Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Rizwan Salah Paham


__ADS_3

Part 102


Setelah dirawat dua hari, Asaka diijinkan pulang ke apartement Zafran. Walaupun Asaka dan Mayumi sudah berbaikan. Namun, Mayumi masih meminta Zafran untuk berpura amnesia.


Pagi ini Mayumi mengajak Asaka untuk berkunjung ke keluarga Kayesa. Bersilaturrahmi membicarakan acara resepsi yang akan digelar beberapa hari lagi.


Asaka yang belum sepenuhnya rela dan ikhlas menerima, kalau Zafran akan menikahi Kayesa, hanya menuruti keinginan Mayumi. Demi memperbaiki hubungannya dengan Mayumi, Asaka bermanis-manis dengan keluarga Kayesa di hadapan Mayumi.


Setelah berbincang-bincang beberapa jam, Ratih menyuguhi beberapa menu masakannya, untuk di mana bersama. Berbincangan terlihat hangat dan akrab dari kedua belah pihak. Ratih sempat menanyakan tentang proses perceraian Zafran dengan Alena.


"Kamu.tidak usah khawatir, ku pastikan akte cerai akan terbit, sebelum pernikahan Zafran dan Kayesa berlangsung," ujar Mayumi meyakinkan.


"Bukan proses perceraian itu, membutuhkan waktu berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun. Oma?"


"Jangan meragukan kemampuanku," ujar Mayumi lagi.


Perbincangan Mayumi dan Ratih, diam-diam direkam Asaka, kemudian memgirim kesalah satu anak buahnya untuk menyelidiki kebenarannya.


(Akte cerai Zafran dan Alena sudah terbit Nyonya) pesan masuk ke whatsapp Asaka.


"Ternyata mama sudah mengurusnya," batin Asaka kesal, karena dia tak bisa mencegahnya dan hal ini pasti akan berimbas pada persahabatannya dengan Sarla.


"Aku harus menelepon Sarla dan menjelaskan semuanya," batin Asaka lagi, lalu dia berpamitan pada Mayumi dan keluarga Kayesa, dengan alasan, ada janji dengan salah satu rekan kerjanya.


"Aku hanya sebentar. Nanti ku jemput mama pas mau pulang," ujar Asaka seraya bangkit dari duduknya.


"Tidak usah, Aku bisa minta jemput Zafran," ucap Mayumi.


Sepeninggalan Asaka. Mayumi menelepon Zafran.


"Zafran! Jemput Oma di rumah Kayesa." ujar Mayumi begitu sambungan teleponnya dan Zafran terhubung , setelah dia memastikan dengan Ruhi, kalau Zafran sudah selesai meting.


"Okay Oma! Tiga puluh menit lagi, Zafran akan sampai," jawab Zafran seraya memutuskan panggilan telepon.


Zafran ke luar ruang kerja menemui Rayzad, melangkah menuju ruang kerja Rayzad. Sementara Rayzad masih fokus menghadapi layar laptop.


"Ray! Ikut yuk!"


Spontan Rayzad menghentikan aktifitasnya, dia menoleh ke arah Zafran dengan dahi berkerut. Merasa heran saja, jam segini Zafran mengajaknya pergi.


"Ke mana?"


"Tak usah banyak tanya. Ayok!"


Zafran menarik tangan Rayzad dengan terpaksa. Rayzad berdiri dari duduknya, menatap heran ke arah Zafran.


"Tunggu bentar. Ku matikan dulu laptopku," ujar Rayzad seraya duduk kembali.


Dalam hitungan menit, Rayzad dan Zafran ke luar dari ruang kerja. Saat melewati ruang kerja Ruhi, Rayzad membari isyarat kalau dia dan Zafran akan ke luar. Ruhi hanya mengangguk, jika sudah begitu, dia yang tak bisa ke mana-mana, sebelum Rayzad dan Zafran kembali ke kantor.


"Ke mana?" Tanya Rayzad lagi, begitu sudah berada di dalam mobil.


"Jemput Oma di rumah Kayesa."

__ADS_1


"Jemput Oma atau ketemu ayang beb?"


"Dua-duanya," sahut Zafran tertawa.


Mendengar sahutan Zafran yang yang begitu ceria, Rayzad ikut bahagia, dia pun menekan pedal gas, mobil meluncur meninggalkan parkiran kantor, melaju ke jalan raya. Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Rayzad memasuki perkarangan rumah Rizwan. Rayzad memarkir mobilnya dan ke luar dari mobil. Begitu juga dengan Zafran.


Bersamaan dengan itu, Rizwan sampai di depan pintu gerbang rumah. Dia menghentikan mobilnya di luar pagar, karena jika masuk ke pekarangan, mobil tamunya akan susah ke luar. Dari kejauhan Rizwan menatap dua laki-laki yang baru keluar dari mobil.


"Laki-laki itu. Aku seperti pernah melihat," batin Rizwan, kala matanya tertuju pada Zafran. Kalau Rayzad, Rizwan sudah kenal dan beberapa kali bertemu.


"Yah... Benar! dia laki-laki itu, laki-laki yang telah menikahi Kayesa dalam semalam, untuk apa dia ke sini." batin Zafran


"Aku tidak boleh membiarkannya menemui Kayesa dan menghancurkan pernikahan Kayesa dengan cucu oma Mayumi," batin Rizwan lagi, seraya bergegas melangkahkan kaki, memasuki pintu pagar dan meninggalkan barang belanjaannya di dalam mobil.


"Hay tunggu!" seru Rizwan.


Mendengar seruan seseorang. Rayzad menoleh ke belakang, kala melihat Rizwan melangkah tergesa, dia menghentikan langkahnya.


"Tolong menghentikan laki-laki itu!" titah Rizwan.


"Siapa? Tuan Zafrankah ya?" Tanya Rayzad menyelidik.


"Iya! Dia!"


"Apa jangan-jangan Rizwan mengenali Zafran, kerena pernikahan semalam itu," batin Rayzad.


Belum sempat Rayzad berpikir jernih, Ridwan sudah bergegas menyusul Zafra. Rayzad berusaha menghentikan langkah Rizwan, dia mencekal pergelangan Rizwan. Namun dengan kasar Ridwan menepisnya.


Rizwan malah berlari, kala melihat Zafran sudah menaiki jenjang teras rumahnya.


"Tunggu! Kamu tidak boleh menemui Kayesa," ujar Ridwan seraya meraih tangan Zafran.


"Kamu siapa? Kenapa melarang ku manemui Kayesa?" Tanya Zafran heran.


Zafran yang belum pernah bertemu dengan Rizwan, tidak tahu kalau yang berdiri di hadapanya adalah laki-laki yang telah menikahkan Kayesa lima tahun lalu dengannya. Sementara Rizwan mengenali Zafran, karena dia sempat melihat Zafran dengan jelas malam itu, ketika Zafran keluar dari mobilnya.


Pada malam peristiwa itu. Rizwan bahkan sempat mengambil foto Zafran di balik kaca mobilnya. Malam itu Ridwan mengatur strategis, dengan sengaja datang terlebih dahulu dan menyembunyikan keberadaannya, dia melakukan itu, karena ingin melihat wajah laki-laki yang akan menikahi Kayesa adiknya. Walaupun sebenarnya itu sudah melanggar perjanjian yang ditanda tanganinya.


"Ini Tuan Rizwan. Abang nyonya Esa." Rayzad memperkenalkan Rizwan pada Zafran.


Deg.... Jantung Zafran tiba-tiba berdetak kencang saat Rayzad mengatakan, kalau laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang adalah abang Kayesa.


"Apa dia yang menjadi wali nikah pada malam itu," batin Zafran mengingat peristiwa lima tahun silam.


Belum sempat Zafran menyodorkan tangan untuk menyalami Rizwan. Rizwan malah menarik tangannya, lalu mengajaknya menjauh.


"Ikut aku!" Titah Rizwan dengan paksa.


"Pergi dan jelaskan semuanya," ujar Rayzad berbisik di telinga Zafran.


Bagai kerbau dicocok hidungnya, Zafran mengikuti langkah Rizwan menuju mobil yang terparkir di luar pagar. Rizwan meminta Zafran masuk ke dalam mobilnya, setelah Zafran berada di mobil, Rizwan menarik pedal gas dan meluncur di jalan raya.


"Kita mau ke mana?" Tanya Zafran.

__ADS_1


"Mengantar mu pulang," jawab Rizwan.


Sekilas Zafran menatap wajah Rizwan lewat kaca spion depan. Pikiran Zafran berkecamuk. Berbagai dugaan terbit di benaknya.


"Bang! Kenapa abang melarangku menemui Kayesa?"


Ceeet... Rizwan menginjak rem mendadak, kala mendengar pertanyaan Zafran, dia menghentikan mobil di tepi jalan. Rizwan menghirup oksegin sebanyak-banyaknya, lalu perlahan membuangnya.


"Sekarang ke luar dari mobilku. Dan jangan pernah menemui Kayesa lagi," titah Rizwan, dia tak punya banyak waktu untuk menjelaska. Takut kalau tamu yang sedang menunggunya keburu pulang.


Zafran yang masih gagal paham mengikuti perintah Rizwan, dia turun dan keluar dari mobil Rizwan. Begitu Zafran ke luar dari mobilnya, Rizwan menekan pedal gas, mobil pun meluncur.


"Bang! Bang! Kenapa aku ditinggal," teriak Zafran sambil melambaikan tangan.


Sedikit pun Rizwan tidak memperdulikan teriakan Zafran. Dia malah memacu lari mobilnya lebih laju, hingga dalam hitungan menit, mobil menghilang dari pandangan Zafran.


Sepuluh menit kemudian, mobil Rizwan berhenti di samping pintu gerbang pagar rumahnya. Rizwan keluar dari mobil, lalu melangkah memasuki pintu gerbang. Sementara Rayzad masih diluar menunggu Rizwan kembali.


"Tuan Rizwan! Mata tuan Zafran?" Tanya Rayzad, seraya memindai pandangannya ke mobil Rizwan. Kala melihat hanya Rizwan yang keluar dari mobil.


"Aku tinggal di jalan. Aku tidak mau kehadirannya, akan menggagalkan rencana pernikahan adikku dengan cucu oma Mayumi " jawab Rizwan.


"Ya Tuhan. Ini bisa kacau," seru Rayzad seraya menepuk jidatnya.


"Tuan! Ayok kita jemput lagi tuan Zafran. Jika tidak, pernikahan Kayesa akan benar-benar gagal."


"Apa maksudmu?"


"Nanti ku ceritakan, di dalam mobil," ujar Rayzad memaksa Rizwan kembali ke mobil.


Sesudah berada di dalam mobil, Rayzad pun mencerita semuanya. Dari Zafran mengetahui kalau Kiano anaknya, hingga Zafran mau menikah kembali dengan Kayesa. Rayzad menceritakan secara rinci, tidak ada yang ditutup-tutupinya.


"Jadi Zafran sudah tahu kalau Kiano putranya."


"Sudah! Bahkan hasil tes DNA nya pun sudah keluar."


"Tapi nyonya Esa belum tahu, kalau tuan Zafran ayah kandung Kiano. Tuan Zafran tidak berani memberitahukan semuanya ke Kayesa, karena dia takut Kayesa akan membencinya."


Rizwan menarik nafas dalam, dia tidak bisa juga menyalahlan Zafran. Karena pernikahan malam itu terjadi, atas kesepakatan kedua belah pihak. ternyata dia sudah salah sangka dengan Zafran. Rizwan melajukan mobilnya, menuju di mana dia tadi menurunkan dan meninggalkan Zafran.


"Tidak ada. Ke mana dia, tadi aku turunkan di sini," ujar Rizwan, sambil menepikan mobil dan berhenti.


Dari kaca jendela mobil yang terbuka, Rizwan menjulurkan kepalanya, memindai ke luar, mencari-cari sosok Zafran. Sudah di pandangnya ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang. Namun, sosok yang dicari tidak tampak batang hidungnya.


Zafran meminta Rayzad menelepon Zafran, Rayzad pun merogoh saku celananya, mengambil ponsel, menggeser layar ponselnya, masuk ke aplikasi whatsapp. Rayzad menelepon Zafra, sambungan terhubung, tapi tidak diangkat. Karena gagal, Rayzad beralih kepanggilan biasa. Namun, hasilnya sama saja


"Bagaimana?" tanya Rizwan khawatir.


"Tidak diangkat."


"Apa jangan-jangan dia marah," ujar Rizwan berspekulasi. Entah kenapa dia menjadi cemas, takut kalau Zafran marah dan meninggalkan Kayesa untuk kedua kalinya.


"OMG! Aku telah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya," batin Rizwan seraya meremas kasar rambutnya

__ADS_1


__ADS_2