
Part 59
Mendengar Zafran mengajak karyawan hotel makan bersama, membuat Alena menatap tajam ke arah Tatia. Namun Tatia pura-pura tak melihat, dia memutar tubuhnya berbisik pada salah satu pramusaji.
Pramusaji yang dibisiki hanya menganguk mengerti, lalu keduanya keluar, dan salah satunya datang lagi, membawa sebuah piring dan dua gelas jus.
"Ini jus pinang muda buat Nyonya, bisa bikin suami Nyonya klepek-klepek," bisik pramusaji seraya meletakkan jus itu, di di depan Alena.
Sementara Tatia, mengambil sebuah piring, mengisi nasi kemudian meletakkan di depan Zafran. Setelah itu dia mengambil piring dari tangan pramusaji, menyendok nasi dan duduk di samping kiri Zafran. Tanpa memperdulikan Alena yang ada di sebelah kanan Zafran.
"Ini menu handalan hotel kami. Tuan," ujar Tatia seraya memasukkan steak tenderloin ke dalam piring Zafran.
Steak tenderloin adalah sejenis masakan dengan ciri khas bumbu spesial, hingga tekstur daging maupun cita rasanya begitu menggoyang lidah. Ketika dimakan dagingnya begitu lembut dan langsung lepas dengan mudah dari tulangnya. Bumbunya bahkan meresap maksimal, hingga terasa dalam setiap kunyahan.
"Hemm, sangat gurih dan renyah," gumam Zafran, terus menikmati makannya.
Sementara Alena yang duduk di sebelah kanan Zafran, wajahnya cemberut, hingga bibirnya membentuk kerucut. Rasa lapar yang tadi menghentak-hentak ususnya hilang seketika.
"Nyonya Alena, coba yang ini," ujar Tatia dia mendekatkan semangkok tengkleng kambing.
Tengkleng kambing merupakan makanan khas yang mirip dengan gulai kambing. Bedanya, bahan dasar tengkleng berupa tulang belulang dan jeroan. Kuah tengkleng juga lebih encer dari gulai daging kambing.
"Tengkleng kambing bisa manambah stamina, cocok untuk pasangan yang sedang berbulan madi," ujar Tatia lagi masih berbisik di telinga Alena.
"Ayok di makan, kamu butuh tenaga banyak lo, malam ini." Zafran ikutan berbisik di telinga Alena.
Mata Alena membeliak, mendengar bisikan Zafran. Wajahnya berubah merah padam, seperti kepinting rebus. Tatia hanya senyum-senyum melihat Alena, yang mulai tergoda dengan tengkling kambing yang sudah dimodifikasi oleh Tatia.
"Jangan sampai keduluan tuan Zafran. Nanti nyonya kewalahan," lagi-lagi Tatia berbisik, menyuntikkan kata-kata yang membuat Alena ingin segera menghabiskan tengkleng kambing itu.
Tangan Alena terjulur menarik mangkuk berisi tulang dan jeroan kambing itu. Alena memasukkan jeroan ke dalam piringnya.
"Uhhhh. Pedas sekali," ujar Alena mengibas-ngibaskan tangan ke bibirnya.
"Ah masa." Tatia mengambil sesendok kuah tengkleng dan menyeduhnya.
"Biasa saja. Itu mah belum seberapa pedasnya. Masa segini aja Nyonya nggak kuat," ujar Tatia berbohong. Dia berkata begitu supaya Alena tertantang lagi, tadi Tatia sudah memasukkan satu botol marica hitam ke dalam mangkok tengkleng itu.
__ADS_1
"Ayok dihabisin, jangan kalah sama Tatia. Masa cuman pedas dikit saja sudah tak tahan. Dasar cemen," ujar Zafran ikut memanasi Tatia, kemudian meneruskan makannya.
Mendengar ucapan Tatia dan Zafran, Alena menjadi panas dan tertantang, dia pun mulai menyeduh kembali tengkleng kambing yang pedasnya luar biasa.
"Wah. Ini baru istri ku yang hebat," puji Zafran seraya merengkuh bahu Alena. Zafran tersemyum geli, kala melihat bibir Alena dower karena kepedasan. Dan keringat Alena pun mulai mengucur di dahinya.
"Minum jusnya. Nyonya," Tatia menyodorkan jus pinang yang sudah diberinya obat pencahar.
Rasa pedas yang menyengat di bibir Alena, membuatnya tidak berpikir panjang, dia pun meraih gelas jus yang disodorkan Tatia. Alena menenggak habis isi gelas itu.
"Ayok dihabiskan. Mubazir," ujar Zafran lagi, memberi semangat pada Alena, agar segera menuntaskan tengkleng kambing yang masih bersisa.
"Nggak! Udah kenyang," ujar Alena seraya memegang perutnya yang mulai terasa aneh.
"Hay! Kamu kenapa? Kekenyangan?" Tanya Zafran seraya menarik dua lembar tisu untuk mengelap tangan dan mengakhiri makannya.
Tatia memanggil kembali dua pramusaji yang tadi menghidang makanan, agar mengemas kembali sisa makanan dan membawanya keluar.
Melihat Alena memegang perutnya sambil meringis. Tatia pamit pada Zafran dan meninggalkan kartu namanya di atas meja sofa dan berpesan pada Zafran, bisa menghubungi nomornya, jika butuh sesuatu. Tak lupa Tatia mengucapkan terima kasih pada Zafran, karena sudah mengijinkannya makan bersama.
"Hay! Kamu kenapa?" Tanya Zafran, kala melihat Alena berlari ke kamar kecil.
Sementara Mayumi begitu selesai menelepon Zafran dan memastikan Zafran sudah masuk ke kamar Alena. Mayumi menggeser layar ponselnya , mencari nomor kontak Kayesa dan melakukan panggilan.
"Hallo Oma," sapa Kayesa begitu panggilan telepon terhubung.
"Esa! Siap-siap! Budi lagi jalan menjemputmu," ujar Mayumi dari panggilan telepon.
"Baik. Oma," sahut Kayesa seraya menutup panggilan telepon.
Kayesa membuka travelbag yang diberikan Amora untuknya. Mengeluarkan isinya, tiga stel baju dan keperluan wanita lainnya. Kayesa mengambil dres berwarna hitam, dengan lengan tanggung dan panjang di bawah lutut, lalu mematutkan di tubuhnya dan berdiri di depan cermin.
"Kayaknya ini lebih cocok," ujar Kayesa lalu mengganti baju piyamanya dengan dres warna hitam itu.
Setelah mengganti baju, dia kembali berdiri di depan cermin, mengoles bedak di pipi, lipstik di bibirnya, lalu memasang wignya. Begitu merasa sudah cukup, Kayesa meraih ponsel yang tadi di cas, memasukkan ke dalam tas, sambil berjalan ke arah pintu, kayesa mencantolkan tas tangan di bahu.
Perlahan tangan kanannya memutar handle dan membuka daun pintu setengah lebar, lalu menutup kembali. Sebelum dia melangkah meninggalkan kamar, Kayesa memasang kacamata hitamnya, kemudian dia beranjak menuju meja resepsionis. Menitip kunci kamar dan keluar pintu utama hotel.
__ADS_1
Di luar, sebuah mobil sudah terparkir manis menunggunya. Saat melihat Kayesa datang. Budi beranjak membuka pintu dan menyilakan Kayesa masuk. Setelah Kayesa masuk, Budi memutup kembali pintu mobil, lalu dia memutar, masuk dan duduk di belakang stir.
Mobil meluncur meninggalkan halaman hotel, melaju ke ruas jalan raya. Hiruk pikuk para pengemudi memadati jalanan. Untung jalanan lancar dan tertib, hingga tidak terjadi kemacetan.
Lampu-lampu di jalan raya, berwarna-warni, menambah syahdunya pulau Dewata. Siapa pun tak ada yang bisa menyangkal keindahan yang ditawarkan Pulau Dewata. Baru-baru ini, Bali menjadi destinasi paling populer di dunia Choice tahun 2021.
Tentu saja, bentangan alamnya yang indah berpadu sempurna dengan kearifan lokalnya yang istimewa menjadikan Bali sebagai destinasi. Kayesa merasa sangat beruntung bisa memandang keindahan Bali secara nyata.
Mobil yang membawa Kayesa, berhenti di salah satu beach club di Bali bernama Mano Beach House merupakan tempat bersantai di tepi Pantai Petitenget yang ramah wisatawan keluarga.
Budi memarkir mobil, membuka pintu dan turun, lalu memutar membuka pintu untuk Kayesa. Perlahan Kayesa turun, matanya tak berkedip, takjub melihat keindahan yang terbentang di depannya.
Restoran yang menyuguhkan panorama yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, karena menghadap langsung ke pantai Petitenget. Pemandangan semakin indah dengan lampu-lampu berwarna yang membias. Bukan hanya suasananya saja yang keren, menu-menu yang ditawarkan juga segar dan homemade.
Budi mengajak Kayesa memasuki restoran tepi pantai yang mengusung konsep slow lifestyle ini. Dengan interior dan eksterior yang didominasi dengan ornamen kayu, jadi terlihat lebih natural. Selain itu, juga ada kolam renang yang bisa dinikmati pengunjung.
"Sangat indah," batin Kayesa, dia tak bisa membohongi perasaannya, kalau dia sangat mengagumi semua yang dilihatnya.
Mata Kayesa menatap, dua area, indoor dan outdoor yang mengarah langsung ke pantai Petitenget. Suasananya sangat menyenangkan, ditambah dengan musik yang dengan beat ceria.
"Nona lewat sebelah sini," ujar Budi, mengantar Kayesa ke tempat Mayumi menunggunya.
"Kamu cantik sekali malam ini," puji Mayumi, seraya menatap tak berkedip, kala Kayesa menyodorkan tangan, menyalami dan mencium punggung tangan Mayumi.
"Iya! Oma. Baju yang Amora pilih untuk saya, sangat cantik dan cocok," ujar Kayesa seraya mengucapkan terima kasih pada oma, karena sudah menyiapkan baju untuknya.
Setelah Kayesa mendudukkan bokongnya di kursi. Beberapa menit berbincang, dua orang pramusaji mengantarkan menu makan malam yang sudah dipesan Mayumi. Begitu menu terhidang, Kayesa, Mayumi dan Amora menikmati makan malam, dalam suasana yang sangat nyaman.
Begitu selesai makan, dua orang office girl datang mengambil dan membersihkan sisa makanan di atas meja. Setelah bersih kedua office girl pamit dan pergi, Beberapa menit kemudian dua orang laki-laki muda datang. Kedua laki-laki itu mengulurkan tangan bersalaman dengan Mayumi.
"Apa ini nona Kayesa yang oma ceritakan?" Tanya salah seorang laki-laki seraya menyodorkan tangan ke arah Kayesa.
"Saya nyonya! Bukan nona," ujar Kayesa, membuat Amora menatap ke arahnya, karena Amora mengira kalau Kayesa seorang gadis.
"Semuda ini anda sudah menjadi nyonya," ujar laki-laki itu lagi.
"Iya! Saya sudah punya satu putra," ucapan Kayesa mengikis kesaksian Amora.
__ADS_1
"Oh. Anda beruntung sekali. Tentunya putra anda sangat ganteng."
"Iya. Tentu saja seganteng ayahnya," ujar Mayumi menyeletuk tanpa sadar.