mata Kayesa membola menatap Zafran, Zafran hanya tersenyum melihat bibir Kayesa yang cemberut ke arahnya.
"Jangan cemberut gitu. Ntar cantiknya hilang," ujar Zafran lagi.
Refleks tangan kanan Kayesa terangkat dan mendarat di pinggang kiri Zafran. Kayesa membentuk caping kepiting dan memberikan satu cubitan, hingga Zafran berteriak kesakitan. Melihat ekspresi wajah Zafran, Kayesa tertawa lepas, hingga terlihat susunan giginya yang putih dan rapi.
Dua jam kemudian fitting baju sudah selesai. Oma dan Zafran mengajak Kayesa ke toko perhiasan. Mayumi ingin membelikan kalung berlian untuk calon cucu menantunya.
"Ini cantik." Mayumi menunjuk sebuah kalung bermata berlian yang melingkar di pajangan display di dalam sebuah etalase.
"Apa nyonya menginginkan yang ini?" Tanya pramuniaga cantik yang berdiri di samping etalase.
Mendengar pertanyaan pramuniaga itu, Mayumi mengangguk. Pramuniaga membuka pintu etalase kaca, mengambil dengan hati-hati kalung itu, dari display pajangan.
__ADS_1
"Kamu suka?" Tanya Mayumi pada Kayesa, kala kalung itu sudah berada di tangannya.
"Suka! Sangat camtik," ujar Kayesa, seraya membolakan matanya tak berkedip, baru kali ini dia melihat kalung secantik itu.
"Saya ambil yang ini," ujar Mayumi lagi, seraya menyerahkan kalung itu kembali pada pramuniaga untuk dikemas.
Pramuniaga memasukkan kalung itu ke sebuah kotak berbentuk hati, berlapis kain beledru warna merah, lalu memasukkan ke dalam paperbag mini pink dan meletakkan di atas estalase.
Mayumi mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, menyerahkan pada pramuniaga itu. Setelah selesai melakukan pembayaran, pramuniaga itu menyerahkan paperbag mini pink ke Mayumi.
"Terima kasih sudah berbelanja di toko kami," ujar pramuniaga seraya menangkupkan kedua tangan di dada, kala transaksi jual beli selesai.
Mayumi, Zafran, Kayesa dan Rayzad meninggalkan toko perhiasan. Mayumi masuk sebuah resto mewah untuk makan siang. Sebelum menu makan siang yang dipesan datang, Mayumi menyerahkan paperbag mini pink itu ke Kayesa.
"Oma beli kalung ini untukmu," ujar Mayumi.
"Untukku. Oma?" Tanya Kayesa tak percaya, karena kalung itu pasti sangat mahal.
"Iya! Untuk kamu pakai pas hari pernikahanmu dan Zafran nanti " ujar Mayumi lagi.
"Tapi Oma! Kalung ini terlalu mahal," Kayesa menolak paperbag mini pink itu.
"Ambil saja. Oma pasti kecewa jika kamu menolaknya," Zafran meraih paperbag mini itu, lalu dengan paksa meminta Kayesa menerimanya.
Tatapan Kayesa tertuju pada papebag mini yang sudah berada di tangannya, saat pandangannya berpindah pada wajah Zafran, dengan cepat Zafran meletak telunjuk di bibir Kayesa.
"Oma tidak suka ada penolakan," bisik Zafran di telinga Kayesa.
Glek, Kayesa meneguk salivanya dengan kasar, lalu menatap ke arah Mayumi. Wanita tua itu tersenyum mendengar penuturan Zafran. Zafran tahu betul karakternya omanya yang tak pernah mau menerima penolakan.
"Oma! Terima kasih. Sudah membelikan kalung ini untuk ku," ujar Kayesa, sambil meraih tangan Mayumi dan mencium punggungnya. Kayesa merasa terharu sekali dengan kebaikan Mayumi.
Dua orang pramusaji datang membawa menu pesanan dan meletakkan di atas meja, setelah menata menu di atas meja, salah satu pramusaji menanyakan apakah ada menu tambahan.
"Tidak ada," ujar Mayumi, seraya menyilakan Kayesa makan.
Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan Kayesa yang sedang menyantap makan siang bersama Zafran dan Mayumi. Sepasang mata itu terlihat sangat kaget.
"Bagaimana bisa Kayesa bersama mereka," batin Shaga tak percaya, karena tadi dia sudah mengunci pintu kamar di mana Kayesa dikurungnya.
"Sial! Zafran menghancurkan rencanaku," batin Shaga geram sambil menggenggam kepalan tinjunya.
__ADS_1