
Part 93
"Iya, rumah ini. Rumah seperti yang kamu inginkan," ujar Shaga sambil mencengkram kedua bahu Kayesa.
Ingatan Kayesa seketika kembali ke masa silam, dia pernah berkhayal ingin memiliki rumah mungil minimalis, dengan walpaper dasar berwarna pink, ada kupu-kupu yang sedang terbang. Dan khayalan Kayesa enam tahun itu, kini diwujudkan oleh Shaga.
Lama Kayesa menatapi walpaper yang terpasang rapi di ruang tamu. Sofa tamu pun berwarna pink dan di dinding tergantung bingkai warna emas, di dalamnya terpampang foto Kayesa dan Shaga waktu masih berpakaian putih abu-abu.
Andai status Kayesa belum berubah. Pasti dia akan berlonjak senang, karena mimpinya telah diwujudkan oleh Shaga. Sekarang pun dia senang mendapat kejutan dari Shaga. Hanya saja dia tak mengekpresikannya, karena dia tidak mau kalau Shaga salah paham.
"Aku membangun rumah ini dari mimpi mu dan berharap kamu yang akan jadi ratu di sini. Dari enam tahun yang lalu aku memikirkan bagaimana bisa mewujudkan mimpimu, aku mendasain sendiri rumah ini seperti yang kamu inginkan. Tapi apa..."
Shaga tidak meneruskan ucapannya. Terlihat dia menarik nafas panjang, lalu meremas rambut dengan kasar, kemudiab mengusap wajahnya yang sedang berputus asa.
Shaga berjalan beberapa langkah, berhenti di samping lemari kaca, lalu meraih cincin belah rotan yang tadi malam diletaknya di atas nakas, dekat rak televisi, kembali menatap dan mendekati Kayesa, hingga jaraknya dengan Kayesa sangat dekat.
"Cincin ini juga sudah kusiapkan untukmu," ujar Shaga seraya meraih tangan Kayesa, lalu meletakkan cincin itu di tapak tangan Kayesa.
"Sampai saat ini aku tidak pernah bisa mencintai wanita lain selain kamu," ujar Shaga lagi, matanya masih menatap intens pada wanita yang berada satu setengah meter di depannya.
Kayesa menunduk, dia menatap cincin belah rotan yang ada di telapak tangannya, perlahan tapi pasti air mata Kayesa mulai meluncur, membasahi cincin itu. Ada perih di ulu hatinya, sangat perih.
"Aku minta maaf dan aku memang tidak pantas untuk dicintai oleh laki-laki sebaik kamu," ucap Kayesa menyerahkan kembali cincin itu pada Shaga. Namun, Shaga menolaknya.
"Kay! Cincin itu kubuat untukmu." Shaga memaksa Kayesa mengambil cincin itu.
"Tapi. Aku..."
"Kamu masih mencintaiku kan?" Tanya Shaga menyele ucapan Kayesa, seraya mencekal dagu Kayesa dan memaksa Kayesa menengadahkan wajahnya.
Kayesa menatap Shaga dengan mata berair dengan bibir bergetar. Banyak yang ingin dia sampaikan agar Shaga mengerti bagaimana posisinya sekarang. Namun entah kenapa lidahnya terasa kelu, hingga tak mampu mengeluarkan suara sepatahpun.
"Kay! Aku tahu. Matamu tak pernah berbohong. Walaupun beratus kali, bilang mencintai laki-laki lain, tapi aku tak percaya. Karena di mata mu, cinta itu masih sama seperti enam tahun yang lalu." Cerca Shaga.
Kayesa menepis tangan Shaga, hingga cekalan di dagunya terlepas. Seketika Kayesa memalingkan wajahnnya, derai air mata tak bisa dibendung, tetesan demi tetesan menganak sungai di pipi Kayesa. Kayesa terisak tanpa suara, bahunya bergoncang yang menandakan kalau dia sedang menangis.
__ADS_1
"Kay! Katakan padaku. kau masih mencintaiku." Shaga berharap, Kayesa berkata jujur padanya.
Shaga menarik bahu Kayesa, hingga Kayesa kembali menghadap ke arahnya. Melihat wajah Kayesa penuh dengan air mata, Shaga mengulurkan kedua tangannya, lalu menyeka ke dua pipi Kayesa.
"Diam berarti masih," ujar Shaga lagi, kala tak ada respon Kayesa tentang pertanyaannya.
"Kay! Aku..."
"Aku tahu. Ini berat untukmu, tapi lebih berat untuk aku," ujar Kayesa menyela ucapan Shaga.
"Shaga! Aku yang sekarang, bukan aku yang dulu. Aku punya Kiano dan aku memilih Zafran, karena Kiano menginginkan Zafran menjadi ayahnya. Kebahagian Kiano adalah kebahagianku." Kayesa menjelaskan panjang lebar.
"Kay! Kamu lebih memikirkan perasaan orang lain. Kamu tidak memikirkan perasaanmu, juga perasaanku," cerca Shaga penuh emosi, dia tak terima kalau Kayesa hanya memikirkan Kiano, anak yang tak tahu siapa ayahnya itu.
"Aku mohon mengertilah. Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Dan aku percaya banyak wanita yang sedang mengantri ingin menjadi pasanganmu," Kayesa kembali menyela ucapan Shaga dan meletakkan telunjuknya di bibir laki-laki itu.
"Kebaikanku? Kebaikan seperti apa? Hah!" Shaga kembali mencengkram bahu Kayesa dengan kuat.
"Kenapa kamu tak juga mengerti, kalau aku hanya bisa mencintai satu wanita, yaitu kamu," ucap Shaga sambil mengoncang tubuh Kayesa, seakan dia menyadarkan Kayesa.
Sementara Shaga memgawasi gerak-gerik Kayesa dengan lirikan matanya yang sedikit liar. Dia terobsesi ingin memiliki Kayesa.
"Shaga! Aku tak pernah mengingkari janji kita. Semuanya terjadi diluar keinginanku, aku menikah atas kehendak bang Rizwan, demi menyelamatkan nyawa ibu," ujar Kayesa seraya duduk kembali di samping Shaga.
"Aku tahu kamu pasti marah dan kecewa, karena aku meninggalkanmu dan tak pernah memberi kabar. Bahkan semua akses yang berhubungan denganmu ku blokir, dan aku berharap kamu membenciku waktu itu." Kayesa mengusap wajahnya dengan tangan kirinya.
"Aku sudah berusaha memahami keadaanmu. Sudah sangat lama, bahkan sudah berusaha membunuh rasa cinta di hati ini. Tapi tak berhasil," ujar Shaga sambil narik nafas panjang.
Hening sejenak. Kayesa dan Shaga sama-sama diam, mereka hanya bergelut dengan pikirannya masing-masing. Perlahan Shaga berdiri dan mendekati Kayesa.
"Batalkan pernikahanmu dengan Zafran. Menikahlah denganku." mohon Shaga sungguh-sungguh.
Ucapan Shaga membuat Kayesa mendongokkan kepala menatap Shaga. Tak salah dengarkah dia. Seegois inikah Shaga sekarang.
"Shaga! Jika kamu marah padaku. Marahlah! Lampiaskan semuanya. Aku ikhlas menerimanya, karena aku yang salah, aku yang telah membuatmu terluka. Tapi ku mohon jangan paksa aku membatalkan pernikahanku dengan Zafran."
__ADS_1
"Kenapa Key? Apa kamu mencintai laki-laki itu?"
"Iya! Aku mencintai Zafra," ucap Kayesa tegas.
"Kamu lebih suka jadi pelakor, ketimbang menjadi istriku. Hemmm," ucap Shaga seraya tertawa sumbang, ucapan Shaga menusuk langsung ke ulu hati.
Spontan Kayesa menatap wajah Shaga, yang masih mentertawakannya, terngiang kata-kata pelakor yang barusan diucapkan Shaga.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Kayesa menatap intens ke wajah Shaga.
"Tanpa ku jelaskan, Aku rasa kamu sudah tahu apa maksudku," ujar Shaga seraya mencibir hingga bibirnya mengerucut.
"Jadi kamu menuduhku jadi pelakor?" Kayesa menatap tajam pada Shaga.
"Jika menikah dengan laki-laki beristri, lebih pantas disebut apa selain pelakor. Hah!"
Ucapan Shaga menohok, membuat Kayesa kehilangan kata-kata untuk membela diri. Kini air matanya kembali membanjir, Kayesa tak terima dikatai pelakor oleh Shaga. Tapi kenyataannya memang begitu, karena secara sadar dia tahu kalau Zafran sudah menjadi suami Alena.
"Apa salah dengan kata-kataku?" Shaga menatap intens ke wajah Kayesa yang kembali membanjir.
"Tidak! Aku yang salah. Aku yang bodoh," ujar Kayesa seraya memukul-mukul kepalanya dengan dua tangan.
Spontan Shaga menangkap tangan Kayesa dan menahannya. Kayesa berusah memberontak. Tapi Shaga malah memeluknya erat, hingga Kayesa tidak bisa melakukan kebodohannya lagi.
"Sudah Kay! Jangan lakukan hal bodoh seperti ini." Shaga mengurai pelukannya, lalu menatap intens ke arah wajah Kayesa.
Air mata di wajah cantik itu, terus mengalir deras, Kayesa menangis tanpa suara, tubuhnya tergoncang hebat. Kayesa tidak mengerti apa yang dirasakannya sekarang, hanya tangisan yang mewakili ucapannya. Shaga kembali menarik tubuh Kayesa dalam pelukannya, seraya mengusap pelan punggung Kayesa, Shaga membiarkan Kayesa menangis di bahunya beberapa saat.
Perasaan Shaga pun ikut berbaur dengan tangisan Kayesa, dia berharap Kayesa berubah dan membatalkan pernikahannya dengan Zafran. Shaga mengurai pelukannya, lalu mengulurkan kedua tangan, kemudian membingkai wajah Kayesa yang sembab.
"Berhentilah menangis!" ujar Shaga, sambil menyeka air mata Kayesa. Perlahan Kayesa mendongakkan wajahnya, menatap ke manik mata Shaga.
"Kay! Aku mencintaimu. Ku mohon batalkan pernikahanmu dengan Zafran, lupakan dia, dia sudah punya istri. Menikahlah denganku." sekali lagi Shaga bermohon dengan sangat, seraya meraih kedua tangan Kayesa.
"Tidak! Aku akan tetap memilih Zafran."
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila," teriak Shaga putus asa.